Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 - Rutinitas Sheyra
*Sheyra sedang duduk di atas motor ojek online* yang dia pesan. Tujuannya kali ini adalah pulang ke rumahnya setelah seharian membantu di daycare. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 17.20 yang artinya sudah sekitar 20 menit ia dalam perjalanan.
*Jam pulang Sheyra dari daycare* adalah pukul 17.00 tepat. Sebenarnya daycare tutup di jam 19.00 namun Sheyra selalu pulang 2 jam lebih awal. Hal tersebut sesuai dengan permintaan Bunda Sheyra kepada Tante Tia agar mengizinkan anaknya pulang sebelum matahari terbenam karena alasan khawatir.
Jam Sheyra datang untuk membantu di daycare pun sangat fleksibel yakni menyesuaikan jam perkuliahannya. Jika jadwal kuliahnya di pagi hari maka setelah kuliah ia akan langsung pergi ke daycare. Jika jadwal kuliahnya di siang atau sore hari maka paginya ia akan menyempatkan waktu di daycare. Sedangkan jika kuliahnya sedang libur ia akan seharian ada di daycare. Bahkan ia juga bisa mengambil hari libur ketika jadwal kuliahnya sedang padat. Sheyra sangat beruntung memiliki Tante yang baik hati seperti Tante Tia.
Sheyra melihat pemandangan di sekelilingnya. Hari ini lalu lintas sangat padat dan macet dikarenakan bertepatan dengan orang-orang yang pulang bekerja. Ia bersenandung menyanyikan lagu favoritnya dalam hati.
Ketika mata Sheyra melihat anak perempuan kecil yang berjalan di trotoar, tiba-tiba ia langsung teringat kepada Lyra si gadis kecil yang baru ia temui hari ini. Entah kenapa meskipun baru bertemu, Lyra sudah berhasil mengambil hati Sheyra. Lyra benar-benar sangat manis.
Sheyra menghela nafas saat teringat tatapan Lyra tadi saat dirinya pamit untuk pulang. Gadis itu tampak murung. Seolah ingin Sheyra lebih lama menemaninya. Sheyra hanya berharap semoga Lyra bisa cepat berbaur dengan anak-anak yang lainnya.
Saat berhenti di lampu merah, ponsel Sheyra berbunyi pertanda sebuah telepon masuk. Sheyra segera merogoh tasnya untuk mengambil handphone. Di layar tertulis nama Keisha. Tak butuh waktu lama Sheyra segera mengangkat panggilan yang masuk karena penasaran dengan alasan Keisha tiba-tiba meneleponnya.
“Halo Shey.” sapa Keisha dari seberang sana.
“Iya Kei. Ada apa?” tanya Sheyra penasaran.
Driver segera menjalankan motornya saat lampu merah sudah menjadi hijau. Sedangkan Sheyra masih sibuk berbicara di telepon.
“Udah di rumah?” tanya Keisha memastikan. Gadis itu tau jadwal Sheyra pergi ke daycare.
“Belum nih masih di perjalanan. Mungkin sekitar 10 menit lagi sampe.”
“Okayyy. Anu, gue mau minta tolong buat ngerjain tugas Bu Hesti. Boleh ga nanti gue ke rumah lo.” ujar Keisha penuh harap.
Sheyra segera menyahut, “Oh boleh aja. Setelah gue pulang dari daycare juga bisa.”
“Beneran boleh? Yeayyy!” suara Keisha terdengar riang. “Kalo gitu gue sekarang langsung ke rumah lo yaa. Gue tunggu di sana.” tambahnya.
“Iyaaa.”
“Hati-hati di jalan Shey.”
“Okayyyy.” setelah mengucapkan kata itu, Sheyra langsung menutup teleponnya. Kemudian ia kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas.
Sheyra memperhatikan jalanan di depannya. Hampir dekat dengan komplek perumahannya. Dia menghela nafas lega karena sudah terbebas dari macet tadi.
“Kak, ini bener kan belok kanan?” tanya driver ojek pada Sheyra.
Suara driver itu terdengar samar-samar di telinga Sheyra karena suara jalanan cukup bising sehingga membuat gadis itu kembali memastikan pendengarannya. “Hah? Gimana Pak?”
Driver mengulang kata-katanya dengan suara yang lebih tinggi, “Habis ini bener belok kanan kan Kak?”
Sheyra segera menjawab cepat, “Bener Pak. Abis itu lurus aja sampe ketemu pertigaan terus belok kiri yaa. Rumah pagar hitam.”
Driver mengangguk mendengar penjelasan Sheyra. Ia segera menjalankan motornya sesuai dengan panduan Sheyra. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 7 menit ia sudah tiba di tempat tujuan.
“Sudah sesuai lokasi ya kak.” ucap driver.
*“Iya Pak Terima kasih ya.” jawab Sheyra sambil turun dari motor. Ia melepas helm yang ia pakai dan menyerahkannya kepada driver*. Setelah itu Sheyra mengambil dompet di dalam tasnya lalu memberikan beberapa lembar uang kepada driver.
“Makasih Kak.” ucap driver sebelum ia pergi meninggalkan Sheyra yang masih berdiri di tempatnya.
Sheyra segera membuka pagar rumahnya lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam. Ia melepas kaos kaki dan sepatunya lalu menatanya kembali ke dalam rak yang tersedia. Di sana ia mendapati sandal milik Keisha yang berarti gadis itu sudah datang dan menunggunya di dalam rumah.
Rumah Sheyra dan Keisha berjarak cukup dekat. Hanya berbeda gang saja. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Keisha tiba di rumah Sheyra.
Sheyra membuka pintu rumah sambil mengucapkan salam lalu didapatinya Keisha dan Bundanya yang sedang duduk bercengkerama di ruang tamu.
“Halo Shey!.” sapa Keisha sembari tersenyum.
Sheyra tersenyum menanggapi sapaan Keisha. “Udah lama nunggunya?” tanyanya ingin tahu.
“Oh engga kok. Baru aja lima menit.” jawab Keisha cepat.
“Gimana Shey? Lancar di daycare?” tanya Bunda Sheyra penasaran. Ia suka mendengar cerita-cerita dari anaknya.
“Lancar kok bun. Ada anak baru yang cukup pemalu. Tapi Shey yakin setelah ini pasti dia bisa berinteraksi dengan anak-anak yang lain.” jelas Sheyra.
Bundanya mengangguk paham. “Syukurlah kalau lancar. Mau Bunda buatin minuman dingin?” tawarnya.
Sheyra segera menolak, “Gak usah Bunda. Nanti Shey ambil sendiri di kulkas.” Sheyra melirik ke arah Keisha, “Gue bersih-bersih badan dulu ya Kei. Nanti langsung ke atas aja.”
Keisha mengangguk paham. Semenit kemudian Sheyra berjalan meninggalkan Keisha dan Bundanya yang masih duduk di kursi ruang tamu.
“Dihabiskan dulu minumannya Kei.” pinta Bunda Sheyra.
Keisha mengangguk lagi. Tanpa berkomentar, ia langsung mengambil gelas di depannya dan meneguk minuman rasa coklat itu sampai hampir habis. “Manis” gumamnya.
***
“Makasih banyak ya Shey udah bantuin gue ngerjain tugas dari Bu Hesti. Sekarang nilai gue bagus banget.” kata Keisha riang kepada Sheyra yang sedang berjalan di sebelahnya.
“Sama-sama. Kalau ada apa-apa minta tolong aja ke gue. Kalau gue bisa bantu pasti bakal gue bantu kok.” jawab Sheyra sambil tersenyum manis. Ia senang bisa membantu sahabatnya.
Keisha melihat Sheyra dengan haru. Ia merasa sangat beruntung memiliki Sheyra sebagai sahabatnya. Sedetik kemudian Keisha langsung memeluk Sheyra dengan erat. “Sayang banget gue mah sama lo.”
Sheyra terkejut karena Keisha tiba-tiba memeluknya. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. “Udah ih malu kalo nanti dilihatin orang.” katanya sambil berusaha melepaskan pelukan Keisha.
Melihat ekspresi Sheyra yang malu dan panik membuat Keisha tertawa puas. “Iya iya!” ujarnya sambil melepaskan pelukannya. “Oh ya Shey habis ini lo langsung ke daycare apa pulang ke rumah dulu.”
“Langsung aja biar engga lama-lama.” jawab Sheyra yang dibalas anggukan oleh Keisha.
Hari ini perkuliahan selesai lebih awal yakni di jam 11.00 siang. Sheyra berencana langsung pergi ke daycare untuk ikut membantu. Ia sudah tidak sabar bertemu anak-anak di sana.
Saat sampai di depan gerbang kampus, Keisha dan Sheyra berpisah. Keisha memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak jauh dari kampus sedangkan Sheyra menunggu ojek online pesanannya tiba.
Sambil menunggu ojek online, Sheyra berdiri di bawah pohon yang cukup rindang untuk berteduh dari teriknya panas matahari. Dari kejauhan matanya menangkap sosok Alvaro yang baru saja keluar dari minimarket.
^^^Bersambung…^^^