Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.
Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.
Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA KETUKAN
Tiga ketukan itu terdengar pelan, tapi di ruang tamu yang sunyi, bunyinya seperti palu menghantam kaca.
Vania menarik tangan Laras dari balik gorden dan menyeretnya menjauh dari jendela. Napasnya memburu. "Jangan keluar. Jangan bersuara."
"Dia sahabatku," bisik Laras. Tapi suaranya sendiri terdengar ragu. Sepuluh tahun persahabatan tiba-tiba berdiri di atas lantai yang retak.
"Foto itu, Mbak. Ingat foto itu."
Ketukan terdengar lagi, kali ini disusul suara yang sangat Laras kenal, hangat dan sedikit serak.
"Ras? Aku tahu kamu di dalam. Aku lihat sandalmu di depan pintu."
Laras menunduk. Benar. Sandal jepit birunya tertinggal di teras, terlalu mencolok untuk disembunyikan.
"Ras, tolong buka. Aku nggak datang untuk menyakitimu. Aku datang karena kamu dalam bahaya."
Vania menggeleng cepat dengan mata melebar, tapi Laras sudah mengambil keputusan. Ia melepaskan genggaman Vania dengan lembut.
"Kalau dia ingin menyakitiku, dia sudah punya seribu kesempatan selama sepuluh tahun ini," katanya pelan. "Aku mau dengar langsung dari mulutnya."
"Mbak, jangan..."
Laras sudah berjalan ke pintu. Ia memutar kunci dan membukanya.
Mira berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih kusut dan rambut berantakan. Matanya merah, seperti orang yang tak tidur semalaman. Di tangannya ada map cokelat tebal, dan bahunya naik turun karena napas yang terburu-buru.
"Syukurlah," katanya lirih. "Syukurlah kamu masih baik-baik saja."
Pandangannya beralih ke belakang Laras, ke arah Vania yang berdiri kaku di tengah ruang tamu. Sesuatu melintas di wajahnya, bukan kemarahan, bukan kejutan, melainkan kelegaan yang aneh.
"Jadi kamu Vania," kata Mira. "Bagus. Itu mempermudah semuanya."
"Kau mengikutiku," ucap Vania dengan suara bergetar. "Kau ada di foto itu bersama Dimas."
"Aku ada di foto itu karena aku memang sedang mengejar orang yang sama denganmu." Mira melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya, dan meletakkan map itu di meja. "Dan kalau kalian berdua mau selamat, kita harus bicara sekarang. Jangan buang waktu."
---
Mereka bertiga duduk di ruang tamu yang gordennya tertutup rapat. Tiga cangkir teh dingin tak tersentuh di meja.
Mira membuka mapnya. Di dalamnya ada puluhan lembar dokumen, salinan kontrak, laporan keuangan, dan beberapa foto yang diambil dari jarak jauh.
"Aku mulai dari awal," katanya. "Setahun lalu, firma tempatku bekerja menerima klien baru. Seorang pengusaha bernama Rudi Hartanto. Pemilik grup perusahaan besar di Surabaya. Kami disewa untuk menangani sengketa warisan sebuah perusahaan yang dulu dimiliki keluarga Wijaya."
Vania tersentak. "Wijaya. Itu nama keluarga Mas Reza."
"Betul." Mira mengangguk. "Orang tua Reza, Hendra dan Sari Wijaya, adalah pendiri perusahaan itu. Mereka meninggal dalam kecelakaan sebelas tahun lalu. Setelah itu, perusahaan jatuh ke tangan Rudi Hartanto, yang mengaku sebagai mitra bisnis dan pemegang saham mayoritas. Reza tidak pernah tahu bahwa ia sebenarnya pewaris sah."
"Karena ada surat wasiat yang hilang," sambung Vania pelan.
"Bukan hilang. Disembunyikan." Mira menatap tajam. "Rudi menyembunyikannya, dan selama bertahun-tahun ia aman. Sampai sebulan lalu, ketika salah satu mantan sekretaris almarhum Hendra, yang sakit keras, mengaku bahwa ia menyimpan salinan wasiat itu. Dan salinan itu dititipkan pada seseorang."
Laras merasakan firasat dingin merambat di tengkuknya. "Pada siapa?"
Mira menarik satu lembar foto dari tumpukan dan mendorongnya ke seberang meja.
Foto itu menampilkan seorang perempuan tua di ranjang rumah sakit, memegang tangan seorang pria muda yang menunduk sopan di sampingnya. Pria itu mengenakan kemeja kerja sederhana dan membawa tas hitam.
Wajahnya tidak asing.
"Dimas," bisik Laras.
"Delapan tahun lalu," kata Mira. "Sebelum kalian pindah ke sini. Sebelum dia naik jabatan secepat itu. Dimas sudah lama berhubungan dengan sekretaris itu. Entah kebetulan atau bukan, perempuan tua itu mempercayakan salinan wasiat padanya, karena ia pikir Dimas orang jujur."
Laras menatap foto itu, dan untuk pertama kalinya hari itu, matanya mulai panas. "Jadi Dimas memegang wasiat itu selama ini?"
"Ya. Dan ia memakainya untuk memeras Rudi."
Vania menutup mulutnya dengan tangan.
"Dimas bukan pion, Ras." Suara Mira melunak, tapi tegas. "Dia pemain. Dia memegang kartu paling berharga, dan dia menjualnya mahal pada Rudi. Tapi Rudi bukan orang yang suka diperas. Beberapa bulan terakhir, hubungan mereka memburuk. Rudi mulai mencari cara untuk merebut wasiat itu kembali, tanpa membiarkan Dimas hidup."
"Lalu kenapa Vania?" tanya Laras. Matanya mencari wajah perempuan yang tengah gemetar di seberangnya.
"Karena Dimas butuh jaminan." Mira menarik napas. "Dia tahu Reza adalah pewaris sah. Kalau Dimas bisa menguasai Reza lewat istrinya, dia bisa memaksa Reza menandatangani pengalihan hak atas perusahaan, menyingkirkan Rudi, dan mengambil semuanya untuk dirinya sendiri. Vania adalah jalan masuk."
"Dia memakaiku," bisik Vania, nyaris tak terdengar.
"Dan memakaimu juga, Ras."
Laras menatap sahabatnya. "Aku?"
Mira membuka halaman terakhir di mapnya dan mendorongnya ke depan Laras. Itu salinan sebuah perjanjian pinjaman, puluhan lembar halaman, dengan tabel angka yang membuat kepalanya pening. Di bagian akhir, di kolom penjamin, tertera sebuah nama dan tanda tangan.
*Laras Anggraini.*
Tanda tangan itu miring ke kanan, dengan lengkungan khas di huruf L yang selalu ia buat sejak SMA. Sempurna, hampir tak bisa dibedakan dari tandatangannya sendiri.
Tapi ia tidak pernah menandatangani apa pun seperti ini.
"Itu bukan tanda tanganku," katanya, suaranya serak.
"Aku tahu. Aku sudah mencocokkannya dengan berkas kita saat kamu membuat surat kuasa tahun lalu. Bentuknya mirip, tapi tekanan penanya salah, dan sudut lengkungannya nggak konsisten." Mira menunjuk bagian bawah dokumen. "Tapi di mata hukum, kalau dokumen ini sampai ke bank dan nggak ada yang membantah, kamu bertanggung jawab atas utang sebesar empat miliar rupiah."
Empat miliar.
Dunia Laras seperti terbalik. Angka itu terlalu besar untuk dipahami, terlalu absurd. Ia mencoba menarik napas, tapi paru-parunya seperti diikat tali.
"Dimas memalsukan tanda tanganku."
"Dan itu belum semuanya." Mira menatapnya lekat-lekat. "Dimas menjadikan rumahmu sebagai agunan. Rumah yang kamu tinggali, yang kamu pikir milik kalian berdua."
Ruangan berputar. Laras merasakan Vania menggenggam tangannya, tapi ia nyaris tak sanggup merasakan sentuhan itu. Ia hanya melihat dinding-dinding rumahnya sendiri dalam pikirannya, meja makan, kamar Kenzo, foto di kulkas.
Semua itu telah digadaikan oleh lelaki yang tidur di sampingnya setiap malam.
"Berapa lama waktu kita?" tanyanya akhirnya. Suaranya aneh, datar, nyaris dingin.
"Pihak bank sudah mengirim surat peringatan pertama ke alamat yang salah. Dimas sengaja menggantinya ke kotak pos lain, supaya kamu tidak tahu." Mira membuka kalender di ponselnya. "Kalau tidak ada tindakan, eksekusi agunan bisa dimulai dalam dua bulan. Tapi Rudi lebih cepat dari bank. Kalau dia tahu Dimas sudah mengirim dokumen palsu ini, dia bisa memanfaatkannya untuk menekan kalian berdua."
"Kenapa kau nggak bilang dari awal?" tanya Laras pelan. Bukan marah, tapi terluka. "Kamu tahu semua ini dan cuma diam, Mir."
Mira menunduk. Bahunya yang selalu tegak kini terlihat rapuh.
"Karena aku baru tahu tiga hari lalu. Nama Dimas muncul di berkas klien, dan aku pikir cuma kebetulan. Lalu kamu telepon dan bilang soal suamimu dan tetangga barumu. Semua potongan langsung menyatu." Suaranya bergetar. "Aku takut, Ras. Takut kalau aku beri tahu lewat telepon, ada yang menyadap. Makanya aku datang langsung pagi ini, dan hampir terlambat."
"Terlambat untuk apa?"
Mira mengangkat wajah, dan ketakutan di matanya terlihat jelas.
"Karena tadi pagi, di depan kantor, aku melihat Dimas masuk ke mobil sedan hitam yang sama dengan yang kupinjam ini. Mobil itu milik anak buah Rudi. Dimas tidak sendirian, Ras. Dan dia sedang menuju ke sini."
Seperti diaba-aba, ponsel Laras bergetar di saku dasternya.
Ia mengeluarkannya dengan tangan gemetar. Di layar tertera satu nama:
**Mas Dimas.**
Ketiga perempuan itu saling menatap, tak seorang pun bernapas.
Ponsel itu terus bergetar, sekali, dua kali, tiga kali.
"Angkat," bisik Mira. "Bersikaplah seperti biasa. Jangan biarkan dia tahu kamu sudah tahu."
Laras menatap layar itu. Nama suaminya tampak seperti nama orang asing, seseorang yang ia kenal selama sepuluh tahun tanpa pernah benar-benar melihatnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, menaruh senyum yang sudah ia latih di wajahnya, dan menekan tombol hijau.
"Halo, Mas?"
Suara Dimas terdengar dari seberang, tenang, hangat, sama seperti biasa. Tapi ada sesuatu di belakangnya, bunyi mesin mobil dan suara pria lain yang berbicara rendah.
"Ras, kamu di mana? Aku sudah di depan rumah. Pintu terkunci. Ada tamu yang ingin kenalan sama kamu."