DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Ulah Caren yang Keterlaluan
Pagi hari di SMA Nusa Bangsa berlangsung riuh seperti biasa. Namun bagi Aira, koridor sekolah selalu menjadi tempat yang menghimpit dada. Meski kondisi fisiknya pasca sakit sudah membaik, racun kata-kata Darel masih terngiang jelas di kepalanya: Vino cuma kasihan sama kamu, bukan peduli.
Aira berjalan menunduk menuju kelasnya, memeluk tas kain lusuh tempat ia menyimpan beberapa buku dan barang kesayangannya—termasuk sebuah kotak musik kayu kecil pemberian ibunya yang selalu ia bawa sebagai penguat diri.
Saat Aira hendak melangkah masuk ke dalam kelas, langkahnya mendadak terhenti.
Caren berdiri di samping meja Aira bersama dua teman gengnya. Wajah Caren dipenuhi raut kekesalan yang mendalam sejak insiden di pesta ulang tahunnya minggu lalu, di mana reputasinya hancur gara-gara teguran Darel dan sikap dingin Vino padanya.
"Wah, si cewek numpang sudah masuk sekolah lagi nih," sindir Caren keras-keras, memancing perhatian belasan siswa yang ada di dalam kelas.
Caren melangkah menghampiri Aira, lalu secara kasar merampas tas kain dari dekapan Aira.
"Caren! Jangan, tolong kembalikan!" pekik Aira terkejut, mencoba merebut tasnya kembali dengan tangan gemetar.
"Diam kamu!" bentak Caren seraya mendorong bahu Aira hingga cewek itu tersungkur pelan menabrak pinggiran meja guru.
Caren membalikkan isi tas kain Aira ke atas meja. Buku-buku catatan, alat tulis, dan kotak musik kayu milik Aira berhamburan. Mata Caren tertuju pada kotak musik kayu yang tampak tua dan sederhana itu.
"Apaan nih? Barang sampah begini dipajang-pajang?" cibir Caren seraya mengangkat kotak musik itu tingi-tinggi.
"Caren, aku mohon... itu pemberian ibu aku! Jangan dirusak!" pintaku Aira panik, air mata seketika menetes di pipinya. Aira mencoba bangkit untuk mengambilnya.
Namun Caren justru menyeringai jahat. Dengan sengaja, Caren melempar kotak musik kayu itu ke lantai hingga terdengar bunyi krak! yang nyaring—kayunya terbelah dan mesin pemutarnya terlepas.
Tak berhenti di situ, untuk meluapkan amarah dan kebenciannya yang membendung, Caren melangkah maju dan meludahi tepat di atas kotak musik kayu milik ibu Aira yang sudah hancur tersebut.
"Ups, sori. Tanganku sama tenggorokanku gatal," celekuk Caren tanpa rasa bersalah sedikit pun, disambut tawa mengejek dari teman-temannya.
Aira membeku di tempat. Tenggorokannya terasa begitu tebal, dadanya sesak luar biasa melihat barang peninggalan ibunya dihina dan diinjak-injak sekejam itu. Aira berlutut di lantai, jemarinya yang gemetar mencoba meraih kotak musik yang kotor itu sambil menangis sesenggukan tanpa sanggup melawan.
"Caren! Lu apa-apaan, bangsat?!"
Sebuah bentakan keras nan menggelegar mendadak memecah suasana kelas.
Vino, yang baru saja berjalan di koridor dan menyaksikan adegan keji itu dari ambang pintu, melangkah masuk dengan emosi yang sudah meledak ke ubun-ubun. Wajahnya merah padam, matanya menyalang tajam memancarkan amarah murni.
Caren yang tadinya tertawa seketika terkejut. "Vi—Vino? Kamu kok ngomong kasar gitu sama aku—"
Brak!
Vino menggebrak meja di samping Caren dengan sangat keras hingga seluruh isi kelas terlonjak kaget. Vino maju memangkas jarak, menatap Caren dengan pandangan membunuh yang sangat menakutkan.
"Lu punya otak atau enggak, hah?!" bentak Vino tepat di depan wajah Caren, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Lu pikir lu siapa bisa meludahi barang orang sembarangan?! Perilaku lu bener-bener kayak sampah tahu gak?!"
Caren pucat pasasi, melangkah mundur ketakutan karena tidak pernah melihat Vino murka luar biasa seperti ini kepadanya. "Vi—Vin... aku cuma... cewek ini kan cuma numpang di rumah kamu! Kenapa kamu malah ngebela dia sih?!"
"Gue gak peduli dia siapa!" potong Vino tajam, napasnya memburu. "Tapi perlakuan lu barusan itu murahan dan biadab! Mulai hari ini, gak usah berani-berani lu muncul di depan muka gue lagi! Kita putus!"
"Vino!" jerit Caren tak percaya, air matanya mulai menetes karena malu dan syok di depan satu kelas.
"Pergi lu dari sini!" usir Vino tajam tanpa ampun.
Caren yang tak sanggup menanggung malu akhirnya berlari keluar dari kelas sambil menangis sesenggukan, diikuti oleh teman-teman gengnya yang ketakutan.
Suasana kelas mendadak hening membisu. Tidak ada satu pun siswa yang berani bersuara melihat amarah Vino yang masih membara.
Vino menghela napas berat, mencoba menetralkan emosinya. Ia kemudian membalikkan badan, menatap Aira yang masih berlutut di lantai sambil memeluk kotak musik kayunya yang rusak dan kotor.
Langkah kaki Vino mendekat perlahan. Untuk pertama kalinya di depan umum, Vino berlutut di samping Aira. Rasa gengsinya yang biasanya setinggi langit runtuh seketika oleh rasa iba dan amarah yang belum sepenuhnya padam.
Vino mengeluarkan saputangan bersih dari sakunya. Tanpa mengucap kata-kata kasar seperti biasanya, Vino dengan lembut mengambil kotak musik itu dari tangan Aira, lalu menyapu dan membersihkan kotoran di atasnya dengan sangat hati-hati.
"Nih..." bisik Vino pelan, menyodorkan kotak musik yang sudah bersih itu kembali ke tangan Aira. Suara Vino tak lagi keras, melainkan terselip nada penyesalan yang mendalam. "Lain kali kalau ada orang yang kayak gitu... lawan, Aira. Jangan cuma diam aja."
Aira mendongak, menatap wajah Vino dari dekat lewat pelupuk matanya yang basah. Jantung Aira berdegup kencang secara tak wajar. Perlakuan Vino yang pasang badan dan membela dirinya secara terang-terangan ini benar-benar menghantam benaknya.
Kenapa Vino ngebela aku sejauh ini? Bukannya kata Kak Darel... Vino cuma kasihan sama aku? batin Aira bingung, rasa hangat dan tanda tanya besar mulai bergulat di dalam hatinya.
Dari luar kelas, berdiri Darel yang menyaksikan seluruh kejadian itu dengan tangan meremas bingkai pintu. Wajah Darel tampak begitu datar dan dingin, matanya memancarkan kegelapan yang berbahaya saat melihat benih kedekatan yang mulai tumbuh kembali di antara Vino dan Aira.