Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 08
Kabar pulangnya pasukan pemberantasan suku Bar-Bar terdengar langsung di telinga Duke Ramos. Pria itu bergegas pergi ke istana untuk meminta audiensi terhadap kaisar.
Dengan langkah terburu-buru, Duke Ramos menuju ke ruang kerja Lucien.
"Ada apa Yang Mulia Duke?" tanya Erson yang baru saja keluar ruangan dengan wajahnya yang kusut.
"Baginda, aku ingin bertemu dengan Baginda. Tolong sampaikan permintaanku," jawab Duke Ramos. Matanya celingukan ingin melihat ke dalam. Tapi Erson menutup pintu dengan rapat.
"Baginda tengah sibuk. Pekerjaan beliau yang banyak tak bisa ditinggalkan. Jadi beliau memberi perintah untuk tidak menerima tamu. Siapapun dan dari manapun."
Grrrrt
Duke Ramos Mortain mengeratkan gigi-gignya dengan erat hingga terdengar suara bergemelutuk di telinga Erson. Sang ajudan tahu kalau Duke Ramos tengah kesal dan bahkan marah, akan tetapi dia tak peduli.
Meski status kebangsawan Duke Ramos lebih tinggi ketimbang dirinya, akan tetapi di istana kekaisaran ini status kedudukan Erson jelas lebih tinggi ketimbang Duke Ramos. Erson adalh ajudan kaisar, yang juga bisa dikatakan sebaga tangan kanan atau orang kepercayaan dari sang kaisar.
"Brengsek!" umpat Duke Ramos. Matanya memicing tajam ke arah Erson lalu melenggang pergi dengan membawa kemarahan yang membara dari dalam dadanya karena lagi-lagi dia tak bisa menemui kaisar.
"Erson, kamu berbohong?' ucap Norman yang berjalan ke arah kantor Lucien.
"Sebaiknya orang luar tak tahu tentang Baginda yang tidak ada di tempat. Biarlah ini jadi rahasia orang dalam istana saja, Norman. Aku hanya merasa bahwa masih ada orang yang tidak menyukai Baginda duduk di singgasana. Jika mereka tahu Baginda belum pulang setelah penaklukan suku Bar-Bar, aku yakin mereka akan ada yang mengambil kesempatan," jawab Erson panjang lebar.
Norman memang tak selalu memahami politik. Baginya penyelesaian dengan pedang selalu jadi yang terbaik. Tapi kali ini Norman bisa memahami apa yang dikhawatirkan oleh Erson. Lucien yang menduduki tahta, tak sepenuhnya disetujui oleh para tetua apalagi yang ada di barisan faksi bangsawan. Dan salah satunya adalah Duke Ramos.
Maka dari itu Duke Ramos bersikukuh ingn menjadikan Adelle sebagai permaisuri agar Faksi Bangsawan bisa mengawasi sepak terjang dari Lucien.
"Ya aku paham kekhawatiranmu. Lucien sungguh beruntung karena dia memliki mu di sisinya," ujar Norman.
Haaah
Erson mengembuskan nafasnya kasar. Entah mengapa sejak dulu dia memang tak pernah bisa meninggalkan Lucien.
Sebernarnya Lucien dan Erson berteman sejak kecil, pun dengan Norman. Hanya saja usia Norman 4 tahun diatas mereka berdua.
Lucien naik tahta diusianya yang baru 10 tahun karena kaisar sebelumnya meninggal dalam perang. Sedangkan Permaisuri tak berselang lama juga meninggal karena kesedihan akan meninggalnya suaminya.
Lucien yang hidup penuh cinta itu seketika kehilangan cahaya, dan dia harus menanggung beban berat dipunggungnya. Hidupnya yang penuh warna seketika berubah dengan banyaknya tekanan. Erson tak tega melihat Lucien yang semakin kehilangan dirnya. Sehingga ia berjanji akan selalu ada di sisi Lucien hingga habis nyawanya.
"Aku harap dia segera pulang dan mengerjakan kembali pekerjaannya. Sebenarnya yang Kaisar itu aku atau dia?"
"Hahaha, kau bicara seakan-akan membencinya. Padahal semua orang di istana ini tahu bahwa kau begitu menyayangi Lucien bak adikmu sendiri."
"Sttt jangan bicara sembarangan."
Norman hanya tertawa kecil melihat wajah Erson yang salah tingkah. Pria itu kerap menggerutu, namun setiap ada yang terjadi pada Lucien, maka dia pun yang pertama kali ada di depan.
Dan sebenarnya juga Erson sangat khawatir dengan keselamatan Lucien saat ini. Pasukan sudah kembali, maka itu berarti dia disana sendiri.
"Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Erson kepada Norman.
"Siapa? Cien? Erson, siapa yang kau khawatirkan hah? Yang ada kau harus khawatir dengan orang yang bertemu dengannya."
Erson menganggukkan kepalanya cepat. Benar, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang Lucien Von Kallistar. Yang perlu dikhawatirkan adalah orang yang bertemu dengannya.
Dan ya memang benar, orang itu harus waspada dan sangat perlu untuk berhat-hati jika berhadapan dengan Lucien.
Tapi agaknya tidak berlaku bagi Cattleya. Dia sama sekali tidak berhati-hati atau waspada saat ada seorang pria asing yang terluka terpakar di depan pintu rumahnya.
Malam yang larut, Cattleya mendengar erangan kesakitan di luar rumahnya. Awalnya Cattleya enggan untuk melihat. namun suara kesakitan itu membuat nuraninya tergerak.
Dengan perlahan, Cattleya membuka pintu. Dari hanya sedikit, hingga membukanya lebar.
Mata Cattleya membelalak saat melihat seorang pria yang belum pernah dilihatnya bersandar di depan pintu rumah dengan bersimbah darah.
"Apa yang terjadi pada Anda?" tanya Cattleya. Dia tak langsung menolong, jiwa waspadanya tentu masih ada. Dia juga merasa takut jika pria ini adalah perampok atau penjahat.
Namun bisikan setan dalam hatinya berkata lain. Tidak mungkin pria setampan ini penjahat, begitulah perkataan yang ada di dalam hati Cattelya.
Tampilan pria yang terluka itu tak menujukkan bahwa dia adalah seorang penjahat. Rambut coklat terang yang lembut, wajah putih bersih yang terawat. Sungguh bukan tampilan seorang penjahat.
"S-saya dirampok."
"Apa?"
"A-pa bisa Anda memberi saya tempat istrahat? Saya janji akan pergi setelah istrahat sejenak."
Mata berwarna hijau zamrud itu nampak sangat cerah dan cantik. Sejenak Cattleya terhipnotis. Namun dia langsung menggelengkan kepala nya, agar tetap waras.
"Tapi saya tidak punya apapun untuk membantu Anda , jika hanya beristirahat saya bisa membawa Anda masuk sebentar."
"B-baiklah, itu pun tidak masalah."
"Ya, mari saya bantu."
Cattleya tak lagi ragu. Setelah otak dan hatnya saling bicara, dia memutuskan untuk membantu pria asing itu. Cattleya membawa pria itu masuk ke rumahnya. Mendudukkannya di kursi. Ia kemudian berlalu ke dapur. Mengambil air dan juga kain untuk membasuh luka yang terlihat pada tubuh pria itu.
"Saya tak punya obat yang bagus, tapi setidaknya saya punya obat untuk mengobati luka sederhana. Semoga bisa membantu. Maaf jika lancang, siapa nama Anda?"
Cattleya meminta izin untuk membasuh luka pria itu. Dia tak bisa tinggal diam melihat sesuatu yang tidak pas di depan matanya.
"Cienlu, panggil saja Cien. Terimakasih sudah mau membantu saya."
"Baiklah Tuan Cien, ini pasti akan sedikit sakit. Jadi tahanlah. Ah ya nama saya Catty. Panggil lah dengan nyaman."
Cienlu atau Lucien tersenyum lebar saat melihat Cattleya yang tengah serius mengbatinya. Baginya luka itu tentu bukan apa-apa, dan sama sekali tidak sakit. Karena luka itu juga dibuatnya sendiri untuk bisa masuk ke rumah ini.
"Akhirnya kamu benar-benar ku temukan," ucap Lucien dalam hati. Matanya menatap lekat setiap gerak-gerik Cattleya. Seolah wanita itu memili magnet yang menariknya.
Sambil diobati, Lucien melihat ke sekeliling isi rumah. Diamana rumah ini sungguh sangat sederhana sekali. Matanya lalu terkunci ke sosok kecil yang ada di atas tempat tidur.
"Apa itu putramu?"
"Ah ya benar Tuan Cien, dia adalah putra saya. Satu-satunya harta berharga yang saya miliki."
Degh!
TBC