"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perdebatan Kecil di Pagi Hari
"Aksa Dirgantara! Keluar kamu sekarang juga! Apa-apaan cincin ini?!" jerit Naya dengan suara serak.
Kantung mata wanita itu melebar sempurna. Rasa kantuknya benar-benar terbang entah ke mana. Naya langsung duduk tegak di atas kasur, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos hingga sebatas leher. Mata indahnya melotot horor menatap berlian besar yang memantulkan cahaya matahari di jari manis tangan kanannya.
Pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram itu bergeser terbuka. Aksa melangkah keluar dengan santai. Pria itu hanya mengenakan celana training panjang berwarna hitam. Tubuh bagian atasnya yang atletis terekspos bebas, masih basah oleh sisa-sisa air shower. Aksa menggosok rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil sambil tersenyum miring melihat kepanikan Naya.
"Kenapa teriak-teriak begitu? Tanganmu ngilu lagi?" tanya Aksa dengan nada jahil yang sangat kentara. Pria itu berjalan mendekat tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Aksa! Jawab pertanyaanku!" omel Naya sambil menodongkan jari manisnya ke depan wajah Aksa. "Kamu pasti memakai kekuasaan CEO gila kamu itu lagi, kan?! Kamu pasti mendatangkan petugas catatan sipil ke penthouse ini semalaman saat aku tidur, lalu memaksa mereka meresmikan pernikahan kita diam-diam! Mengaku saja!"
Mendengar tuduhan super absurd dari mulut sang dokter bedah, tawa Aksa meledak detik itu juga. Suara tawa baritonnya menggema renyah memenuhi kamar mewah tersebut. Pria arogan itu bahkan sampai memegangi perutnya karena tidak kuat menahan geli.
"Berhenti tertawa, Pria Brengsek! Ini sama sekali tidak lucu!" rutuk Naya dengan wajah memerah padam menahan malu. "Lepaskan cincin ini! Tanganku masih belum pulih dan kamu malah memaksakan cincin sebesar ini! Bagaimana kalau sarafku kejepit lagi?!"
Aksa melempar handuk kecilnya sembarangan ke atas sofa. Ia memangkas jarak, lalu ikut naik ke atas ranjang raksasa yang masih sangat berantakan itu.
Melihat Aksa mendekat, Naya refleks memundurkan tubuhnya, tapi Aksa bergerak jauh lebih cepat. Pria itu menangkap pinggang Naya, menarik wanita itu ke dalam dekapannya, lalu memeluknya erat-erat dari belakang. Dagu Aksa bersandar nyaman di bahu mulus Naya.
"Otak cerdasmu itu kadang-kadang terlalu banyak menonton drama murahan, Sayang," bisik Aksa tepat di telinga Naya. Suaranya serak, berat, dan dipenuhi kasih sayang yang tumpah ruah. "Aku memang CEO yang punya banyak uang dan koneksi. Tapi aku tidak sebrengsek itu sampai memalsukan dokumen pernikahan saat calon istriku sedang tidur lelap kelelahan setelah... olahraga malam kita."
Naya memukul lengan kekar Aksa yang melingkar di perutnya. Wajahnya semakin panas seperti kepiting rebus. "Tutup mulutmu! Lalu untuk apa cincin berlian seberat ini menempel di tanganku?!"
Aksa tidak langsung menjawab. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke samping, meraih sebuah nampan perak dari atas meja nakas yang rupanya sudah ia siapkan sejak tadi. Di atas nampan itu terdapat dua gelas susu hangat, roti bakar selai, dan semangkuk bubur ayam. Aksa meletakkan nampan itu dengan hati-hati di atas pangkuan Naya.
"Makan sarapanmu dulu, Dokter Naya. Kamu butuh banyak tenaga untuk marah-marah hari ini," bujuk Aksa lembut. Pria itu merengkuh tangan kanan Naya yang kaku, mengelus cincin berlian itu menggunakan ibu jarinya. "Cincin itu ukurannya sudah disesuaikan khusus untuk jari manismu. Tidak akan menjepit saraf atau mengganggu tendonmu yang sedang masa pemulihan. Aku berani jamin seratus persen."
Naya terdiam. Ia menunduk menatap sarapan sederhana di pangkuannya, lalu beralih menatap tangan besar Aksa yang sedang mengelus tangannya dengan sangat hati-hati. Dinding pertahanan Naya kembali runtuh. Sikap posesif sekaligus super lembut dari pria ini benar-benar membuat hatinya meleleh tak bersisa.
"Aku membelinya seminggu yang lalu," Aksa mulai bercerita dengan nada suara yang berubah serius dan dalam. Pria itu mengeratkan pelukannya di pinggang Naya. "Aku ingin memberikannya padamu di restoran mewah lengkap dengan bunga dan musik romantis. Tapi setelah melewati malam tadi... setelah kita menumpahkan semua rasa sakit dan rindu yang menyiksa selama tujuh tahun ini... aku sadar aku tidak butuh pesta mewah atau pengakuan dunia."
Aksa memutar tubuh Naya pelan-pelan agar menghadapnya. Mata kelam sang miliarder menatap langsung ke dalam manik mata Naya. Tidak ada lagi kilat amarah atau keangkuhan di sana. Hanya ada cinta yang sangat tulus dan keputusasaan yang telanjang.
"Aku cuma butuh kamu, Naya," ucap Aksa bergetar. Tangannya menangkup kedua pipi wanita itu. "Maafkan aku karena butuh waktu tujuh tahun untuk menyadari bahwa kamu adalah malaikat pelindungku. Maafkan aku karena tanganku sendiri yang merusak mimpimu memegang pisau bedah."
Air mata Naya langsung menetes jatuh membasahi punggung tangan Aksa. Tenggorokannya tercekat hebat.
"Aku tidak mau membuang waktu satu detik pun lagi tanpa ikatan yang pasti denganmu," lanjut Aksa sungguh-sungguh. "Aku melamarmu pagi ini, di atas ranjang yang berantakan ini. Menikahlah denganku, Naya. Biarkan aku melindungimu seumur hidupku. Biarkan aku mendukungmu sampai tangan kananmu kembali memegang pisau bedah di ruang operasi. Jadilah Nyonya Dirgantara, satu-satunya wanita yang menguasai hidupku."
Tangis Naya pecah seketika. Wanita yang terkenal sangat dingin dan tegas di rumah sakit itu menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya dengan telapak tangan kiri. Semua penderitaan, hinaan, dan rasa lelah yang ia pikul sendirian menguap begitu saja mendengar janji mutlak dari bibir Aksa.
"Kamu benar-benar pria paling menyebalkan sedunia," isak Naya di sela tangisnya. Ia menjatuhkan kepalanya ke dada bidang Aksa, merengkuh pria itu erat-erat. "Iya, Aksa. Aku mau menikah denganmu. Jangan pernah berani melepaskan cincin ini lagi."
Aksa membuang napas lega yang luar biasa panjang. Pria itu tersenyum sangat lebar, mencium puncak kepala Naya berkali-kali dengan perasaan membuncah. Dunia terasa sangat sempurna pagi itu.
Namun, di tengah suasana romantis yang penuh air mata bahagia tersebut, suara dering ponsel tiba-tiba berbunyi nyaring dari arah meja nakas, menghancurkan keheningan.
Aksa mendecak kesal. Ia berniat mengabaikan panggilan itu, tapi nama Dimas berkedip terang di layar ponselnya. Firasat Aksa mendadak mengatakan ini bukan panggilan urusan kantor biasa.
Dengan sebelah tangan masih memeluk bahu Naya, Aksa meraih ponselnya dan menggeser layar.
"Ada apa, Dimas? Aku sedang sibuk," sapa Aksa dengan nada dingin khas CEO.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Pak Aksa," suara Dimas terdengar sangat tegang dan terburu-buru di seberang sana. "Saya baru saja mendapat telepon dari pihak kejaksaan. Pak, jadwal sidang putusan Bima mendadak dimajukan hari ini."
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak