Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Perpisahan dan Langkah Menuju Dunia Baru
Keesokan harinya, fajar menyingsing perlahan, namun sebelum matahari naik sepenuhnya, halaman depan kediaman Riu Zheng sudah dipenuhi orang-orang dari seluruh penjuru perkampungan. Mereka datang bukan untuk urusan biasa, melainkan untuk mengantar kepergian dua gadis yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus kesayangan semua orang di sana. Riu Lin dan Sui Lan berdiri di antara kerumunan itu, mengenakan pakaian perjalanan yang sederhana namun rapi, wajah mereka tenang meski di mata terlihat jelas kilauan kesedihan karena harus berpisah dari keluarga dan tempat yang telah membesarkan mereka.
Dua gadis itu sungguh bagai dua permata yang berbeda namun sama berkilau indahnya. Riu Lin berpenampilan cerah, lincah, dan pembawaannya terbuka serta hangat — membuat siapa pun yang melihatnya merasa disambut. Sementara Sui Lan lebih tenang, lembut, dan pendiam, namun di balik kesunyiannya tersimpan kekuatan batin yang kokoh dan ketenangan yang menenangkan hati siapa pun yang berada di dekatnya. Selama ini, kehadiran mereka berdua telah mewarnai hari-hari penduduk kampung, menjadi tempat tumpuan harapan sekaligus kegembiraan, sehingga kabar kepergian mereka membuat banyak orang merasa berat hati. Tak sedikit yang mengusap sudut mata, tak ingin mereka pergi, namun semua juga menyadari bahwa perjalanan ini penting bagi masa depan kedua gadis itu.
Riu Zheng berdiri di depan mereka, menatap putri dan gadis yang telah ia anggap sendiri itu dengan senyum yang berusaha tegar, meski matanya memancarkan keharuan yang tak bisa disembunyikan. Ia memeluk mereka berdua bergantian, menepuk punggung mereka pelan seolah ingin menyampaikan segala kasih sayang tanpa perlu kata-kata.
"Pergilah, anak-anakku," ucapnya lirih, suaranya bergetar namun mantap. "Jaga diri kalian baik-baik. Ingat, di mana pun kalian berada, tempat ini tetap rumah kalian. Aku akan menanti kepulangan kalian dengan sabar."
Riu Lin menahan air matanya, tersenyum sambil meremas lembut tangan ayahnya. "Jangan khawatir, Ayah. Kami akan saling menjaga. Dan kami akan kembali."
Sui Lan mengangguk di sampingnya, menatap Riu Zheng dengan pandangan penuh rasa hormat dan kasih sayang. "Terima kasih atas segalanya, Ayah. Kami tidak akan melupakan semua yang telah kau ajarkan pada kami."
Zi Lan berdiri sedikit di samping, menatap pemandangan itu dengan perasaan terharu. Ia membiarkan mereka meluangkan waktu bersama keluarga sejenak, mengetahui betapa beratnya perpisahan ini. Namun ketika matahari mulai naik lebih tinggi, ia melangkah maju pelan, menyadarkan semua orang bahwa waktu perpisahan telah tiba.
"Kita harus berangkat sekarang," ucapnya lembut namun tegas. "Jarak yang akan kita tempuh jauh, dan kita tidak boleh terlambat."
Riu Zheng mengangguk, melepaskan pelukannya perlahan. Penduduk yang berkumpul pun menyisihkan jalan, membiarkan ketiga wanita itu melangkah pergi. Banyak yang mengikuti hingga ke batas perkampungan, melambaikan tangan sampai sosok mereka tak lagi terlihat di kejauhan.
Perjalanan menuju Kerajaan Lin memakan waktu beberapa hari, namun bagi Zi Lan, itu bukan masalah. Ia membawa Riu Lin dan Sui Lan di sisi kiri dan kanannya, melesat menembus angin dengan kecepatan yang tak bisa dibayangkan oleh orang biasa. Di bawah perlindungan energinya, angin kencang maupun cuaca yang berubah-ubah tidak menyentuh mereka sedikit pun. Gadis-gadis itu hanya merasa seakan melayang tenang di atas permukaan awan, menyaksikan pemandangan sungai, hutan, dan pegunungan berlalu di bawah mereka seperti lukisan yang terus berubah.
Setelah melewati batas wilayah Kerajaan Lin, arah perjalanan mereka menuju ke salah satu sudut paling jauh di negeri itu — tempat yang selama ini dibicarakan orang dengan perasaan takut sekaligus hormat, yaitu Lautan Tanpa Tepi. Di sana, petir senantiasa menyambar di antara awan gelap, ombak bergulung setinggi gunung, dan udaranya dipenuhi energi yang liar serta tak terduga. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah perbatasan terakhir yang tak boleh dilewati, namun bagi Zi Lan, inilah gerbang menuju perjalanan pulang.
Semakin dekat mereka ke pantai, semakin keras guntur menggelegar dan semakin gelap langit di hadapan mereka. Riu Lin dan Sui Lan menatap pemandangan itu dengan takjub sekaligus sedikit cemas. Di permukaan laut yang luas itu, kilatan petir biru dan ungu turun tak henti-hentinya, menghantam air hingga menimbulkan kabut uap yang tebal.
"Jangan takut," ucap Zi Lan lembut, tangannya mengeluarkan cahaya keemasan yang menyelimuti mereka berdua. "Energi ini akan melindungi kalian. Tidak ada petir maupun ombak yang bisa menyentuh kalian selama berada di dekatku."
Cahaya itu terasa hangat dan menenangkan. Rasa cemas di hati kedua gadis itu perlahan hilang, digantikan oleh perasaan aman. Mereka melanjutkan perjalanan melintasi lautan yang tak bertepi itu, menembus tirai petir yang mengelilingi wilayah ini. Di bawah perlindungan Zi Lan, badai yang tampak mengerikan itu seakan berubah menjadi hujan yang lembut, tak menyentuh mereka sedikit pun.
Setelah melintasi hamparan air yang luas itu, akhirnya di kejauhan tampaklah sebuah pulau kecil yang berdiri sendirian di tengah lautan. Di atasnya terdapat formasi batu yang tersusun rapi, memancarkan cahaya samar yang berdenyut pelan seakan bernapas. Itulah tempat tujuan mereka — pintu gerbang yang menghubungkan Daratan Bawah dengan Negeri Empat Wilayah.
Sesampainya di pulau itu, Zi Lan menurunkan mereka di depan formasi batu tersebut. Ia menatap Riu Lin dan Sui Lan bergantian, lalu menghela napas pelan.
"Sekarang aku menyadari satu hal," ucapnya sambil menatap mereka dengan pandangan yang penuh perhatian. "Tingkat kekuatan jiwa kalian masih berada di tingkat Kaisar tingkat sembilan akhir. Untuk melewati gerbang ini dan bertahan di alam yang jauh lebih padat energinya, fondasi ini belum cukup kuat."
Sebelum kedua gadis itu sempat bertanya, Zi Lan melanjutkan dengan suara lembut namun tegas, "Aku akan mentransfer sebagian energiku kepada kalian. Teknik ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah mencapai tingkat kekuatan yang cukup tinggi, dan aman dilakukan karena ikatan yang terjalin di antara kita."
Ia mengangkat kedua tangannya perlahan. Cahaya yang lebih terang dari sebelumnya memancar dari tubuhnya, berubah menjadi aliran energi yang halus dan murni, lalu masuk perlahan ke dalam tubuh Riu Lin dan Sui Lan. Tidak ada rasa sakit, hanya kehangatan yang menyebar perlahan, mengisi setiap sudut tubuh mereka, membersihkan dan memperkuatnya dari dalam.
"Kalian duduklah dan bermeditasi," perintah Zi Lan pelan. "Seraplah energi ini dan biarkan ia menyatu dengan kekuatan kalian."
Riu Lin dan Sui Lan menurut, duduk bersila di atas permukaan batu yang datar, lalu memejamkan mata. Mereka merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di dalam diri — energi yang lebih murni, lebih dalam, dan lebih kuat dari apa pun yang pernah mereka rasakan. Perlahan-lahan, tingkat kekuatan mereka yang semula berhenti di batas tertinggi tingkat Kaisar mulai naik, menembus batas itu menuju ranah yang lebih tinggi.
Waktu berlalu tanpa terasa. Siang berganti sore, namun kedua gadis itu belum bergerak sedikit pun. Mereka menyatukan diri dengan energi yang masuk, menstabilkannya, dan memastikan bahwa fondasi yang baru terbentuk itu kokoh sempurna. Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat dan langit berubah warna menjadi jingga keunguan, Riu Lin dan Sui Lan secara bersamaan membuka mata mereka. Cahaya lembut memancar sejenak dari pandangan mereka, lalu meredup perlahan. Kini mereka berdiri di ranah Penyatuan Jiwa — tingkat di mana kekuatan jiwa mulai berkembang sepenuhnya, pintu gerbang menuju tingkatan yang jauh lebih tinggi.
Zi Lan tersenyum melihat perubahan itu, matanya memancarkan kelegaan sekaligus kerinduan. Ia menatap Riu Lin dengan perasaan yang mendalam. Bertahun-tahun yang lalu, ia merawat dan membimbing Fang Yi Lan sejak gadis itu masih kecil. Meski status mereka tuan dan pelayan, hubungan mereka tumbuh layaknya kakak dan adik, tak terpisahkan oleh pangkat maupun kedudukan. Melihat wajah Riu Lin yang begitu mirip ibunya, seakan waktu berputar kembali, membawa kenangan lama yang telah ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya.
"Sudah cukup stabil," ucapnya pelan, menahan rasa haru. "Sekarang kita siap untuk melangkah lebih jauh."
Ia mengeluarkan dua keping giok yang bersinar lembut, berwarna putih keperakan dengan urat emas yang berkilau di dalamnya.
"Ini adalah Giok Nirvana," jelasnya sambil menyerahkannya kepada mereka berdua. "Sebelumnya, portal teleportasi memisahkan siapa pun yang melaluinya, mengirim ke tempat yang berbeda secara acak. Namun giok ini telah dilengkapi dengan formasi penangkal khusus — selama kalian memakainya dan tetap saling berpegangan tangan, kalian tidak akan terpisah."
Riu Lin dan Sui Lan menerima giok itu dengan hati-hati, lalu segera memakainya di pergelangan tangan masing-masing. Sesuatu yang hangat menyentuh kulit mereka, seakan benda itu bernapas bersama pemiliknya.
Zi Lan mengangguk puas, lalu berjalan menuju batu besar di tengah pulau itu. Ia mengeluarkan sebutir batu roh berkilau yang berwarna putih susu, lalu memasukkannya ke dalam lubang yang tersembunyi di tengah simbol formasi yang terukir di permukaan batu. Perlahan, cahaya menyebar dari titik itu, mengisi setiap garis yang ada, hingga akhirnya terbentuklah sebuah pintu tegak di udara — setinggi tiga meter dan selebar tiga meter, memancarkan cahaya putih kebiruan yang lembut namun memukau. Di balik permukaannya yang berkilau, terlihat samar-samar bayangan dunia lain yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
"Peganglah tanganku," pinta Zi Lan sambil mengulurkan kedua tangannya.
Riu Lin menggenggam tangan kanannya, Sui Lan tangan kirinya. Di sisi lain, kedua gadis itu juga saling merangkul tangan satu sama lain, memastikan tidak ada yang terpisah.
"Mari kita melangkah," ucap Zi Lan lembut, lalu bersama-sama ketiganya melangkah masuk ke dalam cahaya itu.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪