Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK FOKUS
Kereta kuda Aura sudah kembali kekediaman nya.
Begitu pintu utama kediaman terbuka, Duchess Clara dan Duke Daren yang sejak pagi cemas menunggu di ruang tamu langsung berdiri dan menghampiri Aura dengan langkah cepat.
"Aura! Kamu tidak apa-apa, Nak?!" tanya Duchess Clara panik, memegang kedua bahu Aura dan memeriksa tubuh putrinya dari atas sampai bawah.
"Apakah Kaisar bertindak lancang padamu? Dia tidak mengancam mu, kan?" ucap Duke Daren dengan wajah tegang dan raut mata memerah, siap mengamuk jika ada hal buruk yang terjadi.
Aura tersenyum manis, memegang tangan ibunya dengan lembut untuk menenangkan mereka berdua.
"Aku sama sekali tidak apa-apa, Ibu, Ayah. Lihat, aku kembali dalam keadaan utuh tanpa kurang satu apa pun," jawab Aura tenang.
Duke Daren mendengus kasar, lalu menuntun putrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Lalu, apa yang dikatakan pria dingin itu padamu, Aura? Kenapa dia harus memanggilmu secara pribadi ke kediaman nya?" cecar Duke Daren tidak sabaran.
Aura menyandarkan punggungnya santai di sofa, menyilangkan kakinya dengan anggun sembari memandangi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kaisar Zane menawarkan kesepakatan politik denganku," jawab Aura tanpa berbelit-belit.
"Kesepakatan politik? Maksudmu soal pemutusan pertunangan mu dengan Luis?" tanya Duchess Clara menahan napasnya kaget.
"Bukan cuma itu, Ibu," jawab Aura tersenyum miring.
"Posisi pangeran mahkota sekarang kosong, dan para menteri di istana pasti akan mulai liar kasak-kusuk mencari celah," lanjut Aura menjelaskan.
Tiba-tiba Aura teringat dengan permintaan gila Kaisar tadi.
"Lahirkan pewaris untuk ku, maka akan aku berikan kekuasaan dibawah kaki mu..."
Buru-buru Aura menyingkirkan pikiran nya, tidak ingin membuat orang tua nya tahu perihal pembahasan nya dengan Kaisar Zane di dalam kereta kuda Kaisar tadi.
"Kaisar butuh kesetiaan dari keluarga Luminar, dan sebagai gantinya, beliau menjamin perlindungan untuk keluarga kita. Tidak akan ada satu pun bangsawan yang berani menyentuh atau mengganggu kita lagi," ucap Aura menjelaskan.
Duke Daren menaikkan sebelah alisnya, merapikan posisi duduknya.
"Hanya itu? Dia tidak minta hal aneh-aneh lainnya?" tanya Duke Daren curiga, mengenal betul betapa liciknya penguasa kekaisaran itu.
"Tentu saja aku tidak memberi kesepakatan itu secara cuma-cuma, Ayah," jawab Aura penuh rasa bangga.
"Aku menegaskan padanya, aku mau dia tidak ikut campur sedikit pun saat aku sedang membalas dendam dan membereskan musuh-musuhku, dan dia menyetujuinya," lanjut Aura dengan mata berkilat puas.
Duchess Clara bernapas lega, memegangi dadanya yang tadi terasa sesak.
"Syukurlah... Ibu pikir pria itu mau menghukum mu atas penusukan semalam," bisik Duchess Clara lega.
"Menghukum ku?" ulang Aura mendengus sinis, menyunggingkan senyum mengejek nya yang khas.
"Ibu, Kaisar Zane itu bahkan tertawa tipis saat tahu otak bekas pangeran itu tidak sebanding denganku. Dia tahu Luis itu cuma sampah," cibir Aura, tersenyum dingin.
Duke Daren menepuk paha tangannya keras, tertawa puas mendengar penjelasan putrinya.
"Bagus! Itu baru putriku!" seru Duke Daren bangga.
"Biarkan para menteri dan mantan pangeran bodoh itu tahu, keluarga Luminar bukan orang yang bisa dipermainkan!" lanjut sang Duke dengan tawa menggelegar.
"Ayah, aku permisi dulu mau istirahat," ucap Aura, pada orang tua nya.
"Iya, sayang," jawab Duchess Clara.
Aura melangkah cepat menuju ruang kerjanya tanpa membuang waktu.
Tidak berapa lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam dan pedang terselip di pinggangnya masuk lalu membungkuk hormat.
"Salam Lady Aura Luminar."
"Hem."
"Anda memanggil saya, Lady Aura?" tanya Rian dengan suara rendah dan tegas.
Aura yang sedang duduk santai di kursi kerjanya sembari memutar-mutar cangkir teh mendongak, menatap pengawal kepercayaannya itu dengan senyum miring.
"Rian, kamu tahu kan keluarga Velis saat ini sedang diusir dari kediaman nya?" tanya Aura membuka suara.
"Tentu, Lady, berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru ibu kota," jawab Rian jujur.
"Bagus! Aku mau kamu bawa Elisabeth secara diam-diam ke bangunan tua di belakang kediaman kita," perintah Aura dingin tanpa ragu sedikit pun.
Rian sempat tertegun sejenak, tapi tidak berani bertanya lancang.
"Buat dia seolah-olah diculik oleh penagih utang yang marah," lanjut Aura dengan ide liciknya yang cemerlang.
"Gadis bermuka dua itu sudah terlalu lama berpura-pura jadi malaikat polos, sekarang saatnya dia bayar tuntas semua kelakuannya di masa lalu," ucap Aura penuh penekanan.
Rian langsung mengerti arah pembicaraan majikannya, pria itu menyunggingkan senyum tipisnya lalu membungkuk dalam.
"Perintah dilaksanakan, Lady Aura, dalam waktu kurang dari tiga jam, gadis itu akan berada di hadapan Anda," ucap Rian mantap.
"Saya mengandalkan mu Rian, sekarang pergilah," ucap Aura, mengibas kan tangan nya.
"Saya permisi Lady," ucap Rian sopan, keluar dari ruang kerja Aura.
"Hem."
Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadi Kaisar Zane, pria bertubuh tinggi tegap itu duduk di kursi kebesarannya dengan dokumen kekaisaran yang menumpuk di atas meja.
Keheningan menyelimuti ruangan yang serba mewah itu, hanya terdengar suara gesekan pena bulu yang digunakan sang Kaisar untuk membubuhkan tanda tangan.
Namun, alih-alih fokus pada laporan keuangan kekaisaran, gerakan tangan Kaisar Zane mendadak terhenti, saat bayangan seorang gadis mengusir mengambil alih pikiran nya.
Tatapan tajamnya, perlawanan nya dan yang paling menarik adalah cara berpikir nya yang licik dan cerdas.
"Aura Luminar..." gumam Kaisar Zane tanpa sadar.
Tes
Setetes tinta hitam menetes menembus kertas berharga di depannya.
Kaisar Zane meletakkan penanya pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran nya, memijit pangkal hidungnya yang terasa agak pening.
"Saya bisa berdiri tegak di atas kaki saya sendiri tanpa bantuan siapa pun... Saya tidak butuh kekuasaan Anda."
Kalimat tegas yang diucapkan Aura di dalam kereta tadi terus terngiang-ngiang di telinganya bagaikan kaset rusak yang tidak bisa dimatikan.
Kaisar Zane mendengus pelan, menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman langka yang sangat jarang terlihat di wajah dinginnya.
"Gadis itu benar-benar tidak punya rasa takut sedikit pun," gumam Kaisar Zane pelan pada dirinya sendiri.
Nico yang sedari tadi ada disana, berdiri tegap di dekat pintu langsung menoleh, sedikit heran melihat sang Kaisar bergumam sendiri.
"Ada yang salah dengan laporannya, Yang Mulia?" tanya Nico sopan, melangkah mendekat ke meja kerja Kaisar.
Kaisar Zane menatap Nico datar.
"Tidak ada," jawab Kaisar Zane singkat.
Pria itu mengetuk-ngetuk kan jarinya, tampak sedang memikirkan sesuatu yang mengusik benaknya.
"Nico," panggil Kaisar Zane, dengan suara beratnya.
"Saya, Yang Mulia?" sahut Nico sigap.
"Menurutmu... apakah ada wanita di kekaisaran ini yang berani menolak tawaran langsung dari seorang Kaisar?" tanya Kaisar Zane dengan nada santai, tapi matanya menatap Nico tajam.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛