"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Perbincangan
Suasana malam di ruang keluarga kediaman Pak Lazuardi terasa begitu hangat namun diselimuti keheningan yang serius.
Denting cangkir teh hangat yang diletakkan Bunda Heni di atas meja kaca menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian.
Di atas sofa kulit yang nyaman, Pak Lazuardi duduk bersandar seraya menyesap tehnya perlahan, mendengarkan cerita yang baru saja disampaikan oleh putri tunggalnya.
Gisel yang duduk di samping sang bunda masih tampak berapi-api. Rasa iba dan amarah bercampur aduk di wajahnya setiap kali mengingat deretan penderitaan yang harus ditanggung Zahira selama ini.
"Kemarin waktu Zahira nyuci baju pakai tangan di belakang paviliun, aku bener-an keabisan kata-kata, Yah," ujar Gisel dengan nada gemas bercampur haru.
"Dia bilang, hal-hal kayak gitu udah jadi makanan sehari-harinya sejak kelas tiga SD. Bayangin, Ayah... anak seumur itu udah dipaksa mandiri dan ngerjain pekerjaan rumah tangga sendirian!"
Bunda Heni mengusap lembut punggung tangan Gisel, lalu menatap suaminya. "Iya, Mas. Kemarin pas Zahira cerita sedikit soal alasannya keluar dari rumah, Hati aku rasanya teriris. Anak secantik, sesopan, dan sepintar itu... kok bisa-bisanya diperlakukan kayak pembantu di rumahnya sendiri."
Pak Lazuardi meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan. Kacamata berbingkai tipis yang mengenakan garis matanya diperbaiki sedikit. Raut wajah pria paruh baya yang tenang dan berwibawa itu berubah mengerut prihatin.
"Damian itu sosok yang Ayah kenal sebagai pekerja keras," sahut Pak Lazuardi pelan, suaranya berat dan penuh penyesalan.
"Bisnisnya sukses, reputasinya di dunia usaha juga sangat baik. Dia betul-betul pria yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarganya. Tapi sungguh sangat disayangkan... dia justru buta dengan apa yang terjadi di dalam rumah tangganya sendiri. Bagaimana bisa putri sulungnya menjalani hidup semenyedihkan itu tanpa dia sadari?"
"Soalnya Tante Karlina sama Bianka itu aktingnya jago banget, Ayah!" sela Gisel cepat. tangannya mengepal di atas pangkuan.
"Di depan ayahnya Zahira, mereka pura-pura sayang sama Zahira. Tapi begitu Om Damian dinas luar kota, Zahira langsung disiksa secara mental. Duit jatah fasilitas dari Om Damian aja dimakan sendiri sama mereka buat foya-foya!"
Bunda Heni menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah tidak percaya.
"Astagfirullah... kok ada ya ibu tiri dan adik tirinya yang setega itu. Pantesan pas Zahira pertama kali datang ke sini, matanya kelihatan lelah banget. Beban batinnya pasti berat sekali selama bertahun-tahun ini."
Pak Lazuardi menghela napas panjang. tatapannya menerawang menghadap jendela kaca besar yang menampilkan taman malam yang sunyi.
Sebagai seorang ayah, hatinya terusik bayangan betapa hancurnya perasaan Damian jika suatu saat nanti seluruh kebusukan istri dan anak bungsunya terbongkar.
"Damian itu terlalu polos kalau urusan keluarga, dia percaya sepenuhnya pada Karlina," tutur Pak Lazuardi tenang namun tegas.
"Tapi membiarkan Zahira terus-terusan jadi korban ketamakan mereka juga bukan hal yang benar. Beruntung Zahira mengambil langkah berani untuk keluar dari rumah itu."
"Aku seneng banget Zahira bisa tinggal di paviliun kita sekarang, Yah," ucap Gisel melunak, menyandarkan kepalanya di bahu Bunda Heni. "Di sini dia bisa fokus nyelesaiin skripsinya tanpa perlu takut diamuk atau dimanfaatin lagi."
Pak Lazuardi tersenyum tipis, menatap putri dan istrinya bergantian. "Jaga Zahira baik-baik ya, Sel. Anggap dia seperti saudara kamu sendiri. Untuk sementara, biarkan dia menata hatinya di sini. Tapi Ayah yakin... kebenaran tidak akan pernah bersembunyi selamanya. Suatu hari nanti, Damian pasti akan tahu betapa berharganya putri sulung yang selama ini dia telantarkan tanpa sadar."
Bunda Heni mengangguk setuju, menggenggam jemari Gisel dengan erat. Di ruang keluarga yang hangat itu, mereka bertiga berjanji dalam hati untuk menjadi benteng perlindungan baru bagi Zahira—memberikannya kehangatan keluarga yang selama ini direnggut darinya.
.
.
Malam makin larut, tetapi kehangatan di kediaman Pak Lazuardi belum sepenuhnya padam. Setelah Gisel pamit kembali ke kamarnya, Pak Lazuardi dan Bunda Heni melangkah memasuki kamar utama.
Suasana redup bercahaya lampu tidur yang hangat menemani pasangan suami istri itu bersiap untuk beristirahat.
Bunda Heni duduk di tepi tempat tidur, menyisir rambutnya pelan sembari menatap pantulan sang suami di cermin rias.
"Mas..." panggil Bunda Heni pelan, memecah keheningan malam. "Aku kok mikir... gimana kalau Rezvan nanti sudah pulang dari Singapura?"
Pak Lazuardi yang sedang melepas jam tangannya menoleh, menatap istrinya dengan kening terangkat sedikit. "Kenapa memangnya dengan Rezvan, Bun?"
"Rezvan kan usianya nggak beda jauh sama Elvan, beda tipis juga sama Zahira. Dia anak yang dewasa, bertanggung jawab, dan kebetulan lagi jomblo," ujar Bunda Heni dengan senyum penuh maksud yang tersimpul di bibirnya.
"Zahira itu anak yang luar biasa, Mas. Santun, mandiri, pekerja keras. Hati ibu mana yang nggak luluh lihat anak seluar biasa itu? Aku rasa... kalau Rezvan dan Zahira kita dekatkan, mereka bakal cocok banget."
Pak Lazuardi terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat naluri menjodohkan sang istri yang tiba-tiba muncul. Namun, raut wajahnya berangsur melunak dan dipenuhi pertimbangan mendalam.
"Kamu ini ada-ada saja, Bun. Rezvan baru selesai studinya di Singapura, belum juga mendarat di Jakarta," sahut Pak Lazuardi seraya berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di samping istrinya. Tapi matanya memancarkan persetujuan implisit.
"Tapi... Ayah akui pikiran kamu ada benarnya. Zahira butuh sosok pria yang stabil, menghargai, dan mampu melindunginya setelah semua ketidakadilan yang dia terima. Rezvan punya kematangan untuk itu."
"Nah, makanya!" timpal Bunda Heni antusias, matanya berbinar. "Nanti pas Rezvan pulang, kita atur makan malam di rumah. Kita pupuk kedekatan mereka perlahan-lahan. Biar Rezvan bisa jadi pelindung sekaligus pelipur lara buat Zahira."
Pak Lazuardi mengelus lembut jemari istrinya, lalu tersenyum hangat. "Baiklah. Kita lihat saja nanti bagaimana takdir menuntun mereka. Sekarang kita tidur, sudah malam."
.
.
Sementara itu, di tempat terpisah, ketenangan malam justru tak mampu menembus kamar Elvan.
Pria itu berdiri di dekat jendela kaca kamarnya yang menjulang tinggi, menatap pendar lampu kota kawasan BSD dari kejauhan. Di tangannya, segelas air putih hangat sudah mendingin, dibiarkan begitu saja karena pikirannya sedang terpenjara oleh bayangan seorang wanita: Zahira.
Potongan-potongan teka-teki kehidupan Zahira berputar liar di dalam kepalanya bagai kepingan puzzle yang tak kunjung menyatu.
Keluarga Santoso.
Elvan tahu betul nama besar itu. Papi Zahira, Damian Santoso, adalah pengusaha terpandang dengan kekayaan yang melimpah.
Rumah mereka bagaikan istana, kehidupan mereka diselimuti kemewahan yang diimpikan banyak orang. Zahira lahir sebagai anak sulung dari keadaan berada.
"Tapi kenapa...?" bisik Elvan pada dirinya sendiri, suaranya sarat akan rasa penasaran yang mendalam.
Ia teringat momen tatkala Vidi adik bungsunya Zahira, bahwa Zahira adalah sosok yang sangat dicintai di rumah itu. Zahira bukan anak yang dibuang karena kelakuan buruk. Dia adalah cahaya bagi orang-orang tulus di kediaman Sumargo.
Lantas, mengapa seorang putri sulung konglomerat memilih menepi dan mengunci diri di paviliun kecil milik tantenya? Mengapa ada binar kelelahan batin yang sangat dalam di balik senyum lembutnya setiap kali nama keluarganya disebut?
Elvan meletakkan gelasnya ke atas meja kerja dengan denting pelan. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Ada kejanggalan besar yang menutupi kehidupan wanita itu sebuah luka lama yang disembunyikan di balik kemandirian dan keramahan Zahira yang luar biasa.
"Apa sebenarnya yang disembunyikan Zahira?" gumam Elvan lirih. Matanya menajam penuh ketegasan di kegelapan malam. "Rasa sakit apa yang memaksanya angkat kaki dari kemewahan itu demi sebuah kedamaian di paviliun kecil?"
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Elvan, rasa penasaran terhadap seorang wanita tak lagi sekadar ketertarikan biasa, melainkan rasa keingin Tahuan mengapa Gisel dan Tante Heni sangat ingin membantu Zahira.