NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Sepasang

Foto kemenangan Nexera menyebar lebih cepat daripada yang Keira duga.

Dua minggu kemudian di Blue Bay City, tiga mahasiswi menghentikan Reynard hanya untuk meminta akun Instagram dan berfoto. Cowok itu melayani foto dengan sopan, tetapi menolak memberikan nomor WhatsApp.

Keira berdiri bersama Rendy, Anton, dan Cindy beberapa langkah jauhnya.

"Temanmu sekarang selebritas," komentar Keira.

Rendy menyenggol bahunya. "Cemburu, Ci?"

"Kenapa aku harus cemburu?"

"Karena dari tadi sedotannya hampir kamu gigit putus."

Keira melihat sedotan plastik yang sudah pipih, lalu buru-buru melepaskannya. Cindy tertawa kecil, tetapi tatapannya tetap mengikuti Reynard.

Saat cowok itu kembali, Keira menyerahkan kantong belanja tanpa basa-basi. "Bawa. Selebritas harus berguna."

"Siap, Ci Kei."

Reynard mengambil semua kantong, lalu berjalan di sisinya. Seorang penjaga toko pakaian menyapa dan menawarkan promo beli dua. Reynard berhenti di depan pajangan dua hoodie dengan desain sama, satu warna krem dan satu hitam.

"Cocok," katanya.

"Untuk siapa?"

"Kita. Biar kelihatan sepasang."

Keira tersedak minuman. Anton dan Rendy langsung bersiul.

"Jangan ngaco," protesnya.

"Sepasang kakak-adik juga sepasang."

Alasan itu jelas dibuat-buat, tetapi Reynard sudah menyerahkan hoodie krem kepada Keira dan mendorongnya pelan menuju ruang ganti. Lima menit kemudian, mereka keluar mengenakan model serupa.

Hoodie hitam membuat bahu Reynard terlihat semakin lebar. Warna krem melembutkan wajah Keira. Penjaga toko tersenyum puas.

"Cocok banget buat pasangan."

Rendy mengangkat ponsel dan menyuruh mereka berdiri berdampingan. Keira menolak, tetapi Anton sudah mengambil kantong dari tangannya agar ia tidak punya alasan bersembunyi.

"Satu foto saja buat grup," kata Anton.

Reynard berdiri dekat tanpa menyentuh. Jarak beberapa senti di antara lengan mereka justru terlihat lebih intim daripada pelukan. Ketika Rendy menghitung mundur, seorang anak kecil berlari melewati Keira dan membuatnya kehilangan keseimbangan.

Tangan Reynard menangkap pinggangnya.

Kamera mengambil gambar tepat saat Keira mendongak dan Reynard menunduk. Di layar, mereka tampak seperti pasangan yang lupa ada orang lain.

"Hapus," tuntut Keira.

"Terlambat. Sudah masuk grup," jawab Rendy.

Notifikasi berbunyi serempak. Cindy melihat foto itu lebih lama daripada yang lain, lalu mengunci layar. Keira menangkap perubahan kecil di wajahnya dan segera menjauh dari tangan Reynard.

Rasa bersalah muncul, disusul rasa kehilangan saat kehangatan di pinggangnya menghilang.

"Kami bukan pasangan," kata Keira cepat.

"Belum," gumam Rendy.

Keira menendang sepatunya. Reynard membayar kedua hoodie sebelum ia sempat menolak.

"Aku ganti uangnya."

"Hadiah karena datang mendukung final."

"Aku cuma duduk."

"Aku menang karena penyemangatnya datang."

Keira menatapnya. Reynard sudah berjalan membawa kantong, meninggalkan wajah Keira panas di depan semua orang.

***

Mereka makan siang di restoran hotpot. Reynard memilih kuah tanpa pedas untuk sisi tempat duduknya. Setiap kali mengambil makanan, ia memisahkan daun ketumbar dari mangkuk Keira dan memastikan tidak ada saus cabai tercampur ke piringnya sendiri.

"Kalian sudah seperti pasangan tua," kata Anton.

"Kami cuma tahu kebiasaan masing-masing," jawab Keira.

"Aku teman Rey sejak SMA, tapi nggak pernah tahu dia bisa masak," Rendy menyela. "Kamu tahu semua."

"Karena aku yang jadi korban eksperimen."

Reynard menaruh irisan daging matang di mangkuknya. "Korban yang selalu tambah nasi."

Tawa pecah di meja. Hanya Cindy yang tersenyum sedikit terlambat.

Ketika Rendy dan Anton pergi mengambil pencuci mulut, Cindy berdiri untuk mengambil minum. Reynard ikut bangkit karena Keira meminta tambahan tisu. Di dekat meja saus, Cindy memanggilnya.

"Rey, boleh bicara sebentar?"

Keira seharusnya tidak mendengar. Namun posisi mereka hanya beberapa meter, dan restoran sedang tidak terlalu ramai.

"Aku suka kamu sejak kelas sebelas," kata Cindy. "Aku nggak minta jawaban sekarang, tapi kupikir lebih baik bilang daripada terus menyesal."

Jari Keira berhenti di atas sendok.

Reynard tidak menoleh ke arahnya. "Terima kasih sudah jujur, Cin. Tapi aku nggak bisa menerima."

"Karena sudah ada orang lain?"

Ada jeda singkat.

"Iya."

Dada Keira berdenyut keras.

Cindy mengangguk. Matanya memerah, tetapi ia tetap tersenyum. "Aku sudah menduga. Jangan khawatir, aku nggak akan bikin keadaan aneh."

"Aku tetap menghargai kamu sebagai teman."

"Aku tahu. Kasih aku waktu sedikit buat nggak malu."

Reynard mengangguk. Mereka kembali ke meja dengan jarak wajar. Rendy, yang cepat membaca suasana, langsung mengalihkan topik ke film dan tidak membuat lelucon lagi.

Anton ikut membantu dengan sengaja menjatuhkan bakso ikan ke kuah pedas, lalu membuat pertunjukan berlebihan saat memakannya. Semua orang tertawa, termasuk Cindy. Ketegangan di meja perlahan surut.

Keira menuangkan teh untuk Cindy. Perempuan itu menerima dan menyentuh punggung tangannya singkat.

"Aku nggak apa-apa," bisiknya.

"Kalau mau pulang dulu, aku temani."

"Nggak perlu. Aku yang menyatakan, jadi aku juga harus siap jawabannya."

Keira mengangguk. Cindy tidak menjadi musuh hanya karena menyukai orang yang sama.

Pikirannya berhenti.

Orang yang sama?

Ia buru-buru minum teh. Cairan panas membuatnya terbatuk. Reynard langsung menyodorkan air dingin dan menepuk punggungnya.

"Pelan-pelan."

Keira menerima air tanpa berani menatap Cindy. Pikirannya sendiri baru mengakui sesuatu yang terus ia bantah.

Keira merasa lega melihat Cindy diperlakukan baik. Bersamaan dengan itu muncul rasa hangat yang memalukan karena Reynard mengatakan sudah ada orang lain.

Siapa?

Pertanyaan itu berputar, meski sebagian dirinya sudah mengetahui jawabannya.

***

Dalam perjalanan pulang, kantong hoodie berada di pangkuan Keira. Cindy memilih pulang bersama Rendy dan Anton agar arah kendaraan lebih praktis. Sebelum berpisah, ia memeluk Keira singkat dan bersikap seperti biasa, menutup kisahnya dengan kepala tegak.

Keira memandangi lampu kota dari jendela.

"Kamu dengar?" tanya Reynard.

"Dengar apa?"

"Cindy."

"Sedikit."

"Cici mau tanya sesuatu?"

Keira memegang kantong hoodie lebih erat. "Nggak. Itu urusanmu."

"Benar."

Jawaban tenang itu justru membuatnya kesal.

"Tapi kamu bisa saja mempertimbangkan. Cindy baik, cantik, teman lama."

"Aku sudah suka orang lain."

"Siapa?"

Pertanyaan itu lolos terlalu cepat. Reynard menoleh dengan senyum perlahan.

Keira buru-buru menambahkan, "Aku tanya sebagai orang yang dititipi kakakmu."

"Sebagai Cici?"

"Iya."

"Kalau begitu belum boleh tahu."

Keira mendengus dan kembali menatap jendela. Pantulan kaca memperlihatkan pipinya yang merah serta senyum Reynard yang seolah baru memenangkan sesuatu.

Ia meyakinkan diri bahwa rasa tidak nyaman itu hanya bentuk perhatian seorang kakak.

Namun kantong berisi dua hoodie pasangan tetap dipeluknya sampai mereka tiba di rumah.

Saat kendaraan berhenti, Reynard lebih dulu turun lalu membukakan pintu untuknya. Hoodie hitam sudah dipakai, seolah label pasangan dari toko tadi tidak mengganggunya sama sekali. Keira menyembunyikan wajah di balik kantong, tetapi sudut bibirnya tetap terangkat sepanjang perjalanan menuju lift, diam-diam bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!