NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Nama dari Masa Lalu

Sejak pindah ke kesatrian, Anindya sudah tiga kali menemukan keranjang buah, bunga meja, atau kotak kue di klinik. Semuanya datang melalui Ratna, dan semuanya disertai kalimat yang sama.

"Pak Bram suka yang sederhana."

Pagi itu aku sedang menunggu krim ruam Nala ketika Ratna mengatakannya lagi.

"Dokter juga sibuk, Pak Bram juga sibuk. Cocok sekali. Nanti saya atur makan malam kecil."

Anindya menutup lemari obat. "Bu Ratna, saya sudah bilang saya tidak mencari pasangan lewat jadwal buatan orang."

"Cuma mempertemukan teman lama."

"Saya dan Bram tidak pernah punya hubungan seperti yang Ibu bayangkan."

"Belum, mungkin."

"Tidak akan."

Jawaban itu begitu datar hingga bahkan perawat di meja depan berhenti menyusun kartu pasien. Ratna tertawa kering.

"Dokter jangan terlalu cepat menutup kemungkinan. Seorang duda dengan jabatan baik tidak datang dua kali."

"Seorang perempuan juga bukan hadiah yang dikirim ke rumah duda." Anindya menunjuk pintu dengan tatapan tenang. "Kalau Ibu tidak punya keluhan kesehatan, saya masih ada pasien."

Ratna melihatku sebelum pergi. "Ada orang yang dapat tempat tanpa pendidikan, ada yang malah menolak kesempatan. Dunia memang aneh."

Aku tersenyum. "Mungkin karena perempuan bisa memilih."

Pintu tertutup lebih keras dari seharusnya.

Anindya menyerahkan krim kepadaku. "Oles tipis setelah kulit bersih dan kering. Kalau tiga hari tidak membaik, bawa Nala lagi."

"Terima kasih."

Aku hendak pergi, tetapi ia memanggilku.

"Laras, tentang kemarin."

Tanganku berhenti di gagang pintu.

"Ratih teman seangkatanku," katanya. "Kami belajar bersama, tinggal di asrama yang sama selama beberapa semester. Dia meninggal. Itu bagian yang boleh kukatakan tanpa mengambil hak orang lain untuk menjelaskan."

"Hak Bram?"

Anindya tidak menjawab langsung. "Hak semua orang yang terlibat."

"Saya membesarkan Sena. Kalau masa lalunya bisa menyakitinya, bukankah saya juga terlibat?"

Wajahnya melembut. "Iya. Dan karena itu kamu pantas mendapat penjelasan yang utuh, bukan potongan dari lorong klinik."

"Kapan?"

"Tanyakan kepada Bram lagi. Kalau dia masih diam, aku yang akan bicara kepadanya."

Itu bukan jawaban, tetapi setidaknya bukan pintu tertutup.

***

Di dapur, Darman sudah menyiapkan simulasi lomba. Aturannya ditempel pada dinding: sembilan puluh menit, satu protein utama hasil undian, satu sayuran pendamping, tiga hidangan, kebersihan meja dan pemanfaatan bahan ikut dinilai.

"Kali ini jangan berharap ayam," katanya. "Ambil."

Aku memasukkan tangan ke mangkuk berisi gulungan kertas. Hasilnya ikan nila dan lobak putih.

Tuti mengerang. "Lobak sama ikan? Bau ketemu bau."

"Itu gunanya latihan," jawabku.

Aku menyalakan pengatur waktu. Ikan dibersihkan, sisik dan insang dibuang, daging dipisahkan dari tulang. Potongan terbaik kubumbui untuk digoreng. Kepala dan tulang masuk panci bersama jahe bakar. Lobak kubagi tiga: irisan tipis untuk acar cepat, batang korek api untuk tumisan, dan potongan kecil untuk kuah.

Pada menit kedua puluh, Darman sengaja menyembunyikan satu sendok sayur.

"Di lomba nanti alat bisa kurang."

"Kalau alat hilang karena sabotase, saya pakai sendok milik juri."

"Jangan. Kamu bisa didiskualifikasi sebelum masak matang."

Aku menggunakan cangkir logam sebagai gantinya. Sari mencatat waktu setiap tahapan. Tuti bertugas mengganggu dengan pertanyaan, suara panci, dan permintaan palsu, agar konsentrasiku terbiasa dipecah.

"Tiga puluh menit! Nala nangis! Sena makan kertas! Ratna datang bawa satu kompleks!"

"Kalau Ratna masuk panci, waktunya malah cukup," kataku.

Dapur meledak oleh tawa.

Namun pada simulasi pertama, kuah keruh dan lobak terlalu pahit. Aku mencatat kesalahan. Air rebusan awal harus dibuang, garam masuk lebih lambat, dan tulang perlu dipanggang sebentar agar aromanya dalam tanpa amis.

Simulasi kedua lebih baik. Ikan matang tetapi tidak kering. Tumisan lobak tetap renyah. Kuah berwarna pucat seperti susu meski tanpa santan.

Darman mencicipi dengan mata tertutup. "Ini bisa menang kalau tanganmu nggak gemetar di depan juri."

"Tangan saya gemetar waktu anak demam. Bukan waktu pegang pisau."

"Bagus. Besok latihan penyajian."

Saat aku membersihkan meja, Hendra datang membawa hasil akhir izin tinggal Nala. Tiga bulan disetujui, dengan evaluasi hunian dan kesehatan bulanan. Aku menandatangani penerimaan dan menyimpan salinannya dalam map.

"Komandan minta dipastikan tidak ada klausul yang membuat izin otomatis batal kalau kamu ikut kegiatan luar kesatrian," kata Hendra. "Lomba termasuk tugas dapur."

Sekali lagi Bram menutup lubang sebelum aku melihatnya.

Di ambang pintu, Ratna muncul seperti dipanggil oleh namanya sendiri. Pandangannya jatuh pada stempel di formulir.

"Jadi anak itu benar-benar tinggal di sini tiga bulan?"

Hendra menutup map. "Data keluarga penghuni bukan bahan percakapan umum, Bu."

"Saya bertanggung jawab pada ketertiban Persit. Kalau jumlah penghuni bertambah, saya perlu tahu. Apalagi kendaraan kesatuan sudah dua kali dipakai ke desa yang sama."

"Dua perjalanan itu punya nomor tugas, tujuan medis dan pendampingan keluarga gugur, serta persetujuan lengkap," jawab Hendra. "Kalau Ibu ingin audit, ajukan tertulis."

Ratna menoleh kepadaku. "Banyak sekali aturan yang mendadak lentur untukmu."

"Aturannya tidak lentur," kataku. "Berkasnya yang lengkap."

Ia pergi tanpa pamit. Dari jendela dapur, aku melihatnya berhenti di dekat mobil Sukandar dan menyerahkan secarik catatan melalui kaca yang terbuka. Kendaraan itu kemudian melaju menuju kantor staf.

Sari ikut melihat. "Dia masih mengumpulkan perjalanan kendaraan dan urusan Nala."

"Biarkan. Kali ini kita juga punya salinan."

Aku memasukkan izin tinggal ke map tahan air. Di halaman pertama kutulis tanggal, nama petugas pemeriksa, dan nomor kontak klinik. Bram benar. Perlindungan terbaik bukan berharap Ratna berhenti menyerang, melainkan memastikan setiap serangan bertemu bukti.

Sore itu kami menjalankan simulasi ketiga. Aku membawa dua bumbu dasar racikanku sendiri, satu pasta bawang dan kemiri panggang, satu campuran fermentasi ringan untuk memberi kedalaman rasa tanpa menutupi kesegaran ikan. Darman menyegel wadah dan mencatat bahan, supaya pada hari lomba tak seorang pun dapat menyebutnya bumbu misterius atau bantuan dari luar.

"Kalau juri tanya, jelaskan prosesnya," pesannya.

"Dan kalau peserta lain mengejek?"

"Biarkan lidah mereka sibuk. Lidah juri yang menentukan nilai."

Malam hari, Anindya datang ke kamar untuk memeriksa ruam Nala. Kemerahannya sudah berkurang. Ia menunjukkan cara membiarkan kulit terkena udara dan menyarankan matahari pagi singkat, tidak saat panas terik.

Sena merangkak mendekati Nala, lalu meletakkan botol kosong di atas perutnya. Nala menendang botol itu. Keduanya tertawa dengan suara bayi yang belum berbentuk kata.

Anindya memandangi mereka lama.

"Mereka sudah seperti saudara," katanya.

"Mereka memang saudara sesusuan."

Ia mengangguk, seolah kalimat itu memiliki arti lain baginya.

Sebelum pulang, ia merapikan tas obat dan menyentuh lenganku.

"Semangat ya lombanya, Laras. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa cuma orang yang kebetulan mengasuh anak ini."

Aku berdiri di pintu setelah ia pergi. Ia berbicara tentang lomba, tetapi tatapannya tertinggal pada Sena.

Rasanya Anindya sedang memberiku keberanian untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada meja juri.

1
Nur Syamsi
Laras kau hrs hati hati Krn Sukandar mencari cela untuk pak Bram ...
Nur Syamsi
Ternyata mbak Laras jago masak ya,
Heriyani Lawi
makin seru, lanjut thor 🙏
CV. RK TUNGGAL
ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!