Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 20. KEBERANIAN ALESSIA!
Alessia tiba di kafe beberapa menit kemudian. Ia memarkir motornya agak jauh, lalu masuk dengan langkah tenang, meski jantungnya berdegup keras.
Begitu sampai di meja yang disebutkan dalam pesan, langkahnya terhenti.
Alessia hampir saja berbalik.
Sosok yang duduk santai di sana adalah seseorang yang sangat ia kenal.
William Brow.
Pria itu bahkan terlihat terlalu santai, seolah mereka sedang bertemu untuk minum kopi biasa, bukan setelah sebuah penjaga mansion ditemukan tewas.
Alessia menarik napas panjang.
Jadi kau.
Amarah langsung naik ke kepalanya, tetapi ia menahannya. Mereka berada di tempat umum. Banyak orang memperhatikan. Ia tidak boleh kehilangan kendali.
Alessia menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya.
“Jadi kau yang mengirim pesan itu?”
William tersenyum tipis. “Kau datang juga.”
“Jangan terlalu bangga. Aku datang bukan karena tertarik bertemu denganmu.”
William terkekeh. “Kau masih sama.”
“Dan kau masih menyebalkan.”
Senyumnya menghilang sedikit.
Alessia menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
“Kalau tujuanmu membuatku takut, kau salah memilih orang. Aku mungkin keras kepala, tapi aku tidak sebodoh itu.”
William menatapnya tajam.
Alessia tersenyum tipis.
“Dan satu nasihat untukmu, William. Kalau ingin dihormati, berhentilah bertingkah seperti pengecut yang bersembunyi di balik ancaman.”
Suasana di meja mereka mendadak menegang.
William tak lagi tersenyum.
Sementara Alessia tetap tenang, meski dalam hati ia tahu pertemuan ini bisa menjadi jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
......................
William masih menatap Alessia dengan tatapan yang sulit dibaca. Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya bersandar dan mulai berbicara.
“Aku masih mencintaimu, Alessia.”
Alessia tidak menjawab.
“Aku marah ketika tahu kau menikah dengan Vellano. Dari semua orang, kenapa harus dia? Rekan bisnis yang selama ini bahkan tidak pernah benar-benar mengenalmu.”
Alessia menarik napas panjang. Ia berusaha tetap tenang meskipun kemarahannya mulai mendidih.
“William, kita datang ke sini bukan untuk membahas kisah cinta yang sudah mati.”
“Aku tidak pernah menganggapnya mati.”
“Itu masalahmu.”
William terdiam.
“Aku kecewa,” lanjutnya. “Kau memilih dia.”
Alessia menatapnya tajam.
“Tidak. Aku memilih diriku sendiri.”
William mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah menjadi milikmu, William. Jadi berhentilah berbicara seolah-olah aku pernah menjadi sesuatu yang bisa kau merasakan kehilangan.”
Kalimat itu membuat rahang William mengeras.
Alessia tetap tenang, bahkan menyunggingkan senyum tipis.
“Dan kalau kau benar-benar mencintaiku, seharusnya kau menghormati keputusanku. Bukan meneror ku, mengancam orang di sekitarku, lalu berharap aku tiba-tiba berlari ke pelukanmu.”
“Aku melakukan semua itu karena kau tidak memberiku pilihan.”
Alessia terkekeh pendek.
“Menarik. Jadi sekarang tindakan buruk mu adalah kesalahanku?”
William diam.
Alessia mengambil cangkir kopinya dengan tenang.
“Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu. Tidak sekarang, tidak besok, dan tidak peduli berapa banyak ancaman yang kau kirimkan.”
Tatapan mereka bertemu.
“Jadi kalau tujuanmu memanggilku ke sini adalah berharap aku berubah pikiran,” katanya dingin, “kau baru saja membuang waktumu.”
William mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sementara Alessia tetap duduk tenang, tanpa menyadari bahwa percakapan mereka sedang diam-diam diperhatikan seseorang dari meja di sudut kafe.
William masih menatap Alessia dengan senyum tipis ketika tiba-tiba ia mengucapkan sesuatu yang membuat darah Alessia seolah berhenti mengalir.
“Pernikahanmu dengan Vellano itu hanya kontrak, bukan?”
Tangan Alessia yang sedang memegang cangkir berhenti.
Untuk sepersekian detik, matanya menunjukkan keterkejutan.
Bagaimana dia tahu?
Namun ia segera kembali tenang. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap William dengan senyum tipis yang justru membuat pria itu terdiam.
“Kau tahu terlalu banyak untuk seseorang yang seharusnya tidak tahu apa-apa.”
William tersenyum. “Aku punya cara.”
“Sayangnya,” jawab Alessia, “cara itu tidak membuatmu lebih pintar. Hanya membuatmu lebih berbahaya.”
William menatapnya tajam.
“Aku tahu pernikahan itu hanya kesepakatan keluarga.”
Alessia menyandarkan tubuhnya.
“Kalau begitu kau juga seharusnya tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku menyimpan rahasia yang jauh lebih besar tentang keluargamu.”
Senyum William perlahan menghilang.
Alessia melanjutkan dengan suara rendah.
“Manipulasi bukti kecelakaan di Kamboja. Korban palsu yang dipakai untuk melakukan pemerasan. Dan teror pagi tadi.”
William membeku.
“Kau tidak punya bukti.”
Alessia tersenyum.
“Itulah kesalahanmu.”
Ia menyentuh ponselnya yang sejak tadi berada di atas meja.
“Percakapan kita sejak kau duduk sudah direkam.”
Wajah William berubah.
“Alessia…”
“Tenang.” Alessia berdiri sambil merapikan jaketnya. “Aku belum mengirimnya kepada siapa pun.”
Ia menatap William untuk terakhir kalinya.
“Tapi kalau sesuatu terjadi padaku, rahasia itu akan keluar. Dan saat itu, bukan hanya kau yang hancur.”
William terdiam.
“Reputasi yang dibangun ayahmu selama puluhan tahun,” lanjut Alessia dingin, “bisa runtuh hanya dalam satu malam.”
Ia mengambil tasnya.
“Jadi sebelum kau sibuk menghancurkan hidupku, pastikan hidupmu sendiri cukup kuat untuk menahan akibatnya.”
Alessia kemudian pergi meninggalkan kafe.
Namun sebelum keluar, ia melirik layar ponselnya sekali lagi.
Rekaman masih berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, William terlihat benar-benar takut.
......................
...Alessia akhirnya kembali ke mansion ketika matahari mulai tenggelam. Begitu memasuki halaman, ia langsung menyadari perubahan besar....
CCTV baru terpasang di berbagai sudut, sementara kaca jendela anti peluru sudah terpasang rapi. Para penjaga tambahan berdiri di sekitar halaman dengan wajah serius.
Namun semua itu mendadak tidak penting ketika Alessia melangkah masuk ke ruang tengah.
Vellano sudah menunggunya.
Ia berdiri di sana dengan kedua tangan bersilang, wajahnya tenang—terlalu tenang. Tatapannya tajam hingga Alessia tanpa sadar berhenti melangkah.
“Vellano…”
“Dari mana?”
Nada suaranya rendah.
Alessia menelan ludah. “Aku cuma keluar sebentar.”
“Keluar?”
Vellano tertawa pendek tanpa humor.
“Kau menyelinap keluar dari mansion yang baru saja menjadi lokasi pembunuhan, tanpa pengawalan, tanpa memberitahuku, lalu menghilang begitu saja.”
Alessia terdiam.
“Kau tahu apa yang paling membuatku marah?”
Ia melangkah mendekat.
“Bukan karena kau tidak menuruti perintahku.”
Tatapannya mengeras.
“Aku marah karena pagi tadi seseorang sudah menunjukkan bahwa mereka mampu menyerang orang di depan rumah kita.”
Alessia menunduk.
“Aku bisa saja kehilanganmu.”
Kalimat itu membuat Alessia terdiam.
Namun jauh di tempat lain, William sedang menghancurkan benda-benda di ruang pribadinya karena kemarahan.
Meja dihantam. Gelas dilempar hingga pecah.
“Dia merekamku…”
William bernapas berat, wajahnya penuh amarah.
“Perempuan itu benar-benar berani mengancamku.”
Ia menatap layar ponselnya, lalu mengepalkan tangan.
Sementara di mansion, Vellano masih berdiri di hadapan Alessia.
“Katakan sekarang,” katanya dingin. “Ke mana kau pergi?”
Alessia mengangkat wajah.
Ia tahu tidak mungkin lagi berbohong.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia sadar bahwa menghadapi kemarahan Vellano mungkin jauh lebih sulit daripada menghadapi William Brow.
Vellano masih berdiri di hadapan Alessia. Kemarahannya perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan—kekecewaan.
“Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini,” katanya pelan.
Alessia menunduk. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak memiliki bantahan.
“Aku minta maaf.”
Vellano terdiam.
“Aku benar-benar minta maaf,” ulang Alessia, suaranya lebih kecil. “Aku tahu aku salah karena pergi tanpa memberitahumu. Tapi aku punya alasan.”
Vellano mengangkat wajahnya.
Alessia segera melanjutkan, “Aku bertemu seseorang. Orang yang mengirim pesan itu. Aku tahu siapa di balik semua ini dan aku juga mendapatkan—”
“Sudah.”
Alessia terdiam.
“Aku tidak ingin mendengarnya sekarang.”
“Vellano, tunggu. Ini penting. Aku punya bukti.”
Namun Vellano sudah berbalik.
“Aku bilang nanti.”
“Vellano…”
Ia terus berjalan menuju tangga.
Alessia berdiri terpaku.
Ia ingin mengejarnya, tetapi kakinya terasa berat. Semua keberanian yang tadi ia tunjukkan di hadapan William seolah menghilang begitu saja.
Pintu kamar di lantai atas tertutup.
Brak.
Alessia tersentak.
Ia menatap tangga kosong dengan mata berkaca-kaca.
“Aku cuma ingin membantu…”
Tidak ada jawaban.
Di genggamannya, ponsel masih menyimpan rekaman percakapan dengan William—bukti yang mungkin bisa melindungi mereka semua.
Namun untuk pertama kalinya, Alessia merasa benar-benar sendirian.
Ia mengusap sudut matanya cepat-cepat.
“Bodoh…”
Bukan William yang membuatnya ingin menangis.
Melainkan tatapan kecewa Vellano sebelum ia pergi.
......................
Malam perlahan turun tanpa disadari siapa pun.
Sejak sore, Alessia masih berada di lantai bawah. Ia belum mandi, belum makan, bahkan tidak menyentuh makanan yang tersedia di meja. Setelah Vellano pergi meninggalkannya dalam keadaan kecewa, Alessia mengurung diri di kamar tamu lantai satu.
Ia duduk di lantai sambil memeluk lutut.
Air matanya kembali jatuh.
“Aku cuma ingin membantu…”
Yang paling menyakitkan bukan kemarahan Vellano. Melainkan kenyataan bahwa pria itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Pukul sepuluh malam, para maid satu per satu meninggalkan mansion. Alessia tidak menyadarinya.
Sementara itu, Vellano masih berada di kamar utama. Baru sekitar pukul sebelas malam ia menyadari sesuatu.
“Alessia?”
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke seluruh kamar.
Kosong.
Barulah ia teringat bahwa sejak sore ia tidak melihat istrinya sama sekali.
“Tidak mungkin…”
Vellano membuka pintu kamar, tetapi baru sadar pintu itu ternyata terkunci tanpa sengaja. Ia segera turun dan mencari ke seluruh mansion.
“Alessia!”
Tidak ada jawaban.
Ruang makan kosong.
Balkon kosong.
Ruang keluarga kosong.
Hingga akhirnya pikirannya tertuju pada kamar tamu lantai satu.
Ia mengetuk pintu.
“Alessia?”
Hening.
Vellano mengetuk lebih keras.
“Alessia, buka pintunya.”
Tidak ada suara.
Perasaan buruk langsung menghantam dadanya.
Ia mencoba gagang pintu.
Terkunci.
“Alessia!”
Tidak ada respons.
Dengan panik, Vellano mundur beberapa langkah lalu mendobrak pintu.
Brak!
Matanya langsung membesar.
...****************...
penasaran kelanjutannya?ikuti kisah seru Alessia dan Vellano ya.
Sehari up 2-3 part.
TERIMAKASIH untuk yang sudah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak ya 🫶🏽🥰