NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 08.

Lapangan futsal mendadak sekaku es di kutub utara. Tidak ada yang berani bernapas.

Stella membeku. Mulutnya menganga lebar. Tangannya gemetar. Dia menatap ke arah Pak Bambang, lalu menatap kakinya sendiri, seolah tidak percaya kaki itu baru saja melakukan kejahatan tingkat tinggi.

Gibran memejamkan mata sesaat, memijat pangkal hidungnya. “Stella... lo bener-bener cari masalah,” bisik Gibran pelan, suaranya terdengar antara frustrasi dan ingin tertawa di saat bersamaan.

Pak Bambang mengerjap-ngerjapkan matanya yang buram tanpa kacamata. Wajahnya perlahan berubah merah padam, menahan amarah yang siap meledak layaknya Gunung Merapi.

“SIAPA...” suara Pak Bambang bergetar, menggelegar membelah keheningan. “SIAPA YANG NENDANG BOLA INI?! KELUAR KAMU SEKARANG!!!”

Stella menelan ludah dengan susah payah. Kaki petakilannya yang tadi begitu bersemangat, kini mendadak lemas seperti jeli. Dia melirik Gibran yang menatapnya dengan pandangan 'lo-harus-tanggung-jawab', sementara di kejauhan, Rara sudah mulai pura-pura tidak kenal dengannya.

"STELLA ANGELICA!”

Suara Pak Bambang menggelegar, merontokkan sisa-sisa keberanian Stella hingga ke dasar bumi. Tebar pesonanya resmi gagal total, digantikan dengan hukuman membersihkan gudang olahraga lama di pojok belakang sekolah yang terkenal berdebu, pengap, dan menyeramkan.

Langkah kaki Stella terseret lemas saat memasuki gudang. Bau apek langsung menyengat hidungnya. Ia mengibaskan tangan di depan wajah, mencoba mengusir debu yang menari-nari di bawah berkas cahaya matahari sore yang menembus ventilasi udara.

Namun, kejutan hari itu belum selesai. Di sudut ruangan, bersandar pada tumpukan matras usang, duduk seorang cowok dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan. Headphone melingkar di lehernya, dan matanya terpejam.

Lingga.

Cowok misterius satu kelas yang terkenal pendiam, jarang bersosialisasi, tapi selalu ada di radius beberapa meter dari Stella entah dalam situasi apa pun. Murid-murid sering menganggap Lingga aneh karena dia seperti punya dunianya sendiri.

“Ngapain lu di sini?” tanya Stella ketus, menutupi rasa gengsinya yang hancur lebat hari ini.

Lingga membuka matanya perlahan. Tatapannya datar, tipe tatapan yang membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan. “Dihukum. Ketahuan tidur di perpus.” Jawabnya datar.

“Bagus deh, jadi lu bisa bantu gue,” gerutu Stella sambil mengambil sapu lidi yang patah ujungnya. “Gara-gara Pak Bambang, rencana gue hancur semua. Sial banget.”

Lingga tidak menyahut. Dia hanya berdiri, membersihkan bagian belakang celananya yang terkena debu matras, lalu berjalan menghampiri Stella. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Lingga merebut sapu lidi dari tangan cewek itu.

“Eh? Apaan sih, main rebut aja!” protes Stella.

“Lu bagian yang ringan,” ucap Lingga pendek. Suaranya berat, serak, dan sangat jarang didengar di koridor sekolah. “Lap kaca sana. Biar gue yang nyapu dan mindahin loker.”

Stella mengernyitkan dahi. “Sok pahlawan banget. Loker besi itu berat, Lingga. Jangan cari penyakit.”

"..." Lingga tidak membalas.

Dia langsung membalikkan badan, mulai menyapu sudut gudang dengan gerakan yang tenang tapi efisien.

Stella mendengus kesal, namun tidak bisa memungkiri ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dadanya.

Cowok ini selalu seperti ini. Di kantin, saat Stella hampir tersandung kabel, Lingga yang menarik tasnya. Saat hujan deras dan Stella lupa bawa payung, dia menyerahkan payung untuk Stella bahkan memesan taksi online tanpa diduga-duga.

Stella berjalan ke arah jendela, mengambil kain lap basah yang sudah disediakan.

Sambil mengelap kaca yang buram oleh debu, matanya diam-diam memperhatikan punggung Lingga yang bergerak naik turun saat memindahkan kardus-kardus berat berisi bola bocor.

“Lu... emang selalu merhatiin gue, ya?” tanya Stella tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka.

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya sebelum otaknya sempat menyaring.

Gerakan tangan Lingga yang sedang mengangkat kardus terhenti sejenak. Sangat tipis, tapi Stella bisa melihat ketegangan di bahu cowok itu.

“Gak usah kepedean,” jawab Lingga pelan, lalu melanjutkan kegiatannya.

“Terus kenapa lu selalu ada tiap gue lagi apes?” kejar Stella, melangkah mendekat. Sifat keras kepalanya mulai keluar. “Kaya sekarang. Lu sengaja kan ngambil bagian yang berat biar gue gak capek?”

Lingga meletakkan kardus itu dengan suara debuman kecil. Dia membalikkan badan, membuat jarak di antara mereka mengikis. Tinggi badan Lingga yang menjulang membuat Stella harus sedikit mendongak. Atmosfer di dalam gudang yang pengap entah kenapa mendadak terasa begitu intens.

“Kalau iya, kenapa?” Lingga menatap langsung ke netra Stella. Tidak ada keraguan di matanya yang tajam. “Lu sibuk ngejar orang yang bahkan gak noleh pas lu jatuh di lapangan tadi. Miris"

Kata-kata itu menghantam Stella tepat di ulu hati, mengingat kembali kejadian di lapangan basket beberapa menit lalu.

Benar. Saat bola itu mengenai Pak Bambang dan semua orang menertawakannya, Gibran hanya berdiri di sana, ikut tertawa bersama teman-temannya tanpa berniat membela atau mendekat. Sementara Lingga? Cowok ini entah bagaimana caranya sudah ada di ruang BK sebelum Stella disidang, bahkan berakhir di gudang yang sama dengannya.

Stella tertegun. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata yang keluar. Rasa bersalah, bingung, dan debaran aneh yang asing mendadak bercampur aduk menjadi satu.

Lingga menghela napas pendek, seolah menyesali kalimat panjang yang baru saja diucapkannya. Dia berjalan melewati Stella, merebut kain lap dari tangan cewek itu yang melemas.

“Duduk aja di sana. Debunya banyak, nanti lu batuk,” ujar Lingga, kembali ke mode cueknya yang biasa. Dia mulai mengelap kaca dengan punggung membelakangi Stella.

Stella membeku, mulai ada keanehan pada diri Lingga. Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia begitu ada dan peduli.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!