Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-01
Pagi itu, aroma minyak kayu putih dan rebusan daun salam menyeruak lembut di dalam rumah berdinding papan milik keluarga Hazel.
Di dapur kecil berpenerangan redup, Hazelia Verlita Putri tengah membolak-balik lembaran cetak brosur penerimaan mahasiswa baru dari salah satu universitas negeri impiannya.
Nilai kelulusan SMA-nya sangat memuaskan, bahkan ia masuk dalam peringkat tiga besar pararel. Hazel mengelus kertas mengilat itu dengan ujung jarinya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan harapan.
"Lagi ngelamun soal kuliah lagi, Zel?"
Suara batuk kecil menyusul pertanyaan itu. Hazel buru-buru melipat brosur tersebut dan memasukkannya ke bawah laci meja makan, lalu menoleh dengan cengiran khasnya yang tengil.
"Enggak kok, Buk! Hazel cuma lagi ngitung, kalau Hazel jadi dokter, nanti yang ngobatin Ibu gratis, terus Hazel bisa beli seisi toko kue deh buat Leo," seloroh Hazel sembari melangkah menghampiri ibunya, Maria, yang baru saja keluar dari kamar dengan langkah gontai.
"Kamu ini, omongannya selalu ketinggian," sahut Maria dengan senyum hangat, meski wajahnya tampak pucat pasrah. "Ingat, bersyukur dulu sama yang ada."
"Lho, kan kata guru Hazel, bermimpilah setinggi langit, kalau jatuh ya terbentur, Buk! Tapi kan keren terbenturnya di langit!" Hazel terkekeh, merangkul bahu ibunya dengan manja.
Namun, tawa itu tak bertahan lama. Tubuh Maria mendadak limbung. Pegangan tangannya di tepi meja terlepas, dan sebelum Hazel sempat menyangganya dengan sempurna, Maria sudah ambruk ke lantai semen yang dingin.
"Ibu! Bukk!" jerit Hazel panik.
"Mbak Hazel! Kenapa?!" Leo, adiknya yang baru saja mengikat tali sepatu sekolah di teras, berlari masuk dengan wajah pucat pasi.
"Leo, bantu Mbak! Ibu pingsan!"
Suasana pagi yang tenang berubah menjadi kepanikan mencekam. Dengan bantuan tetangga, Maria dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Dua jam Hazel berdiri kaku di depan ruang penanganan darurat dengan jemari yang saling bertaut erat. Ketika dokter akhirnya keluar, berita yang dibawanya bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh impian masa depan Hazel.
Kondisi ginjal Maria memburuk drastis dan membutuhkan tindakan cuci darah serta perawatan intensif berkelanjutan. Beberapa saat kemudian, seorang petugas administrasi menyerahkan selembar kertas berisi rincian tagihan medis awal yang nominalnya membuat napas Hazel tertahan.
"Mbak Hazel... gimana keadaan Ibu?" tanya Leo lirih. Tatapan mata adiknya yang polos dan penuh kecemasan membuat dada Hazel makin sesak. Leo masih kelas tiga SMP, masa depannya masih sangat panjang.
Hazel menelan ludah, menatap lembaran tagihan di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke brosur kuliah yang terlintas di ingatannya. Ia tahu, ia harus memilih. Dan baginya, tidak ada pilihan yang lebih berharga daripada nyawa ibunya dan masa depan adiknya.
Sambil menepuk pelan bahu Leo, Hazel memasang senyum terbaiknya.senyum tegar yang biasa ia tunjukkan untuk menutupi kerapuhan.
"Ibu bakal sembuh, Yo. Soal biaya, tenang aja, Mbak Hazel yang urus. Kamu fokus belajar aja, ya?"
Hari itu juga, Hazel menyimpan rapat-rapat impian akademisnya. Ia melipat brosur kampus itu dan menyimpannya di dasar lemari paling dalam.
Sebagai gantinya, ia mengemas berkas lamaran kerja sebanyak-banyaknya dan mengirimkannya ke berbagai tempat tanpa peduli posisi apa yang ditawarkan.
Keajaiban kecil datang dua hari kemudian. Ponsel Hazel berdering, menampilkan panggilan dari nomor tidak dikenal. Sebuah panggilan wawancara kerja dari Mahardika Group salah satu konglomerat terbesar dan tersohor di ibu kota. Perusahaan itu membuka lowongan mendesak untuk posisi office girl.
Tanpa berpikir dua kali, Hazel mempersiapkan kemeja putih polos dan rok hitam lamanya. Pagi-pagi sekali, ia sudah berdiri di depan gedung pencakar langit Mahardika Tower yang megah dan menjulang menembus awan.
Siluet bangunan berarsitektur modern itu seolah menegaskan batasan tebal antara dunianya dan dunia orang-orang berkuasa di dalamnya.
Hazel membusungkan dada, menarik napas dalam-dalam untuk menata mentalnya.
"Oke Hazelia, ini demi Ibu dan Leo. Cuma jadi office girl, kok. Yang penting halal dan bisa bayar tagihan rumah sakit!" bisiknya pada diri sendiri.
Namun, baru saja Hazel melangkahkan kaki melewati pintu kaca otomatis lobi utama yang megah, kehebohan mendadak pecah di area tersebut.
Para staf berpakaian rapi berbaris panik, dan beberapa petugas keamanan tampak bersiap tegap dengan wajah tegang. Di tengah riuh bisik-bisik ketakutan para karyawan, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan drop-off zone.
Seseorang baru saja turun, dan aura dinginnya seketika mencengkeram seluruh ruangan.