NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 33

Arang kayu di tengah pelataran tebing berderet merah menyala, meletupkan percikan api kecil yang melayang sebentar di udara malam sebelum sirna diterpa angin dingin. Bau tembaga dari darah serigala yang berceceran di sepanjang celah karang perlahan memadat, menyatu dengan kelembapan kabut rawa yang merayap naik dari dasar bukit. Di bawah naungan dinding batu terjal Tebing Batu Hitam, rasa lelah yang menghinggapi otot-otot Gongsun Zhi dan Ruan Xi'er mulai terbayarkan oleh ketenangan yang akhirnya merayap kembali.

Xi'er duduk selonjor di atas batu datar dekat api unggun, merenggangkan kedua lengannya ke atas seraya menghela napas panjang. Pendar cahaya perak di jemari tangannya telah surut sepenuhnya, menyisakan kulit halus yang sedikit kemerahan akibat gesekan angin malam dan intensitas pertarungan.

"Rasanya seluruh sendiku mau lepas," desah Xi'er seraya memiringkan kepalanya menatap susunan bintang yang samar di balik kabut tipis. "Tapi bertarung sejujur ini... rasanya lega sekali."

Gongsun Zhi yang sedang menyapu permukaan Tombak Besi Hitam-nya menggunakan secompang kain kusam terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya terdengar hangat di tengah keheningan malam.

"Lega karena kita berhasil selamat, atau karena melihat timbunan bangkai serigala di depan sana?" pungkasi Gongsun Zhi seraya mengangkat dagunya ke arah celah karang.

"Dua-duanya!" sahut Xi'er cepat seraya menepuk paha cantiknya. "Coba bayangkan berapa banyak Inti Roh yang bisa kita panen malam ini. Tuan muda klan besar yang bersembunyi di bawah sana pasti sedang menggigit jarinya karena iri!"

Di saat kedua sahabatnya sibuk bertukar kelakar ringan untuk mengusir rasa lelah, Shen Jue melangkah perlahan menuju tumpukan bangkai serigala di mulut celah tebing. Langkah kakinya yang tak bersuara menapak halus di antara ceceran darah pekat. Mata gelapnya yang tenang tertuju lurus pada bangkai Serigala Bayangan bertubuh terbesar—sang pemimpin kawanan berbulu dada kemerahan yang tadi ia tumbangkan dengan satu tusukan presisi.

Shen Jue berjongkok di samping tubuh kaku sang pemimpin serigala. Dengan gerakan yang teramat tenang dan terukur, ia merogoh belati kecil berkarat dari balik saku jubah linen abu-abunya. Logam tua itu tampak teramat biasa, kusam dan dipenuhi bintik-bintik karat cokelat tua seolah-olah akan patah jika dihantamkan pada batu keras.

Namun, saat Shen Jue menancapkan mata belati itu ke dasar tengkorak sang serigala untuk mengekstrak Inti Roh, sesuatu yang tidak lazim mendadak terjadi.

Darah pekat berwarna merah kehitaman yang mengalir dari luka sang pemimpin serigala tidak meluncur jatuh menyusuri bilah logam. Sebaliknya, cairan hangat itu tersedot masuk ke dalam pori-pori karat belati, seolah-olah besi tua tersebut adalah spons kering yang kehausan akan esensi kehidupan.

Ssssst...

Suara desiran halus—teramat tipis hingga hampir tenggelam oleh kertak kayu terbakar—bergema langsung di dalam celah kesadaran Shen Jue. Itu bukan suara fisik yang merambat di udara, melainkan sebuah getaran jiwa yang purba, dingin, dan pekat. Sebuah bisikan tanpa kata dari kegelapan yang selama ini tertidur di balik belenggu segel rapat.

Detik berikutnya, lapisan karat di pangkal bilah belati memancarkan pendar redup. Seutas aura hitam tipis—sehalus benang sutra malam—merayap keluar dari celah logam berkarat tersebut, menggeliat melingkari jemari tangan kanan Shen Jue bagaikan sulur tanaman maut.

Bzzzt!

Suhu udara di sekitar pelataran batu mendadak anjlok drastis dalam radius beberapa langkah. Embun air yang menempel di permukaan karang seketika membeku menjadi lapisan es tipis berwarna kelam.

Xi'er yang sedang tertawa tiba-tiba menghentikan ucapannya. Bulu kuduk di leher mulusnya berdiri tegak, memicu insting kepekaan roh musangnya secara refleks. Ia menoleh cepat ke arah Shen Jue, sepasang matanya membelalak waspada.

"Shen Jue? Kenapa tempat ini mendadak dingin sekali?" tanya Xi'er seraya memegangi kedua bahunya yang merinding.

Gongsun Zhi pun ikut menegakkan tubuhnya, cengkeramannya pada gagang tombak serta-merta mengencang. Matanya menyipit menatap kabut tipis di sekeliling Shen Jue yang tampak memekat secara tidak wajar.

"Aura apa ini...?" gumam Gongsun Zhi dengan dahi berkerut dalam, merasakan desakan intimidasi asing yang membuat dadanya terasa sesak.

Shen Jue tidak panik. Tatapan matanya yang serba tahu memantulkan aura hitam tipis yang sedang membelai kulit jemarinya. Di dalam benaknya, ia merasakan sensasi lapar yang murni dari belati tersebut—sebuah dahaga akan esensi kehidupan dan kesadaran maut yang sanggup memotong alur energi apa pun di alam semesta.

Pedang Dewa Kematian... bisik Shen Jue dalam batinnya dengan kedinginan absolut. Bahkan di bawah kunkungan segel karat tebal ini, esensi jiwamu mulai terbangun hanya karena menyerap darah serigala buas.

Secara perlahan dan penuh kendali, Shen Jue memutar aliran energi spiritual di dalam Dantiannya, memutus kontak darah pada mata belati sekaligus menarik kembali aura hitam itu ke dalam rekahan besi berkarat. Pendar redup itu padam seketika. Hawa dingin yang menusuk tulang meluluhkan kembali es tipis di atas batu menjadi titik-titik air biasa.

Shen Jue berdiri dengan tenang, memegang Inti Roh berwarna merah pekat seukuran ibu jari yang berhasil ia keluarkan dari tengkorak serigala. Ia memutar tubuhnya menghadap kedua sahabatnya, ekspresi wajahnya kembali datar dan tak tersentuh emosi, seolah-olah keanehan tadi hanyalah ilusi semata.

"Hanya sisa-sisa energi hawa dingin dari Inti Roh pemimpin serigala ini," pungkasi Shen Jue seraya menunjukkan kristal merah di tangannya dengan nada santai. "Serigala Bayangan tingkat tinggi memang menyimpan atribut es tipis di dalam inti jiwanya."

Xi'er menghela napas lega, merelaksasikan kembali bahunya yang sempat menegang. Ia melangkah mendekati Shen Jue, mengambil tempat minum dari pinggangnya seraya menyodorkannya pada pemuda berkerudung itu.

"Astaga, kuharap cuma ilusi. Tadi rasanya seperti ada sosok raksasa yang sedang mengawasi kita dari dalam kegelapan," ujar Xi'er seraya tersenyum tipis untuk menenangkan hatinya sendiri. "Nih, minum dulu. Dari tadi kau belum istirahat sama sekali."

Shen Jue menerima tempat minum itu, menatap lekat gadis di hadapannya sebelum meneguk airnya pelan. Kehangatan tulus dari Xi'er dan kepercayaan tanpa ragu dari Gongsun Zhi menjadi kontras yang amat sharp di tengah aura kegelapan yang baru saja membelai jiwanya.

Gongsun Zhi tertawa rendah seraya berdiri menepuk-nepuk debu di celana kainnya.

"Inti Roh milik pemimpin serigala itu pasti bernilai sangat tinggi. Ditambah dengan belasan serigala lainnya, panen kita malam ini benar-benar luar biasa," pungkasi Gongsun Zhi dengan binar mata bangga.

"Kita bersihkan sisa inti roh lainnya sekarang," tutur Shen Jue seraya memasukkan belati berkaratnya kembali ke balik saku jubah jahitannya. "Begitu fajar menyingsing, kita punya janji yang harus diselesaikan dengan orang-orang di bawah sana."

Xi'er menyeringai manis, jemarinya mengepal penuh semangat. "Tentu saja! Aku tidak sabar melihat muka pucat Zhongli Chen saat menyadari jebakan busuknya justru memberi kita hadiah sebanyak ini!"

Saat ketiganya mulai memanen sisa Inti Roh di antara bangkai binatang buas, Shen Jue sempat mengelus pelan saku jubahnya dari luar. Di balik kain abu-abu yang kusam, belati kecil itu bergetar sangat halus—bagaikan helai napas tak terlihat yang menandakan kebangkitan awal dari sang senjata terlarang. Kegelapan telah mulai bicara, dan ini barulah langkah paling awal dari takdirnya yang membentang luas.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!