Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Di kediaman mewah keluarga Raharja.
Pagi ini di area dapur nampak terdengar suara amarah dari Dion Raharja, sang pengacara kondang terkenal di Indonesia.
"Kamu sebenarnya bisa masak nggak sih?!" marahnya sambil menggebrak meja.
Brak!!!
Suara seorang pria yang mengenakan kemeja warna biru muda dan celana warna navy----nampak marah, membuat piring porselen dan sendok garpu bergetar.
"Wanita g*blok, nggak guna!!! Sia-sia saya menikah ama kamu!!" makinya.
Tangannya menunjuk seorang wanita yang memakai gaun warna magenta sampai selutut, dengan rambut gerai dengan kepala tertunduk.
"Ma-maaf Mas, hiks...ak-aku tadi kesiangan," ujar Raisa dengan bibir bergetar.
Wanita malang ini hanya bisa menunduk menerima makian dari suaminya, pria itu menikahinya dengan keterpaksaan karena perjodohan orangtua.
Kepalanya tertunduk, wajahnya pucat pasi saat suaminya memaki-makinya pagi ini----hanya karena satu kesalahan kecil yakni tidak membuat makanan sesuai keinginannya.
"Alasan Klasik!! Kamu 'kan tahu selera saya!! Menu makanan saya selama tujuh hari!!!" lanjut Dion dengan lima jari menunjuk ke atas meja makan.
Padahal sejak pagi, Raisa sudah menyiapkan segala kebutuhan Dion, menyetrika kemeja Dion sampai licin sebelum dikenakan berangkat ke kantor advokat.
Namun apa daya, Dion seperti tak menghargai apa yang sudah dilakukan istrinya sama sekali. Meski pria itu memang terlihat seperti pria mapan yang tak kekurangan apapun, termasuk istri yang baik.
"Kamu tuh udah tiga bulan jadi istri saya!" ucap Dion, kali ini dengan suara menggelegar.
Seolah memecah kesunyian pagi, tak lupa tangannya menunjuk kasar ke setiap piring-piring yang tersaji di atas meja makan.
Raisa hanya diam berdiri terpaku.
"Kamu itu buat saya muak! Jalankan menyentuh kamu, melihat kamu saja sudah membuat muak!" ungkap Dion tak puas memaki istrinya.
Yap, sebutan gadis memang sematan yang pas untuknya, karena hampir tiga bulan ini Dion belum pernah menyentuhnya.
"Mas...aku udah berusaha jadi istri kamu...hiks...kenapa sih kamu nggak pernah sekali pun hargain yang aku lakuin...," ucap Raisa dengan nada lirih di penuhi Isak tangis.
Mendengar itu semua Dion langsung berdecih, seolah pria itu tak bisa menghargai pernikahan yang menjadi sumpah suci yang di ucapkan di depan tuhan dan beberapa saksi.
"Hargain kamu bilang?!" Jeda. "Sejak awal saya udah nolak pernikahan ini, ehh kamu, orangtua saya dan orangtua kamu malah bersikeras!" ujar Dion menatap benci istrinya.
Entah karena apa, yang jelas bagi Dion pernikahan ini adalah sebuah bencana----dirinya harus menikahi gadis yang dibencinya.
"Mas, mendiang orangtua aku---" ucapan Raisa terhenti saat Dion memotongnya dengan cepat.
"Nggak usah alihin topik, saya pagi ini laper!! Maaf kamu dan air mata kamu! Nggak bisa bikin saya kenyang!" ujar Dion mengomeli istrinya.
Raisa masih menunduk dengan air mata yang sudah tumpah, kedua tangannya bertaut erat meremas ujung gaunnya.
"Kenapa sih, sehari aja kamu nggak bikin saya marah. Saya nggak butuh istri yang lambat kaya kamu untuk nerima perintah!!" tunjuk Dion dengan kasar di depan wajah istrinya.
Raisa hanya bisa menunduk---dirinya siap jika setiap pagi harus di marahi suaminya, karena memang pernikahan ini bukan keinginan Dion.
"Kamu udah tiga bulan jadi istri saya!!" ujar Dion sambil mengacungkan tiga jari di hadapan istrinya.
"Kenapa sih kesalahan begini ke ulang hampir tujuh kali!! saya butuh sayuran setiap hari Senin, Rabu, Sabtu, dan Minggu!! Salad atau capcay nggak masalah!! yang penting ada sayuran!!" lanjutnya, sambil menunjuk ke arah meja makan.
Raisa ingin menjawab, namun tak ada daya berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menatap suaminya.
"Mas...mama lagi sakit, aku nggak ada waktu untuk ke pasar...dan tukang sayur yang biasanya lewat nggak ada," tutur Raisa dengan suara lemah.
"Alasan lagi!!" gebrak marah Dion sambil memukul meja.
Brakk!!
Hal yang seketika membuat Raisa menjadi terkesiap, dan kaget. Tangannya mengelus dada, karena amarah sang suami.
"Saya hari ini ada sidang! kamu tahu 'kan sayuran saya butuhkan!!" ucapnya, dengan nada tinggi.
Dion yang jengkel langsung menarik rambut istrinya, kepala Raisa ke belakang.
"Ma--Mas, sak-sakit," keluh Raisa memegang tangan Dion yang menjambak rambutnya.
"Dasar istri g*blok! Memasak hal sepele saja tidak becus. Apa saja yang kamu lakukan seharian di rumah ini? Tidur? Dandan?" desisnya dengan nada tajam.
Raisa air matanya semakin kian deras, panas menyergap yang menggenang di pelupuk matanya.
"Dengar Raisa Adiratna...jika kesalahan ini ke ulang lagi sampai ke delapan kalinya, saya tak akan segan hukum kamu," bisiknya dengan tajam.
Dion terlihat tak peduli bagaimana Raisa sudah berjuang untuknya, bangun sejak pukul empat pagi---untuk memastikan kemejanya tak memiliki lipatan. Menyetrika kemeja, dan jasnya---lalu mengurus ibunya.
Raisa sendiri belajar memasak hanya demi sang suami, sampai tangannya terluka hanya demi menjadi istri idaman bagi Dion.
Namun, sepertinya hal itu sia-sia. Terlihat Dion sudah sangat membencinya, karena tragedi masa kecil mereka.
Sungguh Raisa, saat ini hanya ingin menjadi istri yang baik bagi Dion---namun Dion juga terpaksa menikahi Raisa karena keluarga Raisa sudah sangat berjasa bagi keluarganya.
"I-Iya Mas," sahut Raisa yang sudah kesakitan akan cengkraman rambut yang dari suaminya.
Dion melepaskan cengkraman rambutnya dengan kasar, membuat Raisa maju pelan.
"Jangan pakai alasan perhatian kalau dasarnya memang tidak kompeten. Saya tidak butuh istri yang hanya tahu cara menangis! Saya butuh pendamping yang cerdas di omong sekali cukup," ujarnya.
Raisa hanya bisa mengelus dada, berusaha sabar menghadapi tempramen suaminya. Dion mendengus sinis, sama sekali tak mau tersentuh oleh air mata istrinya.
"Dengar yaa, mama saya lagi sakit! Kalo nggak bisa jadi istri berguna seenggaknya bisa jadi menantu berguna!!" ujar Dion menunjuk-nunjuk istrinya dengan sangat kasar.
Dion merapikan jam tangan mahalnya dengan kasar, lalu menyambar tas kerjanya.
"Pagi-pagi, saya di buat nggak selera makan karena istri g*blok!!" hinanya.
Sang Pengacara melangkah pergi, tanpa mau menyentuh makanan buatan istrinya, suara pintu terdengar dari ruang tamu sampai dapur.
Brak!!
Suara gema meninggalkan kesunyian bagi Raisa, wanita malang yang harus jadi istri pria yang membencinya.
Raisa mengangkat kepalanya, matanya menatap piring-piring hasil masakannya yang terletak di atas meja.
Deg.
Hatinya terasa perih, karena suami yang di harapkan bisa menjaganya setelah kematian kedua orangtuanya.
Kini, malah menjadi neraka baginya. Semenjak menikah Raisa tak pernah diperlakukan selayaknya istri.
Pembantu, pelayan, atau budak---masih dianggap mulia bahkan manusiawi, Raisa malah statusnya di perlakukan lebih rendah daripada itu.
Tenaganya sudah berusaha segala cara untuk membuat pria itu mencintainya, namun yang di dapatkannya hanya makian dan tatapan hina dari Dion.
Raisa, menghapus air matanya tangannya menarik kursi makan lalu terduduk.
"Ya allah sampai kapan hamba harus terus bersabar menghadapi imam hamba," ucap Raisa.
"Papa...mama...kenapa kalian begitu cepat meninggalkan aku, dan kenapa kalian menjodohkan aku sama pria yang tak mencintaiku," ujar Raisa, matanya menatap langit-langit rumah mewah ini.
*
*
*
*