NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: RAHASIA RAMEN

delapan karyawan restoran sudah dipulangkan ke Jakarta sejak kemarin sore. Kini, tersisa Amira dan Rika yang menyusuri sudut-sudut pulau Bali untuk melakukan survei lokasi cabang restoran baru mereka.

"Gila! Sewa tempat di sini mahal-mahal banget ya, Beb!" desah Rika sambil menyeka keringat di dahinya.

"Ya mahallah, Ka. Ini kawasan pariwisata internasional. Daya beli pembelinya tinggi, jadi wajar harga sewa rukonya tinggi," sahut Amira santai.

"Terus kita harus gimana dong? Anggaran kita kan tetap ada batasnya."

Amira berpikir sejenak. "Sepertinya kita harus pakai sistem co-working atau join usaha sama warga lokal di sini."

"Masalahnya, kita buta banget sama wilayah Bali. Kita tidak punya koneksi sama sekali di sini," keluh Rika.

"Kalau tidak punya koneksi, ya kita cari," jawab Amira mantap.

Rika mengendarai sepeda motor sewaan, sementara Amira membonceng di belakang sambil sesekali memotret lokasi-lokasi unik lewat kamera ponselnya.

"Berhenti! Berhenti dulu, Ka!" seru Amira menepuk bahu Rika.

"Kenapa?" Rika menarik rem motornya ke pinggir jalan.

"Coba samperin kedai kecil itu. Kayaknya itu kedai masakan Jepang," tunjuk Amira ke sebuah bangunan sederhana.

Kedai itu berukuran sekitar 2x3 meter dengan halaman kecil berukuran 5x4 meter. Suasananya sangat sepi, berbanding terbalik dengan kedai-kedai di sekitarnya yang ramai pengunjung.

Amira dan Rika melangkah masuk. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka ramah sambil membawa buku menu. Amira mengamati deretan menu tersebut lalu memesan Chicken Shoyu Ramen. Rika memesan menu yang sama.

Sepuluh menit berlalu, dua mangkok ramen hangat tersaji di meja. Amira mencicipi kuah ramen itu dengan penuh ketelitian. Sebagai seorang pemilik restoran masakan Asia yang berpengalaman, ia langsung menemukan letak kekurangannya.

"Mbak... boleh ke sini sebentar?" panggil Amira ramah pada wanita paruh baya pemilik kedai.

"Iya, Nona... Ada yang salah?" tanya wanita itu mendekat.

"Sepertinya ada teknik memasak dan racikan bumbu yang kurang pas di kuah ramen ini," tutur Amira jujur namun sopan.

Bukannya marah atau tersinggung, wanita itu justru duduk di samping Amira dengan mata berbinar penasaran. "Masa sih? Wah, di mana keliru-nya?"

"Apakah Mbak masih punya sisa bahan-bahannya di dapur?" tanya Amira.

"Masih ada."

"Boleh saya ikut ke dapur untuk mencoba memasaknya?"

"Tentu saja! Mari ikut saya ke belakang," ajak wanita itu penuh antusias.

Amira melangkah ke dapur sederhana kedai tersebut. Di sana tergelar kaldu ayam, minyak bumbu, mi ramen segar, dan aneka rempah pendukung.

Dengan gerakan anggun dan penuh presisi, Amira mulai mengolah bahan-bahan tersebut. Ia menyesuaikan takaran bumbu, mematangkan mi dengan suhu yang tepat, hingga aroma harum khas racikan Jepang otentik merebak memenuhi ruangan dan mengunggah selera. Amira menyajikan empat porsi Chicken Shoyu Ramen dengan penataan (plating) yang sangat cantik.

Wanita pemilik kedai itu menyaksikan setiap detail gerakan Amira dengan rasa takjub.

"Nona... apakah Nona ini seorang koki profesional?" tanyanya terpesona.

Rika terkekeh bangga. "Dia ini pemilik restoran khusus masakan Asia di Jakarta."

"Ah! Pantas saja! Keterampilan memasak Nona luar biasa sekali!" puji wanita itu.

"Ah, cuma hobi yang ditekuni saja kok, Mbak," senyum Amira rendah hati. "Mari kita coba dulu hasilnya."

Dua mangkok ramen dibawa kembali ke meja depan. "Silakan dicoba dulu, Mbak."

Wanita paruh baya itu menyeruput kuah dan mi buatan Amira. Seketika matanya membelalak kaget.

"Ini... ini ramen paling enak yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku! Cita rasanya benar-benar membawa ingatan seperti kembali ke Jepang!" serunya takjub.

Amira kemudian menjelaskan langkah demi langkah rahasia pengolahannya secara mendetail. Wanita itu mencatatnya dengan tekun di secarik kertas.

"Otakku agak lambat meresap... Bisakah Nona menunjukkannya sekali lagi besok?" tanyanya berharap.

"Tentu saja. Tapi aku lihat stok bahan di dapur Mbak tadi sudah tinggal sedikit. Sebaiknya belanja bahan baru dulu," saran Amira.

"Wah, kalau sekarang pasar bahan segar sudah tutup. Aku harus belanja besok pagi-pagi sekali. Kapan kira-kira Nona bisa kembali ke sini?"

"Belum tahu pasti, Mbak... Sebenarnya saya sedang mencari lokasi untuk membuka cabang restoran. Bisakah Mbak bekerja sama dengan saya menggunakan tempat ini?" tawar Amira langsung.

Mata wanita itu berbinar gembira. "Oh, tentu saja! Aku sangat bersedia!"

Amira tersenyum lega. "Dari tadi kita mengobrol tapi belum kenalan. Nama saya Amira," ucap Amira mengulurkan tangan.

"Namaku Diah Ayu," sambut wanita paruh baya itu menjabat tangan Amira hangat.

"Dan ini teman saya, Rika." Rika melempar senyum ramah pada Diah.

"Baiklah, Mbak Diah... Bisakah kita bertukar nomor ponsel?" tanya Amira.

"Boleh... Tapi ponselku sedang mati total karena kehabisan daya. Bagaimana kalau Nona Amira tulis saja nomornya di kertas ini?" Diah menyodorkan secarik kertas dan pulpen.

Amira merogoh saku untuk melihat nomor ponselnya. Layar ponselnya dipenuhi belasan notifikasi pesan dari keluarga mertuanya. Amira mengabaikan caci maki dari Ibu Mirna dan Sonia, namun matanya tertuju pada satu pesan singkat dari suaminya, Adam:

[Aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Kamu harus segera pulang ke Jakarta! Banyak hal penting yang harus kita selesaikan!]

Amira menyeringai dingin. Tanpa ragu, ia membalas singkat: [Oke.]

"Amira, mana nomornya?" tanya Diah memecah lamunan Amira.

Amira buru-buru menuliskan nomor teleponnya di atas kertas. "Ini nomor saya, Mbak Diah."

"Baik, nanti begitu ponselku menyala, langsung aku hubungi ya."

"Baiklah, aku tunggu," sahut Amira lalu berbalik mengajak sahabatnya. "Ka, ayo kita ke hotel sekarang."

"Loh, kok mendadak terburu-buru begitu?" tanya Rika heran.

"Kita harus segera pulang ke Jakarta."

"Kenapa?"

"Adam sudah dalam perjalanan pulang. Hubunganku dan dia akan resmi berakhir hari ini," tegas Amira dengan mata tajam.

Rika mengangguk mantap. "Oke! Kalau gitu aku carikan tiket pesawat penerbangan paling awal sekarang juga. Ayo berkemas!"

Sepeninggal Amira dan Rika, suasana kedai Mbak Diah kembali sepi. Tak lama kemudian, seorang pria tua berpakaian rapi dengan tongkat kayu berjalan pelan memasuki kedai.

Diah segera menyambutnya ramah. "Tuan... mau pesan apa?" tanya Diah menyodorkan buku menu.

Pria tua berwajah tegas itu tidak melihat menu, melainkan mengendus-endus udara di sekitar kedai. Hidungnya menangkap aroma racikan kaldu yang sangat familier.

"Bolehkah... saya melihat ke dalam sana?" tanyanya dengan bahasa Indonesia beraksen asing yang lumayan fasih.

"Ke dapur?" tanya Diah ragu.

Pria tua itu mengangguk pelan.

Diah mengantarnya ke area dapur. Pria tua itu melangkah mendekati meja racik. Matanya tertuju pada satu mangkok sisa ramen buatan Amira yang mulai dingin.

"Tuan, biar saya buatkan yang baru dan hangat..." tawar Diah tak enak hati.

Namun pria tua itu menggelengkan kepala. Ia menunjuk mangkok ramen dingin tersebut dan membawanya sendiri ke meja makan.

Ia mengamati tata letak bahan dan kilapan minyak kaldu di permukaan mangkok itu dengan sangat teliti. Kemudian, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meresapi satu suapan mi dan kuahnya.

Keheningan melingkupi kedai. Pria tua itu memejamkan mata. Setitik air mata menetes basah melewati pipinya yang keriput.

Ia menatap Diah dengan pandangan penuh desakan emosional. "Katakan padaku... Siapa yang membuat ramen ini?!"

1
YuWie
terharu rik..
YuWie
amira kie bahlul apa gimana sih... tolonggg kasih pencerahan sama almira. Banyak yg sayang dan mau berkorban ,, malah dia mau bunuh diri..malezzz bgt, protagisnya bikin kecewa
sunaryati jarum
Yamada menolong diambil darah untuk Amira, sekarang tes DNA
Suanti
semoga ada yg datang menolong amira dan aldi 🤣🤣🤣
YuWie
bebal tak ada malunya tipikal bu mirna... yg dipikirannya cmn keuntungan keluarganya...pd sekali anda buks
sunaryati jarum
Buka pakaian Alya, Adam, akan kau temukan jejak percintaan.Dan Bu Mirna sampai kapan.kau hanya menginginkan uay orang lain tanpa berusaha apapun
Nenk Shila: terkadang adam ada sisi baiknya yaa, masih bisa intropeksi diri tdk sperti ibu dan saudara2nya yg lain yg selalu serakah dan menyalahkan orang lain
total 1 replies
sunaryati jarum
Mirna ingin hidup enak dengan memaksa Amira balikan sama Adam.Yang suka sama nAmira sekelas milyuner,Adam mah lewat Wah ketemu nPak Diki ,langsung ditalak saja.
sunaryati jarum
Uang hasil hutangan yg nanti menjerat leher kalian.kok.dipsmerkan.Sunhguh penyelamatan aset dan diri yang tapi ,Amira serta terlindungi
sunaryati jarum
Lekas beraksi Yamamoto,itu mungkin awal kehancuran kamu dan ibumu Yuri Kuroda, dengan mengusik Amira.Kamu dan ibumu kali ini akan kena batunya.
sunaryati jarum
Akhirnya emak ikut lega, semua usaha Amira di bawah perusahaan internasional milik Ny Jasmine, Yamamoto dan Ibunya tidak bisa mengganggu, walau permintaan Alya.Ysmada dan Amira sepertinya yang saudara kandung,dari ibu yang sekarang mungkin ini Lisa.
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
sunaryati jarum
Segera bilang ke Mas Aldi, semoga segera dapat mencari cara mengatasinya.Carilah di Sulawesi ,Ny Yuri
sunaryati jarum
Ternyata kamu cerdik juga Amira, tadinya emak deled novel ini, bilang sama Aldi, bagaimana mengelabuhi Yuri Si Pelakor tamak.Berarti kemungkinan Amira putri wanita yang jadi suami Pak Diki.
sunaryati jarum
Jangan sampai Alya berhasil mengacaukan atau menghancurkan usaha Amira.Jika itu terjadi aah emak malas melanjutkan mengikuti kisah ini
sunaryati jarum
Yamada harus bisa menggagalkan kelicikan Alya untuk menghancurkan Amira.Walau berurusan dengan Yamamoto.Atau Yamamoto malah melindungi Amira, karena ada getaran aneh hatinya
YuWie
merajalela si alya ini..almira aja gak pernah nyenggol kamu. situ yg pelakor ehh situ yg panas..waras buks
YuWie
makanya tho mbak mir..cerita gih sama mas aldhi
YuWie
syukurlah klo kamu pintar mir amir...sdh kau bohongi bang aldi aang intelejen
Suanti
amira segera hancur hp butut 🤭🤣🤣
YuWie
lha kok enakmen kok balik..rugi bandar amira buk buk
sunaryati jarum
O Bu Lisa sepertinya ibu kandung Yamada dan Amira Adik kandung Yamamoto, yang berarti adik tiri Yamada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!