Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - PEDANG DI ANTARA KERANJANG
Pagi itu, petani dari lereng utara kembali ke toko Mo.
Ia datang bersama anak lelakinya dan gerobak kecil yang kemarin membawa kiriman. Keranjang kosong disusun di belakang, sementara satu kantong gandum diletakkan di lantai. Ia tidak membawa bahan baru.
“Daun yang lembap itu sudah dikeringkan ulang?” tanyanya.
Mo menunjuk jemuran di halaman belakang. “Sebagian. Pangkal beberapa bundel masih menyimpan air. Yang lain bisa disimpan, tapi tidak akan kubayar dengan harga bahan kering sempurna.”
Petani itu mengusap janggutnya. “Aku perlu uang hari ini.”
“Aku tidak bisa membayar seolah semuanya sudah siap dijual.”
Lin Feng berdiri di dekat meja, memegang buku catatan. Ia mengenali beberapa bundel yang dipisahkan kemarin. Urat daun yang masih utuh dikumpulkan di satu sisi, sementara batang yang mulai menghitam diletakkan di nampan kecil.
Mo meminta Lin menyebutkan jumlah setiap tumpukan. Ia menghitung ulang, membandingkan berat, lalu menulis hasilnya. Catatannya membantu Mo menjelaskan bahwa sebagian bahan selamat, tetapi sebagian lain kehilangan nilai karena terlalu lama lembap.
Petani itu memeriksa tumpukan yang masih layak. “Setengah harga terlalu rendah.”
“Kalau kau menyimpannya, kau menanggung risiko busuk. Kalau kubeli, aku menanggung waktu dan tempat untuk mengeringkan sisanya.”
“Daun yang selamat lebih banyak daripada yang rusak.”
“Karena itu aku membayarmu untuk yang selamat.”
Mereka berunding beberapa saat. Mo menaikkan tawaran sedikit untuk bagian yang sudah kering dengan baik. Petani menerima setelah menghitung uang yang ia butuhkan. Ia tidak tampak senang, tetapi setidaknya tidak pulang tanpa hasil.
Saat transaksi selesai, ia menepuk bahu anaknya. “Lain kali kita gantung daunnya sebelum pulang. Jangan menunggu sampai keranjang tiba di kota.”
Anak itu mengangguk. Ia tampak kecewa karena harus menempuh perjalanan lagi, tetapi tetap membantu mengangkat gandum. Lin mencatat cara pengeringan yang lebih baik di halaman baru.
“Jangan tulis sebagai aturan umum,” kata Mo. “Itu hanya berlaku untuk kiriman ini. Kalau cuacanya berbeda, waktunya bisa berubah.”
Lin menambahkan tanda kecil di tepi catatan: kondisi khusus. Ia mulai memahami bahwa sebuah cara kerja yang berhasil sekali tidak otomatis menjadi resep untuk setiap keadaan.
Bel pintu berbunyi menjelang tengah pagi. Seorang pemuda masuk dengan pedang panjang terbungkus kain biru di punggung. Rambutnya berantakan, tetapi wajahnya cerah seolah ia baru saja memenangkan sesuatu. Ada luka tipis di pangkal ibu jari dan bekas merah di telapak tangan.
“Mo, apa kau punya salep yang tidak membuat tanganku berbau seperti ikan asin?” tanyanya.
“Kalau tanganmu berhenti terluka, kau tidak perlu salep.”
“Kalau aku berhenti berlatih, tangan ini juga tak akan berguna. Jadi, kita terjebak dalam lingkaran.”
Mo menunjuk bangku. “Duduk. Tunjukkan lukanya.”
Pemuda itu menurunkan pedang dan duduk, lalu membiarkan Mo memeriksa tangannya. Ia menatap Lin yang masih mencatat. “Kau murid baru?”
“Pekerja harian.”
“Jadi kau belum dipaksa menghafal semua nama tanaman?”
“Belum.”
“Bagus. Aku sudah tiga kali mencoba menghafal nama-nama ramuan pemulih, lalu setiap kali lupa saat harus membelinya.” Ia menoleh kepada Mo. “Satu salep biasa saja. Aku tidak butuh ramuan yang membuatku lebih kuat, cuma tangan yang tidak terbuka lagi sebelum ujian.”
“Ujian apa?” tanya Lin.
“Seleksi pengawal pedang di Mercenary Hall. Aku ingin mendapat pekerjaan tetap. Mengawal karavan dibayar lebih baik daripada menerima tugas kecil satu per satu.” Pemuda itu tersenyum lebar. “Aku sudah gagal sekali. Kali ini aku akan lebih siap.”
“Kenapa gagal?”
“Aku terlalu banyak bicara kepada penguji.” Ia mengatakannya tanpa malu. “Lalu aku menjawab bahwa aku bisa melawan tiga orang sekaligus. Mereka bertanya apakah aku pernah melakukannya. Ternyata mereka ingin bukti.”
Senyumnya tak hilang, tetapi ia diam sesaat sebelum melanjutkan. “Mereka juga bertanya apa yang kulakukan kalau penjaga lain terluka. Aku menjawab akan membawa orang itu keluar. Penguji bertanya apakah aku pernah mengangkat orang dewasa yang cedera. Belum.” Ia mengangkat tangan yang diperban. “Jadi sekarang aku berlatih menjaga keseimbangan dan membagi beban. Pedang tidak banyak berguna kalau temanmu tak bisa pulang.”
Mo menggeleng sambil mengoleskan salep. “Mereka benar.”
“Sekarang aku punya bukti.” Pemuda itu menepuk sarung pedangnya. “Aku bisa mengalahkan karung latihan yang sama setiap hari.”
“Itu bukan bukti yang mereka maksud.”
“Belum tentu. Karung itu punya banyak pengalaman.”
Lin Feng hampir tersenyum. Pemuda itu berbicara seolah kegagalan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Namun ketika Mo menekan salep pada luka, ia tetap meringis dan mengepalkan tangan kirinya. Ada rasa sakit nyata di balik keriangannya.
“Namaku Bai Xiao,” katanya kepada Lin. “Aku datang dari desa di sisi barat kota. Kalau kau sering bekerja di toko ini, kita mungkin akan bertemu lagi.”
“Lin Feng.”
Bai menatap catatan di tangan Lin. “Kau mencatat apa?”
“Asal, kondisi, dan cara bahan dikeringkan.”
“Kalau suatu hari kau menemukan ramuan yang membuatku kebal terhadap luka, beri tahu aku.”
“Mo mungkin akan menjualnya kepadamu dengan harga mahal.”
“Kalau begitu, aku akan belajar membuatnya sendiri.”
Mo menyelipkan pot kecil salep kepada Bai. “Belajar menghindari tebasan dulu.”
Bai menerima salep dan membayar satu keping. Ia menyimpannya di sabuk, lalu berdiri. “Ujian itu tiga hari lagi. Kalau aku lulus, aku akan membelikan kalian makan.”
“Kalau gagal?” tanya Lin.
“Aku tetap akan membelikan makan. Hanya mungkin setelah mendapat pekerjaan lain.” Ia mengangkat bahu. “Orang harus makan, entah menang atau kalah.”
Ia mengikat kembali pedangnya dan melangkah keluar. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi. “Jangan biarkan Mo membuatmu bekerja sampai lupa makan. Dia mengira orang bisa bertahan hidup dari catatan.”
“Aku dengar itu,” kata Mo dari dalam.
“Bagus. Berarti telingamu masih sehat.” Bai tertawa dan menghilang di antara lalu lintas jalan.
Lin kembali ke catatan. Di halaman baru ia menuliskan hasil kiriman lereng utara dan batas berlakunya cara pengeringan. Ia belum tahu apakah akan bertemu Bai lagi, atau apakah pemuda itu benar-benar akan lulus ujian.
Tetapi ia mengingat tujuannya: pekerjaan tetap, bukan sekadar kesempatan untuk membanggakan diri. Di kota ini, bahkan orang yang mengayunkan pedang setiap hari tetap harus menghitung biaya salep dan makanan.
Mo memeriksa buku Lin. “Tulisanmu semakin rapi.”
“Bahan yang salah lebih mudah ditemukan kalau catatannya terbaca.”
“Jangan cepat merasa pintar.”
Lin menatap satu baris yang baru ia tulis, memastikan nama dan kondisi bahan tidak tertukar. “Saya sedang mencoba tidak melakukannya.”
Mo tidak menjawab, tetapi ia membiarkan Lin menyimpan catatannya sendiri. Itu bukan tanda bahwa ia sudah dipercaya sepenuhnya. Hanya satu langkah kecil yang diperoleh dari kerja, koreksi, dan waktu.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, Lin menggunakan keping upahnya untuk membayar satu malam lagi. Ia tak menyisakan uang, tetapi setidaknya tak perlu memilih antara tidur di jalan dan mengabaikan lukanya.