NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penikahan Kontrak / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Marines bacadare

Matteo Leone Messina—calon capo di tutti capi, raja dari kerajaan Cosa Nostra. Dingin, kejam, dan tak lagi percaya pada cinta sejak dikhianati wanita yang dulu dipujanya. Baginya, pernikahan ini hanya secarik kontrak: dua tahun, tanpa hati, tanpa aturan yang mengikatnya.

Angelina Rizzuto—putri satu-satunya pemimpin Camorra. Manis, sopan, berkacamata, dan pernah ditinggalkan di altar dalam gaun pengantinnya. Dunia mengenalnya sebagai gadis polos yang patah hati. Matteo mengira ia menikahi seorang perawan suci yang lemah dan penurut, yang bisa ia abaikan sesuka hati.

Ia salah besar.

Di balik senyum lembut dan busana sopan itu tersembunyi rahasia yang bahkan tak berani ia bayangkan—seorang wanita yang jauh lebih berbahaya, lebih tajam, dan lebih berkuasa daripada dirinya. Perjanjian yang ia buat untuk mempermainkan sang istri perlahan berbalik menjadi jerat bagi hatinya sendiri.

Dua keluarga mafia. Satu pernikahan paksa. Sederet dendam lama yang menunggu ditagih. Dan cinta yang tumbuh di antara dua orang yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi.

Ketika singa bertemu bayangannya sendiri, siapa yang akan memangsa siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angelina Rizzuto Di Gati

Angelina Rizzuto Di Gati, putri Ángel Rizzuto dan Alina Di Gati, sang putri dari keluarga pemimpin Camorra. Pria itu akan segera menyerahkan tampuk kekuasaan kepada salah satu putranya—meski dia sendiri belum benar-benar pensiun, ketiga putranya senantiasa membantunya dalam segala hal. Ángelo Rizzuto Di Gati, Albert Rizzuto Di Gati, dan Renato Rizzuto Di Gati; keempat bersaudara itu adalah kebanggaan ayah dan kakek mereka. Namun yang bungsu, satu-satunya perempuan, sungguh permata sejati.

Sejak kecil Angelina gadis yang ceria, manis, penyayang, ramah, sangat bijak, dan yang terpenting: tenang. Tak ada satu pun perintah yang tak dipatuhinya; dia tak pernah sanggup membantah orang tuanya. Beberapa tahun lalu dia mulai berpacaran dengan seorang pemuda yang sangat tampan—pemuda yang mengajarinya arti jatuh cinta. Gadis itu bernapas untuk dan karena dirinya. Setelah dua tahun berpacaran, ayahnya meminta mereka menikah, dan sang kekasih setuju.

Saat itu Angelina baru dua puluh tahun, calon pengantin yang sempurna, cantik secara alami, dengan aura polos yang membuat siapa pun yang memandangnya jatuh hati. Meski selalu berpakaian konservatif—rok sedikit di bawah lutut, kemeja berkerah tinggi, lengan menggembung tanpa belahan dada, atau gaun sopan yang menyisakan segalanya bagi imajinasi—dia tetap terlihat cantik dan anggun. Semua itu terpancar begitu saja dari wajah malaikatnya. Dia selalu mengenakan kacamata berbingkai halus yang memberinya sentuhan intelektual, sempurna.

Selama dua tahun itu, sang pria mencintainya melebihi siapa pun tanpa pernah menyentuhnya secara intim. Dia pria terhormat yang menawan, penuh perhatian, penyayang, dan setiap saat menyatakan betapa besar cintanya. Angelina menuruti setiap kata pria itu dalam segala hal—lebih penurut dari itu rasanya mustahil. Cinta mereka meruap satu sama lain. Karena gadis itu selalu dijauhkan dari dunia mafia, mereka memutuskan menggelar pernikahan di Prancis, tempat Angelina menempuh studi.

Keluarga besar berangkat ke sana, dan Angelina begitu bahagia berdiri di depan altar sebuah katedral megah, dikelilingi orang-orang terdekat keluarga. Tak ada wartawan, hanya sepasang fotografer sahabat kedua keluarga yang akan memotret sesuai permintaan saja. Gereja dipenuhi mawar warna-warni, karpet merah yang memancarkan kemewahan, dan kursi-kursi berselimut kain putih berenda yang melambangkan kesucian sang gadis. Para tamu menghirup aroma mawar yang bagai belaian lembut di hidung, diiringi alunan mars pernikahan. Angelina muncul dalam gaun sopan nan romantis: lengan panjang renda, kerah bulat tinggi, kerudung bertabur kristal yang menyelubungi seluruh tubuhnya, dan rok renda yang juga bertaburan berlian. Gaun yang cukup tertutup, tetapi tak sedikit pun mengurangi kecantikan sang pengantin.

Waktu berlalu, dan sang pengantin pria tak kunjung datang. Orang-orang berbisik-bisik. Kedua orang tua dan keluarga Angelina bertanya-tanya di mana calon mempelai, begitu pula keluarga sang pria. Sebagian menatap Angelina dengan iba, sebagian lagi dengan ejekan. Dada gadis itu terasa nyeri membayangkan pria menawan yang dicintainya mungkin ditimpa sesuatu—sebab bagi gadis penuh impian itu, tak ada alasan lain. Ditemani Milena Palviere, salah satu sahabatnya, Angelina langsung menuju apartemen kekasihnya, masih dengan gaun pengantin dan riasan yang telah luntur. Ayahnya mengikuti dengan cemas, begitu pula ibunya.

Sesampainya di apartemen, Angelina mengeluarkan kuncinya sendiri dan membuka pintu. Yang menyambutnya adalah kekacauan: botol-botol sampanye dan wiski berserakan, dua gelas bekas di meja kaca—salah satunya bernoda lipstik—serta pakaian pria dan wanita tercampak di lantai. Bau alkohol dan keringat tubuh bercampur parfum kekasihnya dan parfum seorang wanita menyeruak ke hidungnya hingga membuatnya mual. Jantungnya berdetak nyeri saat mulai retak—tetapi erangan dan teriakan yang terdengar membuat retakan kecil itu pecah menjadi kepingan hati yang hancur.

Dengan hati yang telah remuk, Angelina masuk ke kamar tempat dulu berkali-kali dia menyandarkan kepala di dada kekasihnya, tempat mereka tertawa berjam-jam dan berkhayal tentang hari saat sang pria menjadikannya seorang wanita di ranjang yang sama itu. Kini matanya menyaksikan pemandangan yang membunuhnya. Apa yang dilihatnya memadamkan sesuatu dalam diri gadis itu; harapan untuk mencintai dan dicintai lenyap seketika, bagai disihir.

"Apa artinya ini?" jerit Angelina, wajahnya basah oleh air mata. Pria itu hanya menoleh sekilas, memberi isyarat dengan tangannya, sementara wanita di bawah tubuhnya tertawa. Pria itu menghentak wanita itu empat kali lagi, lalu berteriak,

"Sialan, kau sempurna!" serunya, menandakan dia telah mencapai puncak di atas tubuh wanita itu. Kemudian dia bangkit dalam keadaan telanjang dan menatap gadis yang telah berbagi dua tahun hidup dengannya—gadis yang seharusnya menjadi istrinya.

"Sedang apa kau di sini? Memberiku seks pun tidak, membiarkan orang lain melakukannya untukku pun tidak," ucapnya sambil tertawa, sama seperti wanita di ranjangnya.

"Kau jahat sekali. Teganya kau melakukan ini padaku," ujar Angelina dengan hati serasa di ujung tangan, sementara sahabatnya menahannya agar tak terjatuh.

"Aku jahat…? Kau serius masih mau memainkan peran gadis polos yang tak bisa mengucap kata kasar? Aku tahu segalanya. Kau pelacur keparat," katanya, dan Angelina memandangnya bingung.

"Kau kira apa—bahwa aku tak akan sadar? Bahwa aku tak akan pernah tahu betapa sundalnya dirimu? Semua kurencanakan agar bisa meninggalkanmu di altar, dan itu pun masih terlalu ringan untuk perempuan jalang sepertimu," teriak pria itu penuh amarah.

"Cukup, bajingan! Jangan hina putriku lagi," bentak sang pemimpin Camorra sambil mencabut senjatanya. Angelina yang bermandi air mata berdiri melindungi kekasihnya yang tak setia, merentangkan tangan sambil menjerit memohon,

"Jangan, Ayah, jangan lakukan. Tak seorang pun bisa dipaksa untuk mencintai," Angelina menangis pilu, sementara pria di belakangnya menatap adegan itu dengan bingung.

"Dia pantas mati atas kekejian ini. Cukup dengan berkata tidak saja urusan sudah selesai," ujar sang ayah, dan Angelina terus memohon demi nyawa pria yang dicintainya.

"Aku melakukan hal yang benar. Apa kau mau saat uji keperawanan nanti dia ketahuan lalu dibunuh karena tidak setia?" teriak pria itu. Angelina menatap ayahnya lalu berjalan menghampirinya.

"Cukup, Papa. Ayo pergi. Ayah tahu siapa yang Ayah besarkan, dan aku tahu siapa diriku. Aku tak akan membiarkan Ayah membunuhnya, karena aku mencintainya dan entah apakah suatu hari nanti aku akan berhenti. Sekarang, ayo, Papa," Angelina tak berkata apa pun lagi kepada pria itu. Namun sorot matanya telah berubah—tak tersisa setitik pun dari gadis yang dulu pernah ada.

Setelah hari itu, Angelina memberi tahu ayahnya bahwa dia akan pindah ke Inggris bersama sahabatnya dan melanjutkan studi di sana. Dia meminta ayahnya tidak mencarinya; cukup meneleponnya bila diperlukan, dan dia akan datang. Begitulah yang terjadi selama tiga tahun berikutnya. Angelina hanya pulang saat ada acara istimewa atau suatu perhelatan. Kamera-kamera memotretnya dengan busana sopan nan anggun seperti biasa, dengan kacamata berbingkai halus yang sama. Tetapi tatapan gadis itu tak lagi sama; kilau yang dulu memikat semua orang telah lenyap. Sesuatu dalam dirinya telah patah sejak hari tragis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!