“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CLBK
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Affandy sedang menikmati masakan istrinya. Walaupun begitu, bukan berarti ia menerima Hulya sebagai jodohnya.
"Mas, aku boleh ikut kamu nggak?"
"Kamu mau bikin aku malu?"
"Nggak ada seorang istri yang ingin mempermalukan suaminya sendiri."
"Tapi aku yang malu kalau harus bawa kamu keluar rumah."
"Kamu benar-benar nggak mau menganggap aku sebagai istri kamu?"
Affandy meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya. Laki-laki itu kemudian meneguk segelas air putih. Hulya menelan ludah ketika Affandy menatapnya dengan tatapan yang tiba-tiba lembut.
"Kamu mau aku menganggap kamu sebagai istriku?" tanya Affandy dengan suara yang terdengar lebih lembut.
"Mau," jawab Hulya sambil menampilkan senyum manis.
"Kamu harus lepas jilbab. Kamu harus pakai baju yang seksi. Dengan begitu, aku nggak akan malu membawa kamu keluar rumah."
Hulya Anindita mengernyitkan dahi. Permintaan Affandy benar-benar di luar logika.
Bagaimana mungkin seorang suami menyuruh istrinya mengenakan pakaian terbuka?
Bukankah itu salah?
"Affan..."
"Hulya!" Tatapan Affandy kembali berubah tajam.
"Kamu mau bikin keributan pagi-pagi?"
Hulya terdiam. Ia bahkan tidak berani memandang suaminya.
"Bereskan rumah ini. Kamu bukan ratu di sini. Jangan seenaknya hidup di rumah ini."
Sejenak Hulya memejamkan mata. Ia merasa sangat sakit mendengar perkataan suaminya.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Setelah menyelesaikan meeting bersama klien di luar tanpa ditemani sekretarisnya, Affandy sedang menikmati minuman ketika seorang wanita berambut sebahu dengan warna sedikit kecokelatan menghampirinya.
Perawakan wanita itu sangat rapi, layaknya seorang model. Ia mengenakan pakaian elegan dan sepatu hak tinggi.
"Andy."
Affandy menoleh ke arah wanita itu. Ia bahkan hampir menyemburkan minuman yang sedang diteguknya ketika melihat sosok tersebut.
"Fany."
"Aku boleh duduk nggak?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
Affandy sempat berpikir sejenak. Namun, ketika wajah Hulya terbayang di benaknya, ia justru semakin berharap kepada mantan kekasihnya itu. Ia tidak merasa bahagia dengan pernikahannya bersama Hulya.
"Boleh. Duduk aja."
Tiffany tersenyum manis. Ia kemudian duduk di kursi sebelah Affandy.
"Kamu apa kabar?"
"Aku baik. Kamu?" tanya Affandy balik.
"Um ... Aku baru dengar kalau kamu sudah menikah, ya?"
"Sudah. Tapi aku nggak bahagia."
"Nggak bahagia gimana? Kamu kan baru saja menikah. Bukannya seharusnya lagi senang-senangnya?"
"Aku dipaksa menikah," ucap Affandy berbohong.
"Dipaksa?" Tiffany mengernyitkan dahi. "Berarti kamu masih—"
"Iya. Aku masih cinta sama kamu. Aku masih sayang sama kamu."
"Kamu serius, Andy?" tanya Tiffany dengan penuh semangat.
"Aku serius. Tapi aku kecewa dengan perlakuan kamu waktu itu."
Tiffany menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Affandy. Tiba-tiba ia menggenggam tangan laki-laki itu.
Affandy mendadak merasakan kembali perasaan yang selama ini ia pikir telah hilang. Ternyata, ia masih mencintai mantan kekasihnya tersebut.
"Andy, aku minta maaf sama kamu. Aku tahu aku banyak salah sama kamu," ucap Tiffany. "Tapi kamu tahu, kan? Aku meninggalkan kamu karena aku ingin mengejar karierku di luar negeri."
Affandy tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang Tiffany, mantan kekasih pertamanya.
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu. Aku menyesal. Aku mau—"
"Kamu menyesal?" tanya Affandy memastikan.
"Maafin aku. Kalau waktu itu aku—"
"Kalau kamu menyesal, berarti kamu masih cinta sama aku?"
"Masih. Aku masih sayang sama kamu. Aku mau balikan sama kamu. Tapi aku terlambat karena kamu sudah menikah."
"Nggak ada kata terlambat buat kamu."
"Maksud kamu?" tanya Tiffany.
"Aku mau kita seperti dulu lagi. Itu pun kalau kamu nggak masalah karena aku sudah punya istri," ucap Affandy.
"Tapi kamu tenang saja. Aku sama sekali nggak menganggap dia sebagai istriku. Bahkan sampai saat ini aku belum menyentuhnya."
"Kenapa?" tanya Tiffany.
"Karena aku mau anak-anakku lahir hanya dari rahim mu. Bukan dari rahim wanita lain."
Affandy tersenyum setelah mengatakan hal itu. Tiffany langsung memeluknya. Tidak tinggal diam, Affandy juga memeluk Tiffany. Ia berharap wanita yang ada di hadapannya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
[] [] []
Sore hari tiba. Affandy pulang dalam keadaan lelah. Namun, semua rasa lelah itu seolah menghilang ketika ia mengingat Tiffany. Hulya tersenyum ketika melihat suaminya terlihat sangat gembira. Ia menghampiri Affandy yang tengah duduk di sofa.
"Mas, kamu sudah pulang?"
"Kamu nggak lihat? Aku sudah di sini. Berarti aku sudah pulang."
"Um ... Maksud aku, kamu baru pulang? Soalnya tadi aku sempat ke depan, tapi kamu belum ada."
"Aku baru pulang. Kenapa?"
"Nggak ada, sih. Tapi aku lihat kamu bahagia banget."
"Memang kelihatan, ya?" tanya Affandy sambil tersenyum tipis.
"Iya. Kamu jadi kelihatan ganteng."
Affandy berdiri dan mendekati Hulya. "Aku baru ketemu sama mantan ku, dan kami memutuskan untuk balikan lagi," bisiknya.
Deg!
Tangan Hulya bergetar mendengar jawaban suaminya. "Maksud kamu apa?" tanya Hulya.
"Kamu nggak dengar? Atau kamu tuli?"
"Mantan? Balikan? Kamu jangan main-main, Affan."
Affandy tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Hulya. "Aku baru pulang jalan-jalan sama dia. Kami baru selesai makan. Aku senang hari ini karena ditemani sama dia."
Affandy segera berlalu pergi. Sementara itu, Hulya langsung terduduk di lantai dengan air mata yang berlinang.
[] [] []
Malam hari tiba Hulya sedang mempersiapkan hidangan untuk suaminya. Wanita itu masih belum bisa percaya bahwa laki-laki yang telah menikahinya ternyata memiliki wanita lain di luar sana.
Saat Hulya hendak melangkahkan kaki menuju kamar, Affandy lebih dulu datang karena sudah merasa lapar.
"Affan, kamu mau makan sekarang?"
"Iya!"
"Kamu mau makan ikan atau ayam?"
"Terserah, yang penting aku kenyang."
Hulya mengembuskan napas perlahan. Ia segera menyiapkan makanan untuk pria itu. "Duduk di sini."
"Di samping kamu?" tanya Hulya.
"Duduk!" ulang Affandy.
Hulya tersenyum. Seketika, ia melupakan kejadian sore tadi. Dengan penuh semangat, wanita itu menuruti perkataan suaminya.
Jantung Hulya Anindita berdegup tidak karuan ketika Affandy memandangnya dengan sangat intens. Tatapan pria itu tidak seperti biasanya. Kali ini, tatapannya justru terasa meneduhkan hati.
"Kamu masih mau bertahan sama aku?"
"Maksud kamu?"
"Hulya, jangan bodoh. Aku sudah bilang, kan? Aku baru balikan sama mantan—"
"Cukup, Affan!" potong Hulya. "Aku tau ke mana arah pembicaraan kamu."
Hulya sedikit menjauh dari suaminya. "Aku nggak mau kita pisah."
"Tapi aku sama—"
"Aku tahu. Kamu sudah bilang, kan? Jadi aku mohon sama kamu. Kalau kamu nggak mau menjaga perasaanku, aku nggak apa-apa. Setidaknya, jagalah nama baik orang tua kita."
"Oke. Itu kemauan kamu. Jadi kamu nggak masalah, kan, kalau aku bersama dia?"
"Istri mana yang nggak masalah kalau suaminya punya wanita lain—"
"Ssst..."
Affandy langsung memotong perkataan Hulya. "Kamu lupa? Aku sudah bilang kalau kamu itu bukan istriku."
Hulya memejamkan mata mendengar perkataan itu. "Aku mau ketemu sama dia."
"Ngapain?"
"Aku mau bilang sama dia supaya dia sadar diri karena sudah merebut suami orang."
"Jaga ucapan kamu. Jangan pernah kamu menjelek-jelekkan dia di depan aku."
"Affan..."
"Hulya! Aku sedang makan. Kamu mau ribut?"
"Maaf," lirih wanita itu.
Hulya berlalu pergi. Namun, kali ini ia sudah memiliki rencana. Ia tetap akan menemui wanita yang telah kembali menjadi kekasih suaminya.