Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 hari tanpa Aira
Pukul lima sore tepat, mobil SUV hitam Arka melaju kencang memasuki pekarangan rumah. Arka keluar dari mobil dengan langkah mantap dan wajah sumringah penuh kerinduan. Setelah seharian pusing mengurusi proyek konstruksi, membayangkan tawa renyah dan ocehan ajaib Aira adalah satu-satunya obat paling ampuh untuk melepas lelah.
Di tangan kirinya, Arka memegang satu kantong plastik berisi apel merah segar nan manis—buah kesukaan Bos Kecilnya.
"PANGGILAN UNTUK BOS KECIL! PAPA ALKA PULANG BAWA APEL!" seru Arka melengking riang begitu melangkah masuk menembus pintu depan. Pria tegap berotot itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membusungkan dada, siap menyambut tubrukan hangat dan pelukan heboh dari putri kecilnya.
Namun... sepi.
Tidak ada suara derap langkah kaki kecil yang berlari menepuk ubin. Tidak ada jeritan
“PAPA ALKAAAA!”.
Tidak ada serudukan maut Aira yang biasanya langsung menempel di kakinya. Hanya suara jangkrik dari taman samping yang terdengar bersahut-sahutan.
Arka mengernyit heran, senyum lebarnya perlahan memudar. Keningnya berkerut tajam.
"Aira...? Nak...? Di mana kamu?" panggil Arka lagi, suaranya mulai memelan. "Papa bawakan apel merah super manis lho! Ayo keluar, nanti apelnya dimakan Polo!"
Nala keluar dari kamar utama dengan langkah pelan, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu sambil tersenyum geli melihat suaminya yang masih berdiri membeku di tengah ruang tamu dengan tangan terentang kaku seperti patung.
"Mas... gak usah teriak-teriak gitu, pusing kepalaku," tegur Nala santai.
Arka menoleh dengan mata membelalak panik, dadanya mulai naik turun kempas-kempis. "Nala! Aira mana?! Kok gak nyambut aku?! Biasanya dia udah nungguin di depan TV sambil ngendong Polo?!"
"Aira gak ada di rumah, Mas," sahut Nala polos tanpa dosa.
PRANGGG!
Pikiran Arka seketika gelap gulita. Kantong plastik berisi apel merah di tangan kirinya seketika merosot jatuh dan tergeletak begitu saja di atas karpet.
"G-gak ada...?! Maksud kamu gak ada gimana, Nala?!" jerit Arka histeris, suaranya naik tiga oktaf. "Aira diculik?! Atau Aira dibawa kabur sama Polo ke luar kota?! Tolong jujur sama aku, Nala! Jangan bikin aku serangan jantung!"
Nala tak tahan lagi dan meledak dalam tawa geli melihat wajah garang suaminya yang mendadak pucat pasi bagai kehilangan separuh nyawa. "Astaga, Mas! Bukan diculik! Aira tadi siang dijemput mama, terus nginap di rumah Mama."
"APA?! NGINAP DI RUMAH MAMA?!" jerit Arka melengking sampai suaranya pecah di ujung. "KOK GAK IZIN SAMA AKU DULU?! KAN AKU BAPAKNYA!"
"Aira kan tadi siang mendadak dijemput sama mama, Mas," jelas Nala tenang sambil melangkah pelan mendekati sofa. "Lagian di sana ada sepupunya yang baru datang dari luar kota. Aira heboh banget mau main. Kamu kan lagi sibuk rapat proyek sama investor, jadi gak sempat dikabarin."
Belum sempat Arka mencerna rasa kagetnya, Nala meraih Polo si kucing putih-abu yang dari tadi santai tiduran di sofa, lalu menyodorkan kucing itu tepat ke pelukan Arka.
"Nah, sebelum pergi tadi, Bos Kecil kamu nitip ini," ujar Nala sambil menyengir geli. "Aira bilang, 'Mama, tolong titip Polo ke papa ya! Suruh papa jagain polo Aila baik-baik selama Aila gak ada di rumah!'"
Mendengar ucapan Nala plus gelar "papa Arka" yang dititipkan putri kecilnya lewat Polo, pertahanan mental Pak Engineer tegap itu runtuh seketika.
BRUKKK!
Arka menjatuhkan kedua lututnya ke atas karpet ruang tamu sambil terus mendekap Polo rapat-rapat di dadanya.(🙃 dramatis banget bapak satu ini)
Pria berotot tegap yang biasanya disegani ratusan pekerja proyek itu kini berlutut lemas, menatap Polo dengan mata berkaca-kaca, lalu meratap dramatis bagai pemeran utama sinetron yang tertimpa musibah besar.
"sayang ... tega banget kamu sama aku..." keluh Arka dengan suara serak nan melas, matanya menatap istrinya dari lantai. "Kenapa dilepas gitu aja... Kenapa gak ditahan dulu sampai aku pulang?! Mana sekarang aku disuruh ngurus kucingnya lagi! Satu hari tanpa Aira itu rasanya kayak seribu tahun, sayang!"
Polo yang dipeluk erat oleh Arka cuma bisa mengeong pasrah ("Meow~"), memasang raut muka sama bingungnya dengan Arka.
Nala menepuk jidatnya sendiri, tertawa sampai memegangi perutnya. "Mas... astaga, lebaynya kumat lagi! Cuma sehari, Mas! Besok sore juga pulang!"
"Gak bisa, Nala! Ini musibah berat!" ratap Arka makin menjadi-jadi sambil memegangi dadanya yang terasa remuk. "Nanti malam siapa yang bakal nendang muka aku pas tidur?! Siapa yang tarik-tarik kumis aku pagi-pagi?! Siapa yang minta disuapin apel sambil celoteh ajaib?! Rumah ini mendadak hampa... dingin... cuma sisa aku sama Polo doang!"
Arka mengusap wajahnya yang frustrasi, merapikan cengkeramannya pada Polo, lalu dengan tangan gemetaran karena panik dan rindu setengah mati, Arka merogoh ponsel dari saku celana kerjanya. Sebelum menekan tombol panggilan video, Arka sempat mengadah ke langit-langit rumah dengan tatapan penuh kepasrahan.
"Aku gak tahan lagi... Aku harus liat Bos Kecil sekarang juga!" bisik Arka dramatis, lalu dengan cepat memencet nomor mama untuk melakukan video call emergency!
(Hari ini Aila nginap di lumah Nenek tlus nitip Polo ke papa Alka! Pas Papa Alka pulang bawa apel tlus tau Aila gak ada, Papa Alka langsung panik, lemas, tlus berlutut di lantai sambil meluk Polo sambil menangis drama! Papa Alka merasa hidudnya hampa banget gak ada Aila!)
mau di bilang benar tapi nggak benar juga