NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan malam di rumah Levin

Pagi itu, aroma roti panggang dan teh hangat memenuhi ruang makan keluarga Ali. Seperti biasa, mereka duduk bersama, menikmati sarapan sambil bercakap-cakap ringan. Suasana penuh kehangatan, sesekali terdengar tawa kecil di antara obrolan.

“Pi,” ucap Mami sambil meletakkan cangkirnya, “kemarin Wina telepon. Dia mengundang kita besok malam ke rumahnya. Katanya, mereka ingin membicarakan soal pertunangan Jingga dengan Levin.”

Ali mengangguk sambil menyeka mulutnya dengan serbet. “Oke, besok malam kita pergi ke rumah Levin.” ia menoleh ke anak sulungnya, “jangan lupa ajak Egha ya. Biar dia ikut dalam pertemuan itu.”

“Siap, Pi. Nanti aku kabarin Mas Egha buat luangin waktu,” jawab Mozza cepat.

Grey yang dari tadi sibuk dengan sarapannya mendongak. “Mih, besok aku ada jadwal operasi. Mungkin aku bakal nyusul.”

Mami tersenyum lembut. “Iya, sayang. Nggak papa, kerjaan kamu kan juga penting.”

Ali lalu mengalihkan pandangan pada putrinya yang sejak tadi lebih banyak diam. “Ji, gimana perkembangan hubungan kamu sama Levin? Dia baik kan sama kamu?”

Jingga tersentak kecil, lalu tersenyum pelan. “Sejauh ini baik, Pi. Aku... sedang berusaha membuka hati buat dia. Aku juga yakin pilihan Mami sama Papi pasti yang terbaik buat aku.”

Mami menatap lembut, sementara Ali menepuk tangan putrinya. “Pasti, sayang. Kamu jangan ragu. Jauh sebelum kita mengiyakan tawaran Thama dan Wina, Papi sama Mami sudah lama memantau siapa Levin itu, gimana sikapnya, gimana keluarganya. Dan ketika kami yakin dia orang yang tepat, baru kami bicarakan ini sama kamu.”

Jingga mengangguk perlahan. Meski hatinya masih bergejolak, ada sedikit rasa tenang mendengar keyakinan orang tuanya.

---

Malam itu, kediaman keluarga Artama tampak lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu taman menyala lembut, menyambut kedatangan keluarga Ali yang baru saja memasuki halaman dengan mobil hitam elegan. Aroma masakan khas chef pribadi keluarga Artama tercium samar dari dalam rumah, menambah hangat suasana.

Thama dan Wina berdiri di depan pintu, menyambut dengan senyum penuh keramahan.

“Selamat datang, Ali, Rika… senang sekali kalian bisa hadir malam ini,” ucap Thama sambil menyalami mereka satu per satu.

“Terima kasih sudah mengundang kami. Maaf kalau sedikit terlambat,” jawab Ali dengan nada hangat.

Jingga melangkah perlahan di belakang orang tuanya, tampak cantik dalam balutan dress sederhana berwarna pastel. Jantungnya berdetak cepat ketika matanya secara tak sengaja menangkap sosok Levin yang berdiri di dekat tangga, menatapnya lurus dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

Levin mengenakan kemeja hitam dengan jas yang disampirkan santai di bahu. Senyumnya tipis, namun tatapan matanya… penuh arti.

“Selamat datang,” ucap Levin pelan begitu Jingga semakin dekat. Dia menunduk sedikit, memberi isyarat sopan, lalu menoleh sebentar pada Ali dan Rika.

“Senang sekali akhirnya bisa berkumpul seperti ini.”

Suasana ruang tamu terasa hangat sekaligus menegangkan. Obrolan orang tua terdengar penuh canda tawa, membicarakan masa lalu, bisnis, hingga rencana besar di depan. Namun, di sisi lain, tatapan Levin dan Jingga saling bertemu beberapa kali, menimbulkan ketegangan tersendiri.

Sampai akhirnya, Wina membuka percakapan yang ditunggu-tunggu.

“Ali, Rika… seperti yang sudah pernah kita bicarakan, malam ini kami ingin secara resmi membicarakan tentang pertunangan Levin dengan Jingga.”

Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada pasangan yang menjadi pusat perhatian.

Levin yang sejak tadi hanya tersenyum tipis, kini maju satu langkah. Ia menatap Jingga dalam-dalam, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

“Aku tahu mungkin ini terasa cepat untukmu, Ji.” suaranya dalam, tenang, tapi menyiratkan ketegasan.

“Tapi aku ingin kamu tahu satu hal… aku tidak main-main. Aku ingin menjadikanmu bagian dari hidupku. Bukan karena orang tua kita, tapi karena aku sendiri yang menginginkannya.”

Deg.

Kata-kata itu sukses membuat Jingga terdiam. Pipinya memanas, jemarinya saling menggenggam gelisah di pangkuan.

Ali melirik putrinya dengan lembut.

“Bagaimana, sayang? Kamu sudah cukup mengenal Levin, kan? Apa kamu siap melangkah lebih jauh?”

Semua tatapan kembali tertuju pada Jingga. Jantungnya serasa ingin meloncat keluar.

Levin tidak melepaskan pandangan darinya, menunggu jawaban dengan senyum samar penuh keyakinan, sekaligus tatapan tajam yang seolah berkata: aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.

Suasana ruang tamu terasa begitu tegang. Semua menunggu jawaban Jingga, sementara Levin berdiri tegap di hadapannya.

Jingga menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang terasa begitu kencang. Matanya sempat melirik ke arah mami dan papinya, lalu kembali bertemu dengan sorot tajam Levin yang penuh keyakinan.

Perlahan, bibirnya terbuka.

“Aku… siap, Pi… Mi.” suara Jingga terdengar pelan namun jelas.

“Aku setuju dengan pertunangan ini.”

Wina langsung tersenyum lega, sementara Rika tampak menahan haru. Ali mengangguk puas, lalu menepuk lembut bahu putrinya.

“Terima kasih, sayang. Itu keputusan yang bijak.”

Levin tak bisa menyembunyikan senyum tipisnya. Untuk sesaat, ia menatap Jingga seolah ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar mengucapkannya, bukan sekadar karena tekanan orang tua. Setelah itu, ia maju perlahan, menunduk sedikit, lalu menyodorkan tangannya.

“Mulai malam ini, aku janji akan menjagamu, Jingga.” ucapnya dalam nada tegas.

Dengan ragu, Jingga menyambut uluran tangannya. Hanya sebentar, tapi genggaman itu terasa penuh arti. Ada sesuatu yang bergetar di dada Jingga, antara takut, ragu, tapi juga sedikit hangat yang tak bisa ia jelaskan.

Para orang tua pun melanjutkan pembicaraan dengan penuh semangat, mendiskusikan tanggal dan rencana ke depan. Tawa-tawa kembali terdengar, mencairkan suasana.

Namun, di dalam hati Jingga, ia tahu keputusannya malam ini adalah awal dari perjalanan panjang bersama Levin. Dan pria itu, dari tatapan matanya, jelas tidak akan pernah membiarkannya mundur lagi.

Levin sempat mendekatkan wajahnya ke arah Jingga, berbisik singkat namun menusuk ke telinganya.

“Good girl… akhirnya kamu mengakuinya juga.”

Jingga membeku, pipinya memanas. Tapi kali ini, ia hanya bisa menunduk, menahan gejolak dalam dadanya yang makin sulit ia sembunyikan.

Setelah perdebatan panjang kedua belah pihak, akhirnya para orang tua mencapai kesepakatan. Tunangan Levin dan Jingga akan dilaksanakan minggu depan. Suasana yang sebelumnya tegang perlahan berubah menjadi harapan dan antisipasi, menyisakan senyum tipis di wajah masing-masing orang tua.

setelah obrolan keluarga perlahan mereda, Jingga keluar ke balkon rumah Levin. Angin malam yang lembut menyapu rambutnya, membawa aroma bunga dari taman. Ia butuh udara segar untuk menenangkan pikirannya setelah keputusan besar yang baru saja ia ambil.

Namun, baru sebentar menikmati langit malam, pintu balkon berderit terbuka. Levin muncul dengan kemeja santainya yang sudah sedikit digulung di lengan. Tatapannya langsung tertuju pada Jingga yang sedang bersandar di pagar balkon.

“Sendiri aja di sini?” suara baritonnya terdengar dalam, membuat Jingga refleks menoleh.

“Aku cuma… butuh udara,” jawab Jingga lirih, menatap kembali ke arah bintang.

Levin mendekat perlahan, lalu berdiri di sampingnya. Tanpa diminta, ia melepas jas yang dikenakan dan menyampirkannya ke bahu Jingga.

“Nanti masuk angin. Aku nggak mau calon istriku sakit sebelum pertunangan resmi kita.”

Jingga menoleh cepat, menatap wajah Levin yang begitu dekat. Pipinya memanas.

“Kamu ini suka banget bikin aku salah tingkah,” gumamnya.

Levin terkekeh pelan, lalu mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa inci. Tangannya terangkat, menyelipkan helaian rambut Jingga yang tertiup angin ke belakang telinganya.

“Aku cuma pengen kamu terbiasa, Ji. Terbiasa dengan kehadiranku… terbiasa kalau suatu hari nanti, setiap bangun tidur, orang pertama yang kamu lihat adalah aku.”

Jingga terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya dalam cara yang tak ia duga.

Levin lalu menautkan jemarinya dengan jemari Jingga, menggenggamnya erat.

“Kamu nggak perlu takut. Mulai sekarang, apapun yang terjadi… aku akan selalu ada di sampingmu.”

Bibir Jingga sedikit bergetar. Ia ingin membantah, ingin melawan keangkuhan pria ini. Tapi entah kenapa, kehangatan genggaman tangannya membuat semua protes itu lenyap.

Dan saat matanya kembali bertemu dengan tatapan Levin yang intens, dunia seakan berhenti sesaat.

Levin tersenyum tipis, lalu dengan hati-hati menunduk, memberi kecupan singkat di kening Jingga.

“Good night, calon istri.” bisiknya.

Jingga menutup mata sejenak, merasakan degupan jantungnya yang tak terkendali. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan… hatinya mulai goyah.

----

Di ruang tamu Mozza, Grey, dan Egha sudah duduk santai di sofa panjang. Meja di depan mereka penuh dengan kue-kue kecil dan teh hangat yang disiapkan Wina. Obrolan mereka ringan tapi penuh tawa.

“Grey,” Mozza menatap adiknya sambil melipat tangan, “Ge kaka yakin pasien cewek banyak yang datang bukan karena sakit, tapi karena pengen ketemu kamu aja .”

Grey mendengus, pura-pura tak peduli. “Itu imajinasi lo kak. Gue sibuk banget, mana sempet mikirin yang gituan.”

Egha langsung menimpali. “Ah, jangan sok cool. Aku aja sering lihat chat masuk dari pasien yang gaya chat-nya bukan kayak orang sakit. Lebih kayak kode.”

Obrolan mereka terhenti sejenak ketika pintu balkon terbuka. Levin dan Jingga masuk, masih terlihat aura ‘habis ngobrol serius’ di wajah mereka. Tapi Levin dengan santainya merangkul bahu Jingga, membuat wajah gadis itu langsung memerah.

“Eh, akhirnya turun gunung juga,” celetuk Mozza sambil mengedip nakal.

“Apa jangan-jangan kalian lagi quality time di luar sana?” tambah Egha menggoda.

Jingga buru-buru melepaskan tangan Levin dari bahunya, wajahnya semakin panas. “Kalian tuh… ada-ada aja.”

Levin malah terkekeh, duduk santai di samping Jingga. “Kenapa? Memangnya salah kalau aku habiskan waktu sama calon istriku?” ucapnya tenang tapi tajam, membuat Grey hanya geleng-geleng kepala.

Mozza menahan tawa, lalu bersuara dengan nada sok serius. “Duh, gawat banget sih ini. Baru mau tunangan aja udah romantisnya kayak gitu. Nanti kalau udah nikah, bisa-bisa kita semua ditinggal nggak pernah diajak kumpul lagi.”

“Bisa jadi,” Egha ikut menimpali, “Levin ini tipenya posesif. Kayaknya kalau udah nikah, Jingga bakal dikurung di rumah pakai CCTV.”

Jingga melotot kecil, “Mas Egha!” serunya kesal.

Tapi Levin malah menoleh tenang, ekspresinya setengah serius. “Hmm… ide yang bagus juga tuh.”

Sontak seluruh ruangan pecah dengan tawa. Jingga makin menunduk, malu bercampur gemas.

“Ya ampun, Vin,” kata Grey sambil menepuk dahi. “Kasian kaka gue kalau beneran lo gituin. Ingat, pernikahan itu bukan penjara.”

Levin hanya tersenyum tipis, lalu melirik sekilas ke arah Jingga. “Aku nggak berniat memenjarakan. Aku cuma ingin memastikan dia bahagia… di sisiku.”

Serentak tawa pun pecah lagi . Obrolan pun berlanjut, kali ini lebih hangat, penuh canda gurau, seolah-olah semua sedang membiasakan diri dengan perubahan besar yang akan segera datang di hidup mereka.

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!