Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Harga Sebuah Kepercayaan
Celine Wang tidak memejamkan mata sepanjang malam.
Foto Shen Yuxin yang sedang menyerahkan sebuah map kepada Evelyn Zhao masih terbuka di layar laptopnya. Gambar itu terlihat cukup jelas untuk membuat siapa pun percaya bahwa kedua perempuan tersebut sedang bekerja sama secara diam-diam.
Namun, Celine tahu satu foto tidak cukup untuk membuktikan pengkhianatan.
Ia pernah mengalami sendiri bagaimana kebohongan dapat disusun dari potongan-potongan fakta. Pernikahannya dengan Alexander Wu hancur karena ia terlalu lama percaya bahwa cinta berarti memberikan kepercayaan tanpa mempertanyakan apa pun.
Kini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Tetapi ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Bagaimana jika Yuxin memang telah memanfaatkannya sejak awal?
Bagaimana jika surat misterius empat tahun lalu, dokumen yang diberikan kepadanya, dan semua peringatan tentang Shen Yiran hanyalah bagian dari rencana untuk menjadikan Celine alat bagi kepentingan keluarga Shen?
Celine menutup laptopnya.
Ia lelah mencurigai semua orang. Lebih dari itu, ia lelah harus berpura-pura kuat setiap kali seseorang yang dipercayainya ternyata menyimpan rahasia.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah,” bisiknya dalam kesunyian apartemen.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya menangis. Bukan karena Alexander, bukan karena Evelyn, melainkan karena ia merindukan ayahnya.
Ia merindukan suara William yang selalu menenangkannya ketika dunia terasa terlalu kejam. Ia merindukan nasihat sederhana pria itu, yang dahulu sering mengatakan bahwa kejujuran mungkin membuat seseorang kehilangan banyak hal, tetapi kebohongan akan membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
Celine mengusap pipinya.
Jika ayahnya benar-benar menyembunyikan sesuatu, ia akan mencari tahu. Jika Yuxin mengkhianatinya, ia akan menghadapinya. Namun, ia tidak akan membiarkan rasa sakit mengubahnya menjadi seseorang yang menghukum orang lain hanya karena ia takut terluka lagi.
Pagi harinya, Celine mengambil keputusan.
Ia akan menemui Shen Yuxin secara langsung.
Kali ini, tanpa tuduhan dan tanpa memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengalihkan pembicaraan.
Ia akan meminta kebenaran.
Pukul sepuluh pagi, Celine tiba di gedung Shen Capital.
Ia tidak langsung menuju ruang kerja Yuxin. Sebaliknya, ia meminta bagian keamanan memeriksa catatan akses ruang arsip lama pada hari sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, seorang petugas menyerahkan laporan kepadanya.
Tercatat bahwa Yuxin memasuki gedung arsip pada pukul 15.17 dan keluar dua puluh menit kemudian. Namun, tidak ada catatan mengenai Evelyn yang memasuki area tersebut.
Celine memandangi laporan itu.
Foto yang diterimanya mungkin diambil di luar gedung, pada waktu yang berbeda, atau bahkan di tempat lain. Ia belum memiliki cukup informasi untuk memastikan.
Ia kemudian meminta rekaman kamera keamanan di lorong arsip. Sayangnya, rekaman selama empat puluh menit pada sore sebelumnya tidak tersedia karena sistem mengalami gangguan.
Kebetulan yang terlalu sempurna.
Celine mengembalikan laporan tersebut.
“Jangan menghapus data apa pun yang tersisa,” pesannya kepada petugas keamanan. “Jika ada pihak yang meminta salinan rekaman, catat nama dan waktu permintaannya.”
Setelah itu, ia naik ke lantai dua puluh satu.
Shen Yuxin sedang duduk di ruang kerjanya ketika Celine masuk. Di atas meja terdapat beberapa dokumen dan secangkir kopi yang sudah dingin.
Yuxin mengangkat kepala.
“Kau datang lebih cepat dari yang kuduga.”
Celine menutup pintu.
“Aku ingin bertanya tentang foto ini.”
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, menampilkan gambar Yuxin bersama Evelyn.
Wajah Yuxin berubah.
Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Celine untuk menyadarinya.
“Kapan kau mendapatkannya?” tanya Yuxin.
“Semalam.”
Yuxin memandangi foto itu lama sekali sebelum menghela napas.
“Aku memang bertemu Evelyn.”
Celine merasakan sesuatu di dalam dadanya mengencang.
“Untuk apa?”
“Dia datang membawa sebuah dokumen yang berkaitan dengan Shen Yiran.”
“Dokumen apa?”
Yuxin membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map tipis. Ia meletakkannya di hadapan Celine, tetapi tidak segera melepaskan tangannya.
“Ini salinan daftar pengeluaran Shengyuan dari lima belas tahun lalu. Ada pembayaran kepada sebuah perusahaan transportasi yang kemudian digunakan untuk mengatur perjalanan seseorang ke Hong Kong.”
“Shen Yiran?”
Yuxin mengangguk pelan.
“Evelyn mengatakan ia menemukan dokumen ini di antara barang-barang lama yang disimpan keluarganya.”
Celine menatapnya tajam.
“Jadi, kau menerima dokumen dari Evelyn, tetapi tidak memberitahuku?”
“Aku belum yakin apakah dokumen ini asli.”
“Dan kau tidak berpikir aku berhak mengetahuinya?”
“Aku ingin memeriksanya terlebih dahulu.”
Celine tertawa pendek.
“Semua orang selalu memiliki alasan yang terdengar masuk akal untuk menyembunyikan sesuatu dariku.”
Yuxin menunduk.
“Aku tahu kau sulit mempercayaiku sekarang. Tapi aku tidak pernah bermaksud menggunakanmu.”
“Kalau begitu, mengapa kau menyimpan halaman terakhir laporan kematian ayahmu?”
Yuxin langsung mengangkat kepala.
“Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”
“Jadi, itu benar?”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Yuxin akhirnya berdiri dan berjalan menuju lemari arsip kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah amplop putih yang telah disegel, kemudian menyerahkannya kepada Celine.
“Ini salinan halaman terakhir yang pernah kulihat. Aku menyimpannya karena ada nama yang tidak seharusnya muncul di laporan itu.”
Celine membuka amplop dengan hati-hati.
Di halaman tersebut terdapat nama Victor Wu sebagai saksi kedua, tetapi ada satu bagian lain yang berbeda dari salinan yang dikirimkan kepadanya semalam.
Di bawah kolom saksi, tercantum catatan bahwa Shen Guowei sempat berbicara dengan seseorang melalui telepon sebelum meninggal.
Nama orang itu telah dihapus.
Namun, bekas tinta yang tersisa menunjukkan bahwa nama tersebut terdiri dari dua kata.
Celine mengangkat pandangan.
“Siapa yang menghapusnya?”
“Aku tidak tahu. Aku menemukan salinan ini dalam arsip pribadi ayahku. Halaman aslinya tidak ada.”
“Dan mengapa kau tidak memberikannya kepadaku sejak awal?”
Yuxin menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena aku takut nama itu akan membuatmu berhenti mencari.”
“Kenapa?”
Yuxin membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.
Akhirnya, ia berkata pelan, “Karena nama itu berkaitan dengan seseorang yang masih hidup. Seseorang yang mungkin selama ini tidak mengetahui bahwa dirinya terlibat dalam perkara tersebut.”
Celine terdiam.
“Apakah kau tahu siapa orang itu?”
“Aku punya dugaan. Tapi aku belum bisa memastikannya.”
Celine menutup amplop tersebut.
Ia masih marah. Ia belum bisa memercayai Yuxin sepenuhnya. Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa perempuan itu mungkin juga terperangkap dalam rahasia keluarganya sendiri.
“Mulai sekarang, tidak ada lagi dokumen yang kau sembunyikan dariku,” ujar Celine tegas. “Jika kau ingin membantuku, kau harus bersedia menerima kemungkinan bahwa kebenaran akan menyakiti keluargamu.”
Yuxin mengangguk.
“Aku mengerti.”
Celine berdiri dan memasukkan amplop itu ke dalam tasnya.
Sebelum ia pergi, Yuxin memanggilnya.
“Celine, ada satu hal yang harus kau ketahui tentang Evelyn.”
Celine berhenti di depan pintu.
“Dia bukan satu-satunya orang yang ingin menemukan Shen Yiran. Ada seseorang yang selama lima belas tahun berusaha memastikan perempuan itu tidak pernah kembali ke Shanghai.”
“Siapa?”
Yuxin menatapnya dengan wajah pucat.
“Aku belum tahu. Tapi orang itu masih memiliki akses ke arsip keluarga Shen.”
Sore harinya, Celine bertemu Daniel di kantor pengacara tersebut.
Daniel memeriksa dua salinan laporan kematian Shen Guowei yang dibawanya. Setelah membandingkan tanggal, format, dan beberapa bagian yang tercetak, ia menemukan perbedaan yang cukup penting.
“Salinan yang kau terima semalam kemungkinan berasal dari dokumen yang berbeda,” jelasnya. “Bukan berarti semuanya palsu, tetapi ada indikasi halaman-halaman ini disusun dari dua sumber.”
“Jadi, seseorang menggabungkan dokumen asli dengan salinan lain?”
“Bisa jadi. Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut.”
Celine mengeluarkan daftar pengeluaran yang diberikan Yuxin.
Daniel segera memperhatikan sebuah nomor transaksi yang tercetak di bagian bawah halaman.
“0917.”
Nomor yang sama kembali muncul.
Pembayaran kepada perusahaan transportasi itu dilakukan dua hari sebelum kematian William. Nama penerima pembayaran tidak tercantum, tetapi terdapat kode persetujuan yang sama dengan transaksi yang pernah mereka temukan sebelumnya.
Daniel menyandarkan punggungnya.
“Semakin jelas bahwa transaksi 0917 bukan sekadar pengalihan aset. Kode ini mungkin digunakan untuk beberapa jenis pembayaran berbeda.”
“Termasuk perjalanan Shen Yiran?”
“Ya. Tapi kita belum tahu siapa yang mengotorisasi pembayaran tersebut.”
Celine memandangi dokumen itu.
“Aku ingin melakukan audit forensik independen. Bukan hanya pada dokumen transaksi, tetapi juga pada tanda tangan yang tercantum di perjanjian pengalihan aset.”
Daniel mengangguk.
“Itu langkah yang tepat. Kalau tanda tangan Evelyn dipalsukan, kita perlu membuktikannya. Kalau asli, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya ia setujui.”
Celine terdiam sejenak sebelum berkata, “Aku tidak ingin menghancurkan seseorang hanya karena aku membutuhkan tersangka.”
Daniel menatapnya dengan tenang.
“Itulah alasan kau harus terus mengikuti bukti, Celine.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Celine merasa napasnya sedikit lebih lega.
Ia belum mendapatkan jawaban akhir, tetapi setidaknya ia tidak lagi berjalan hanya dengan kemarahan sebagai penunjuk arah.
Malam harinya, Alexander menerima sebuah amplop di ruang kerjanya.
Tidak ada nama pengirim. Hanya terdapat tulisan tangan di bagian depan:
Untuk Alexander Wu. Tentang malam ketika William Wang meninggal.
Ia segera membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang memperlihatkan sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah di pinggiran Shanghai. Victor Wu berdiri di dekat pintu masuk, sementara seorang perempuan terlihat samar di balik jendela.
Di bagian belakang foto tertulis:
Ayahmu bukan satu-satunya orang yang datang malam itu. Tanyakan kepada Evelyn siapa yang mengendarai mobil kedua.
Alexander segera menghubungi Evelyn.
Perempuan itu mengangkat telepon setelah dering ketiga.
“Ada apa, Alexander?”
“Aku ingin bertemu denganmu. Sekarang.”
“Aku sedang sibuk.”
“Ini tentang William Wang.”
Keheningan menyusul.
“Aku tidak tahu apa yang ingin kau dengar.”
“Aku ingin tahu siapa yang mengendarai mobil kedua pada malam kematiannya.”
Evelyn menarik napas tajam.
“Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”
Pertanyaan tersebut sudah cukup membuat Alexander semakin curiga.
“Jadi, kau memang mengetahui sesuatu.”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Kalau begitu, temui aku besok. Kita akan membicarakannya di hadapan Daniel dan Celine.”
“Tidak!” Suara Evelyn mendadak meninggi. “Kau tidak boleh membawa Celine ke dalam masalah ini.”
Alexander terdiam.
“Kenapa? Apa yang sebenarnya kau takutkan?”
Evelyn tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, sambungan telepon terputus.
Alexander menatap layar ponselnya.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun mempercayai Evelyn sebagai perempuan yang tidak mungkin menyimpan rahasia sebesar itu darinya. Namun, kini setiap penyangkalan Evelyn justru menimbulkan pertanyaan baru.
Di saat yang sama, ponselnya menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Jika kau ingin melindungi Celine, berhentilah mencari tahu siapa yang mengendarai mobil kedua. Sebab ketika identitasnya terungkap, Celine akan mengetahui bahwa kematian ayahnya bukan satu-satunya kehilangan yang harus ia tanggung.
Alexander membaca pesan itu berulang kali.
Lalu ia melihat foto yang masih berada di tangannya.
Perempuan di balik jendela mobil hitam itu memiliki wajah yang samar, tetapi bentuk kalung yang dikenakannya terlihat jelas.
Alexander mengenali kalung tersebut.
Kalung yang sama pernah ia lihat di sebuah foto keluarga lama milik Celine.
Kalung milik Amelia Wang, ibu Celine.
Darah Alexander terasa membeku.
Jika Amelia berada di rumah itu pada malam kematian William, maka seluruh cerita tentang keluarga Wang yang selama ini mereka ketahui mungkin tidak lengkap.
Dan jika Amelia mengetahui siapa yang berada di mobil kedua, mungkin ia membawa rahasia itu sampai ke liang kubur.
Alexander segera menghubungi Daniel.
“Aku menemukan sesuatu yang harus dilihat Celine,” katanya dengan suara tegang. “Tapi sebelum kau memberitahunya, aku perlu memastikan satu hal.”
“Apa?”
Alexander menatap foto itu sekali lagi.
“Apakah Amelia Wang benar-benar meninggal tanpa meninggalkan petunjuk apa pun tentang malam kematian suaminya?”
Di ujung telepon, Daniel terdiam cukup lama.
Kemudian ia menjawab dengan suara pelan.
“Alexander, ada satu dokumen dari arsip Amelia yang belum pernah kutunjukkan kepada Celine.”
Alexander berdiri mendadak.
“Dokumen apa?”
Daniel menarik napas.
“Surat yang ditulis Amelia tiga hari sebelum ia meninggal. Dan di dalamnya, ia menyebut nama seseorang yang selama ini kita kira tidak pernah terlibat.”
Sebelum Alexander sempat bertanya lebih jauh, Daniel menambahkan satu kalimat yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
“Nama itu adalah nama orang yang sekarang bekerja di Shen Capital.”
Bersambung.