Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AROMA MUSLIHAT
Keesokan paginya, suasana di meja makan rumah kayu sederhana itu terasa hangat dan pekat oleh aroma nasi uduk khas buatan Ibu Royani. Suara denting sendok beradu dengan gelak tawa kecil yang menyelimuti sarapan terakhir mereka sebelum rombongan bersiap kembali ke ibu kota.
Pirman meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong, lalu menatap Abraham secara mendalam.
"Bram," panggil Pirman penuh ketegasan namun sarat rasa peduli. "Kalau lu lagi galau atau pusing sama tingkah istri serigala lu itu, datang aja ke sini. Dia kan kagak tahu tempat ini. Dan ingat, jadi laki-laki itu jangan loyo! Jangan mau jadi kayak kerbau yang dicocok hidungnya terus-terusan!"
Abraham mendengarkan dengan patuh, menundukkan kepalanya sedikit.
Pirman menepuk meja pelan, menekankan setiap kata. "Jadilah imam yang kuat dan tegas! Kalau dia masih ingin jadi makmum lu, ya dia harus ikut semua peraturan lu. Tapi kalau dia sudah kagak bisa lu bimbing dan cuma mau ngeracunin hidup lu... buang aja dia ke laut!"
Kakek Sudirja yang duduk di sebelah Abraham ikut menimpali dengan suara baritonnya yang mantap. "Benar kata Nak Pirman, Bram. Berubahlah, jadilah lelaki yang bertanggung jawab atas keluargamu sendiri. Papa masih mau menerima istrimu itu kalau dia benar-benar berubah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu. Tapi kalau kamu gagal lagi... jangan salahkan Papa kalau sifat tidak peduli Papa datang kembali."
Mendengar nasihat berharga dari ayah kandung dan sahabat terbaiknya, dada Abraham berdesir hangat. Rasa haru mengalir deras di sanubarinya. Ia menatap Pirman dan Kakek Sudirja bergantian dengan raut penuh kesungguhan.
"Terima kasih banyak, Pirman... Papa..." ucap Abraham tulus dengan suara bergetar. "Aku berjanji, aku akan membereskan ini semua dan menyelamatkan keluarga ku yang selama ini terasa seperti di neraka."
Pirman kemudian beralih menatap Abiyan yang duduk tenang di atas kursi rodanya. Raut wajah Pak Pirman melunak saat menatap sang menantu.
"Abiyan, jagain anak gadis Ayah satu-satunya ini, ya. Sering-sering datang ke sini, rumah ini bakal selalu terbuka luas buat kalian," pesan Pak Pirman hangat.
Abiyan mengangguk mantap, menatap mata mertuanya dengan penuh rasa hormat. "Pasti, Yah. Saya janji akan selalu menjaga Naya."
Setelah prosesi pamitan yang dipenuhi pelukan hangat dan derai air mata haru dari sang Nenek dan Ibu Royani, rombongan akhirnya berangkat. Kali ini mereka naik mobil masing-masing. Mobil sedan milik Abiyan sudah dibawa oleh salah satu anak buah Bara sejak subuh tadi atas perintahnya, sehingga Abiyan dan Inayah kini berada di dalam mobil pribadi mereka.
Perjalanan menuju ibu kota menempuh waktu beberapa jam dan berlangsung sangat lancar tanpa hambatan. Suasana di dalam mobil Abiyan sempat hening untuk beberapa saat, hanya terdengar deru halus mesin yang membelah jalan tol.
Di tengah keheningan itu, Abiyan yang duduk di samping Inayah tiba-tiba membuka suara.
"Terima kasih ya, Naya," ucap Abiyan pelan, suaranya terdengar begitu tulus. "Terima kasih... karena kamu sudah membawa kehangatan yang sangat besar ke dalam hidupku yang sudah lama hilang."
Inayah menoleh, menatap wajah suaminya dari samping. Binar kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari mata Abiyan membuat dada Inayah seketika terasa hangat dan berdesir aneh. Rasa canggung akibat kejadian di kamar tadi malam perlahan menguap, berganti dengan tekad yang makin kuat di dalam hatinya.
Inayah menyunggingkan senyum manisnya yang paling hangat. "Sama-sama, Mas. Aku janji, kita bakal bikin keluarga kamu utuh dan hangat lagi seperti dulu. Enggak akan ada lagi yang bisa ngerusak bahagia kita."
Abiyan tersenyum tipis melihat kesungguhan dan keberanian di wajah cantik istrinya. Tekad tulus Inayah seolah menjadi energi baru baginya untuk menghadapi konflik yang sudah menanti di depan mata.
Mobil kembali hening hingga mereka memasuki kawasan pinggiran kota. Bara yang mengemudikan mobil dari depan kemudian melirik kaca spion tengah.
"Tuan Abiyan," panggil Bara sopan. "Kita akan langsung pulang ke mana? Ke mansion Tuan, atau ke rumah Nyonya Inayah?"
Abiyan tidak langsung menjawab. Firasatnya yang tajam mendadak bekerja, memberikan dorongan kuat bahwa ia harus memeriksa keadaan rumah utamanya.
"Ke mansion saya dulu, Bar," perintah Abiyan tegas.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil mewah itu melaju pelan memasuki kawasan perumahan elit dan mulai mengarah ke gerbang besi menjulang tinggi milik mansion Abiyan. Namun, tepat di depan gerbang utama, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam tampak terparkir melintang.
Di samping mobil tersebut, berdiri sosok Lusi, ibu tiri Abiyan, bersama Gilang, anak laki-lakinya. Wajah kedua orang itu terlihat sangat tidak bersahabat, dipenuhi dengan ketegangan dan emosi yang tersembunyi.
"Tuan, ada Nyonya Lusi dan Mas Gilang di depan gerbang," bisik Bara menetralkan kecepatan mobil.
"Buka pintunya, Bar. Kita hadapi seperti biasa," sahut Abiyan dingin.
Bara segera turun dari mobil, membuka pintu bagasi untuk mengambil kursi roda lipat milik Abiyan, lalu merakitnya dengan sigap. Dengan cekatan, Bara membantu bosnya berpindah duduk ke atas kursi roda tersebut. Inayah ikut turun dari pintu sebelah, berdiri setia di samping kursi roda Abiyan seraya memegang dorongannya.
Melihat anak tirinya yang "cacat" itu turun dari mobil, Lusi bersama Gilang segera memasang raut wajah panik yang dibuat-buat dan bergegas menghampiri Abiyan.
"Byan!" seru Lusi dengan suara bergetar yang terdengar sangat drama. "Ayah kamu hilang, Byan! Ibu panik banget dari kemarin! Ibu takut Ayahmu diculik orang jahat karena ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi sampai sekarang!"
Lusi mencengkeram lengan kursi roda Abiyan, menatap anak tirinya dengan pandangan menuntut. "Apakah Ayahmu ada menghubungi kamu?! Atau dia ada kasih tahu kamu dia pergi ke mana?!"
Gilang yang berdiri di belakang ibunya bersedekap dada, menatap Abiyan dan Inayah dengan pandangan penuh curiga dan keangkuhan.
Abiyan menatap ibu tirinya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi, tetapi di dalam hatinya sebuah senyum tipis sinis terkembang rapat. Ternyata wanita ini cuma sedang memancing informasi dariku, batin Abiyan dingin. Tampaknya dia dan anak buahnya benar-benar belum bisa melacak keberadaan Papa.
Abiyan menyandarkan punggungnya di kursi roda, lalu mendongak menatap Lusi dengan tatapan polos yang menipu.
"Hilang?" ulang Abiyan santai dengan nada penuh kepura-puraan. "Papa tidak ada menghubungi saya sama sekali, Bu. Bukankah selama ini Papa selalu tinggal bersama Ibu? Kenapa Ibu malah mencari Papa di sini?"
thank thort 💪💪