Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : DENDAM YANG MENYUSUP KE DALAM RUMAH
Pesan misterius di layar ponsel itu membeku di dalam ingatan Kirana bagaikan racun yang perlahan menyebar. Dinginnya angin malam yang berembus di balkon lantai dua kediaman Pratama tak lagi terasa menyejukkan, melainkan berubah menjadi cengkeraman ketakutan yang mencekik napas. Foto dirinya dan Aris yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik vegetasi taman adalah bukti telanjang bahwa rumah megah ini tidak lagi menjadi benteng yang aman.
Ia meremas ponselnya erat-erat, membiarkan jemarinya gemetar. Sebagai wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang baru saja mengukuhkan posisinya sebagai ibu tiri sejati, Kirana tahu betul betapa mahal harga kedamaian yang baru saja mereka raih. Ia telah melewati fase di mana dirinya dipandang sebelah mata, dituduh wanita pemeras yang mengincar harta duda kaya, hingga menangis dalam senyap di sudut kamar mandi saat Leo dan Maya menolak kehadirannya. Kini, di saat rasa cinta dan kehangatan baru saja menyelimuti rumah tangga mereka, takdir kembali menyindirnya dengan cara yang paling kejam.
"Kirana?"
Suara berat Aris memecah keheningan. Pria itu berjalan mendekat dari dalam kamar, menyelimutkan cardigan rajut ke bahu Kirana yang terbuka. Sensasi hangat dari sentuhan suaminya membuat Kirana sedikit tersentak.
"Mengapa belum tidur, Sayang? Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu dan calon bayi kita," bisik Aris lembut, menyandarkan dagunya di bahu Kirana, merengkuh pinggang istrinya dari belakang dengan kasih sayang yang melimpah.
Kirana dengan cepat mematikan layar ponselnya dan menyembunyikannya di dalam saku gaun. Ia memutar tubuh, membalas pelukan Aris, dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Bau harum maskulin Aris yang menenangkan menjadi satu-satunya tempat berlindung dari badai ketakutan yang mulai berkecamuk.
"Aku hanya... belum bisa mengusir rasa cemas ini, Mas," aku Kirana jujur, meski ia menahan diri untuk belum menunjukkan foto ancaman itu. Ia tak ingin emosi Aris meledak di tengah malam setelah hari yang menguras jiwa. "Kata-kata Roy di penjara tadi siang... bagaimana jika itu bukan sekadar gertakan kosong?"
Aris menghela napas, mengusap punggung Kirana dengan irama yang lembut. "Roy sedang terdesak. Dialah yang kehilangan segalanya—reputasi, kebebasan, dan masa depan. Dia hanya mencoba menyebar benih kecurigaan agar kita hancur dari dalam. Mengenai Kakek Hendra, aku sudah menyuruh Pak Wijaya mengirim tim investigasi independen ke sanatorium malam ini juga untuk memeriksa kondisi beliau dan memverifikasi seluruh rekam medisnya."
Aris menangkup wajah Kirana, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata istrinya dengan ketulusan yang menggetarkan dada. "Jangan biarkan racun Roy merusak hari-hari awal kebahagiaan kita, Kirana. Kamu sudah berjuang terlalu banyak untuk rumah ini. Sekarang, biarkan aku yang menjadi perisaimu."
Mata Kirana berkaca-kaca. Dulu, Aris adalah sosok suami yang begitu dingin, tertutup oleh benteng trauma masa lalu dan prasangka bahwa Kirana hanyalah wanita haus harta. Namun, perjuangan berdarah-darah yang ditunjukkan Kirana untuk merawat Leo dan Maya serta kesetiaannya di masa-masa sulit telah merobohkan seluruh dinding tebal itu. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan ini kini bertransformasi menjadi ikatan jiwa yang begitu dalam.
"Mas..." bisik Kirana, menyandarkan pipinya di telapak tangan Aris yang hangat dan kasar. "Aku tidak takut pada bahaya di luar sana. Aku hanya takut jika kedamaian yang kita bangun dengan air mata ini harus terenggut lagi dari anak-anak."
"Tidak akan ada yang bisa merenggutnya lagi," janji Aris mantap, menyapu bibir Kirana dengan kecupan hangat yang sarat akan janji perlindungan.
Benih Duri di Dalam Rumah
Kehangatan pagi harinya sedikit mengikis gumpalan awan gelap di dada Kirana. Suara denting sendok dan gelak tawa manis dari meja makan menyambut fajar. Maya, putri kecil berumur enam tahun itu, dengan riang memamerkan gambar keluarga yang baru diselesaikannya di sekolah.
"Lihat, Ibu Kirana! Ini Papa, ini Kak Leo, ini Maya, dan ini Ibu Kirana yang pakai gaun cantik!" seru Maya dengan pendar mata yang begitu polos dan ceria. Di gambar itu, sosok Kirana dilukis dengan mahkota kecil di atas kepalanya.
Dada Kirana berdesir hangat. Kata "Ibu Kirana" yang keluar begitu alami dari bibir mungil Maya adalah kemenangan terbesar dalam hidupnya—sebuah pengakuan yang dahulu harus dibayar dengan derai air mata dan penolakan yang membakar dada.
"Gambarnya indah sekali, Sayang," puji Kirana seraya mencium kedua pipi Maya yang tembam. "Nanti kita tempel di pintu kulkas ya?"
Leo, yang duduk di samping Maya, melahap sarapannya dengan lahap. Anak laki-laki berumur delapan tahun yang tadinya begitu pembangkang dan penuh amarah kini menatap Kirana dengan pandangan penuh rasa hormat. "Ibu, nanti sore usai pulang sekolah, bisakah Ibu mengajari Leo menggambar lukisan cat air? Kata guru di sekolah, hasil lukisan Ibu saat acara pameran kemarin sangat bagus."
"Tentu saja, Leo. Ibu akan siapkan cat airnya nanti sore," jawab Kirana dengan senyum merekah indah di wajah cantiknya.
Aris yang menyaksikan pemandangan itu dari ujung meja makan tersenyum puas. Ia meneguk kopi hitamnya, merasa bahwa seluruh perjuangannya melintasi persidangan kelam Roy dan Shinta telah terbayar lunas oleh keharmonisan keluarga kecil ini.
Namun, ketenangan itu seketika pecah ketika bikir tua pengasuh rumah tangga, Bik Sumi, masuk ke ruang makan dengan wajah sepucat kapas. Tangannya gemetar membawa sebuah kotak kado berukuran sedang yang terbungkus kertas hitam polos tanpa kartu pengirim.
"Maaf, Pak Aris... Nyonya..." kata Bik Sumi dengan suara bergetar. "Ada paket yang diletakkan di depan pintu gerbang utama. Penjaga tidak melihat siapa yang menaruhnya karena keadaan gerbang sedang ramai oleh kurir lain."
Aris mengernyitkan alisnya. "Paket untuk siapa?"
"Untuk... untuk Nyonya Kirana, Pak."
Jantung Kirana menegang seketika. Firasat buruk yang sempat mereda kembali membakar seluruh syarafnya. Ia teringat akan pesan teror semalam.
Aris bangkit dari kursinya dengan sigap. "Bik Sumi, bawa anak-anak ke kamar atas sekarang!" perintahnya tegas, membaca potensi bahaya dari gestur paket tersebut.
"Tapi, Papa..." Maya mengeluh ragu.
"Ke kamar sekarang bersama Bik Sumi, Maya, Leo. Urut instruksi Papa," potong Aris dengan nada bariton yang tak membantah. Leo yang paham situasi segera menggandeng tangan adiknya dan melangkah naik ke lantai dua.
Setelah ruang makan sepi, Aris mendekati meja dan dengan hati-hati menggunakan pisau buah untuk membuka isolasi kotak hitam tersebut. Kirana berdiri tepat di belakang Aris, menggenggam erat lengan kemeja suaminya, menahan napas.
Ketika tutup kotak terbuka, aroma busuk dan amis menyengat hidung.
Di dalam kotak itu tergeletak seekor burung merpati putih yang lehernya telah patah dan berlumuran darah segar. Di bawah tubuh bangkai burung tersebut, terdapat selembar foto berukuran besar yang tercetak jelas: foto pernikahan pertama Aris dan Shinta puluhan tahun lalu, namun wajah Shinta di dalam foto itu telah dicoret-coret dengan tinta merah pekat bagaikan darah.
Di sudut foto, tertulis sepucuk surat kecil dengan ketikan mesin ketik tua:
"Masa lalu tidak pernah benar-benar mati, Kirana. Kamu pikir kamu telah menggantikan posisi wanita di rumah ini? Kamu hanya menempati takhta dari sebuah kuburan yang sebentar lagi akan digali kembali. Bayi di dalam perutmu tidak akan pernah melihat indahnya dunia ini."
Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan, mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding. Wajahnya pucat pasi, seluruh persendiannya serasa lolos dari badannya. Ancaman itu tidak hanya ditujukan untuk dirinya, tetapi langsung menyerang benih kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Keparat!" umpat Aris kasar. Matanya memerah oleh amarah yang menggelegak. Ia mengepalkan tinjunya hingga memutih, membanting pisau buah ke atas meja hingga berdentang keras. "Penjaga rumah ini sangat tidak berguna! Bagaimana bisa barang seperti ini masuk ke dalam perimeter rumahku?!"
Aris langsung meraih ponselnya dan menelepon kepala keamanan kediaman Pratama. "Rudi! Kumpulkan seluruh personel keamanan sekarang juga! Periksa seluruh rekaman CCTV tiga puluh menit terakhir di area gerbang depan! Jika ada yang terlewat, kalian semua saya pecat hari ini juga!"
Kirana terduduk di salah satu kursi makan, tangannya gemetar mengelus perutnya yang masih rata. Air mata ketakutan merembes keluar dari sudut matanya. Mengapa takdir begitu kejam? Di saat ia sudah berhasil merebut hati anak-anak tiri yang mencintainya, di saat ia berhasil menyembuhkan luka hati suaminya, mengapa ada bayangan hitam yang tak kasat mata terus berusaha menghancurkan hidupnya?
Aris berlutut di hadapan Kirana, menggenggam jemari istrinya yang terasa sedingin es. "Kirana, dengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu atau bayi kita. Mulai hari ini, aku akan memperketat pengawalan. Kamu tidak boleh keluar rumah tanpa pengawalan pribadiku."
Kirana menatap Aris dengan mata sembap. "Mas... siapa orang ini? Mengapa mereka begitu membenciku? Apakah ini ada hubungannya dengan yang dikatakan Roy tentang Kakek Hendra?"
Belum sempat Aris menjawab, ponsel milik Aris kembali berdering nyaring. Kali ini panggilan berasal dari nomor tidak dikenal. Aris menekan tombol pengeras suara agar Kirana juga bisa mendengarnya.
"Halo?" suara Aris bergetar oleh amarah yang tertahan.
Dari seberang telepon, terdengar suara tawa seorang wanita—suara yang diubah menggunakan pengubah suara elektronik (voice changer), terdengar melengking dan dingin bagaikan bisikan iblis.
"Bagaimana dengan hadiah kecilku, Aris Pratama? Apakah istri mudamu menyukainya?" tanya suara misterius itu.
"Siapa kau?!" bentak Aris murka. "Tunjukkan dirimu jika kau punya keberanian, keparat! Jangan bermain-main dengan keluarga saya!"
"Haha... amarahmu selalu membuatmu buta, Aris," sahut suara itu dingin. "Kamu pikir kamu sudah menyelesaikan semuanya dengan memasukkan Roy ke dalam penjara? Roy hanyalah anjing pelacak yang bodoh. Kamu tidak pernah tahu siapa musuh yang sebenarnya. Kirana... dengarkan aku, Wanita Muda..."
Jantung Kirana berdegup kencang saat namanya dipanggil oleh suara mengerikan itu.
"Pernikahanmu dibangun di atas kebohongan besar keluarga Pratama. Kamu hanya menjadi tumbal dari permainan harga diri pria yang kamu sebut suami itu. Kembalilah ke tempat asalmu sebelum rahimmu menjadi tumbal berikutnya!"
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus secara sepihak.
Tabir Rahasia Sanatorium
Ruang kerja Aris yang megah kini berubah menjadi markas operasi yang tegang. Pak Wijaya, pengacara senior keluarga Pratama, datang tergesa-gesa bersama dua orang detektif swasta kepercayaan keluarga. Di atas meja kaca, foto teror, burung mati, dan salinan pesan teks misterius dibeberkan.
"Pak Aris," ujar Pak Wijaya dengan raut wajah sangat serius. "Tim kami yang baru saja tiba di sanatorium tempat Kakek Hendra dirawat menemukan hal yang sangat mengejutkan."
Kirana dan Aris saling bertukar pandang dengan tegang. "Apa yang terjadi di sanatorium, Pak Wijaya?" tanya Kirana cepat.
"Kakek Hendra... tidak ada di sanatorium itu."
"Apa?!" Aris bangkit dari kursi kerjanya, matanya membelalak tak percaya. "Apa maksud Anda tidak ada?! Selama dua tahun terakhir, seluruh biaya perawatan koma Kakek dibayarkan secara rutin ke sanatorium privat itu!"
"Catatan medisnya dipalsukan, Pak Aris," jelas detektif swasta yang berdiri di samping Pak Wijaya. "Sanatorium itu ternyata dimiliki oleh sebuah perusahaan cangkang (shell company) yang terdaftar atas nama sebuah yayasan di Singapura. Ketika tim kami mendobrak kamar perawatan Kakek Hendra tadi pagi, kamar itu kosong. Dokter yang menangani Kakek Hendra telah melarikan diri sejak kemarin malam—tepat setelah keputusan sidang Roy dibacakan."
Dada Aris naik turun menahan guncangan emosi yang dahsyat. Dunia seolah berputar balik di atas kepalanya. Selama dua tahun ini, ia percaya bahwa kakeknya—sang pendiri tunggal Pratama Group—terbaring koma tak berdaya akibat serangan stroke mendadak. Namun ternyata, semua itu adalah sandiwara raksasa yang dirancang dengan sangat rapi.
"Lalu di mana Kakek sekarang?!" suara Aris menggelegar di dalam ruangan.
"Kami sedang melacak jalur evakuasi dokter tersebut," jawab sang detektif. "Namun, ada satu hal lagi yang kami temukan dari dokumen rahasia sanatorium. Sebelum Kakek Hendra menghilang dari sanatorium itu, ada seorang wanita yang terdaftar sebagai wali sah yang rutin berkunjung setiap bulan dengan menggunakan identitas palsu."
"Wanita?" potong Kirana dengan alis bertaut. "Siapa wanita itu? Apakah Shinta?"
"Tidak mungkin Shinta," tegas Pak Wijaya. "Shinta berada dalam pengawasan penuh tim kepolisian hingga hari persidangan kemarin. Wanita ini memiliki nama samaran 'Elena'. Dan yang paling mengejutkan... seluruh dana perawatannya disalurkan dari akun rekening milik almarhumah ibu kandung Anda, Pak Aris—rekening warisan yang seharusnya dibekukan sejak dua belas tahun lalu!"
Sentakan fakta itu bagaikan hantaman gada berat yang menghantam dada Aris dan Kirana secara bersamaan. Misteri ini bukannya makin terang, melainkan merangkak masuk ke dalam pusaran rahasia kelam keluarga Pratama yang jauh lebih tua dan mematikan.
Kebenaran di Balik Bayangan
Malam harinya, rumah megah kediaman Pratama dijaga ketat oleh belasan personel keamanan berbadan tegap. Pagar setinggi tiga meter dialiri listrik bertegangan terkontrol, dan kamera pengawas dipasang di setiap sudut tanpa celah. Namun, ketakutan yang sesungguhnya bukanlah ancaman dari luar, melainkan keraguan yang mulai menyusup ke dalam dada Kirana.
Kirana duduk di tepi ranjang kamar utama, menatap keluar jendela yang kini tertutup tirai beludru tebal. Di tangannya, ia memegang sebuah buku harian tua bersampul kulit cokelat—buku yang tak sengaja ia temukan di dalam brankas rahasia ruang kerja Aris saat membantu suaminya memilah dokumen keluarga sore tadi.
Buku harian itu milik mendiang Ibu kandung Aris.
Dengan jari-jemari yang gemetar, Kirana membaca bait demi bait tulisan tangan rapi yang telah menguning dimakan usia. Setiap kata di dalamnya menyibak tabir kegelapan yang selama ini menyelimuti asal-usul keluarga Pratama.
"Jika suatu hari nanti anakku, Aris, membaca tulisan ini... ketahuilah bahwa pernikahan bukanlah tempat perlindungan yang aman di dalam rumah Pratama. Ayahmu dan Kakek Hendra telah mengutuk keluarga ini dengan keserakahan. Mereka tidak pernah menginginkan wanita yang tulus. Mereka hanya membutuhkan wanita yang bisa ditumbalkan untuk menutupi dosa bisnis mereka. Aku takut... aku takut jika wanita berikutnya yang masuk ke rumah ini akan bernasib sama denganku—dilenyapkan saat ia tahu terlalu banyak..."
Tangan Kirana gemetar hebat. Air mata dingin menetes membasahi halaman buku tua itu.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Aris keluar dengan handuk tersangkut di bahunya, mengeringkan rambutnya yang basah. Pandangannya langsung tertuju pada buku harian yang dipegang Kirana.
Ekspresi Aris mendadak berubah sangat kaku. Langkah kakinya terhenti.
"Kirana... dari mana kamu mendapatkan buku itu?" tanya Aris dengan suara yang perlahan berubah menegang.
Kirana mendongak, menatap suaminya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh perpaduan antara rasa cinta, kekecewaan, dan ketakutan yang mendalam. Ia bangkit dari duduknya, memegang buku harian itu tepat di depan dadanya.
"Mas Aris..." suara Kirana bergetar, tercekik oleh rasa sakit yang membakar dada. "Mengapa kamu tidak pernah memberi tahu aku tentang buku harian ibumu? Mengapa ada tulisan bahwa pernikahan di dalam keluarga Pratama adalah sebuah kutukan untuk menutupi kejahatan bisnis?"
"Kirana, dengarkan aku dulu—" Aris melangkah mendekat, namun Kirana melangkah mundur secara instinktif.
"Jawab aku dengan jujur, Mas!" teriak Kirana, air matanya pecah membentuk sungai kecil di pipinya. "Apakah kamu memenangiku dan menikahiku hanya untuk dijadikan perisai dari prasangka orang-orang? Apakah aku hanya dijadikan figuran wanita muda yang bisa disalahkan jika bisnis keluargamu hancur?! Apakah rasa cintamu selama ini hanya sandiwara untuk menutupi rahasia Kakek Hendra?!"
"Cukup, Kirana!" pangkas Aris dengan raungan pilu yang membelah keheningan kamar. Pria tegap itu melangkah cepat, menerobos jarak di antara mereka, dan memegang kedua bahu Kirana dengan erat—bukan dengan kekerasan, melainkan dengan keputusasaan seorang pria yang takut kehilangan separuh jiwanya.
"Demi Allah, Kirana! Demi anak-anak dan bayi di dalam perutmu, aku tidak pernah berniat menumbalkanmu!" Aris berteriak dengan mata berair, sebuah pemandangan yang tak pernah Kirana bayangkan dari sosok Aris yang gagah dan dingin.
"Awalnya... ya! Awalnya pernikahan ini adalah bentuk keputusasaanku untuk mencari ibu bagi Leo dan Maya!" aku Aris blak-blakan dengan napas memburu. "Aku memang pria jahat yang egois saat membawa wanita muda berusia dua puluh empat tahun seperti kamu ke dalam neraka rumah tanggaku! Aku membiarkanmu dihina, aku membiarkan anak-anak menolakmu, dan aku bersikap dingin bagaikan batu!"
Aris berlutut di depan Kirana, menengadahkan wajahnya yang kini dibasahi oleh air mata ketulusan. Pria perkasa itu menangis tergugu di hadapan istrinya.
"Tapi takdir menertawakan kejahatanku, Kirana..." bisik Aris dengan suara pecah. "Di saat aku berniat memanfaatkanmu, kamu justru membalasnya dengan ketulusan yang murni. Kamu memeluk anak-anakku yang liar, kamu mengobati luka jiwaku, kamu berdiri di depanku saat pengadilan berusaha meruntuhkanku! Aku jatuh cinta kepadamu hingga ke dasar jiwaku yang paling dalam! Kamu bukan perisai dosa keluargaku... kamu adalah penyelamat jiwaku!"
Kirana tertegun. Kata-kata Aris yang meluncur bersama derai air mata pria itu menghantam sudut terdalam hatinya. Di dalam mata Aris, tidak ada kebohongan. Yang ada hanyalah rasa penyesalan yang teramat sangat dan kepasrahan seorang suami yang rela menyerahkan nyawanya demi sang istri.
Kirana perlahan menjatuhkan buku harian tua itu ke karpet. Ia berlutut di hadapan Aris, merengkuh kepala suaminya, dan membenamkan wajah Aris ke ceruk lehernya. Keduanya tenggelam dalam pelukan hangat yang dibaptis oleh air mata penyesalan dan pengampunan.
"Maafkan aku, Mas... maafkan aku karena sempat meragukanmu," bisik Kirana seraya mengusap rambut Aris yang basah. "Aku hanya takut... aku sangat takut kehilangan keluarga kecil yang baru saja kita perjuangkan ini."
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, Kirana," janji Aris di balik isak tangisnya. "Aku akan membongkar seluruh rahasia kelam Kakek Hendra, apa pun taruhannya."
Ancaman di Tengah Malam
Ketenangan emosional yang baru saja terikat di antara mereka mendadak terputus secara brutal.
BZZZZT!
Lampu kamar utama tiba-tiba mati total. Seluruh aliran listrik di kediaman megah Pratama padam secara serentak. Suasana seketika menjadi gelap gulita, hanya disinari oleh pendar cahaya rembulan yang samar dari balik celah tirai.
KLANG!
Suara kaca pecah yang sangat keras terdengar melengking dari arah lantai bawah—tepatnya dari arah ruang tengah!
Bersamaan dengan itu, suara jeritan ketakutan Maya dan teriakkan peringatan Leo membahana melintasi lorong lantai dua!
"Ibuuu! Papaaa! Ada orang jahat masuk!" teriak Leo dari dalam kamar anak.
Darah Kirana tersentak hebat. "Anak-anak!" serunya panik.
Aris dengan sigap berdiri, menarik Kirana ke belakang tubuhnya dan mencabut pistol pelindung diri yang disimpannya di dalam brankas samping ranjang. "Kirana, tetap di belakangku! Jangan pernah melepaskan genggaman tanganku!"
Dalam kegelapan yang mencekam, Aris dan Kirana melangkah keluar kamar menuju lorong lantai dua. Bau asap suar (flare) berwarna merah pekat mulai memenuhi udara, disertai suara langkah kaki sepatu lars yang berat menaiki tangga utama secara perlahan.
Dari balik kegelapan lorong di ujung tangga, sebuah bayangan tinggi tegap berdiri dengan memegang sebuah suar merah yang menyala menyengat. Pendar merah suar itu menerangi wajah sang penyusup—seorang wanita bergaun hitam anggun dengan topeng separuh wajah yang tersenyum culas.
Di belakang wanita itu, dua orang pria berbadan kekar memegang pengasuh rumah tangga, Bik Sumi, yang mulutnya telah dilakban.
"Selamat malam, Aris Pratama... dan Nyonya Muda Kirana," suara wanita bertopeng itu mengalun merdu, namun sarat akan intonasi kekejaman yang tak terhingga. Suara itu adalah suara pengubah elektronik yang sama dengan yang menelepon mereka tadi siang!
"Siapa kau?!" bentak Aris, mengarahkan moncong senjata api tepat ke dada wanita bertopeng tersebut. "Lepaskan pelayan rumahku dan angkat tanganmu!"
Wanita bertopeng itu tertawa pelan, melangkah maju satu demi satu anak tangga tanpa ada rasa takut sedikit pun pada senjata di tangan Aris.
"Kamu mau menembakku, Aris? Sebelum kamu menarik pelatuk itu, ketahuilah bahwa anak-anakmu—Leo dan Maya—sudah berada di bawah cengkeraman timku di dalam kamar mereka," bisik wanita itu dingin. "Satu letusan darimu, dan anak-anak itu tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi."
Kirana melepaskan cengkeramannya dari bahu Aris, melangkah maju satu langkah dengan keteguhan hati yang membara meski tubuhnya gemetar ketakutan demi melindungi anak-anak tirinya.
"Apa yang kamu inginkan dari keluarga kami?!" teriak Kirana penuh keberanian, menatap lurus ke dalam matakan wanita bertopeng di bawah pendar merah asap suar. "Jika kamu menginginkan harta atau dokumen Pratama Group, ambil semuanya! Tapi jangan sentuh anak-anak!"
Wanita bertopeng itu menghentikan langkahnya di anak tangga teratas, memiringkan kepalanya menatap Kirana dengan pandangan penuh penghinaan dan kedengkian yang mendalam.
"Harta?" wanita itu terkekeh sinis. "Aku tidak butuh uang murahan Pratama Group, Kirana. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal... termasuk posisi sebagai Nyonya di rumah ini!"
Dengan gerakan pelan dan dramatis, wanita bertopeng itu mengangkat jemarinya yang berhias cincin permata zamrud tua, lalu perlahan membongkar topeng yang menutupi separuh wajah atasnya.
Ketika topeng itu terlepas dan pendar merah suar menerangi paras wajah di baliknya, napas Aris dan Kirana tercekat secara bersamaan.
Wajah wanita itu memiliki ukiran luka bakar halus di pipi kirinya, namun fitur wajah cantiknya sangat tidak asing—sebuah paras yang selama ini dipikir telah membusuk di dalam kuburan dan penjara!
"Kamu..." bisik Aris dengan suara yang nyaris tak keluar dari tenggorokannya, matanya membelalak penuh horor dan ketakutan yang teramat sangat. "Tidak... ini tidak mungkin..."
Wanita itu tersenyum manis, sebuah senyuman beracun yang menyayat kegelapan malam.
"Ya, Aris... ini aku," bisiknya halus. "Ibu kandung dari Leo dan Maya yang sebenarnya... yang telah kamu bunuh dalam ingatan anak-anakmu demi menikahi wanita muda haus harta ini!"
Siapakah sosok wanita misterius yang mengaku sebagai ibu kandung Leo dan Maya yang sebenarnya? Apakah Shinta yang asli telah memalsukan kematiannya dua kali, ataukah ada rahasia saudara kembar yang tersembunyi di balik warisan Kakek Hendra? Akankah Kirana mampu melindungi anak-anak tirinya dan janin di dalam rahimnya dari amukan dendam masa lalu yang kini mendobrak masuk ke dalam rumahnya?