NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 24

BAB 24

Maya menyipitkan matanya menatap kegelapan di seberang taman, namun bayangan misterius itu telah sirna sepenuhnya ditelan malam.

Suara klakson mobil berbunyi dua kali memecah lamunan Maya. Sebuah city car putih berhenti tepat di pelataran depan galeri. Pintu kemudi terbuka, dan Nila—sahabat sekaligus manajer operasional studionya—keluar sambil mengancingkan jaketnya yang agak kedodoran.

"Maya! Astaga, dicariin dari tadi," ujar Nila terengah-engah, melangkah cepat mendekati Maya. "Ponsel mati ya? Aku cemas setengah mati nungguin di studio, takut ada apa-apa di jalan. Ayo masuk mobil, makin malam udara kawasan kebudayaan makin dingin."

Maya mengangguk samar, membiarkan Nila mengambil alih tas berisi sampel kain dari tangannya. Langkahnya terasa agak berat saat mengitari kap mobil dan masuk ke kursi penumpang di depan.

Nila menyalakan pendingin udara, lalu memutar kemudi membelah jalanan kota yang mulai lengang. Ia melirik Maya dari kaca spion tengah dan samping, menyadari raut wajah sahabatnya yang pucat dan tatapan matanya yang menerawang jauh ke luar jendela.

"Kenapa, Maya?" tanya Nila heran, menaikkan sedikit volume radio yang memutar musik instrumental pelan. "Mukanya kok kayak habis ketemu hantu? Ada masalah sama kurator galeri tadi?"

Maya menghela napas panjang, meremas jemarinya yang dingin di atas paha. "Bukan kurator, Nila... Aku baru saja bicara dengan REN."

DEC!

Nila refleks menekan pedal rem sedikit terlalu keras di depan lampu kuning, membuat mobil bergetar pelan sebelum kembali melaju stabil. Matanya membelalak lebar, menoleh ke arah Maya.

"Siapa?! REN? Maksudmu... REN pemegang skor 94,8 itu?! REN pesaing nomor satu kita?!" cerca Nila bertubi-tubi dengan nada suara yang naik satu oktav. "Kamu serius?! Bagaimana wujudnya? Orang seperti apa dia? Sempat tanya kenapa dia nggak pernah muncul di pengarahan kurasi sebelumnya?!"

"Dia..." Maya menggantungkan kalimatnya, mencoba menata kekacauan emosi di dadanya. "Dia orang yang sangat berjarak, Nila. Caranya bicara dingin, berwibawa, dan punya dominasi verbal yang menakutkan. Tapi yang membuatku merinding bukan posisinya di papan skor..."

"Terus apa?" potong Nila penasaran, makin memperlambat laju mobilnya agar bisa fokus mendengar cerita.

"Dia membaca cemas di kepala kita," bisik Maya, suaranya pelan namun sarat akan ketegangan. "Dia tahu namaku tanpa perlu kukenalkan. Dan dia bilang... sutra organzaku terlalu rapuh jika berdiri sendiri di panggung final. Dia tahu kalau karya kita ditopang oleh kerangka logam yang ditempa api."

Nila mengernyitkan dahi dalam-dalam, dadanya ikut berdebar. "Tunggu... dari mana dia tahu kita pakai paduan logam tempa? Kan konsep kolaborasi kita sama Rendra tertutup rapat di bengkel! Apa dia memata-matai kita?"

"Entahlah," sahut Maya lirih. "Tapi kalimat terakhirnya terus terngiang di telingaku. Dia menyuruhku jangan melihat ke belakang... dan jangan biarkan logam yang menopangmu bertarung sendirian. Pesan itu terasa seperti teguran keras, tapi sekaligus... peringatan agar kita hati-hati sama manuver Victor."

Nila meneguk ludah, menyandarkan punggungnya ke sandaran jok. "Gila... misterius banget. Tapi tunggu dulu. Wajahnya seperti apa? Ganteng? Tua? Berkarisma?"

Maya menatap lurus ke arah pendar lampu-lampu jalanan yang membayang di kaca depan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat kembali detail paras pria berkemeja gelap yang berdiri di bawah lampu taman tadi.

"Tinggi, tegap, pakaiannya sangat rapi dan eksklusif," gumam Maya lambat. "Aura keberadaannya seperti maestro kelas atas yang terbiasa memegang kendali. Wajahnya bersih, sangat tajam..."

Maya menghentikan ucapan. Sebuah gelombang aneh mendadak menyengat tengkuknya—sebuah perasaan déjà vu yang begitu pekat sampai membuat dadanya sesak.

"Tapi ada sesuatu yang aneh, Nila," lanjut Maya, suaranya mendadak bergetar tipis. "Saat dia berdiri di depanku... gestur tubuhnya, cara dia memiringkan bahu, bahkan artikulasi penekanan suaranya... terasa begitu familier di ingatanku."

Nila menoleh ke arah Maya dengan kening berkerut. "Maksudnya... kayak seseorang yang pernah Maya kenal di masa lalu? Atau teman angkatan di Fakultas Desain dulu?"

"Itu dia masalahnya..." Maya menggelengkan kepala pelan, raut wajahnya makin bingung. "Intuisi saya mendesak kalau sosok di balik cara bicaranya itu tidak asing sama sekali. Tapi begitu saya menatap wajahnya... keyakinan itu langsung runtuh total. Paras pria itu benar-benar asing. Wajahnya, bentuk rahangnya, pendar matanya yang dingin kelas atas itu... tidak ada kemiripan sedikit pun dengan siapa pun yang pernah kukenal dalam hidupku. Saya jadi ragu sendiri sama perasaan saya."

Nila terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana yang terlalu tegang di dalam mobil. "Maya ini ada-ada saja. Ya iyalah beda! Dia itu maestro kelas tinggi, punya yayasan nirlaba dan perlindungan hukum sendiri. Mana mungkin dia orang yang sehari-hari kita temui. Kamu itu cuma kecapekan, makanya otakmu mencocok-cocokkan gesturnya sama memori lama."

Maya tidak menyahut. Ia mengusap keningnya yang berdenyut pelan. Logikanya membenarkan perkataan Nila—wajah REN yang terawat, berwibawa, dan bernuansa bangsawan seni itu jelas berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan orang-orang di lingkungannya. Namun, rasa déjà vu yang menyengat itu menolak menghilang, menyisakan teka-teki tak bertepi yang mengendap di dasar benaknya.

"Sudah, Maya. Yang penting sekarang kita tahu kalau REN bukan musuh kotor kayak Victor," hibur Nila seraya membelokkan mobil memasuki jalan kecil menuju kawasan bengkel. "Malah bagus kan kalau dia juga memperringatkan kita soal manuver Arum House."

"Semoga saja begitu, Nila..." bisik Maya pelan, menatap lorong gelap di depan mereka.

Perjalanan kembali ke studio berlangsung dalam hening yang memadat. Maya terus menatap bayangan lampu jalanan yang berkelebat cepat di kaca mobil, mencoba merangkai setiap potongan teka-teki dari peringatan REN. Hatinya tidak tenang. Kata-kata sang maestro bahwa 'musuh di luar sana membawa tumpukan uang dan dokumen hukum' bukan sekadar gertakan kosong, melainkan pertanda bahwa bahaya nyata sedang memburu mereka.

Saat mobil melaju makin dekat ke kawasan studio, pendar lampu neon bangunan kantor mereka sudah mulai terlihat dari kejauhan. Namun, tatapan Maya mendadak terkunci pada pemandangan tak biasa di halaman studio. Kerumunan orang dan beberapa unit mobil terparkir tak beraturan di pelataran parkir yang seharusnya sudah sepi.

Tiba-tiba, ponsel Nila yang terpasang di dashboard bergetar hebat. Layarnya menyala terang menampilkan nama Dito yang melakukan panggilan darurat bertubi-tubi. Begitu Nila menekan tombol speaker, suara Dito meluncur panik dengan napas memburu dan intonasi penuh kecemasan. "Nila, kamu sama Maya? Kalian ada di mana sekarang?!" teriak Dito dari balik telepon, memotong deru mesin mobil. "Jangan lewat pintu depan! Media nasional dan tim investigasi darurat panitia sudah mengepung studio kita! Ada serangan rumor besar-besaran yang baru saja meledak di siaran televisi malam ini!"

Maya tersentak hebat, dadanya serasa dihantam beban berat. Tangannya yang memegang kain sutra organza gemetar kaku.

"Rumor apa, Dito?!" cecar Nila panik, refleks mengerem mobil hingga berhenti beberapa puluh meter dari pintu gerbang.

Foto dengan tagline 'perjumpaan rahasia Maya dan REN di galeri tadi malam' tersebar luas!" suara Dito bergetar, diiringi kebisingan suara wartawan yang terdengar dari latar belakang teleponnya. "Victor dan Arum House menuduh Maya melakukan konspirasi bocoran desain, dan yang lebih parah... mereka melayangkan gugatan plagiarisme resmi atas komponen logam buatan Rendra! Lisensi pendaftaran kita terancam dibekukan malam ini juga!"

Darah Maya mendadak berdesir dingin. Peringatan REN ternyata menjadi kenyataan lebih cepat dari yang ia bayangkan. Musuhnya telah mengepung dari segala penjuru, siap menghancurkan reputasi dan mimpinya sebelum gaun itu sempat menginjak panggung final.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!