NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Ting!

Layar biru sistem mendadak muncul dan berkedip tepat di depan wajah Husen.

[Skill Aktif: Komunikasi Empatik siap digunakan]

[Skill ini memungkinkan Host merasakan emosi terdalam target dan menemukan akar trauma mereka]

[Apakah Host ingin mengaktifkan skill pada target Nisa Larasati?]

[Ya / Tidak]

"Ya, aktifkan sekarang."

Husen mengonfirmasi perintah itu dalam pikirannya dengan cepat.

Wush.

Gelombang energi yang hangat menjalar dari dada Husen menuju ke kepalanya dalam sekejap mata.

Tiba-tiba, Husen bisa merasakan sebuah rasa sakit yang mencekik di dalam dadanya sendiri.

Itu bukan rasa sakit fisiknya, melainkan pantulan dari perasaan yang selama ini dikubur dalam-dalam oleh Nisa.

Bayangan samar muncul di benak Husen bagaikan potongan film yang diputar paksa.

Husen melihat Nisa menangis di sebuah ruangan guru yang mewah setahun yang lalu.

Sebuah makalah penelitian sains yang ditulis dengan tulisan tangan Nisa direbut oleh seorang guru tua.

Guru itu menghapus nama Nisa dan menggantinya dengan nama anaknya sendiri untuk perlombaan tingkat nasional.

Saat Nisa mencoba protes ke kepala sekolah, dia justru diancam akan dikeluarkan karena dianggap memfitnah guru berprestasi.

Pantulan emosi pengkhianatan itu begitu kuat sampai Husen harus menarik napas panjang.

"Begitu rupanya ceritanya."

"Tidak heran anak sepintar dia memilih menjadi cangkang kosong yang membenci dunia pendidikan."

Husen memfokuskan kembali pandangannya ke wajah Nisa yang masih menatapnya dengan penuh kebencian.

"Nisa, kamu benar bahwa dunia ini dipenuhi oleh orang dewasa yang egois."

"Kamu benar bahwa ada guru di luar sana yang tega mencuri hasil jerih payah muridnya demi keuntungannya sendiri."

Mata Nisa langsung membelalak lebar mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Husen.

Jantung siswi genius itu berdetak sangat kencang seolah baru saja disambar petir di siang bolong.

"Darimana dia bisa tahu soal pencurian makalah itu?"

Nisa membatin dengan panik karena dia tidak pernah menceritakan kejadian di sekolah lamanya kepada siapa pun di sini.

Bahkan catatan kepindahannya ke SMA Garuda Kelam sengaja ditutupi oleh kepala sekolahnya yang lama.

Husen melangkah maju satu tindak ke arah Nisa dengan tatapan yang memancarkan kehangatan tak terlukiskan.

"Tapi kamu salah tentang satu hal yang paling krusial, Nisa."

"Menyerah pada bakatmu sendiri tidak akan menghukum orang-orang yang sudah mengkhianatimu."

"Tindakan mogok belajarmu ini justru memberikan mereka kemenangan mutlak."

Suara Husen mengalir dengan lembut namun setiap kata yang keluar memiliki beban logika yang tidak bisa dibantah.

Efek dari Skill Komunikasi Empatik membuat intonasi suara Husen terdengar sangat menenangkan di telinga Nisa.

"Mereka ingin kamu diam, mereka ingin kamu hancur agar kebohongan mereka tetap aman."

"Dan kamu dengan sukarela mengabulkan keinginan mereka dengan membusuk di kelas ini."

Nisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar.

"Bapak tidak tahu apa-apa soal perasaanku!"

"Bapak tidak tahu rasanya kehilangan sesuatu yang sudah Bapak bangun siang malam hanya untuk direbut orang bodoh!"

Nisa setengah berteriak meluapkan amarah yang sudah dia simpan sendirian selama setahun terakhir.

Bara dan seluruh murid di kelas itu hanya bisa terdiam membisu melihat pemandangan tersebut.

Mereka tidak pernah melihat Nisa yang selalu sedingin es tiba-tiba meledak dalam emosi seperti ini.

"Aku tahu persis bagaimana rasanya difitnah dan dibuang, Nisa."

Husen menjawab dengan nada pelan yang menghentikan isak tangis Nisa seketika.

"Alasan aku dikeluarkan dari sekolah elite itu adalah karena aku menolak menutupi kejahatan yang sebenarnya."

"Aku memilih kehilangan jabatanku daripada membiarkan seorang siswi menderita sendirian dalam diam."

Husen menoleh ke arah Bara yang sedari tadi berdiri mematung mendengarkan perdebatan itu.

"Rumor yang kamu dengar itu memang disebarkan oleh keluarga konglomerat itu untuk menghancurkan namaku, Bara."

"Mereka punya uang untuk menyuap media dan seluruh guru di sana untuk tutup mulut."

"Tapi mereka tidak bisa menyuap hati nuraniku."

Bara menelan ludah dengan susah payah karena entah mengapa hatinya membenarkan setiap ucapan guru di depannya ini.

Tatapan mata Husen terlalu jujur untuk ukuran seorang koruptor picik seperti yang dituduhkan.

Husen kembali menatap Nisa yang kini menundukkan kepalanya menatap ujung sepatunya.

"Nisa, jika kamu ingin membalas dendam pada guru yang mencuri mimpimu, maka bangkitlah."

"Jadilah jauh lebih pintar, jauh lebih hebat, dan jauh lebih sukses dari guru itu."

Husen menyodorkan buku matematika yang tadi dibawanya ke depan wajah Nisa.

"Buktikan kepada mereka bahwa otak brilianmu tidak bisa dicuri hanya dengan menghapus sebuah nama di atas kertas."

"Bantu aku membangun kelas ini, dan aku berjanji akan membantumu menghancurkan panggung kebohongan mereka."

Tess.

Satu tetes air mata jatuh melewati kacamata tebal Nisa dan membasahi lantai kelas yang berdebu.

Dia perlahan mengangkat tangannya yang sedikit gemetar dan menerima buku matematika tersebut dari tangan Husen.

Sret.

"Bapak benar-benar guru yang aneh."

Nisa berbisik sangat pelan sambil mengusap sudut matanya dengan punggung tangan kirinya.

"Jika Bapak berani mengingkari janji ini suatu hari nanti, saya sendiri yang akan menghancurkan hidup Bapak."

Husen tersenyum lebar mendengar ancaman khas dari siswi genius yang keras kepala itu.

"Pegang janjiku baik-baik, Nisa Larasati."

Ting!

Suara sistem kembali berdering merdu menandakan sebuah pencapaian besar berhasil diraih.

[Pemberitahuan Sistem]

[Target Nisa Larasati telah membuka dinding hatinya]

[Tingkat Kepatuhan Nisa meningkat drastis menjadi 40%]

[Host telah mendapatkan kepercayaan awal dari Sang Genius]

Husen berbalik menghadap ke seluruh kelas dengan postur tubuh yang tegak dan penuh wibawa.

"Nah, karena drama siang ini sudah selesai, mari kita kembali ke tujuan awal kita."

"Bara, kembali ke tempat dudukmu dan buka halaman dua belas seperti yang saya perintahkan."

Bara yang sedari tadi hanya menjadi penonton bisu akhirnya mendengus pelan mengalah.

"Cih, lu menang ngomong doang kali ini, Pak."

Meskipun mulutnya masih kasar, Bara berjalan patuh kembali ke bangkunya tanpa membuat keributan tambahan.

Seluruh kelas perlahan mulai mengeluarkan buku pelajaran mereka dari dalam tas masing-masing.

Suara gesekan kertas mulai terdengar menggantikan suara tawa mengejek yang tadi mendominasi ruangan.

Sret sret sret.

Husen mulai menulis rumus di papan tulis sambil tersenyum penuh kemenangan dalam hati.

"Satu langkah besar berhasil dilewati hari ini."

"Kelas ini akan menjadi senjata terkuatku untuk membalikkan keadaan dunia pendidikan di kota ini."

Pelajaran matematika siang itu berlangsung dengan sangat tenang untuk pertama kalinya dalam sejarah kelas XI-7.

Tidak ada yang melempar kertas, tidak ada yang tidur di meja, dan tidak ada yang berani membantah.

Husen telah membuktikan bahwa dia tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki ketajaman psikologis yang menakutkan.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!