Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
Jam 5 pagi alarm HP kusam ku bunyi. Bukan alarm adzan kayak di pondok Al-Hidayah.lalu aku lanjut wudhu dan solat subuh.
Aku bangun. Kasur tipis kos 500 ribu/bulan sudah panas karena sempit. Kamar 2x3 meter ini tidak ada jendela besar, cuma ventilasi kecil di atas. Tapi pagi ini tidak sumpek. Karena tadi malam aku tidur nyenyak. Pertama kali setelah 15 hari di Jakarta.
Aku lihat HP. Ada chat dari Arfan jam 5.30 pagi.
Pagi Laila. Jam 7.30 saya tunggu di depan gang ya. Jangan jalan kaki sendiri. Sarapan dulu.
Jam 5.30 pagi dia sudah bangun. Manager operasional PT. HIJAB BAROKAH yang gajinya mungkin 10 juta, bangun jam 5.30 buat jemput admin gaji 3,5 juta yang baru kerja 2 minggu. Di kampung ku, tidak ada laki-laki kayak gitu. Laki-laki di kampung ku bangun jam 5.30 buat ke masjid, lalu tidur lagi.
"Dan pak Arpan ini membuat ku bingung dan menjadi tanda tanyaku,kenapa dia sebegitu peduli dan perhatian kepadaku,atau jangan jangan dia punya maksud lain, astaghfirullah Laila jangan mikir aneh aneh"
Aku mandi. Air kos dingin. Sabun ku sabun batang biasa, Tapi aku gosok pelan. Karena hari ini aku tidak mau bau. Aku mau wangi kayak mukena putih baru di ruko.
Aku pakai baju kerja. Atasan putih dan celana hitam panjang yang ditetapkan ruko. Bukan gamis putih. Aturan baru dari Arfan minggu lalu, semua admin tidak boleh pakai gamis saat kerja karena pernah ada kejadian Mbak Sari kesangkut gamisnya di mesin setrika uap, hampir kebakar. Jadi sekarang pakai atasan. Aku suka. Karena kalau pakai gamis putih, aku ingat noda kopi hitam di trotoar, ingat noda merah lumpur kuburan ibu.
Jam 7.15 aku sudah siap. Tas ransel hitam isi Al-Quran kecil, buku tulis stok, dan bekal botol air putih. Aku tidak punya motor. Tidak punya uang buat Gojek tiap hari. Biasanya jalan kaki 20 menit dari kos ke ruko. Lewat gang sempit yang kalau hujan becek, kalau panas debu. Gang yang jam 8 malam kemarin Arfan jemput aku makan bakso.
Jam 7.29 aku keluar gang.
Dan di depan gang, sudah ada Arfan. Pakai motor yang sama. Pakai kemeja biru muda, bukan putih. Rapi. Helm dua. Satu dipakai dia, satu dipegang.
Dia lihat aku, senyum. Senyumnya lebar kayak semalam habis makan bakso, bukan senyum tipis hari pertama kena kopi hitam.
"Pagi, Laila. Pas jam 7.30."
Aku angguk. "Pagi, Kak."
"Naik. Pegangan besi belakang aja, jangan takut."
Aku naik. Kali ini gang sudah ramai. Ibu-ibu beli sayur. Bapak-bapak berangkat kerja. Tidak sepi kayak malam. Jadi tidak takut dilihat orang jadi bahan gosip. Aku tidak berani pegang pinggang dengan Arpan .
Motor jalan pelan. Jakarta pagi jam 7.30 macet. Klakson di mana-mana. Bau knalpot. Tapi aku tutup hidung pakai jilbab ku.
Sampai di ruko jam 7.45. Ruko belum buka. Kunci masih digembok. Arfan buka gembok.
Di dalam, bau wangi laundry mukena masih sama. Gantungan mukena putih berjejer, gamis hitam, gamis putih, mukena anak kecil warna pink.
Mbak Sari, Mbak Yuni, dan Mbak Indah belum datang. Mereka biasanya datang jam 8.10, mepet.
Hanya aku dan Arfan di ruko pagi itu.
"Laila, sarapan dulu," Arfan bilang. Dia taruh di meja belakang satu bungkus nasi uduk dan teh hangat dalam plastik. "Saya beli di depan gang kos mu tadi. Ibu-ibu yang jualan."
Aku kaget. "Kak, kok tau saya belum sarapan?"
"Anak kos biasanya tidak sarapan. Uangnya diirit buat kos. Saya dulu juga anak kos di Pekalongan, 5 tahun."
Aku makan nasi uduk itu. Pelan. Nasinya pulen, ada bawang goreng, ada telur balado setengah. Enak. Lebih enak dari nasi padang kemarin karena ini dibeliin jam 5.30 pagi, masih anget.
Arfan duduk di depan, buka laptop. Laptopnya hitam, ada stiker PT. HIJAB BAROKAH.
"Laila, nanti kalau Mbak Sari datang, kamu jangan cerita saya jemput ya. Nanti dia iri lagi. Bilang aja kamu naik angkot."
Aku angguk. Paham. Dunia kerja perempuan itu sensitif. Aku sudah lihat di pondok Al-Hidayah. Santriwati senior iri sama junior yang disayang Kyai. Sama aja di sini.
Jam 8.05 Mbak Sari datang. Pakai motor matic, pakai lipstik merah. Lihat aku sudah di dalam, sudah sarapan, mukanya langsung berubah.
"Wah, Laila rajin banget. Jam 7 sudah di ruko. Mau cari muka ya biar gaji naik jadi 4 juta?"
Aku diam. Tidak jawab. Aku lanjut lipat mukena yang semalam belum selesai. Lipatan kecil rapi kayak ibu lipat mukena tahajud jam 3 subuh.
Mbak Sari lihat nasi uduk ku. "Dibeliin Pak Arfan ya? Enak ya jadi anak baru."
Arfan dari depan batuk pelan. "Mbak Sari, tolong cek stok mukena putih anak yang kemarin kurang 10 pcs ya."
Mbak Sari langsung diam, pergi ke gudang.
Siang itu, jam 12, Arfan tidak belikan aku nasi padang di depan semua orang. Dia cuma taruh di meja belakang diam-diam, bungkusnya ditutup koran, biar Mbak Sari tidak lihat. Di dalamnya ada tulisan kecil pakai spidol Makan yang banyak, Laila. Jangan kayak di bus Kampung Rambutan belum makan dari jam 5 pagi.
Aku hampir nangis baca tulisan itu. Dia ingat cerita ku hari pertama. Cerita ku jongkok di trotoar Jakarta pakai gamis putih kena noda kopi hitam, lapar dari jam 5 pagi belum makan.
Sore jam 5, karyawan lain pulang. Aku masih disuruh Arfan hitung stok gamis putih yang baru datang 200 pcs dari Pekalongan. Itu kerjaan tambahan, tapi aku tidak ngeluh. Karena hitung stok 200 pcs lebih gampang dari lipat 100 mukena sampai jam 8 malam.
Jam 6.10 selesai.
"Laila, saya antar pulang ya. Sudah maghrib," Arfan bilang.
"Jangan, Kak. Nanti Mbak Sari lihat."
"Sudah pulang semua. Ayo."
Aku naik motor lagi. Kali ini Jakarta sore habis hujan. Jalan basah. Lampu-lampu ruko mulai nyala. Motor Arfan pelan lagi, biar cipratan air tidak kena celana hitam ku.
Sampai gang kos, Arfan berhenti. Tidak masuk gang. Cuma di depan.
"Laila, besok libur Minggu. Kamu ada acara?"
"Tidak, Kak. Di kos aja. Cuci baju."
"Temani saya ke Tanah Abang? Saya mau kulak mukena. Kamu kan jago lihat bahan mukena. Temani saya pilih. Saya bayar harian 200 ribu, diluar gaji."
200 ribu sehari. Besar sekali.
Aku mau bilang iya, tapi takut. Jalan sama laki-laki seharian ke Tanah Abang. Kalau jadi fitnah gimana? Kalau aku jadi Alia lagi gimana?
Tapi Arfan lihat ragu ku.
"Tenang, Laila. Di Tanah Abang ramai. Banyak orang. Bukan berdua di gang sepi. Dan saya butuh mata kamu yang teliti lihat jahitan mukena. Mbak Sari kalau lihat jahitan tidak teliti."
Kalimat terakhir itu buat aku yakin. Dia butuh aku karena kerjaan ku, bukan karena aku perempuan.
"Boleh, Kak. Jam berapa?"
"Jam 8 pagi saya jemput depan gang lagi. Pakai baju bebas, jangan baju kerja."
Aku masuk kos. Kunci pintu triplek. Buka HP kusam. Tidak ada WA dari peci putih bersih lagi. Nomor Kyai Rahman masih terblokir merah.
Aku buka Al-Quran kecil. Di bawahnya masih ada amplop 500 ribu bonus. Sekarang ditambah nasi uduk pagi yang bikin kenyang.
Aku tulis lagi di buku stok halaman belakang:
Hari ke-16 di Jakarta. Tuhan, hari ini aku dijemput jam 7.30 pagi. Bukan karena dibayar kayak Alia. Tapi karena diantar kerja. Bedanya tipis, tapi rasanya jauh. Kayak beda mukena putih baru sama mukena putih yang udah lusuh. Sama-sama putih, tapi satu wangi, satu bau.
Lalu aku telepon Bapak. HP butut Bapak langsung diangkat.
"Pak, Laila besok Minggu kerja tambahan. Dapat 200 ribu."
"Alhamdulillah, Laila.Bapak seneng denger nya,kamu sehat sehat ya disana.
Bapak sehat. Kotak kayu masih dikunci. Flashdisk merah masih ada.
Semua aman. Untuk malam ini.
Di luar, suara adzan Isya dari masjid dekat kos. Aku ambil mukena kos yang sudah agak kuning, bukan mukena putih baru di ruko. Aku sholat di atas kasur tipis.
Pertama kali sholat Isya tidak bolong setelah 2 minggu kerja. Karena biasanya jam 8 malam masih lipat mukena.
Malam itu aku tidur jam 9. Mimpi tidak ada kuburan berlumpur merah. Mimpinya tanah abang, tumpukan mukena putih 1000 pcs, dan Arfan bilang Laila, pilih yang jahitannya rapi kayak lipatan kamu.