Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
Setelah malam yang panjang dan penuh kemesraan, pagi akhirnya kembali menyapa. Nadira sudah siap dengan pakaian kerjanya. Rok hitam selutut dan blus berwarna krem melekat rapi di tubuhnya. Setelah menyiapkan sarapan, ia kembali masuk ke kamar dan mendapati Arga sedang bersiap di depan cermin.
“Sini, aku bantu.”
Nadira menghampiri suaminya, lalu mengambil alih dasi yang sedang dirapikan Arga. Dengan telaten, ia membenarkan letak dasi itu hingga tampak rapi di kerah kemeja suaminya.
Arga memperhatikan wajah Nadira melalui pantulan cermin. Senyum kecil muncul di bibirnya.
“Istriku selalu cantik.”
Sebelum Nadira sempat menjawab, Arga menunduk dan memberikan kecupan singkat di bibirnya. Pipi Nadira langsung merona, membuat Arga tersenyum semakin lebar.
“Sudah, ya. Hari ini kita harus berangkat kerja.” Nadira mendorong pelan dada suaminya. “Semalam tubuhku sudah kamu buat remuk, tahu!”
Kalimat yang disertai tatapan tajam itu justru membuat Arga tertawa.
“Memangnya aku salah?” godanya.
Nadira mendelik, kemudian berbalik meninggalkan Arga yang masih tertawa kecil.
Namun, beberapa saat kemudian, tawa laki-laki itu perlahan menghilang ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Batalkan jadwal kamu nanti malam. Kamu harus ikut Ibu dan Ayah menemui keluarga Om Adrian.
Arga membuka pesan itu, lalu terdiam. Ia sudah menduga kedua orang tuanya belum menyerah mengenai perjodohan tersebut. Rupanya, mereka kembali mengatur pertemuan tanpa memberinya banyak kesempatan untuk menolak.
Arga tidak langsung membalas pesan itu. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, berniat menjawabnya nanti ketika sudah berada di perjalanan.
“Kenapa tidak dibalas? Itu pesan dari Ibu, loh.” Suara Nadira membuat Arga menoleh. Perempuan itu sudah berdiri di dekat pintu kamar, menunggunya untuk sarapan bersama.
“Enggak perlu. Nanti sepulang kerja aku akan mampir ke rumah Ibu.” Arga mengambil ponselnya, lalu menggenggam tangan Nadira. “Ayo, kita sarapan. Nanti kamu telat.”
Nadira mengangguk dan mengikuti suaminya menuju meja makan. Pagi itu kembali berjalan seperti biasanya. Mereka sarapan bersama, sesekali bertukar cerita tentang pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.
Nadira sama sekali tidak mengetahui bahwa pesan singkat yang baru saja diterima Arga berkaitan dengan sebuah keputusan yang kelak mengubah kehidupan mereka. Sementara Arga berusaha menikmati waktu bersama istrinya, pikirannya mulai dipenuhi kegelisahan.
Malam nanti, ia harus kembali berhadapan dengan kedua orang tuanya dan pembicaraan yang sejak awal berusaha dihindarinya.nDan sekali lagi, Arga belum menemukan keberanian untuk menceritakan semuanya kepada Nadira.
Hari itu berlalu dengan kesibukan masing-masing. Arga menghabiskan waktunya di kantor, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus segera dituntaskan. Sesekali ia memeriksa ponselnya, tetapi tidak ada pesan penting selain pengingat dari ibunya mengenai pertemuan malam nanti.
Menjelang sore, ia menghubungi Nadira untuk memberi tahu bahwa dirinya akan pulang lebih lambat.
“Aku ada urusan dengan Ayah dan Ibu. Mungkin pulangnya agak malam,” kata Arga ketika panggilannya tersambung.
“Oh, begitu. Ya sudah, enggak apa-apa. Aku juga mungkin pulang sedikit terlambat karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Setelah panggilan berakhir, Arga menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya ke saku. Ia tahu Nadira mempercayainya sepenuhnya. Namun, kepercayaan itu belum cukup membuatnya berani mengatakan kebenaran.
***
Arga tiba di rumah kedua orang tuanya menjelang waktu makan malam. Ibunya sudah menunggu di ruang tengah. Begitu melihat putranya datang, perempuan itu segera bangkit dan menghampirinya. Wanita paruh baya itu sudah terlihat rapi.
“Pergi bersiap-siap dulu, Ayah juga masih di ruang kerja. Sebentar lagi kita akan berangkat ke Restoran. Nanti sekalian makan malam bersama keluarga Om Adrian.” Ujar sang ibu.
Arga mengangguk kemudian melanjutkan langkah menuju kamar tidurnya di rumah ibu.
Beberapa saat kemudian, mobil milik Arga mulai melaju di jalanan. Malam ini cukup lenggang, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk tiba di Restoran.
“Sudah lama tidak melihat kamu.” Adrian menepuk pundak Arga saat laki-laki muda itu menyalami punggung tangannya.
“Benar, Om. Terakhir kali kita bertemu sepertinya sudah cukup lama.”
“Duduklah. Malam ini kita bisa mengobrol lebih santai.”
Mereka kemudian duduk mengelilingi meja yang telah disiapkan. Maya, istri Adrian, turut menyambut Arga dengan hangat. Di sampingnya duduk seorang perempuan muda yang selama ini hanya dikenal Arga melalui foto yang ditunjukkan ayahnya.
“Alya, ini Arga,” ujar Maya kepada putrinya. “Kamu mungkin pernah bertemu dengannya ketika kalian masih kecil, tetapi Mama rasa kamu sudah lupa.”
Alya tersenyum kecil sebelum menoleh kepada laki-laki di seberangnya.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumussalam.”
Alya mengenakan gamis berwarna lembut dengan hijab yang tertata rapi. Penampilannya sederhana, sementara sikapnya terlihat sopan ketika menyapa kedua orang tua Arga.
Arga membalas senyumnya sekadarnya. Tidak ada perasaan istimewa yang muncul dalam dirinya. Ia hanya menyadari bahwa Alya mampu membawa diri dengan baik di hadapan orang yang lebih tua.
Setelah saling bertukar kabar, mereka mulai menikmati makan malam. Percakapan awal berlangsung santai, membahas pekerjaan, keluarga, dan kesibukan masing-masing.
Arga sesekali menanggapi obrolan para orang tua. Namun, ia tahu pembicaraan itu pada akhirnya akan kembali pada persoalan perjodohan. Benar saja, setelah makanan utama disajikan, ayahnya mulai membicarakan harapan kedua keluarga.
“Kami sudah lama bersahabat,” ujar Pratama. “Rasanya menyenangkan kalau hubungan keluarga kita bisa semakin dekat. Apalagi sekarang anak-anak sudah dewasa.”
Adrian mengangguk setuju. “Itu juga yang kami pikirkan. Tapi, tentu saja kami ingin Arga dan Alya saling mengenal terlebih dahulu.”
Alya yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya mengangkat kepala. Wajahnya sedikit merona ketika namanya kembali disebut.
Arga meletakkan sendoknya. Ia merasa pembicaraan tersebut bergerak terlalu jauh, padahal dirinya belum pernah mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Alya secara pribadi.
Seolah memahami hal itu, Maya tersenyum kepada mereka. “Bagaimana kalau kalian berbincang sebentar? Tidak perlu membicarakan hal yang berat. Kalian bisa saling mengenal.”
Alya mengangguk kecil, sementara Arga tidak memiliki alasan yang masuk akal untuk menolak. Mereka pun berpindah ke area duduk yang sedikit lebih tenang di dekat jendela restoran. Keluarga mereka masih berada tidak jauh dari sana.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya duduk dalam keheningan. Dan Alya akhirnya membuka percakapan. “Maaf kalau suasananya membuat Mas tidak nyaman.”
Arga menoleh kepadanya. “Kenapa kamu meminta maaf?”
“Karena kita dipertemukan dalam keadaan seperti ini. Aku tahu orang tua kita berharap banyak dari perjodohan ini.”
Arga mengangguk pelan. “Aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya mudah.”
Alya tersenyum tipis. Ia tampak sedikit lega karena Arga tidak berusaha bersikap seolah-olah mereka sudah saling mengenal dekat.
“Aku menghargai keputusan orang tua kita,” katanya. “Tapi, kalau perjodohan ini memang akan dilanjutkan, aku berharap kita tetap bisa saling mengenal. Aku tidak ingin kita menjalani semuanya hanya karena diminta.”
Mendengar kalimat itu, Arga langsung menatap Alya yang sedang duduk di sampingnya.
Alya melanjutkan dengan suara tenang, “Aku tidak berharap Mas langsung menyukaiku. Kita baru bertemu lagi setelah sekian lama. Aku hanya ingin kalau nanti kita benar-benar menikah, setidaknya kita tidak menjadi dua orang asing yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain.”
Arga terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Alya akan berbicara seterbuka itu. Perempuan tersebut tidak menuntutnya memberikan jawaban manis, apalagi berpura-pura bahagia dengan perjodohan mereka.
Alya hanya meminta agar mereka menjalani proses itu dengan saling menghormati.
“Aku mengerti,” jawab Arga akhirnya. “Menurutku, kamu benar. Kita memang perlu saling mengenal.”
Alya mengangguk, lalu tersenyum kecil.
Percakapan mereka tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit, keduanya kembali bergabung dengan keluarga masing-masing.
Arga tidak menemukan alasan untuk bersikap buruk kepada Alya. Perempuan itu sopan, tidak banyak menuntut, dan mampu membuat suasana yang semula canggung menjadi lebih nyaman. Namun, kesan baik tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa hatinya masih berada pada tempat yang sama, yaitu Nadira.
Setelah makan malam selesai, kedua keluarga kembali membicarakan rencana perjodohan mereka. Adrian berharap prosesnya tidak berlangsung terlalu lama. Menurutnya, jika kedua anak mereka sudah bersedia, tidak ada alasan untuk menunda pernikahan terlalu jauh.
Arga lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menanggapi pertanyaan yang ditujukan kepadanya, tetapi tidak langsung memberikan persetujuan.
Sampai akhirnya ayahnya mengajaknya berbicara sebentar di luar area makan. “Bagaimana menurutmu, Ga?” tanya ayahnya.
Arga memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Alya perempuan yang baik, Yah. Aku bisa melihat itu.”
“Lalu, apa kamu bersedia melanjutkan perjodohan ini?”
Arga tidak segera menjawab. Ia teringat Nadira yang tadi pagi membantunya memasangkan dasi. Ia masih bisa mengingat senyum perempuan itu, kecupan singkat mereka pagi in, dan caranya menggoda Arga sebelum mereka berangkat kerja.
Ia mencintai Nadira. Perasaan itu tidak berubah hanya karena ia baru saja bertemu dengan perempuan lain. Namun, ia juga tahu bahwa kedua orang tuanya tidak akan berhenti mendesaknya. Mereka sudah menaruh harapan besar pada perjodohan ini, dan penolakan yang terus-menerus hanya akan memperpanjang persoalan.
“Papa tidak meminta kamu langsung mencintai Alya,” ujar ayahnya. “Pernikahan juga bisa dibangun dengan komitmen, tanggung jawab, dan saling menghormati. Papa hanya ingin kamu memberikan kesempatan.”
Arga menunduk sejenak. Ia memahami apa yang ingin disampaikan ayahnya. Tetapi, ada satu kenyataan yang tidak diketahui lelaki itu.
Arga sudah memiliki seorang istri. Dan perempuan tersebut bukan seseorang yang ingin ditinggalkannya.
“Aku akan menjalani perjodohan ini, Yah.”
Ayahnya menatap Arga seolah memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
“Kamu serius?”
“Iya. Aku bersedia menikahi Alya.”
Wajah Pratama langsung terlihat lega. Ia menepuk bahu putranya itu sebelum kembali menghampiri Adrian untuk menyampaikan kabar tersebut.
Arga tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat. Tidak ada kebahagiaan yang muncul dalam dirinya setelah memberikan jawaban itu. Ia hanya merasa baru saja mengambil keputusan besar yang konsekuensinya belum sanggup ia hadapi.
Tak lama kemudian, keluarga mereka kembali berkumpul. Kedua orang tua Alya terlihat senang mendengar persetujuan Arga, sementara Alya hanya tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada Alya, Ga,” ujar Adrian.
Arga mengangguk sopan. “Saya akan berusaha menjalani semuanya dengan baik, Om.”
Kalimat itu keluar dengan tenang, meskipun pikirannya dipenuhi kegelisahan. Ia menghormati Alya. Ia tidak ingin memperlakukan perempuan itu dengan buruk hanya karena perjodohan ini bukan keinginannya sendiri. Namun, menghormati Alya tidak berarti Arga mulai mencintai gadis itu. Dan menerima pernikahan tersebut tidak membuat cintanya kepada Nadira menghilang.
Keluarga Arga baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Setelah berganti pakaian, ia duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan dari Nadira yang belum sempat dibalas.
Ga, kamu sudah selesai?
Aku tadi pulang agak terlambat. Kamu sudah makan?
Arga membaca kedua pesan itu dengan dada yang terasa berat. Ia membayangkan Nadira menjalani malamnya seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa suaminya baru saja menyetujui pernikahan dengan perempuan lain. Jemarinya bergerak membalas.
Sudah, Sayang. Maaf, tadi urusan keluarga cukup lama. Malam ini aku tidur di rumah Ibu ya..
Balasan Nadira datang tidak lama kemudian.
Enggak apa-apa. Istirahat, ya. Besok jangan lupa sarapan.
Arga menatap layar cukup lama sebelum meletakkan ponselnya. Ia mencintai Nadira. Tidak ada yang berubah dalam perasaannya setelah bertemu Alya. Ia juga tidak tiba-tiba membayangkan kehidupan romantis bersama perempuan itu. Namun, ia baru saja menyetujui sebuah pernikahan tanpa memberi tahu Nadira.
Arga menyandarkan punggung ke kepala ranjang, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Maafkan aku, Nadira,” gumamnya pelan.
Ia tidak ingin kehilangan perempuan yang sudah lebih dahulu menjadi istrinya. Ia ingin tetap menjalani kehidupan bersama Nadira, mempertahankan rumah tangga mereka, dan suatu hari nanti memperkenalkannya kepada keluarga. Namun, sekarang ia juga harus menghadapi pernikahan yang sudah disetujuinya sendiri.
Arga belum tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak bisa terus menunda keputusan tanpa batas waktu. Sayangnya, malam itu ia kembali memilih diam.
Ia tidak menghubungi Nadira untuk menceritakan perjodohan tersebut. Ia juga tidak mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa ada kenyataan besar yang belum mereka ketahui.
Arga hanya berharap masih memiliki waktu untuk menemukan jalan keluar. Padahal, sejak persetujuan itu diberikan, waktu yang tersisa justru semakin sedikit.
Beberapa minggu ke depan, persiapan pernikahan akan segera dimulai. Arga harus bolak-balik Jakarta dan Bandung untuk mengurus berbagai kebutuhan bersama keluarga Alya.
Dan setiap kali Nadira bertanya mengapa dirinya semakin sibuk, Arga harus kembali menyembunyikan kebenaran di balik alasan pekerjaan.
Tanpa menyadari bahwa semakin dekat hari pernikahannya dengan Alya, semakin sulit pula kebohongan itu dipertahankan.
Sementara itu, Nadira masih percaya bahwa laki-laki yang dicintainya akan selalu jujur kepadanya. Kepercayaan yang belum ia ketahui akan menjadi salah satu hal paling menyakitkan ketika kenyataan akhirnya terungkap.