Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham Akibat Milo
"Mom," Eren melangkah mendekati Amoera yang menatap mereka dengan raut cemas. Sementara itu, Leon D'Alterio, pemimpin tertinggi Cosa Nero langsung melayangkan tatapan tajam nan mengintimidasi ke arah Enzo yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Sudah berapa kali Daddy bilang? Jangan pernah gegabah! Kita tidak bisa menyerang wilayah musuh tanpa persiapan yang matang!" tegas Leon dengan suara berat yang menggelegar di ruang keluarga.
Amoera mengelus lembut lengan suaminya, mencoba meredam amarah pria itu. "Sayang, sudah ... kasihan mereka. Mereka baru saja kembali dari medan perang," tegur Amoera penuh kelembutan, lalu beralih menatap kedua putra kembarnya.
"Obati luka kalian sekarang, setelah itu bicara dengan Mommy," lanjut Amoera. Meski dalam hati ia juga menyayangkan tindakan gegabah kedua putranya yang hampir membahayakan nyawa mereka, rasa khawatir sebagai seorang ibu tetap mendominasi dadanya.
Eren menunduk penuh penyesalan. "Mom, maafkan kami ...,"
"Ini ide Eren, Mom!" potong Enzo tiba-tiba seraya menunjuk sang kakak, membuat mata Eren terbelalak lebar karena tidak terima.
"Dik! Kok jadi aku?! Ini kan ide kamu!" balas Eren dengan nada tinggi, tak mau disalahkan begitu saja.
Enzo yang tak terima langsung menyahut balik, hingga pertengkaran sengit antara dua pangeran Cosa Nero itu tak terelakkan di tengah ruangan. Amoera menghela napas panjang, menatap suaminya dengan raut wajah lelah melihat tingkah kekanak-kanakan putra kembar mereka.
"Aku mau ke kamar Ayah dulu," pamit Amoera lembut pada Leon. Ia berniat memeriksa keadaan sang ayah, kakek dari si kembar yang kini hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang akibat usia yang semakin rentan.
.
.
.
.
Sementara itu, suasana di mansion Salvatore sangat bertolak belakang. Keheningan malam dipenuhi oleh gelak tawa dan kerepotan kecil di ruang keluarga. Kiyora dan Milo tengah sibuk 'menghabiskan' seluruh persediaan camilan yang ada di dalam kulkas. Keduanya duduk bersila di atas sofa ranjang yang luas sambil menyaksikan film horor yang menayangkan sosok hantu mengerikan di layar televisi.
Milo melahap keripik kentangnya dengan penuh semangat, disusul potongan roti manis yang membuat kedua pipi gembulnya mengembung kaya marmut. Mulutnya penuh makanan, begitu pula dengan Kiyora yang tak kalah antusias mengunyah camilannya.
"Milo, habis ini makanannya ...," ucap Kiyora cemas melihat tumpukan bungkus makanan yang mulai kosong di meja.
Milo mengibaskan tangan mungilnya santai. "Nda papa, becok kan kita mau lampok itu olang tua!" cerocos Milo asal, lalu kembali melahap keripik kentangnya tanpa beban.
Kiyora terkekeh geli mendengar celetukan bocah itu. Ia meraih satu kotak susu rasa cokelat dari atas meja, lalu membolak-balik kemasannya untuk mencari sedotan plastik yang biasanya menempel di bagian belakang. Namun, sedotan itu ternyata tidak ada.
Kiyora mengerutkan keningnya bingung. Bagaimana cara dia meminumnya kalau tidak ada sedotan?
"Mana sedotannya, Milo?" tanya Kiyora.
Milo menghentikan kunyahannya sejenak dan menoleh. "Cedotan cucu?"
Kiyora mengangguk cepat. "Iya, mana?"
"Cebental!" seru Milo seraya beranjak berdiri. Dengan kaki pendeknya, anak itu berlari kencang menuju area dapur untuk mencari benda yang dimaksud.
Milo membuka pintu kulkas raksasa, lalu berjinjit dan memanjat rak bagian bawah untuk mengintip ke sela-sela kulkas, berharap menemukan sedotan yang terselip di sana.
"Cari apa kamu?"
Suara bass yang dalam mendadak bergaung di atas kepalanya, membuat Milo tersentak kaget. Perlahan, bocah gembul itu menoleh ke belakang dan mendongak, menemukan Salvatore yang tengah berdiri tegap seraya menunduk menatapnya yang sedang bertengger di pintu kulkas.
Milo perlahan menurunkan kedua kakinya kembali ke lantai marmer, lalu memutar tubuhnya menghadap sang paman dengan raut wajah polos tanpa dosa.
"Itu ... Onty minta cedotin," ucap Milo dengan nada santai.
Salvatore mengerutkan keningnya, tidak menangkap maksud dari kata-kata tidak jelas keponakannya. "Sedotin?"
"Iya, cedotin! Itu Angkel ... Onty minta cedotin cucunya katanya!" sahut Milo dengan polosnya, mencoba menjelaskan kalau Kiyora meminta tolong menyedotkan susu kotaknya.
Seketika wajah Salvatore membeku, matanya membulat sempurna mencerna kalimat absurd yang keluar dari mulut bocah kecil itu.
"HAH?! SEDOTIN SU—" suara Salvatore tercekat, jakunnya seolah bergerak naik turun.
"Itu onty," unjuk Milo pada Kiyora yang sedang menganga. Perasaannya tadi tak enak, makanya menyusul Milo. Tak disangka, anak itu membuat kesalahpahaman terjadi.
"Kiyora? Apa maksud perkataan Milo?" tanya Salvatore dengan nada suara yang berat.
"Itu a-aku ... bukan, aku bukan meminta om menyedot susuku. Tapi aku butuh sedotaaaaaan!" pekik Kiyora dengan wajah merah padam.
Tatapan Salvatore beralih menatap Milo, "Bocah nakal!" desisnya.
"Apa? Angkel pelelok Milo, jadi calah bicala. Telus, calah Milo dimana?" ucapnya santai, padahal tadi dia yang memancing kesalahpahaman terjadi.
________
5 bab hari ini yah😍
kiyora 😭