Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Menyamar Tak Tertarik
Nara
"Oh, cuma pembantu toh."
Kalimat Bu Marlina terdengar ringan, tetapi baki di tangan Sekar bergetar seperti menahan beban yang jauh lebih berat daripada empat cangkir teh.
Aku sudah melihat kebaya sempit itu sejak dia masuk. Aku juga melihat Ratih tersenyum setiap kali kainnya menegang dan para tamu memandang terlalu lama. Aku menahan diri karena Ibu memperingatkanku dengan tatapan, dan karena Sekar sendiri menggeleng kecil.
Namun aku tidak bisa menelan kalimat terakhir itu.
Aku bangkit. Kaki kursi bergesek dengan lantai hingga semua kepala menoleh.
"Bu Marlina," kataku, "di rumah ini tak ada yang boleh direndahkan begitu."
Senyumnya membeku. "Aduh, Nara. Saya cuma bercanda."
"Candaan seharusnya membuat orang yang mendengarnya ikut tertawa."
Sekar masih berdiri dengan baki. Matanya tertunduk, tetapi aku bisa melihat warna merah menjalar sampai telinganya. Aku mengambil baki itu dari tangannya dan menaruhnya di meja.
"Ganti pakaianmu," kataku pelan. "Pakai yang membuatmu nyaman."
"Den, saya masih bertugas."
"Tugasmu bukan menerima penghinaan."
Ibu menarik napas. "Nara, tamu kita masih di sini."
"Justru karena ada tamu, batasnya harus jelas."
Ratih menyela dengan tawa pendek. "Kebaya itu aku pinjamkan supaya dia terlihat rapi. Kenapa semua niat baik selalu dibuat seolah jahat?"
"Kalau kau benar-benar berniat baik, kau akan memberinya pakaian yang sesuai ukuran."
Wajah Ratih berubah. Sekar mengangkat kepala, terkejut aku mengetahui itu. Aku tidak perlu menyentuh kain tersebut untuk melihat jahitan yang nyaris tertarik lepas.
Ibu berdiri. "Cukup. Sekar, kembali ke belakang."
Sekar menatapku sekali. Tatapan itu berisi terima kasih sekaligus permintaan agar aku berhenti sebelum keadaan semakin buruk. Dia membungkuk sopan kepada tamu, lalu berjalan ke arah dapur tanpa berlari.
Saat melewatiku, jahitan di sisi kebayanya mengeluarkan bunyi kecil. Dia spontan menutup bagian itu dengan telapak tangan. Kemarahanku melonjak lagi. Ini bukan sekadar pakaian bekas yang kebetulan salah ukuran. Ratih sudah menghitung rasa malu itu sejak awal, dari cara Sekar harus berjalan sampai cara dia terpaksa melindungi tubuhnya di depan orang asing.
Aku ingin mengikutinya. Sebaliknya, aku tetap berdiri menghadapi masalah yang membuatnya harus pergi.
Bu Marlina membenahi kerudungnya. "Saya minta maaf kalau ucapan saya menyinggung. Saya tidak tahu Nara begitu dekat dengan pekerja rumah."
"Saya akan mengatakan hal yang sama untuk siapa pun."
Itu benar, tetapi tidak seluruhnya. Aku akan membela pekerja lain. Hanya Sekar yang bisa membuat dadaku terasa diperas ketika jari-jarinya memutih menahan tangis.
Putri Bu Marlina menunduk, malu karena ibunya ditegur. Dia tidak melakukan kesalahan selain dibawa ke pertemuan yang tidak kuminta. Aku menahan nada agar kemarahanku tidak jatuh kepadanya.
"Maaf kalau acara hari ini membuat Anda tidak nyaman," kataku kepadanya. "Saya tidak diberi tahu tujuan pertemuan ini."
Ibu langsung menatapku. "Ini silaturahmi."
"Kalau begitu, saya boleh kembali bekerja."
"Duduk dulu," kata Bu Marlina cepat. "Jangan karena salah bicara, perkenalan yang baik jadi rusak. Putri saya juga sering membantu yayasan keluarga. Kalian pasti punya banyak topik."
Putrinya mengangkat wajah, lalu tersenyum kaku. "Tidak apa-apa, Ma. Mas Nara mungkin sibuk."
Dia memahami penolakan lebih cepat daripada ibunya. Aku menghargai itu.
"Saya memang sibuk," jawabku. "Dan saya tidak ingin ada salah harap."
Bu Marlina tertawa lagi, kali ini terdengar dipaksa. "Namanya kenalan dulu. Siapa tahu nanti tertarik. Lelaki kadang perlu didorong sedikit."
Aku memikirkan Sekar di dapur, mungkin sedang berusaha membuka kancing kebaya dengan tangan gemetar. Aku memikirkan Ibu yang mengubah penolakanku menjadi kunjungan mendadak, Ratih yang memakai tubuh Sekar sebagai alat perbandingan, dan seorang perempuan asing yang dipaksa duduk menunggu penilaianku.
Kejengkelan beberapa hari terakhir naik sekaligus.
"Bu," kataku, "saya rasa saya memang tidak tertarik pada urusan begini. Titik."
Ruangan itu mati.
Putri Bu Marlina memerah sampai ke leher. Aku langsung menyadari kalimatku terdengar lebih luas daripada yang kumaksud. Aku hendak mengatakan aku tidak tertarik pada perjodohan, bukan bahwa aku menolak semua perempuan. Namun memperbaikinya sekarang akan membuat perempuan di depanku merasa sedang dinilai sebagai pengecualian yang gagal.
Bu Marlina menatap Ibu, lalu aku. "Tidak tertarik bagaimana?"
"Saya tidak ingin dipertemukan dengan siapa pun tanpa persetujuan saya. Putri Ibu pantas datang ke rumah orang yang memang berniat mengenalnya."
Putrinya menggenggam tas. "Saya setuju, Ma. Kita pulang saja."
Setidaknya satu orang di ruangan ini berani menyelamatkan martabatnya sendiri.
Ibu mencoba menahan. "Kuenya belum disentuh. Jangan salah paham. Nara hanya sedang banyak pekerjaan."
"Lain kali saja," kata Bu Marlina. Keramahannya sudah hilang. "Kami juga ada urusan."
Ratih mengambilkan tas mereka sambil berkali-kali meminta maaf. Aku berdiri di dekat pintu dan mengucapkan salam perpisahan dengan sopan. Putri Bu Marlina menatapku sebentar.
"Lain kali, bilang sejak awal kalau Mas tidak bersedia," katanya lirih.
"Anda benar. Saya minta maaf."
Dia mengangguk, lalu mengikuti ibunya keluar.
Setelah pintu tertutup, Ratih berbalik kepadaku.
"Kau mempermalukan Ibu di depan temannya hanya demi Sekar."
"Yang mempermalukan Ibu adalah acara yang disembunyikan dan tamu yang menghina orang di rumah ini."
"Kau terlalu membelanya. Orang bisa berpikir macam-macam."
"Orang seperti kau akan berpikir macam-macam apa pun yang saya lakukan."
Wajahnya pucat. Dia hendak menjawab, tetapi Ibu mengangkat tangan.
"Pergilah, Ratih."
"Bu, saya cuma..."
"Pergi."
Ratih menatapku penuh kebencian sebelum menaiki tangga.
Aku melangkah menuju dapur, tetapi suara Ibu menghentikanku.
"Nara."
Aku menoleh.
Ibu berdiri sendirian di antara cangkir teh yang belum habis dan kue yang tidak disentuh. Wajahnya tidak hanya marah. Ada ketakutan yang aneh, seperti seseorang yang baru menemukan jawaban buruk dari pertanyaan yang tidak pernah berani diajukan.
"Apa maksudmu tidak tertarik?" tanyanya.
"Pada perjodohan."
"Kau bilang pada urusan begini. Kau menolak semua perempuan yang kami kenalkan. Sejak dulu tidak pernah membawa siapa pun pulang."
Baru saat itu aku memahami jalur pikirannya.
"Ibu salah paham."
"Lalu jelaskan."
Aku membuka mulut, tetapi bayangan Sekar muncul lebih dulu. Aku tidak bisa memakai namanya untuk membuktikan sesuatu tanpa izinnya. Aku juga tidak bisa menjelaskan perasaan yang bahkan belum berani kuucapkan kepadanya.
Diamku membuat kerutan di antara alis Ibu semakin dalam.
Di dapur, kudengar pintu kamar Sekar tertutup pelan, mengingatkanku bahwa pembelaan terlambat tetap meninggalkan luka yang harus diperbaiki dengan tindakan nyata.
Aku meninggalkan ruangan dengan kegelisahan yang mengikuti sampai ke koridor. Di belakangku, Ibu tetap berdiri di tengah ruang tamu yang kosong, memandang pintu seolah satu kalimatku baru saja membuka masalah yang jauh lebih besar.