Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : Bayangan dari Kota dan Pelita di Tepi Desa
Kekalahan menyedihkan Pak Broto Ranusastro akibat lemparan buah talok Si Mbah ternyata tidak lantas menyurutkan niatnya. Bagi orang yang terbiasa menggunakan harta dan tipu daya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, rasa malu dari "serangan kera desa" justru menyulut dendam yang lebih membara.
Tiga hari setelah insiden tersebut, suasana warung Sari kembali diganggu. Namun kali ini, Pak Broto tidak datang membawa mobil mewah atau ancaman terbuka. Ia menggunakan cara yang lebih halus dan licik.
Pagi-pagi sekali, ketika Sari baru selesai menanak nasi, dua orang berseragam rapi yang mengaku sebagai perwakilan dinas kesehatan daerah mendatanginya. Mereka membawa lembaran kertas bermaterai lengkap dengan cap stempel merah.
"Mbak Sari," kata salah seorang dari mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Kami mendapat laporan tertulis dari warga yang tidak ingin disebutkan namanya. Warung ini diduga menjual makanan yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya dan... tidak memenuhi standar higienis. Untuk sementara, warung ini harus disegel dan ditutup."
Sari melotot kaget. "Bahan kimia berbahaya? Tidak higienis? Bapak bisa periksa sendiri dapur saya! Semua bahan masakan dibeli segar dari pasar desa setiap pagi!"
Warga sekitar yang mendengar hal itu langsung berkumpul. Pak Karto, Pak RT yang jujur itu, bergegas menengahi. "Tunggu dulu, Pak! Warung Sari ini paling bersih di desa kami. Siapa yang melaporkan hal tidak benar ini?"
Petugas itu menggeleng dingin. "Ini perintah dari atasan berdasarkan laporan resmi. Jika Mbak Sari menolak, kami akan membawa pihak kepolisian."
Dari kejauhan, terparkir sebuah mobil sedan hitam yang tidak asing lagi. Di balik kaca mobil yang gelap, tampak siluet Pak Broto sedang tersenyum culas sambil menyesap kopi. Ia ingin mematikan mata pencaharian Sari secara perlahan, memaksa gadis muda itu menyerah dan menyerahkan apa yang dikira peninggalan ghaib Nyai Seruni.
Sari menatap kertas penyegelan itu dengan dada sesak. Ia tahu persis siapa dalang di balik semua ini. Namun, ketimbang berteriak marah atau meratapi nasib seperti yang biasa dilakukan bibinya dulu saat terdesak, Sari menarik napas panjang.
"Baik, Pak," kata Sari lembut namun mantap. "Kalau memang aturan dinas mengharuskan warung ini diperiksa, silakan segel pintunya. Saya tidak akan melawan."
Pak RT dan warga terperanjat. "Sari! Kamu tidak boleh menyerah begitu saja pada fitnah ini!" bisik Pak Karto cemas.
Sari tersenyum tipis. "Sabar, Pak RT. Kejujuran tidak butuh emosi untuk membuktikannya. Biarkan mereka memeriksa sampai puas."
Melihat reaksi Sari yang begitu tenang, kedua petugas itu agak serba salah. Mereka menyegel pintu depan warung dengan garis kuning pelastik, lalu pergi meninggalkan lokasi.
Dari dalam mobil, Pak Broto terkekeh puas. "Lihat itu," katanya pada pengawalnya. "Tanpa ilmu hitam pun, cukup dengan sedikit uang dan pengaruh, rakyat kecil akan langsung bertekuk lutut."
Namun, Pak Broto lupa satu hal: Desa Karang Tumpuk bukan lagi desa yang bisa dipecah belah oleh fitnah dan ketakutan.
Siang harinya, aksi solidaritas warga desa terjadi tanpa diduga-duga. Karena warung Sari disegel, warga Karang Tumpuk bergotong royong mendirikan tenda darurat dari terpal di halaman depan rumah panggung Sari—tepat di luar area yang disegel.
Ibu-ibu desa datang membawa kuali, panci, dan bahan-bahan makanan sendiri. Mbok Sumi duduk di sudut tenda sambil menumbuk bumbu, sementara Marno sang pande besi membantu mengangkat meja-meja kayu. Bahkan Si Mbah si kera hitam ikut beraksi: ia memakai serbet di lehernya dan dengan cekatan membagikan kerupuk ke atas meja pelanggan.
"Warung utamanya boleh diselip kertas penyegelan, tapi semangat makan soto kita tidak bisa disegel!" seru Pak Karto disambut tawa riuh warga desa.
Warung tenda darurat itu justru menjadi tiga kali lipat lebih ramai dari biasanya. Orang-orang dari desa tetangga yang mendengar kabar tentang kezaliman orang kota tersebut malah berbondong-bondong datang untuk membeli makanan sekaligus memberikan dukungan moral kepada Sari.
Sementara itu, di sebuah penginapan di kecamatan, Pak Broto mulai merasa ada yang tidak beres. Tidak hanya rencananya gagal mematikan usaha Sari, tetapi tubuhnya sendiri mulai merasakan sensasi aneh yang mengerikan.
Sejak sore hari, kulit di leher dan lengannya terasa sangat gatal dan panas, seolah-olah ditaburi serbuk ulat bulu. Setiap kali ia menggaruknya, timbul bercak-bercak hitam yang mengeluarkan aroma samar-samar yang amat dikenalinya: bau empedu pecah.
"A-apa ini?!" jerit Pak Broto panik di depan cermin kamar penginapan. "Kenapa kulitku jadi seperti ini?!"
Pengawalnya gemetar ketakutan melihat wajah majikannya yang mulai menghitam dan bersisik. "B-bos... itu... itu persis seperti ciri-ciri penyakit Nyai Seruni yang diceritakan warga desa!"
Pak Broto tersungkur ke lantai. Rasa takut yang sangat dahsyat menghantam dadanya. Selama bertahun-tahun, keluarganya menggunakan persekutuan ghaib dan cara-cara zalim untuk menindas orang lain. Kini, racun dengki dan dosa yang terkumpul di dalam dirinya mulai menagih bayaran. Ilmu hitam yang dulu diajarkan keluarganya kepada Seruni justru berbalik menyerang tubuhnya sendiri akibat niat jahatnya yang tak kunjung padam.
"Bawa aku... bawa aku ke rumah dukun itu lagi!" raung Pak Broto dengan suara tersengal-sengal.
Malam harinya, mobil sedan hitam itu kembali meluncur kencang ke Desa Karang Tumpuk. Namun kali ini tidak ada lagi keangkuhan dari sang pemilik.
Pak Broto dipapah keluar dari mobil oleh pengawalnya. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya kembang kempis menahan rasa panas mendidih dari dalam. Ia merangkak di atas tanah halaman rumah panggung, meratapi nasibnya persis seperti yang dilakukan Nyai Seruni di masa-masa terakhir hidupnya.
"Sari... tolong aku..." rintih Pak Broto, suaranya parau dan terbata-bata. "Ambilkan obatnya... cabut sumpah bibimu dariku! Aku janji akan cabut semua laporan polisi dan penyegelan itu!"
Sari keluar dari rumah bersama Mbok Sumi dan Marno. Menatap lelaki tua yang kini tergeletak hina di atas debu, tidak ada rasa dendam di mata Sari. Yang ada hanyalah rasa iba yang mendalam.
Sari berlutut di dekat Pak Broto. "Pak Broto... tidak ada obat atau mantra peninggalan Bibi Seruni yang bisa menyembuhkan Anda. Dan Bibi saya tidak pernah membalas serangan Anda dari kubur."
"B-bohong! Lalu kenapa tubuhku terasa terbakar seperti ini?!" tangis Pak Broto histeris.
Mbok Sumi melangkah maju, memegang tongkat kayunya. "Itu adalah buah dari kezalimanmu sendiri, Anak Muda. Ketika hatimu dipenuhi niat jahat untuk merusak rezeki dan menindas orang lemah, dosa itu menjadi racun yang membusukkan jiwa dan ragamu dari dalam. Bumi dan tubuhmu sendiri menolak kejahatan yang kau simpan."
Pak Broto menatap wajah Mbok Sumi yang buta sebelah, lalu menatap Sari yang memandangnya penuh ketulusan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang bergelimang harta dan kesombongan, Pak Broto merasa sangat kerdil dan hampa.
"A-aku harus bagaimana...?" bisik Pak Broto terisak-isak di atas tanah basah.
Sari mengambil segelas air putih hangat dari dalam rumah, lalu menyodorkannya pada Pak Broto. "Ikhlaskan hatimu. Hentikan menindas orang lain, minta maaf pada orang-orang yang pernah kau zalimi, dan bertobatlah kepada Tuhan. Hanya kebaikan dan kesadaran diri yang bisa memadamkan api panas di dadamu."
Dengan tangan gemetar, Pak Broto meminum air putih itu. Ajaibnya, saat niat jahat dan keangkuhan di hatinya lumer oleh rasa penyesalan murni, rasa panas membakar di dadanya perlahan-lahan mereda. Meski bercak hitam di kulitnya butuh waktu untuk sembuh, napasnya tidak lagi tercekat.
Pak Broto bersujud di atas tanah, menangis sejadi-jadinya menyesali segala kezaliman yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Jangan pernah menggunakan kekuasaan, harta, atau tipu daya untuk menindas dan merusak rezeki orang lain yang tidak bersalah. Doa orang yang dizalimi dan kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah tidak akan pernah bisa dihalangi oleh benteng harta sebanyak apa pun. Bertobatlah sebelum kezaliman itu menjadi racun yang menghancurkan dirimu sendiri.
Keesokan harinya, petugas dinas kesehatan kembali datang bukan untuk menyegel, melainkan untuk mencabut garis kuning dan menyampaikan permohonan maaf resmi atas "kekeliruan laporan". Pak Broto telah mencabut seluruh fitnahnya dan berjanji akan menggunakan sisanya usianya untuk berbuat baik.
Warung makan Sari kembali dibuka secara resmi. Cahaya matahari pagi menyinari rumah panggung tua itu dengan kehangatan yang sempurna. Di bawah naungan pohon nangka, Si Mbah si kera hitam duduk santai sambil menikmati pisang emas, sementara Sari melayani warga dengan senyuman yang penuh keberkahan dan kedamaian.