NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 31

Angin malam berkabut yang berhembus melintasi pelataran Tebing Batu Hitam membawa serta aroma hanyir yang kian pekat. Di bawah selubung kegelapan yang menutupi lereng bawah rawa, bisikan gesekan rumput liar terdengar berderak bergelombang, seolah-olah ada puluhan langkah kaki berbulu yang sedang merayap naik secara serempak. Pendar api unggun di pelataran batu membiaskan bayangan-bayangan panjang yang bergetar di dinding karang terjal.

Gongsun Zhi berdiri tegak tepat di mulut jalan setapak sempit—satu-satunya celah masuk menuju kamp mereka. Kedua telapak tangannya mencengkeram erat batang Tombak Besi Hitam, memosisikan ujung tombak menunjuk lurus ke arah kegelapan. Di samping kanan pelataran, Xi'er telah menghilang di balik keremangan dinding batu atas, bertengger ringan di atas tonjolan karang bagai seekor musang yang siap menerkam. Sementara Shen Jue duduk tenang di dekat susunan kayu bakar, belati berkaratnya tergenggam santai di jemari kanan.

Kling!

Denting halus benang perak buatan Xi'er bergetar tipis di mulut celah karang. Sebelum gema lonceng kecil itu sepenuhnya surut di udara dingin, desiran udara berbau amis kapur meledak keras dari kegelapan.

"Awas!" seru Xi'er pelan namun tegas dari atas dinding karang.

Dari balik selubung kabut malam, tiga ekor Serigala Bayangan melompat bersamaan. Binatang buas berukuran sebesar anak sapi itu memiliki bulu kelabu pekat yang sanggup menyatu dengan kegelapan, dengan taring-taring panjang yang meneteskan liur beracun. Sepasang mata merah darah mereka berkilat liar, sepenuhnya terpacu oleh cairan Darah Pemancing Roh yang dioleskan musuh di sepanjang celah tebing.

"Tahan!" seru Shen Jue singkat tanpa mengalihkan pandangan dari pendar api unggun.

Gongsun Zhi tidak menggeser kakinya satu inci pun dari posisi pijakan. Saat moncong serigala pertama hampir menyentuh wajahnya, ia menghentakkan kaki kirinya mendalam ke lantai batu, memutar pergelangan tangannya untuk melayangkan dorongan tombak lurus yang amat presisi.

Sssst... CRAASH!

Mata Tombak Besi Hitam menembus tepat di antara sepasang mata serigala terdepan, memecahkan tengkoraknya seketika sebelum sempat menapakkan kaki di pelataran. Tanpa memberi jeda, Gongsun Zhi mengibaskan batang besi tombaknya ke samping, membuang bangkai serigala itu untuk menyapu serigala kedua yang melompat di udara.

Brak!

Serigala kedua terlempar menghantam dinding karang, hilang keseimbangan. Sebelum binatang buas itu sanggup bangkit berdiri, sesosok bayangan perak menyusup cepat dari langit-langit tebing.

Swwish!

Xi'er meluncur turun bagai anak panah terlepas dari busur, menyabetkan cakar perak Musang Bayangan-nya tepat di leher serigala tersebut. Darah pekat menyembur ke udara malam saat urat nadi utama musuh terputus total. Dengan kelincahan yang teramat lentur, Xi'er menjejakkan kakinya di atas tubuh serigala yang telah rubuh, lalu bersalto mundur kembali ke atas dinding karang tanpa ternoda sedikit pun oleh cipratan darah.

"Kerja bagus, Xi'er!" puji Gongsun Zhi dengan dengusan napas mantap seraya memutar kembali tombaknya ke posisi bertahan.

"Simpan tenagamu, Gongsun! Masih ada belasan lagi di bawah sana!" sahut Xi'er riang sambil mengusap cakar peraknya yang memancarkan pendar tipis.

Di lereng bawah yang terlindung kerapatan pohon pinus, Zhongli Chen, Gao Feng, dan Mo Qi mengintip dari balik semak dengan napas terengah. Mata Zhongli Chen membelalak lebar, memancarkan rasa tidak percaya yang teramat sangat.

"Bagaimana mungkin?!" bisik Gao Feng gemetar sambil mencengkeram jubah mahalnya. "Kawanan Serigala Bayangan menyerang sekaligus, tapi mereka malah memanfaatkan celah sempit itu untuk menahan serangan!"

"Bocah-bocah sampah itu... kenapa mereka sama sekali tidak panik?!" gertak Zhongli Chen dengan gigi merapat rapat. "Cairan Darah Pemancing Roh seharusnya membuat serigala mengamuk liar tanpa memedulikan nyawa! Seharusnya kamp mereka sudah porak-poranda!"

"Tuan Muda, lihat!" tunjuk Mo Qi ke arah asap tipis yang menguar dari api unggun kelompok Shen Jue. "Asap daun herbal yang dibakar bocah berkerudung itu... asap itu membuat serigala-serigala yang mendekati pelataran tampak sedikit ragu-ragu dan kehilangan konsentrasi penciuman mereka!"

Zhongli Chen mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih keras. Rasa frustrasi dan iri yang membakar dadanya kian memuncak saat menyaksikan perangkap mematikan yang ia susun dengan cermat justru berubah menjadi panggung pertunjukan kerja sama tim lawan yang teramat solid.

Di atas pelataran Tebing Batu Hitam, pertempuran kian memanas. Serangan kawanan serigala yang bergelombang terus menghentak celah jalan setapak. Namun, geometri celah karang yang sempit hanya mengizinkan dua hingga tiga ekor serigala untuk menyerang dalam waktu bersamaan.

Gongsun Zhi berdiri kokoh bagai benteng besi yang tak tergoyahkan. Pertahanan tombaknya yang rapat dipadu dengan ketahanan fisik yang ia latih setiap hari sanggup mematahkan setiap gempuran fisik serigala. Setiap kali ada serigala yang berusaha memanjat dinding batu untuk melewati Gongsun Zhi, sabetan cakar perak Xi'er dari atas selalu menyambut mereka dengan presisi mematikan.

Chemistry antartiga murid baru ini terjalin tanpa celah. Gongsun Zhi menjadi perisai utama yang menampung beban serangan, Xi'er menjadi penyerang bayangan yang menutup sudut buta, sementara Shen Jue berperan sebagai pengatur ritme dan penyelesai eksekusi jitu.

Ketika seekor Serigala Bayangan berukuran lebih besar—pemimpin kawanan dengan bulu kemerahan di dada—melesat melompati kepala Gongsun Zhi dengan kecepatan luar biasa, Shen Jue bergerak.

Tanpa suara, tubuh berkerudung abu-abu itu menyapu lantai batu. Langkah kakinya begitu ringan hingga tak memicu desiran udara sedikit pun. Sebelum taring serigala merah itu sempat menyentuh jubah Gongsun Zhi dari belakang, Shen Jue sudah menyusup di bawah perut sang pemimpin kawanan.

Jleb!

Belati berkarat di tangan Shen Jue menancap dalam tepat di simpul saraf bawah rahang musuh. Hawa dingin asing yang tersembunyi di dalam mata logam tua itu membeku seketika, menghentikan seluruh aliran energi spiritual serigala merah tersebut dalam hitungan milidetik.

Serigala raksasa itu ambruk kaku di atas lantai batu tanpa sempat mengeluarkan raungan kesakitan.

Shen Jue menarik belatinya kembali, berdiri pelan seraya menyapu pandangan ke arah jalan setapak yang kini dipenuhi oleh belasan bangkai serigala. Sisa-sisa kawanan serigala yang berada di luar celah tebing mulai memundurkan langkah mereka, gemetar ketakutan melihat pemimpin mereka tumbang begitu cepat tanpa perlawanan.

"Mereka mulai mundur," pungkasi Xi'er sambil mendarat di samping Shen Jue, menyapu keringat tipis di dahinya dengan senyum puas.

"Serangan gelombang pertama selesai," pungkasi Gongsun Zhi seraya menyandarkan tombaknya ke dinding karang, menghela napas panjang untuk memulihkan tenaganya.

Shen Jue menyunggingkan senyum tipis, lalu melayangkan tatapan mata gelapnya menembus kerapatan kabut malam ke arah lereng bawah—tepat ke posisi persembunyian Zhongli Chen.

"Terima kasih atas kiriman poin ujiannya, Zhongli Chen," pungkasi Shen Jue dalam batinnya dengan kedinginan jernih.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!