Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sasa menurunkan kacamata hitamnya perlahan menatap barang dagangan Raka dengan mata menyipit.
Nafas wanita itu tampak tertahan sejenak saat matanya tertuju pada tiga batang akar berdebu itu.
"Ini..." gumam Sasa dengan suara pelan yang terdengar bergetar.
Tanpa mempedulikan kotornya trotoar pasar, wanita berpenampilan elite itu berjongkok di depan Raka.
Pria buncit dan para pedagang lain terbelalak kaget melihat bos perusahaan besar itu berjongkok di depan gembel.
"Nona Sasa! Jangan pegang barang rongsokan itu, nanti tangan Anda kotor!" teriak pria buncit itu panik.
"Diam kau, Ko Ahong," desis Sasa tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari kardus Raka.
Sasa membuka tas tangannya yang mahal dan mengeluarkan selembar sapu tangan sutra putih.
Dengan gerakan sangat hati-hati ia mengangkat satu batang ginseng itu menggunakan sapu tangannya.
Raka hanya diam mematung menatap wajah cantik wanita itu dari jarak dekat.
"Cincin urat di bagian kepala ini sangat rapat dan berlapis-lapis," monolog Sasa seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Ia memutar ginseng itu dan meraba tekstur kulitnya yang keriput perlahan.
"Tekstur kulitnya bersisik seperti kulit naga purba, dan aroma tanahnya sangat khas."
Sasa menelan ludah lalu menatap dua batang ginseng lainnya di atas kardus.
"Tiga batang Ginseng Liar Berdarah Murni, dan dilihat dari cincin uratnya ini berumur lebih dari seribu tahun."
Mendengar ucapan Sasa, pria buncit bernama Ahong itu tertawa canggung.
"Nona Sasa pasti bercanda, mana ada ginseng umur seribu tahun di lapak gembel seperti itu?" sanggah Ahong.
Sasa menoleh menatap Ahong dengan tatapan sedingin es yang membuat pria itu langsung diam.
"Matamu yang buta, Ahong. Ginseng berumur seratus tahun saja sudah langka, apalagi yang seribu tahun kondisinya sesempurna ini."
Sasa kembali menatap kardus Raka dan kali ini fokusnya beralih pada gumpalan hitam di sebelahnya.
Tangannya yang gemetar meraih salah satu jamur hitam itu lalu mengikis sedikit permukaannya dengan kuku.
Guratan putih yang membentuk pola rumit seperti marmer langsung terlihat dari dalam jamur itu.
"Dan ini... Tuhan, ini benar-benar Jamur White Truffle kualitas tertinggi yang pernah kulihat."
Sasa menatap Raka dengan mata cokelatnya yang menyiratkan keterkejutan luar biasa.
"Jamur jenis ini hanya tumbuh di Eropa pada musim tertentu dan sangat sulit dicari meski dengan anjing pelacak."
Raka hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasan wanita itu karena ia tidak paham sama sekali.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan, barang ini laku berapa ribu rupiah?
"Siapa namamu?" tanya Sasa tiba-tiba dengan suara tegas namun mengalun merdu.
"Ra-Raka," jawab Raka karena masih gugup.
"Aku Sasa, direktur utama Grup Farmasi Bintang," balas wanita itu cepat tanpa basa-basi.
Sasa menatap tepat ke dalam mata Raka seolah ingin mengintip rahasia di balik kepala pemuda kumal itu.
"Katakan padaku, Raka, dari kuburan kaisar mana kau mencuri barang-barang pusaka ini?"
"Saya tidak mencuri, Nona Sasa, barang ini milik saya sendiri," jawab Raka berusaha terdengar tenang.
"Aku tidak peduli dari mana kau mendapatkannya asalkan ini bukan barang selundupan berdarah," ucap Sasa dingin.
Wanita itu merogoh ponsel dari dalam tasnya dan mengetik sesuatu dengan gerakan jari yang sangat cepat.
"Kau butuh uang cepat kan, Raka?" tanya Sasa tanpa menatap Raka.
"Tentu saja saya butuh uang, perut saya sudah lapar dari kemarin," jawab Raka jujur.
Sasa mengangkat wajahnya menatap Raka dengan senyum tipis yang terlihat misterius.
"Aku akan memberimu dua miliar rupiah tunai untuk semua yang ada di kardus ini sekarang juga."
Suasana pasar yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap seperti ada malaikat maut lewat.
Pria buncit bernama Ahong itu mundur beberapa langkah hingga menabrak pintu tokonya sendiri karena syok.
"D-dua miliar? Nona Sasa, Anda pasti sudah gila menawar sampah itu dua miliar!" teriak Ahong histeris.
"Tutup mulutmu Ahong, atau aku cabut semua pasokan herbal dari tokomu hari ini juga!" ancam Sasa tajam.
Ahong langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan wajahnya pucat pasi ketakutan.
Raka sendiri merasa otaknya berhenti berfungsi sejenak mendengar angka yang disebutkan Sasa.
"Dua miliar rupiah?" ucap Raka memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ya, dua miliar rupiah," tegas Sasa sambil berdiri dan merapikan blazernya.
"Angka itu sebenarnya masih terlalu murah untuk ginseng seribu tahun, tapi kau butuh uang cepat dan aku butuh barang ini."
Sasa memberi isyarat dengan tangannya dan seorang pria berbadan tegap berpakaian hitam keluar dari bangku kemudi mobil.
"Bawa barang-barang ini dengan sangat hati-hati ke dalam mobil, jangan sampai ada yang lecet," perintah Sasa pada bodyguardnya.
"Baik, Nona," jawab pria besar itu sigap membungkus barang Raka dengan kotak khusus dari bagasi.
"Tutup lapak kardusmu itu Raka, dan ikut aku ke bank sekarang untuk pencairan dana," ucap Sasa sambil memakai kacamata hitamnya kembali.
Raka buru-buru berdiri meski kakinya terasa lemas saking bahagianya.
Ia menatap pria buncit Ahong yang kini menatapnya dengan pandangan iri sekaligus menyesal.
"Permisi, Ko Ahong, gembel ini mau pergi mencairkan dua miliar dulu ya," ejek Raka tersenyum miring.
Ahong hanya bisa mendengus kesal dan masuk ke dalam tokonya menahan malu karena ditertawakan pedagang lain.
Raka berjalan mengekor di belakang Sasa menuju mobil sedan mewah yang pintunya sudah dibukakan oleh sang bodyguard.
Saat Raka hendak masuk ke kursi belakang, langkahnya terhenti sejenak.
Sebuah layar biru transparan tiba-tiba muncul berkedip di depan matanya.
[Misi Sampingan Tersembunyi Selesai: Transaksi Pertama di Dunia Fana]
[Hadiah Misi: Peningkatan kapasitas penyimpanan sistem menjadi 10 meter kubik]
Raka mengernyitkan dahi membaca tulisan di layar biru yang hanya bisa dilihat olehnya itu.
"Penyimpanan sistem? Maksudnya aku punya gudang gaib sekarang?" batin Raka penasaran.
"Ada apa Raka? Kenapa kau diam saja di situ?" tegur Sasa dari dalam mobil membuyarkan lamunan Raka.
"Ah, tidak apa-apa Nona, hanya belum terbiasa naik mobil mewah," kilah Raka cepat lalu masuk ke dalam mobil.
Pintu ditutup dengan suara halus dan mobil mewah itu pun melaju perlahan meninggalkan kawasan Glodok yang riuh.
Raka duduk bersandar di jok kulit yang empuk dan wangi menatap pemandangan jalanan ibu kota dari kaca jendela.
Perutnya masih lapar, tapi senyum di bibirnya tidak bisa luntur sama sekali.
Kemarin ia adalah gembel yang dipukuli preman karena mengais tong sampah.
Hari ini ia duduk di samping direktur cantik dan sebentar lagi akan menjadi miliarder.
Dunia ini memang sangat gila, tapi Raka menyukai kegilaan ini.