NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Retakan di Tembok Pertahanan

Rasa tenang itu tidak bertahan lama.

Saat aku terbangun di tengah malam, keheningan kamar hotel justru terasa mencekik. Kalimat-kalimat Kareen tadi malam mendadak berputar kembali di kepalaku, tapi kali ini dipenuhi rasa cemas dan kejengkelan yang membakar. Tahu apa dia tentang hidupku? Tahu apa wanita itu tentang rasa takut kelaparan, ketakutan kehilangan tempat tinggal, dan malam-malam penuh peluh demi menjaga Rayan tetap aman?

Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini. Rasa sakit dan kecemasan adalah perisai yang menjagaku tetap hidup selama bertahun-tahun. Ketika seseorang dengan mudahnya menyuruhku "melepaskan kendali", rasanya seperti orang asing yang tiba-tiba melucuti senjataku di tengah medan perang.

Keesokan harinya, di jeda istirahat sore sebelum sesi penutupan pelatihan, aku berdiri sendirian di lorong belakang gedung yang sedang sepi, menatap hujan deras yang mengguyur kota Bandung. Tanganku mengepal erat di saku celana.

"Reno?"

Suara itu datang lagi. Aku berbalik cepat, menatap Kareen yang berjalan mendekat dengan dua cangkir teh hangat. Wajah ramah dan tatapannya yang bijak itu justru memancing emosiku yang memuncak. Aku sangat marah padanya. Aku benci dengan apa yang selalu dia katakan sebelumnya padaku.

"Jangan pura-pura mengerti hidupku, Kareen," potongku dingin sebelum ia sempat menyapa. Suaraku bergetar, menahan amarah yang tertahan di tenggorokan.

Kareen terhenti. Ia menatapku tenang, tidak terkejut maupun tersinggung. "Reno—"

"Kamu datang dari bagian SDM, hidup rapi, punya pekerjaan bagus, lalu dengan mudahnya menilai caraku bertahan hidup!" lantang ku, meluapkan amarah yang selama ini terkunci. "Garis batas ini, tembok ini, dan ketakutanku... itu semua yang buat aku dan adikku bertahan sampai hari ini! Kamu tidak tahu rasanya kehilangan segalanya dalam sekejap. Kamu tidak berhak datang dan menyuruhku berubah!"

Aku menghembuskan napas berat, dadaku naik turun. Aku bersiap menerima amarah balik, atau setidaknya melihatnya berjalan pergi meninggalkanku. Namun Kareen tidak bergeser sedikit pun. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja terdekat, lalu melangkah pelan mendekatiku.

"Aku tidak menyuruhmu membongkar semuanya, Reno," ucap Kareen, suaranya sangat lembut namun berwibawa. "Dan aku tidak pernah meremehkan perjuanganmu. Kamu hebat, sangat hebat karena sudah membawa dirimu dan Rayan sejauh ini."

Ia berhenti tepat di hadapanku, menatap mataku tanpa ada rasa takut.

"Tapi kamu juga manusia, Reno. Kamu bukan mesin yang harus menanggung beban dunia sendirian selamanya. Marah itu tidak apa-apa. Takut juga tidak apa-apa. Kamu sudah terlalu lama bertahan sendirian, sampai kamu lupa rasanya dibantu."

Kalimat-kalimat itu meluncur seperti usapan hangat di atas luka lama yang tak pernah disembuhkan. Amarah yang tadi membakar mendadak surut, berganti dengan rasa lelah yang teramat sangat—rasa lelah dari usia sepuluh tahun berpura-pura kuat.

"Aku... aku cuma takut," bisikku. Suaraku serak, pertahananku pecah sepenuhnya. "Aku takut kalau aku lengah sedikit saja, Rayan bakal kehilangan semuanya lagi..."

"Kamu tidak sendirian lagi," bisik Kareen bijak.

Tanpa ragu, Kareen merengkuh bahuku, menyuruhku bersandar. Saat kehangatan dekapan itu merengkuh tubuhku, benteng tinggi yang ku bangun bertahun-tahun runtuh sepenuhnya. Air mata yang ku sembunyikan sejak usia sepuluh tahun akhirnya tumpah. Aku menangis sesenggukan di pelukan Kareen, meremas kemejanya di bawah riuh suara hujan Bandung—membiarkan diriku runtuh untuk pertama kalinya.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!