Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Ketika Agares melangkah turun dari panggung altar batu hitam, lantai koloseum andesit merah seketika berubah menjadi arena pembantaian yang mengerikan.
Langkah kaki raksasa itu menggetarkan fondasi kuil purba, memecahkan ubin batu menjadi serpihan kerikil di bawah beban ratusan ton. Setiap entakan kakinya memancarkan gelombang kejut yang merambat melalui lantai, mengguncang persendian siapa pun yang berpijak di arena.
Uap darah merah pekat mengepul keluar dari setiap celah urat otot raksasa monster tersebut, menyelimuti seluruh arena bagai kabut beracun yang pekat. Hawa kematian yang dipancarkan oleh tubuh raksasa setinggi sepuluh meter itu begitu dingin dan menekan, membuat siapa pun yang menghirupnya merasakan kulit tubuh mereka perih bagai disayat jarum halus. Rasa panas beracun menggerus ketahanan fisik dan memperlambat aliran darah para prajurit yang masih berusaha berdiri tegak. Udara pengap terasa kian berat oleh aroma karat dan belerang mendidih.
“Lari! Gerbang masuk! Hancurkan gerbangnya sekarang juga!” teriak seorang ksatria pengawal Ravensburg dalam kepanikan yang melumpuhkan akal sehat.
Belasan ksatria berzirah lempeng emas berbalik arah dalam kekacauan buta. Mereka membuang disiplin formasi tempur ordo militer kekaisaran, berlari sekuat tenaga ke arah gerbang perunggu di sisi selatan yang terkunci rapat oleh lilitan rantai sihir kuno. Mereka menghantamkan pedang dan mantra penghancur ke pintu gerbang dengan putus asa, berharap bisa menjebol celah untuk meloloskan diri dari amukan monster tersebut.
Bagi Agares, mangsa yang melarikan diri dengan punggung terbuka adalah sasaran empuk.
Empat dari delapan lengan raksasa di punggung Agares mengayunkan rantai besi berkarat secara horizontal. Ayunan rantai berbobot tengkorak berduri sebesar gerobak itu membelah udara kering, menciptakan gelombang angin bertekanan tinggi berbentuk sabit merah menyala yang memekakkan telinga.
Sebelum para ksatria yang melarikan diri sempat menyentuh gerbang perunggu, ayunan rantai berduri itu menyapu tubuh mereka tanpa ampun.
Zirah lempeng emas dan perisai baja berat dua belas ksatria bangsawan seketika hancur lumat menjadi serpihan debu serta kabut darah pekat yang menghantam dinding koloseum. Tubuh mereka musnah dalam sekejap mata, dan darah segar yang membasahi lantai batu langsung diserap oleh pori-pori andesit merah untuk mempercepat pemulihan fisik sang monster abadi.
“Monster terkutuk…” bisik Penyihir Gunter yang terduduk lemas di tanah dengan tubuh basah oleh keringat dingin, matanya menatap nanar ke arah sisa-sisa zirah emas yang berserakan. “Makhluk itu berada di luar batas nalar sihir biasa…”
Julius von Ravensburg merangkak di atas lantai batu andesit yang lengket oleh darah para ksatrianya sendiri. Tangannya yang gemetar berusaha meraih pedang rapier kristalnya yang tertancap di celah batu beberapa jengkal di depannya. Wajah sang komandan muda memucat pasi. Seluruh keangkuhan garis keturunan aristokrat dan rasa superioritas kaum darah biru runtuh tak bersisa di hadapan perwujudan bencana hidup menara ini.
“Elise… tolong aku… selamatkan aku…” rintih Julius dengan suara tercekat, menatap sang putri bangsawan dengan pandangan memohon yang menyedihkan. “Buka jalan keluar suci… gunakan seluruh manamu untuk membawaku keluar dari lantai ini! Aku adalah calon penerus Wangsa Ravensburg, aku tidak boleh mati di tempat kotor ini!”
Elise tidak memalingkan wajahnya ke arah Julius. Sang putri berdiri kokoh di hadapan para prajurit garis depan yang tersisa, kedua tangannya memegang tongkat perak sucinya erat-erat. Cahaya perak murni memancar dari ujung tongkat, membentuk kubah pelindung bercahaya teduh untuk menaungi tiga puluh prajurit jelata dan kuli angkut dari gerusan kabut darah beracun Agares.
Barier suci Elise bergetar hebat di bawah tekanan aura sang penguasa koloseum. Retakan halus berkerisik di permukaan kubah perak sang putri, menandakan bahwa batas ketahanan sihirnya mulai terancam oleh miasma korosif yang kian pekat.
“Kekuatan suciku hanya sanggup mempertahankan kubah ini selama beberapa menit…” bisik Elise dengan napas tersengal dan butiran keringat dingin membasahi dahinya. “Jika Agares menghantamkan rantai raksasanya secara langsung ke arah kubah ini, pertahanan ini akan pecah dalam satu benturan.”
“Dia akan melancarkan serangannya dalam empat tarikan napas,” suara Ren terdengar memecah kepanikan yang menyelimuti barisan mereka.
Ren berdiri di luar batas kubah pelindung Elise, bertumpu di samping reruntuhan pilar batu marmer yang telah retak akibat guncangan awal.
Sepasang mata hitamnya mengunci setiap kedutan urat otot pada tubuh raksasa Agares. Ia memperhatikan delapan lengan berotot monster itu mulai menarik rantai berduri ke belakang punggungnya, memusatkan tenaga kinetik untuk melancarkan serangan cambuk berputar dari berbagai sudut mematikan.
Lintasan pertama: sapuan horizontal setinggi dua meter dari arah kanan.
Ren melompat menyamping ke arah kiri, berniat memanfaatkan ceruk sempit di balik dasar pilar marmer untuk menghindari gelombang kejut ayunan rantai tersebut.
Kecepatan dan keganasan Agares melampaui perhitungan gerak fisik biasa.
Agares mengubah arah pukulannya di tengah ayunan, mengubah sapuan rantai menjadi tusukan lurus bagai tombak raksasa yang menghantam pilar marmer setebal dua meter.
Pilar batu itu hancur berkeping-keping di bawah hantaman brutal tersebut.
Tengkorak berduri di ujung rantai menembus dada Ren dari depan ke belakang, merobek pelat dada kulit dan meremukkan organ dalamnya dalam sekejap mata, memaku tubuh pemuda itu ke dinding batu koloseum di belakang reruntuhan pilar.
Darah hangat menyembur deras dari mulut Ren, menodai batu andesit merah.
Rasa sakit dari tulang yang hancur dan racun korosif yang membakar dagingnya merambat cepat ke pusat kesadarannya, membakar saraf-saraf kepalanya sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan maut merenggut detak jantungnya.
Dunia berputar kembali dengan dengungan menyengat di pangkal lehernya.
Ren tersentak mundur, berdiri tegak di luar kubah barier suci Elise tepat tiga puluh detik sebelum Agares meluncurkan serangan rantai penembus pilar tersebut.
Darah hangat merembes keluar dari kedua lubang hidung dan sudut bibirnya. Beban akumulasi rasa sakit dari puluhan kematian yang menumpuk di dalam kepalanya membuat pandangannya sempat buram sesaat. Di balik penderitaan fisik dan saraf yang membakar itu, sepasang mata Ren berkilat dengan pemahaman taktis baru yang tajam dan presisi.
Agares memiliki naluri pertempuran adaptif yang sangat berbahaya. Makhluk itu mengamati gerakan mangsanya, memprediksi titik perlindungan yang akan dituju, lalu mengubah arah serangan untuk menghancurkan rintangan tersebut bersama mangsanya.
Ren menyeka darah dari hidungnya dengan lengan baju zirah kulitnya yang robek.
Ia menatap monster setinggi sepuluh meter yang kini mulai menarik rantai berdurinya ke belakang punggung untuk mempersiapkan ayunan maut yang sama persis seperti dalam memori pengulangannya.
Satu kematian lagi berarti satu pola serangan baru yang berhasil dipetakan secara akurat.
Ren meremas gagang belati taring di pinggangnya, lalu menoleh cepat ke arah Elise dan Vargas dengan suara komando yang lantang dan tegas:
“Nona Elise! Buka celah barier di sisi barat laut untuk mengalihkan tekanan mana! Paman Vargas, jangan bersembunyi di balik pilar. Condongkan tameng bajamu miring pada sudut serong tepat di belakang pecahan lantai batu!”
Vargas dan Elise tersentak mendengar perintah yang begitu terperinci dan diucapkan tanpa keraguan. Melihat tatapan Ren yang memancarkan kepastian mutlak, mereka segera bergerak tanpa membuang waktu sekejap pun.
Elise menggeser aliran sihir sucinya, membiarkan gelombang cahaya perak membelokkan arus angin beracun, sementara Vargas melangkah maju dan menancapkan tameng bajanya pada sudut miring yang diarahkan Ren, menyalurkan seluruh bobot tubuh kekarnya ke dasar lantai.
Rantai berduri Agares melesat menghantam udara tepat di titik di mana pilar sebelumnya hancur. Kali ini, hantaman dahsyat itu hanya menyapu serpihan batu kosong dan terpantul miring oleh sudut tameng baja Vargas tanpa meremukkan seorang pun prajurit.
“Serangan pertamanya berhasil dilewati!” teriak Vargas dengan napas memburu dan mata menyala penuh semangat tempur yang bangkit kembali. Lengan sang veteran bergetar hebat menahan sisa gelombang kejut, namun genggamannya pada tali perisai tetap kokoh.
“Jangan lengah!” seru Ren dengan nada dingin yang menembus ketegangan, matanya tak pernah lepas mengamati perubahan posisi urat otot pada bahu Agares. “Makhluk ini memiliki sembilan variasi serangan berantai! Begitu rantai kirinya ditarik ke dalam, gelombang serangan kedua akan menyapu tanah dalam bentuk sapuan ganda!”
Shizuka segera merapalkan mantra penahan rasa sakit untuk mengurangi efek miasma pada rekan-rekannya, lalu mengoleskan salep herbal penyejuk pada pergelangan tangan Vargas yang memar. “Bertahanlah, Paman Vargas! Racun di udara semakin pekat!”
Riku memasang tiga anak panah sekaligus pada busurnya, membidik celah sempit di antara sambungan rantai bahu sang raksasa. Remaja itu memicingkan matanya tajam, menghitung hembusan angin beracun dan getaran lantai sebelum melepaskan tembakan pengalih perhatian tepat saat otot dada monster itu berkontraksi.
Di samping mereka, Elise berdiri tegak dengan tongkat suci terangkat tinggi. Cahaya perak yang memancar dari tubuh sang putri suci berpadu dengan keteguhan para prajurit di garis depan. Garis pertahanan Althea menyatu tanpa celah dengan formasi para serdadu jelata. Di dalam benak mereka semua, keputusasaan telah terkikis habis, digantikan oleh satu tekad murni untuk menaklukkan monster penjaga lantai ini bersama-sama.
Ren memperhatikan bagaimana regenerasi jaringan kulit Agares berlangsung lambat di sekitar pasak-pasak perunggu yang menancap di tengkoraknya. Titik lemah makhluk abadi itu mulai terpetakan di balik kabut darah.
Ren berdiri tegak di atas pecahan lantai batu andesit merah, belatinya terhunus ke depan menyongsong tatapan gelap dari balik topeng perunggu berkarat.
Pertarungan hidup dan mati melawan sang penguasa abadi koloseum baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.