Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pagi Pertama dan Sarapan Sangkar Emas
Sinar matahari pagi yang menerobos dari balik tirai tipis jendela kaca raksasa perlahan membelai wajah Naya. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyajikan pemandangan langit cerah Jakarta dari atas ketinggian penthouse suite.
Untuk beberapa detik pertama, Naya tertegun bingung menatap langit-langit kamar yang begitu tinggi dan megah, sebelum ingatan tentang peristiwa kemarin berputar cepat di kepalanya.
Ia sudah menjadi istri seorang Arka Dirgantara.
Naya menoleh refleks ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Sofa itu sudah kosong. Bantal dan selimut terlipat rapi di atasnya, tanpa menyisakan jejak bahwa semalam ada seorang pria setinggi 185 sentimeter yang berbaring di sana. Suara kucuran air dari balik kamar mandi kaca buram menjadi pertanda bahwa Arka sudah bangun lebih awal.
Naya menyibakkan selimut, merapikan piyama sutranya, dan berjalan pelan menghampiri meja konsol. Di sana, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari Doni masuk jam 6 pagi tadi.
“Good luck, Naya! Barang-barangmu sudah dipindahkan timku ke apartemen Arka. Ingat, nanti sore ada agenda kunjungan wajib ke rumah utama Oma Soraya.”
Pintu kamar mandi terbuka. Arka keluar dengan rambut yang masih agak basah, mengenakan kemeja putih kasual yang digulung hingga ke siku dan celana kain gelap. Aroma kesegaran sabun beraroma kayu cendana langsung merebak mengisi ruangan.
“Sudah bangun?” tanya Arka datar, membenarkan letak jam tangan mewahnya di pergelangan tangan kiri.
Naya mengangguk cepat, merasa canggung dengan penampilannya yang baru bangun tidur. “Sudah, Pak... eh, Arka.”
Naya mengoreksi panggilannya sendiri dengan gugup. Selama perjanjian, Arka menegaskan bahwa di luar situasi formal, Naya harus terbiasa memanggil namanya tanpa frasa 'Pak'.
Arka meliriknya singkat, sudut bibirnya sedikit terangkat melihat kecanggungan wanita di hadapannya.
“Ganti pakaianmu. Tim katering hotel akan mengantarkan sarapan sepuluh menit lagi. Setelah itu, kita harus menengok ibumu sebentar ke rumah sakit sebelum berkemas ke apartemen.”
Mendengar nama ibunya disebut, binar di mata Naya kembali menyala. “Ibu? Kita... kita bisa ke rumah sakit pagi ini?”
“Tentu. Itu bagian dari kesepakatan, bukan? Semua fasilitas terbaik untuk ibumu sudah disiapkan,” ujar Arka sembari berjalan menuju pintu suite setelah mendengar bel pintu berbunyi.
Petugas hotel mendorong kereta sarapan berisi beragam sajian continental breakfast dan hidangan lokal premium. Setelah petugas berpamitan, keheningan hangat kembali menyelimuti mereka berdua di meja makan bundar dekat jendela raksasa.
Naya menyendok bubur ayam organiknya perlahan, sesekali melirik Arka yang tekun membaca laporan keuangan di tabletnya sembari meminum kopi hitam tanpa gula. Pria ini sangat tenang, sangat terkontrol, dan seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh perubahan status mereka.
“A-Arka...” panggil Naya ragu-ragu.
Arka menurunkan tabletnya, menatap Naya dengan alis terangkat. “Ya?”
“Soal berkunjung ke rumah utama sore nanti... apa yang harus saya persiapkan? Maksud saya, sikap seperti apa yang diharapkan dari saya saat berhadapan dengan Oma dan keluarga besar Dirgantara?”
Arka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Naya dengan intensitas yang membuat wanita itu menahan napas.
“Di rumah utama, kamu tidak hanya berhadapan dengan Oma Soraya, tapi juga sepupu-sepupuku yang mengincar posisiku di perusahaan. Mereka akan mencari celah sekecil apa pun untuk membuktikan bahwa pernikahan ini tidak valid atau kamu tidak layak,” jelas Arka dengan suara rendah namun tajam.
Ia melanjutkan, “Tetap tenang, berdiri tegak, dan jangan biarkan mereka melihat keraguanmu. Setelah jamuan makan malam selesai, kita akan langsung pulang ke apartemenku. Jadi kamu hanya perlu bertahan beberapa jam di sana.”
Naya mengangguk lambat, meresapi setiap kata petunjuk yang ditawarkan Arka. Di satu sisi, ia tahu ini hanyalah sandiwara demi kepentingan bisnis Arka dan biaya pengobatan ibunya.
Namun di sisi lain, kepastian bahwa mereka akan tinggal berdua di apartemen milik Arka, jauh dari jangkauan keluarga besar, memberikan sedikit napas lega sekaligus degupan canggung tersendiri.
“Terima kasih, Arka,” ucap Naya tulus.
“Simpan terima kasihmu untuk nanti,” balas Arka singkat, berdiri dari kursinya.
“Pergilah bersiap-siap. Supir sudah menunggu di bawah.”
****
Satu Jam Kemudian – Rumah Sakit Medika Utama
Ruang perawatan VIP tempat ibu Naya dirawat berjarak bagai bumi dan langit dari kamar kelas tiga tempat beliau dirawat sebelumnya. Ruangannya luas, harum, dilengkapi sofa empuk, televisi flat, dan fasilitas medis tercanggih.
Ibu Naya, Bu Retno, bersandar di ranjang dengan selang infus yang masih terpasang, namun rona wajahnya jauh lebih segar. Wajah tua itu mendadak berseri-seri saat pintu kamar terbuka dan memperlihatkan putri tunggalnya bersama seorang pria tampan.
Bu Retno terperanjat, matanya bergantian menatap Naya dan sosok pria berkarisma yang berdiri di samping putrinya. Di layar televisi yang terpasang di sudut atas ruangan, sebuah tayangan berita hiburan dan bisnis masih menayangkan potret pernikahan megah yang digelar tertutup kemarin sore, memperlihatkan Naya dalam balutan gaun yang anggun bersanding dengan Arka Dirgantara.
“Naya... ini...” Suara Bu Retno terbata-bata, tangannya yang gemetar menunjuk ke arah televisi lalu beralih menyentuh jemari Naya. “Ibu tidak salah lihat, kan? Di berita itu... kamu, Nak? Kenapa kamu bisa menikah dengan...”
Naya menggigit bibir bawahnya, meremas lembut tangan sang ibu untuk menyalurkan kehangatan sekaligus menutupi rasa gelisah yang mendadak melingkupinya.
Sebelum Naya sempat merangkai kata, Arka mengambil satu langkah maju. Pria itu menundukkan tubuhnya sedikit dengan sikap penuh hormat yang sangat terukur.
“Selamat pagi, Bu Retno. Saya Arka,” ucap Arka dengan nada suara yang melunak.
“Maafkan kami karena baru sempat menemui Ibu pagi ini. Semua prosesi pernikahan kemarin berjalan sangat cepat atas permintaan keluarga besar saya, sehingga kami belum sempat mengadakan pertemuan keluarga yang lebih layak.”
Bu Retno membelalakkan mata, menatap Arka dengan campur aduk antara kagum dan kebingungan yang mendalam.
“Pak Arka... pimpinan Dirgantara Group? Naya, kenapa kamu tidak pernah cerita sama Ibu kalau kamu berhubungan dengan Pak Arka? Kapan kalian...”
“Kami sudah cukup lama saling mengenal, Bu,” potong Naya cepat, sesuai dengan skenario yang telah mereka susun bersama Doni.
“Mas Arka yang memindahkan Ibu ke ruang VIP ini dan memastikan seluruh tim dokter spesialis menangani Ibu. Naya cuma mau Ibu fokus sembuh dulu, makanya Naya belum menceritakan semuanya.”
Bu Retno menatap putri tunggalnya dengan mata berkaca-kaca. Ada raut lega luar biasa karena kini putrinya memiliki sosok pelindung yang begitu berpengaruh, namun di sudut hatinya yang terdalam, naluri seorang ibu menangkap ada sesuatu yang janggal dari ketenangan Arka dan tatapan serba canggung dari Naya.
Arka menyentuh pundak Naya pelan, sebuah gestur keintiman buatan yang sangat meyakinkan di mata orang luar.
“Ibu tidak perlu memikirkan biaya atau hal apa pun lagi. Tugas Ibu sekarang hanya beristirahat sampai benar-benar pulih. Naya akan sering menemui Ibu setelah agenda keluarga kami selesai hari ini,” ujar Arka.
Bu Retno mengangguk pelan, menyapu air mata bahagia di pipinya. “Terima kasih banyak, Pak Arka... Nak Arka. Tolong jaga Naya baik-baik. Dia anak yang sangat berbakti.”
“Pasti, Bu,” jawab Arka singkat namun tegas.
Setelah setengah jam meluangkan waktu dan memastikan seluruh kebutuhan medis Bu Retno terpenuhi melalui kepala rumah sakit, Arka melirik jam tangannya.
Naya yang paham akan isyarat itu segera memeluk ibunya erat-erat, membisikkan janji untuk kembali berkunjung besok, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang perawatan.
Di sepanjang koridor rumah sakit yang lengang, langkah kaki mereka bergema beriringan. Naya menoleh pelan ke arah Arka yang kembali memasang wajah dingin tanpa ekspresi, sangat berbeda dengan sosok menantu penuh perhatian yang baru saja pria itu tampilkan di depan ibunya.
“Aktingmu sangat meyakinkan di dalam tadi,” gumam Naya pelan.
Arka tidak menoleh, tetap fokus menatap lurus ke depan menuju lift eksekutif.
“Itu bukan sekedar akting, Naya. Itu bagian dari profesionalisme kerja sama kita. Sekarang persiapkan dirimu, mobil sudah menuju apartemen untuk mengambil barang-barangmu sebelum kita berangkat ke kediaman Utama Dirgantara.”
Naya menarik napas panjang, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ujian sebenarnya baru saja dimulai.
–tbc–
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak