Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksperimen Menemukan Sumber Di Balik Kemunculan Monster
Suasana di Kota Kosmik malam itu terasa tenang, namun bagi Dimas, tidak ada kata istirahat. Setelah kembali dari markas Zenith, Dimas langsung mengurung diri di laboratorium laboratorium canggih milik Miracle Kosmik. Di meja kerjanya, berbagai tabung reaksi dan proyeksi sampel energi monster melayang-layang.
BZZZZT!
Tiba-tiba, alarm radar Kota Kosmik berbunyi nyaring. Layar monitor menunjukkan lonjakan energi asing di area taman kota.
"Monster lagi?!" cetus Dimas sambil mengambil senjata dan alat pemindainya.
Tanpa membuang waktu, tim Miracle Kosmik melesat ke lokasi. Sesampainya di sana, terlihat seekor monster bertubuh lendir hitam dengan inti energi yang terus berdenyut.
Monster itu menyerap energi dari tiang-tiang listrik di sekitarnya.
"Tasya, pancing perhatiannya! Gue butuh sampel energi pas dia lagi menyerap daya!" seru Dimas.
"Sip, serahkan ke gue!" sahut Tasya sambil memicu Black Hole kecil untuk mengganggu pergerakan monster tersebut.
Ghofar melompat tinggi, meluncurkan Moonlight Burst yang menahan monster itu di tempat. Dimas melesat maju, mengayunkan alat pemindai dan menyedot sebagian kecil cairan energi monster tersebut ke dalam tabung khusus, sebelum akhirnya memukul mundur monster itu dengan manipulasi gelombang waktunya. Dalam hitungan menit, monster berhasil dilumpuhkan.
Setelah pertarungan usai dan situasi aman, anggota Miracle Kosmik lainnya memilih untuk istirahat. Namun tidak dengan Dimas. Ia langsung kembali ke laboratoriumnya, berkutat dengan mikroskop dan analisis DNA.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dimas mengusap matanya yang mulai berat. Rasa frustrasi mulai menghampirinya karena data energi gelap itu terus berubah-ubah dan sulit dicocokkan.
Klek.
Pintu laboratorium terbuka perlahan. Tsalwa melangkah masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu hangat dan beberapa roti panggang.
"Dimas... belum tidur juga?" tanya Tsalwa dengan suara lembut.
Dimas menoleh, sedikit terkejut. "Eh, Tsalwa. Belum nih, tinggal dikit lagi... mau mencocokkan gelombang energinya."
Tsalwa menghela napas pelan lalu meletakkan nampan di samping meja kerja Dimas. Ia menatap Dimas dengan raut wajah khawatir.
"Kamu tuh dari kemarin kerja terus, Dim. Inget, kekuatan kamu itu butuh stamina tinggi. Kalau kamu sakit lagi kayak kemarin gimana?" ujar Tsalwa sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Dimas.
Dimas tersenyum tipis, merasa disentuh oleh perhatian Tsalwa. "Gue cuma penasaran banget, Wa. Gue pengen tahu dari mana asal monster-monster ini biar kita bisa ngelindungin semuanya."
Tsalwa memegang jemari Dimas yang dingin, menatapnya hangat. "Aku tahu kamu peduli sama kita semua. Tapi kamu juga harus peduli sama diri kamu sendiri. Nih, minum dulu susunya."
Dimas menerima gelas tersebut dan meminumnya. Rasa hangat dari susu dan kehadiran Tsalwa di sampingnya perlahan mengikis rasa lelah yang menumpuk.
Sementara itu, di sudut ruangan lain yang agak jauh dari laboratorium...
Ghofar sedang bersandar di sofa empuk sambil memegangi ponselnya. Wajahnya yang biasa terlihat tenang dan dingin kini memancarkan rona merah. Di layarnya, tertera panggilan Video Call dari Nailu (Miracle Harvest).
"Ghofar! Kamu udah selesai lawan monster nya kan? Nggak ada yang luka, kan?" tanya Nailu dari balik layar ponsel dengan raut khawatir yang manis.
Ghofar terkekeh kecil, mencoba bersikap cool. "Aman. Cuma monster kecil kok. Kamu sendiri gimana di Harvest? Gak ada serangan kan?"
"Gak ada kok! Tapi aku kangen aja denger cerita kamu..." sahut Nailu pelan sambil tersenyum malu-malu di layar.
Mendengar ucapan itu, jantung Ghofar berdegup kencang. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum-senyum sendiri menatap layar HP-nya, benar-benar sedang dimabuk asmara di tengah heningnya malam Kota Kosmik.
Tsalwa menatap Dimas yang sedang menikmati susu hangatnya. Ruang laboratorium yang tadinya terasa dingin dan kaku oleh mesin-mesin canggih kini terasa lebih hangat berkat kehadiran Tsalwa.
"Gimana? Agak mendingan?" tanya Tsalwa lembut sambil mengambil cangkir kosong yang diletakkan Dimas.
"Lumayan banget, Wa. Makasih banyak ya," jawab Dimas tulus. Ia menatap proyeksi data di mejanya. "Jujur, kalau gak ada kamu yang ngingetin buat istirahat, mungkin gue udah pingsan lagi kayak waktu itu."
Tsalwa tersenyum kecil, lalu menunjuk ke salah satu grafik frekuensi energi yang ada di layar proyeksi. "Oya, dari tadi aku merhatiin grafik yang ini. Pola denyutnya mirip banget sama pola rotasi bintang waktu jatuh bulan lalu. Kamu udah coba selarasin sama data itu?"
Dimas membelalakkan mata. Ia langsung mencondongkan tubuhnya ke arah keyboard holografik dan dengan cepat mengetikkan beberapa perintah program.
BZZZZT... CLICK!
Grafik di layar mendadak berubah hijau! Dua pola energi yang tadinya selalu bentrok dan tidak cocok, tiba-tiba menyatu dengan presisi sempurna.
"Berhasil..." bisik Dimas tak percaya. Ia menoleh ke Tsalwa dengan binar mata penuh kekaguman. "Tsalwa! Lu jenius banget! Polanya emang butuh koreksi rotasi bintang!"
Tanpa sadar, Dimas menggenggam kedua tangan Tsalwa erat-erat karena gembira.
Tsalwa terkejut, pipinya seketika memerah padam. Dimas yang baru menyadari tindakannya langsung melepaskan genggamannya dengan canggung, sambil memegang belakang lehernya yang mendadak panas.
"E-eh... maaf, Wa. Gue refleks karena kelewat seneng," ujar Dimas gugup, berusaha mengalihkan pandangannya ke layar.
Tsalwa terkekeh pelan menutupi rasa canggungnya. "Gak apa-apa, Dim. Yang penting eksperimen kamu ada titik terang. Tapi sekarang... janji sama aku, kamu harus tidur."
"Iya, iya, siap siap!" jawab Dimas sambil tersenyum pasrah.
Di sisi lain markas, Ghofar masih asyik menyandarkan punggungnya di sofa, tidak menyadari kalau Tasya berjalan mendekatinya dari belakang sambil membawa cangkir kopi.
"Yaaah, udah jam 3.00 malem nih. Kamu jangan begadang ah, Ghofar," suara manis Nailu terdengar dari speaker HP Ghofar.
"Iya, habis ini aku tidur kok, Nai. Kamu juga istirahat ya, jangan lupa—"
"Ekhem! Uhuk uhuk!" Tasya sengaja terbatuk keras tepat di samping telinga Ghofar.
"ASTAGHFIRULLAH!" Ghofar hampir saja melempar ponselnya karena kaget setengah mati. Wajahnya yang tadi penuh senyuman manis langsung berubah tegang.
Di layar HP, Nailu menutup mulutnya sambil tertawa geli melihat reaksi Ghofar. "Hihi, ada Tasya ya? Yaudah deh, aku matiin dulu ya VC-nya. Daaah Ghofar!" TUT.
Panggilan terputus. Ghofar menatap Tasya dengan muka cemberut, sementara Tasya sudah tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
"Ghofar... Ghofar... anak Kosmik yang paling dingin ternyata kalau dimabuk cinta bisa senyum-senyum sendiri kayak gitu ya!" ledek Tasya puas.
"Tasya! Ganggu aja lu!" dengus Ghofar malu, langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya untuk menghindari ledekan Tasya yang makin menjadi-jadi.
Malam itu di markas Kosmik, di balik ancaman misteri monster yang kian membesar, benih-benih perasaan hangat dan keceriaan perlahan mulai tumbuh menguatkan mereka.
Pagi harinya di markas Miracle Kosmik, suasana terasa jauh lebih segar. Cahaya matahari menyusup masuk melalui jendela-jendela besar di ruang tengah, membawa kehangatan baru setelah malam yang penuh dengan eksperimen dan canda tawa.
Dimas berjalan keluar dari laboratorium dengan wajah yang tampak lebih bugar. Meski hanya tidur beberapa jam, bantuan Tsalwa semalam tidak hanya memecahkan pola energi monster, tetapi juga memberikan ketenangan di pikirannya.
Di ruang makan, Tsalwa sudah menyajikan sarapan sederhana. Saat pandangan mereka bertemu, Tsalwa memberikan senyuman manis yang dibalas Dimas dengan anggukan hangat.
"Pagi, Dim! Gimana tidur lu? Nyenyak gara-gara dapet ramuan perhatian dari Tsalwa?" goda Ghofar yang sedang mengambil minum, mencoba membalas kejahilan timnya semalam.
Dimas hanya terkekeh pelan sambil duduk di samping Tsalwa. "Mending fokus ke sarapan lu deh, Ghofar, daripada HP lu gue tahan biar gak bisa video call-an lagi."
"Jangan dong! Itu jalur kehidupan gue!" sahut Ghofar cepat yang langsung memicu gelak tawa dari Tasya dan seluruh anggota Miracle Kosmik lainnya.
Di balik tawa itu, Dimas menatap layar tabletnya yang menampilkan simbol energi hijau—hasil penyelarasan semalam. Titik terang asal-usul monster sudah makin dekat untuk terungkap, dan dengan dukungan tim serta hadirnya Tsalwa di sisinya, Dimas makin siap melangkah ke babak berikutnya.
Sementara itu, Iyan melangkah keluar menuju lapangan berlatih terlebih dahulu sendirian, meninggalkan Miracle Kosmik yang masih menikmati sarapan pagi. Di tiap ayunan pedang mataharinya, bayangan kejadian bersama Nessa masih terus berputar di benaknya. Rasa sesak di dada itu ia tumpahkan menjadi lecutan semangat untuk menempa kekuatannya agar jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Sementara di ruang makan, suasana santai perlahan berubah menjadi serius ketika Dimas meletakkan tablet analisisnya di tengah meja.
"Guys, ada hal penting yang harus kalian tahu," ujar Dimas menarik perhatian seluruh anggota Kosmik. "Dari hasil penelitian dan eksperimen gue semalam—dibantu Tsalwa—gue akhirnya berhasil memecahkan pola energi dari DNA monster yang kita lawan."
Seluruh anggota Miracle Kosmik langsung menaruh fokus penuh pada Dimas.
"Energi gelap monster ini punya sinyal frekuensi yang terhubung ke satu titik komando utama," lanjut Dimas menjelaskan data di layarnya. "Dan dari pelacakan sinyal itu, gue menemukan nama dari entitas atau sosok utama yang mengendalikan mereka... gua ga tau siapa namanya tapi yang pasti dia yang bikin monster muncul."
Mendengar ucapan Dimas, Tasya tidak membuang waktu. Ia langsung beranjak, mengaktifkan layar komunikasi holografik, dan menghubungkan saluran telepon darurat antar-ketua kepada Ayyasy (Zenith), Davi (Harvest), dan Arunnaqa (Cyber).
BZZZZT... CLICK!
Proyeksi wajah Ayyasy, Davi, dan Arunnaqa langsung muncul di udara.
"Ada apa, Tasya? Pagi-pagi begini ada darurat?" tanya Davi dari markas Harvest.
"Dimas baru aja nemuin petunjuk besar dari hasil penelitiannya," tegas Tasya tanpa berbelit-belit. "Kita udah dapat infodari sumber utama dan dalang di balik semua serangan monster ini. Ada dalang ."
Ayyasy dan Arunnaqa saling pandang di layar proyeksi, raut wajah mereka berubah menjadi sangat serius. Tabir misteri tentang asal-usul musuh mereka kini resmi mulai terkuak!