Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlahan-lahan : 17
Wajah Siska turun kebawah seraya mengecup setiap jengkal kulit sang pria yang bisa dikatakan memiliki postur tubuh gagah hasil olahraga rutin setiap harinya.
Benda lunak yang tadi mengerut, perlahan mulai membesar sampai menegang sempurna dan siap memberikan kenikmatan tiada duanya.
Siska mengambil alih kendali, menduduki perut berotot lalu mengarahkan tongkat sakti memasuki bagian intim miliknya.
Sesi kedua pun dimulai. Kamar VIP kembali dipenuhi desahan, lenguhan, serta jeritan kepuasan.
Sementara diluar, sebuah keluarga lagi menikmati layanan eksklusif pelanggan kamar kelas atas.
Ganira bersama putri sulungnya tertidur telungkup, badan mereka tengah dipijat terapis spa.
Para pria menjaga Kartika berenang sambil menikmati hidangan diletakkan pada nampan besar terapung diatas air kolam.
“Papi, nanti habis dari sini kita main ke timezone ya?!” seru gadis kecil mengenakan baju renang.
Wandi mengacungkan jari jempol, kemudian menyedot minuman ala-ala orang kaya berharga ratusan ribu rupiah untuk segelas jus buah.
Baby Alam dijaga pelayan restoran, sedangkan Rianti menikmati kudapan kelas atas.
Keluarga Alandi benar-benar ahli memanfaatkan kekayaan Helyara Utomo sampai bertahun-tahun lamanya mereka sempurna dalam memainkan peran masing-masing.
Di kediaman Utomo, Helyara baru saja selesai membereskan kekacauan yang diperbuatnya tadi. Kedua pengacaranya sudah menerima uang tanda jadi menyewa jasa mereka, kini sudah pulang.
Semua benda berserakan dikembalikan ke tempatnya, serpihan mangkuk kaca dibungkus koran lalu dibuang langsung ke tong sampah depan pagar, setiap pagi akan diambil truk sampah.
“Susah banget nahan laper,” niatnya mau diet, tetapi perutnya bertambah perih karena sudah jam tiga sore dan sengaja melewatkan makan siang.
Helyara membuka kulkas, mengambil buah Apel dan Pir. Kemudian dicuci kedua buah tersebut baru setelahnya dikupas.
Dia menikmati makan buah di kursi santai tepi kolam renang yang terlindungi payung besar.
“Ternyata sendirian itu tak terlalu menakutkan daripada bersama pasangan seperti siAlan,” gumamnya.
Tiba-tiba sebuah ide melintas ketika dia memperhatikan kejernihan air kolam yang sudah entah berapa lama tak pernah dimasukinya.
Helya meletakkan garpu diatas piring sudah kosong, lalu beranjak mendekati pohon rambutan di pojok dinding tembok pagar tinggi.
Tanpa menggunakan alat pembersih seperti sapu atau serokan, Helya meraup dedaunan kering sampai tanah dan debu terangkat.
Langkahnya tergesa-gesa, dan daun tadi dibuang ke kolam renang. Tak sampai di sana, Helya mengambil gala panjang bagian ujung terdapat jaring jala yang biasanya digunakan untuk memungut sampah di atas permukaan air.
“Kolam renang ini khusus dibuat untukku dan Tomi, tapi hari-hari kalian yang memakainya,” senyumnya sungguh culas. Dedaunan disebar agar berpencar.
“Tinggal menunggu keesokan hari.” Helya mengibaskan tangan, lalu mengambil piring dan masuk ke dalam rumah.
Helyara memperkirakan Alan dan lainnya malam hari baru kembali ke rumah, sehingga dia masih memiliki waktu untuk meredakan amarah, mengendalikan diri supaya tetap terlihat biasa saja.
Sebenarnya tidak sulit, sebab selama ini Helya lebih banyak diam, hari-hari tenggelam dalam ruang kerja. Namun setelah mengetahui fakta menyakitkan, hatinya bergejolak, membuat perasaan naik turun.
Layar ponsel baru Helyara menyala, sengaja dibuat mode senyap. Ternyata ada panggilan video call dari Kinan Andini.
Ia gugup, malu, sekaligus tidak percaya diri mau menerimanya. Selama ini selalu menghindar dengan bermacam-macam alasan apabila sahabat sekaligus istri sepupunya itu mau bertatap muka melalui sambungan ponsel.
Panggilan pertama tidak diangkat, lalu dilanjut lagi. Sepertinya Kinan tak mau tahu, dan batas kesabarannya telah habis.
Helyara menarik ikatan rambut, mengusak helaian panjang agar mengembang dan dikedepankan supaya menutupi sisi wajah bulat, pipi bak bakpao.
Pada percobaan ketiga baru berani dia angkat, dan langsung saja terdengar pekikan sang sahabat.
“Astaga Helya! Ini beneran kamu?!” Kinan shock berat sampai membekap mulut.
“Maaf, Helya. Aku bukan menghina, cuma terlalu terkejut,” cepat-cepat ia meralat ucapan, lalu memperbaiki ekspresi agar tak terkesan mencemooh.
Wajah Helya masih kaku, lidahnya keluh untuk sekedar mengucapkan sepatah kata. Ia mengangguk, memaklumi.
Kinan menyembunyikan sorot mata getir, dia memahami jika Helyara tidak suka dikasihani berlebihan, wanita itu akan segera menarik diri.
“Kalau boleh tau, sejak kapan kamu gemukan?” tanyanya terdengar santai.
Helya seperti orang tengah berpikir, baru menjawab. “Kenaikan berat badan signifikan mulai terasa sekitar dua tahunan lalu.”
“Karena faktor apa? Atau memang terjadi secara alami?” suara Kinan mulai menaruh curiga. Diam-diam dia memperhatikan wajah, leher, bagian depan tubuh Helya sampai batas perut yang tersorot kamera ponsel.
Kebetulan Helya sendiri menghindari bersitatap. Ponselnya diletakkan di meja kayu jati, kursi kesayangan ayahnya.
“Aku kurang tau, tapi memang sejak awal menikah bobot badanku terus naik secara bertahap,” katanya pelan.
“Helya, coba kamu angkat sebelah tangan, terus diguncangkan,” pinta Kinan.
Meskipun heran, Helya mau memenuhi permintaan sahabatnya. Tangan kanan diangkat lalu digoyang kuat sampai kulit dan daging bergelambir seperti berayun-ayun.
“Kamu ada olahraga, gak?”
“Aku gak bisa olahraga, Kinan. Sering kucoba mengayuh sepeda, berjalan cepat di alat olahraga, cuma bertahan paling lama 13 menit,” adunya parau.
“Jantungku berdetak kencang, napas ngos-ngosan, pernah hampir pingsan karena memaksakan diri,” ucapnya berkelanjutan.
“Sudah pernah periksa kesehatan menyeluruh ke rumah sakit belum?”
“Ada apa, Kinan? Kamu mencurigai sesuatu kah?” Ia memalingkan wajah, memperhatikan raut janggal wanita hamil berbaju longgar.
“Menurutku kegemukan mu itu aneh. Banyak loh orang memiliki bobot badan berlebih, tapi kulit mereka kencang, daging padat, dan terlihat segar bugar, gerakan gesit. Coba kamu periksa, atau cek darah ke RS,” usulnya, bertambah yakin jika ada sesuatu.
Mata Helyara sayu. “Aku takut ke rumah sakit. Pernah dua kali diantar Alan, tapi sebelum sampai tujuan malah traumaku kambuh berpapasan dengan mobil ambulans.”
“Kebetulan sekali. Aneh. Sepertinya disengaja biar kamu gak periksa kesehatan. Coba saja pergi ke laboratorium, disana bisa cek darah. Minta tolong ke salah satu pengacaramu, jaringan koneksi pertemanan mereka pasti luas, dan setahuku orang laboratorium bisa loh dipanggil ke rumah,” kembali Kinan mengusulkan.
“Iya, ya … kok aku gak kepikiran sampai sana. Padahal dulu sewaktu pandemi, karyawan laboratorium pernah berkunjung mengambil darahku untuk diperiksa,” setelah sekian tahun baru dia teringat.
“Makanya itu buruan lakuin tes darah, nanti kan ketahuan hasil trombosit, kadar kolesterol, gula darah, hingga fungsi organ. Lagian biasanya di laboratorium gak ada ambulans, kamu bakalan aman, Helya. Sebenarnya gemuk gak jadi soal, asal sehat dan gak mengidap penyakit berbahaya.” Kinan setengah memaksa.
“Eh, Helyara … kata kamu kapan hari, lagi menjalani program hamil, terus tiap awal datang bulan suntik apa itu namanya?”
“Suntik stimulasi merangsang ovarium agar memproduksi sel telur,” sahut cepat Helya, sekarang dia berani memandang lama mata sahabatnya.
“Obatnya kamu sendiri yang beli dari resep dokter, atau disediakan si Alan?”
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba