Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1: Jadi anak hilang di zaman kuno
Dingin, lembap, dan bau tanah.
Shen Ruozi mengerang pelan saat kesadarannya perlahan kembali. Matanya mengerjap-erjap, mencoba menghalau rasa pening yang luar biasa di kepalanya. Namun, begitu pandangannya memperjelas situasi sekitar, Ruozi langsung terduduk kaget.
"Bentar... ini di mana? Kok plafon kamarku berubah jadi daun-daun raksasa?" gumam Ruozi sambil mengucek matanya berulang kali.
Alih-alih melihat kamar kosnya yang rapi atau laboratorium kampus kedokteran tempat ia biasa meneliti tanaman obat, di sekelilingnya hanya ada pohon-pohon purba berukuran raksasa yang tertutup kabut tebal. Sunyi, senyap, dan mencekam.
Tiba-tiba, gelombang ingatan asing menghantam otaknya dengan kejam. Ruozi memegangi kepalanya yang serasa mau pecah.
Di kehidupan modern, ia adalah mahasiswi kedokteran genius yang baru saja dikhianati oleh keluarga angkatnya sendiri demi harta, hingga ia mengalami kecelakaan mobil yang fatal. Tapi di sini... jiwanya justru tersesat di tubuh seorang gadis desa zaman kuno yang memiliki nama persis sama dengannya.
Nasib pemilik tubuh aslinya pun tak kalah mengenaskan. Setelah ayah dan ibunya meninggal karena bencana kelaparan, Ruozi diasuh oleh pamannya yang miskin. Tapi karena tidak sanggup lagi memberinya makan, pagi ini sang paman dengan tega menyeretnya dan membuangnya ke tepi hutan terlarang ini.
“Maafkan Paman, Ruozi... Kalau kamu tetap di rumah, kita semua akan mati kelaparan. Biarlah Dewa yang menentukan nasibmu di hutan ini,” gema suara pamannya yang menangis pasrah sebelum kabur meninggalkannya masih terasa begitu nyata.
Ruozi terdiam sesaat, lalu menatap tubuhnya sendiri. Baju kain kasar yang penuh tambalan, tubuh yang kurus kering seperti triplek, dan perut yang mendadak berbunyi nyaring. Kruuuuk...
"Wah, luar biasa. Baru bangun langsung dapet paket komplit: miskin, yatim piatu, dibuang keluarga, plus kelaparan," gerutu Ruozi sambil menghela napas panjang.
Bukannya menangis bombay seperti gadis-gadis di drama kolosal, Ruozi malah menepuk-nepuk pipinya dengan santai. "Oke, Shen Ruozi. Tarik napas, hembuskan. Di dunia modern kamu bisa lulus ujian anatomi yang kayak neraka, masa cuma gara-gara ditelantarin di hutan begini kamu mau mati konyol? Ogah!"
Hal pertama yang harus dia lakukan adalah mengisi perut. Ruozi memaksakan kakinya yang lemas untuk melangkah, mulai menjelajahi hutan dengan insting bertahannya.
Baru berjalan beberapa meter, mata jeli Ruozi langsung menangkap semak-semak dengan buah bulat kecil berwarna merah keunguan. "Eh? Ini kan Buah Lima Rasa alias Schisandra liar!"
Ruozi buru-buru memetiknya. Di dunia medis modern, buah ini dikenal sebagai ginseng alami penambah energi dan imun tubuh. Tanpa ragu, Ruozi langsung memasukkan beberapa butir buah itu ke mulutnya. Rasa asam, manis, pedas, pahit, dan sedikit asin langsung meledak di lidahnya.
"Ugh, rasanya agak ajaib ramai rasanya, tapi lumayanlah daripada mati kelaparan," ucapnya sambil terus mengunyah dengan lahap sampai energinya sedikit pulih.
Sambil berjalan mencari sumber air, insting kedokterannya kembali bergejolak setiap kali melihat tumbuhan di sekitarnya. Bagi orang awam, hutan ini menakutkan. Tapi bagi Ruozi yang otaknya sudah seperti kamus herbal berjalan, tempat ini adalah surga belanja gratis!
"Wah, ada Daun Dewa! Daun sakti yang bisa langsung ngebekuin dan berhentiin pendarahan darah nih. Petik!"
"Loh, ini kan Akar Angelica alias Dang Gui? Tanaman yang harganya selangit kalau di apotek kota karena bagus banget buat nambah darah dan lancarin peredaran darah! Wah, subur banget di sini! Cabut!"
Ruozi dengan riang memetik berbagai tanaman obat alami yang dia temui di sepanjang jalan, lalu membungkusnya menggunakan robekan kain jubah luarnya yang sudah compang-camping.
Sifat selengeannya kumat, dia bahkan sempat mengajak bicara tanaman-tanaman tersebut. "Kalian baik-baik di dalam kantong ya, nanti kalian yang bakal bikin aku jadi orang kaya baru di zaman ini."
Setelah berjalan cukup jauh, Ruozi akhirnya menemukan sebuah aliran sungai kecil yang jernih. Dia langsung berlutut dan meminum airnya dengan rakus. Segar!
Kreeek... Cit! Cit!
Saat sedang membasuh wajahnya yang belepotan tanah, Ruozi mendengar suara mencicit lemah dari balik semak dekat sungai. Sifat kepo anak modern-nya langsung kumat. Saat didekati, ternyata ada seekor kelinci hutan berbulu abu-abu yang kakinya terjepit ranting tajam dan berdarah.
Ruozi berjongkok, lalu menatap kelinci itu dengan senyum lebar. "Wah, wah... kelinci manis. Kamu sengaja datang menyerahkan diri buat jadi makan malamku ya?"
Kelinci itu mencicit ketakutan, seolah tahu arti tatapan lapar Ruozi.
"Tenang, tenang. Jiwa dokterku mendadak meronta-ronta melihat pasien pertamaku di zaman kuno ini," kata Ruozi santai.
Dengan cekatan, dia melepaskan jepitan ranting, mengambil daun dewa penghenti darah yang dipetiknya tadi, lalu mengunyahnya sedikit sebelum ditempelkan ke kaki si kelinci. Hebatnya, pendarahan kelinci itu langsung berhenti seketika.
"Nah, berhubung aku sudah menyelamatkan nyawamu, sebagai gantinya... kamu harus tunjukkan di mana tempat tinggal yang aman di hutan ini. Deal?" Ruozi menepuk kepala kelinci itu.
Ajaibnya, kelinci itu melompat pelan lalu menoleh ke belakang, seolah-olah menyuruh Ruozi mengikutinya. Ruozi tertawa kecil dan langsung bangkit berdiri memanggul kantong herbalnya. "Oke kelinci pintar, mari kita mulai petualangan survival ini!"
Kelinci abu-abu itu melompat dengan lincah menerobos semak belukar yang tinggi. Shen Ruozi terpaksa harus mengangkat jubah compang-camping nya tinggi-tinggi agar tidak tersangkut duri.
Sambil terengah-engah mengikuti langkah si kaki empat, matanya tetap waspada memandangi pohon-pohon sekitar. Hutan ini semakin jauh ke dalam terasa semakin lebat, bahkan sinar matahari sore hampir tidak mampu menembus kanopi daun di atas kepala mereka.
"Heh, Cil! Kamu jangan nipu aku ya, awas aja kalau ternyata kamu malah membawaku ke sarang serigala," ancam Ruozi dengan napas satu-satu.
Tentu saja kelinci itu tidak menjawab dan hanya menggoyangkan telinga panjangnya seolah mengejek kekhawatiran gadis modern tersebut. Namun, insting bertahan hidup Ruozi mengatakan bahwa hewan liar biasanya jauh lebih tahu area mana di hutan ini yang bebas dari predator buas.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, langkah kaki kelinci itu akhirnya melambat di depan sebuah tebing batu yang tertutup akar gantung. Di balik untaian akar raksasa tersebut, tersembunyi sebuah mulut gua kecil yang kering dan cukup bersih. Tempat itu tidak terlalu besar, namun sangat ideal untuk berlindung dari angin malam hutan yang bisa memicu hipotermia. Ruozi langsung tersenyum puas begitu memeriksa bagian dalam gua yang aman dari rembesan air sungai.
"Wah, tidak sia-sia aku mengorbankan air liurku untuk mengobati kakimu tadi. Tempat ini sempurna!" puji Ruozi riang seraya meletakkan kantong kain berisi tanaman herbalnya ke atas lantai batu. Si kelinci abu-abu tampak mengendus-endus sudut gua sebentar, sebelum akhirnya meringkuk santai di dekat tumpukan daun kering, seolah-olah mengumumkan bahwa tempat itu sekarang resmi menjadi markas rahasia mereka.
Tak mau membuang waktu karena langit mulai meremang jingga, Ruozi segera mengumpulkan ranting-ranting pohon kering di sekitar mulut gua. Menggunakan metode gesekan batu api yang pernah ia tonton di video survival dunia modern, ia mencoba menyalakan api. Setelah beberapa kali percobaan yang menguras keringat hingga tangannya yang kurus melepuh, sebuah letikan api kecil akhirnya berhasil membakar tumpukan lumut kering dan berubah menjadi api unggun yang hangat.
Ruozi duduk bersila di dekat perapian, menggosok-gosokkan kedua tangannya yang dingin sambil menatap api yang menari-nari. Di tengah keheningan hutan malam yang mulai mencekam, perutnya kembali berbunyi, mengingatkannya pada takdir barunya sebagai gadis miskin yang terbuang. Namun, bukannya merasa gentar, sepasang mata indahnya justru memancarkan binar tekad yang semakin kuat. Babak baru kehidupannya di zaman kuno ini baru saja dimulai, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injaknya lagi.