SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: MEJA MAKAN YANG TERLALU TENANG
Ruyin bangun ketika cahaya pagi sudah menyentuh kaki ranjang.
Ia membiarkan dirinya berbaring sebentar, mendengarkan bunyi sapu lidi di halaman dan denting mangkuk dari arah dapur. Seorang pelayan membuka tirai jendela dengan hati-hati, dan udara dingin yang membawa bau daun basah masuk ke kamar. Chang'an di pagi hari terdengar seperti kota yang tidak punya rahasia: roda gerobak, penjaja air, anak-anak yang diteriaki agar tidak berlari di lorong.
Ia mencuci wajah dengan air hangat, menyisir rambut sendiri sebelum pelayan sempat menawarkan bantuan, lalu memandangi tangannya sebentar di bawah cahaya jendela. Semalam ada sesuatu yang tertulis di meja. Ia teringat samar, seperti mimpi yang hanya tersisa nadanya.
Ia memilih tidak memikirkannya. Perutnya lapar, dan itu terasa jauh lebih penting.
———
Sarapan hari ini disajikan di aula samping, dengan jendela terbuka separuh. Nyonya Lin sudah duduk, memotong sebutir apel Selatan menjadi irisan tipis dan menatanya di piring kecil. Yucheng datang tak lama kemudian, membawa sebungkus kue wijen hangat yang masih mengepulkan uap lewat kertas minyaknya.
"Dari kios dekat gerbang timur," katanya sambil meletakkan bungkusan itu di sisi mangkuk Ruyin. "Kau dulu selalu mengambil yang paling gosong."
Ruyin membuka bungkusan itu. Kue-kue bundar berwarna cokelat tua, dan di antaranya satu yang pinggirnya hampir hitam. Ia mengambil yang itu tanpa berpikir, dan Yucheng tertawa.
"Lihat? Delapan tahun, dan tanganmu tetap tahu."
"Mungkin hanya kebetulan. Yang ini paling besar."
"Kebetulan yang sama seperti dulu."
Nyonya Lin tersenyum kecil sambil menggeser piring apel ke dekat Ruyin. Mereka membicarakan hal-hal tanpa bobot: pasar yang kini lebih padat, harga arang yang naik menjelang musim dingin, seorang tetangga yang akhirnya menikahkan putrinya setelah tiga kali menunda. Yucheng bercerita tentang pengurus rumah yang tersandung ember kemarin dan memaki sebuah ember dengan sangat sopan, dan Ruyin tertawa sampai harus meletakkan sumpitnya.
Di tengah tawa itu, Ruyin menyadari bahwa tangan kirinya sedang memutar cangkir teh setengah putaran, berhenti, lalu memutarnya lagi.
"Kau masih melakukannya," ujar Yucheng, matanya melembut. "Memutar cangkir kalau sedang berpikir. Sejak kecil."
Ruyin menunduk memandang cangkirnya. "Benarkah aku seperti itu?"
"Sejak dulu. Ibu sampai pernah menyuruh tukang porselen membuat cangkir yang dasarnya bergerigi supaya tidak bisa diputar."
"Dan tidak berhasil," tambah Nyonya Lin tenang.
Ruyin mencoba mencari ingatan tentang cangkir bergerigi itu. Tidak ada. Hanya tawa mereka yang hangat, dan perasaan sedikit janggal bahwa orang-orang di meja ini mengetahui gerakan tangannya lebih dulu daripada dirinya sendiri. Ia ikut tersenyum, lalu meminum tehnya.
———
Setelah sarapan, Yucheng mengajaknya berjalan ke halaman tengah. Seorang pelayan sedang menyapu daun ginkgo ke satu sudut, dan di bawah paviliun kecil, krisan-krisan kuning bergoyang pelan.
"Kakak," kata Ruyin, "apakah aku banyak berubah setelah delapan tahun?"
Yucheng tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah dengan tangan di balik punggung, menatap kolam.
"Banyak," katanya akhirnya. "Kau jadi lebih tenang. Dulu kau bisa mengomel setengah hari kalau sesuatu tidak sesuai kehendakmu. Sekarang kau hanya diam, dan aku tidak tahu apa yang kau pikirkan." Ia menoleh dan tersenyum. "Kau juga jadi lebih berhati-hati. Lebih mandiri. Aku sempat takut kau tidak lagi memerlukan kakak."
"Kakak bicara seolah aku orang asing."
"Kau bukan orang asing. Kau hanya... lebih sulit ditebak." Ia menendang kerikil kecil ke tepi kolam. "Tapi ada yang tidak berubah."
"Apa?"
"Kau masih tidak bisa menolak anak kucing." Ia menunjuk dengan dagu ke arah seekor kucing kurus yang meringkuk di bawah tangga paviliun. Ruyin bahkan tidak sadar bahwa ia sudah berjongkok dan mengulurkan tangan ke sana sejak tadi. "Dan kau masih berpura-pura tidak peduli sampai tidak ada yang melihat."
Ruyin menarik tangannya. Wajahnya menghangat, dan Yucheng tertawa lagi, lebih lepas dari yang pernah ia dengar sejak pulang. Tawa itu tulus. Ia yakin akan hal itu, dan keyakinan itu terasa lebih berat daripada kecurigaan mana pun.
———
Siang itu Nyonya Lin memanggilnya ke ruang jahit, tempat dua pelayan sudah menumpuk pakaian di atas tikar. Beberapa peti terbuka, membawa aroma kapur barus dan matahari.
"Ini pakaianmu sebelum berangkat ke Selatan," ujar Nyonya Lin sambil membentangkan sebuah jubah kecil berwarna hijau pucat. "Beberapa masih bisa dibetulkan untuk pelayan muda. Yang lain sebaiknya kita simpan."
Ruyin menerima jubah itu dan mengusap kainnya dengan ibu jari. Katun halus, sedikit kaku oleh pati. Bahannya nyaman di tangan, dan hanya itu. Tidak ada gambar yang muncul, tidak ada suara. Ia membentangkannya dan melihat lengan bajunya yang pendek, jahitannya rapi hingga ke pergelangan.
"Lengannya pendek sekali."
"Kau dulu tidak mau memakai lengan panjang. Sering tersangkut di dahan, di pagar, di pintu. Kau berlari ke mana-mana." Nyonya Lin menyerahkan pakaian lain. "Aku sampai harus meminta tukang jahit memendekkan semuanya."
"Aku suka berlari?"
"Kau anak paling aktif di lorong ini. Pelayan sampai menaruh tikar supaya Ibu tidak pusing."
Ruyin teringat bahwa Yucheng pernah mengatakan hal yang sama di awal kepulangannya. Ia mengangguk dan tersenyum. Ia tidak sedang berlari ke mana pun sekarang, dan tidak bisa membayangkan dirinya pernah berlari tanpa tujuan.
Pelayan membuka sebuah peti lain. Nyonya Lin mengangkat sehelai jubah luar dengan warna biru muda yang pucat, hampir sewarna langit sesudah hujan.
"Yang ini kita buang saja. Kau tidak pernah mau memakainya. Selalu menolak warna biru muda."
Ruyin memandang kain itu. Ada sesuatu yang tenang dan lapang dalam warnanya, dan perasaan itu muncul tanpa diundang, seperti napas yang akhirnya turun.
"Apa aku benar-benar tidak suka?"
Nyonya Lin berhenti. Tangannya masih memegang jubah itu, jarinya sedikit menegang pada lipatan kerahnya. Hanya sesaat, selama pelayan di sebelahnya sempat menarik napas.
"Anak kecil sering berubah pikiran," ujarnya tenang, lalu melipat jubah itu dan menyerahkannya kepada pelayan. "Simpan saja. Siapa tahu masih berguna."
Ruyin tidak bertanya lagi.
———
Sisa siang berlalu dengan sunyi. Ia duduk di dekat jendela dengan kitab sajak dan membacanya kali ini dengan sungguh-sungguh. Menjelang sore ia menggosok sedikit tinta baru, tanpa sengaja memperlambat gerakannya, lalu menghentikan dirinya sendiri dan menulis daftar sederhana: kitab sajak, kitab hitungan, benang sutra, madu. Tidak ada yang lain. Ia membiarkan daftar itu kering di meja, lalu pergi melihat kucing di bawah paviliun.
Bibi Qin masuk menjelang senja untuk merapikan ranjang dan mengganti lilin.
"Bibi, dulu aku memang sering berlari di halaman?"
"Sering sekali, Nona. Sampai alas kaki Nona habis dua pasang dalam sebulan."
Ruyin tersenyum. Lalu, sambil melipat selimut, ia bertanya, "Kenapa sekarang semua orang punya cerita tentangku yang tidak kuingat?"
Bibi Qin tidak langsung menjawab. Tangannya merapikan sudut bantal dua kali.
"Delapan tahun itu waktu yang panjang, Nona. Orang yang pergi kehilangan banyak hal kecil, sementara orang yang tinggal terus menyimpannya. Itu saja."
"Itu saja?"
"Ya." Ia menegakkan punggung dan menepuk selimut. "Dan yang berubah bukan hanya Nona."
Ruyin menatapnya. "Apa maksud Bibi?"
"Chang'an juga berubah, Nona." Bibi Qin sudah membungkuk lagi pada pekerjaannya, dan tidak mengangkat wajah sampai ia keluar.
———
Malam itu Ruyin membuka laci dan menyentuh surat untuk tabib tua yang belum diikat, lalu menutupnya lagi. Di rak, batang tinta berukir bambu berbaring biasa saja di sisi batu tinta. Ia tidak memandangnya lama.
Kertas, tinta, kain, kunci, catatan, jubah kecil berlengan pendek. Semuanya pernah dimiliki seseorang yang namanya sama dengan namanya, dan sebagian terasa seperti miliknya, sebagian lagi seperti milik anak perempuan lain yang kebetulan tinggal di kamar ini.
Ia hampir memadamkan lilin ketika suara Yucheng terdengar dari koridor di luar, rendah dan jelas.
"Jangan pindahkan apa pun dari kamar lama itu dulu. Tunggu sampai aku bilang."
Suara pelayan menjawab sesuatu, terlalu pelan untuk ditangkap.
Ruyin membuka pintu sedikit. Lorong itu hanya diterangi satu lentera yang bergoyang pelan. Yucheng sudah berjalan menjauh, punggungnya lurus dan langkahnya tidak tergesa, dan ia tidak menoleh. Pelayan itu menunduk dalam-dalam lalu menghilang ke arah dapur.
Ruyin tidak mengejar dan tidak memanggil. Ia berdiri di ambang pintu sampai koridor itu kosong sepenuhnya.
Kamar lama yang mana, ia tidak tahu. Mungkin ruang simpan. Mungkin bukan. Mungkin hanya urusan rumah tangga yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Tetapi ia mengerti sesuatu yang sederhana: di rumah ini, bahkan percakapan yang tidak ditujukan kepadanya bisa menyimpan bagian yang belum ia ketahui.