Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Dalam hitungan detik, status di bawah pesan Keira berubah menjadi centang biru berderet.
Grup WhatsApp keluarga Lim yang biasanya hanya ramai oleh foto makan malam, ucapan selamat ulang tahun, dan kiriman artikel kesehatan mendadak sunyi. Sunyi itu tidak bertahan lama. Satu per satu nama paman dan bibi muncul di layar, tetapi tidak ada yang berani langsung membalas.
Keira menaruh ponsel di meja dapur PIK, mengambil termos pink, lalu menuang sisa air jahe ke gelas. Cairannya sudah tidak sepanas semalam, tetapi aroma jahe masih menusuk lembut hidungnya.
Ia baru menyesap sekali ketika panggilan masuk dari Papa memenuhi layar.
Keira menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.
"Pulang ke rumah sekarang," suara Hendrawan terdengar berat.
"Selamat pagi juga, Papa."
"Jangan bermain kata dengan Papa."
Keira menyandarkan pinggul ke meja marmer. "Kalau ini soal voice note Bu Yuliana, saya hanya membantu semua orang mendengar langsung. Bukankah keluarga besar harus transparan?"
Di seberang sana, napas Hendrawan terdengar tertahan. "Keira."
Satu kata itu dulu cukup membuatnya patuh. Saat kecil, ia akan berlari turun dari kamar dengan rambut belum disisir hanya karena Papa memanggil namanya dari lantai bawah. Sekarang, nama yang sama terdengar seperti stempel di surat panggilan.
"Saya akan datang," jawabnya.
"Sendiri."
"Saya memang sendiri."
Setelah menutup telepon, Keira berdiri diam. Di meja, termos pink memantulkan cahaya pagi. Ia menyentuh permukaannya sebentar, lalu memasukkan undangan keluarga Tan ke dalam tas kulit hitam.
Tiga puluh lima menit kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah besar Lim di Menteng.
Rumah itu masih sama. Gerbang besi tinggi, taman simetris, kolam ikan di sisi kiri, dan pilar putih yang selalu dibanggakan Bu Yuliana saat menerima tamu arisan. Bagi orang luar, rumah itu terlihat seperti bukti kejayaan keluarga lama Jakarta. Bagi Keira, rumah itu lebih mirip museum tempat semua kenangan baik dipajang, sementara pemiliknya tidak boleh menyentuh apa pun.
Seorang asisten rumah tangga lama membuka pintu.
"Nona Keira."
Nada perempuan paruh baya itu bergetar. Keira hanya mengangguk kecil.
Di ruang tamu utama, Hendrawan duduk di sofa tengah dengan wajah gelap. Yuliana duduk di sampingnya, memakai kebaya modern warna biru muda, rambut disanggul rapi, wajahnya lembut seperti tidak pernah mengirim ancaman semalam. Vanessa berdiri di dekat meja konsol, gaun putihnya manis, matanya merah seolah baru menangis.
Keira hampir tertawa.
Skenarionya lengkap.
"Papa," sapa Keira.
Tatapan Hendrawan turun ke tasnya. "Undangannya?"
"Masih di tangan saya."
Vanessa menggigit bibir. "Jiejie, kenapa kamu harus mempermalukan Mama di grup keluarga? Mama cuma khawatir. Besok jamuan keluarga Tan itu besar sekali. Kalau kamu datang dengan kondisi hubungan keluarga kita seperti ini, orang luar bisa bicara macam-macam."
"Orang luar atau kamu?"
Wajah Vanessa memucat. "Aku cuma tidak mau nama Lim jadi bahan omongan."
Yuliana menghela napas lembut. "Keira, Bu Yuliana tahu kamu tidak suka diatur. Tapi kamu sudah lama pergi. Selama ini yang ikut makan malam keluarga, menemani Papa ke acara sosial, menghadapi para istri partner bisnis, semua Vanessa. Wajar kalau beberapa orang mengira Vanessa lebih siap mewakili keluarga."
"Mewakili atau menggantikan?"
Senyum Yuliana tidak berubah. "Kamu selalu berpikir buruk."
"Karena Bu Yuliana selalu memberi alasan."
"Cukup," kata Hendrawan.
Ruangan langsung diam.
Keira menatap ayahnya. Wajah laki-laki itu tampak lebih tua dari terakhir kali ia lihat, tetapi sorot matanya tetap sama. Saat bicara tentang keluarga, ia terdengar keras. Saat bicara tentang bisnis, ia bisa jauh lebih keras lagi.
"Kamu pergi ke Singapore tanpa memberi tahu keluarga," kata Hendrawan. "Kamu tidak masuk kantor. Tidak datang ke acara partner. Lalu semalam kamu membuat keluarga besar ribut di WhatsApp. Apa sebenarnya maumu?"
"Saya hanya ingin mengambil kembali tempat yang memang milik saya."
"Tempatmu di keluarga ini bukan untuk dipakai sesuka hati."
Keira tertawa pendek. "Aneh. Selama saya diam, tempat itu diberikan ke Vanessa. Saat saya pulang, Papa bilang tempat itu bukan milik saya sesuka hati."
Vanessa menunduk. Air mata langsung jatuh satu butir, tepat waktu.
"Jiejie, kalau kamu merasa aku mengambil sesuatu, aku bisa mundur. Aku tidak mau bertengkar."
Keira menatapnya. "Kalau begitu mundur dari jamuan keluarga Tan."
Vanessa terdiam.
Yuliana segera meraih tangan putrinya. "Keira, jangan menekan adikmu."
"Dia baru bilang bisa mundur."
"Itu karena dia menghormatimu."
"Kalau begitu hormatinya diterima."
Wajah Yuliana menegang sepersekian detik. Hendrawan memukul sandaran sofa dengan telapak tangan.
"Keira!"
Keira tidak bergerak.
Hendrawan menarik napas berat. "Dengar baik-baik. Urusan jamuan Tan bukan satu-satunya masalah. Keluarga Ong sudah memberi sinyal jelas. Steven orang baik, keluarganya kuat, dan kerja sama mereka bisa menutup tekanan modal Lim Group tahun ini."
Darah di wajah Keira seperti ditarik habis.
Ong Steven.
Nama itu pernah muncul di meja makan sebagai candaan. Anak baik, keluarga baik, cocok dengan Keira. Waktu itu ia masih bisa pura-pura tidak mendengar. Sekarang, Papa mengucapkannya seperti keputusan direksi.
"Papa mau menjual saya untuk kerja sama?"
"Jaga bicaramu. Ini pernikahan keluarga."
"Saya tidak mau menikah dengan Steven."
"Kamu bahkan belum bertemu dia dalam acara resmi."
"Saya tidak perlu bertemu seorang laki-laki untuk tahu bahwa saya tidak mau dijadikan jaminan bisnis."
Yuliana menyela dengan nada hati-hati. "Keira, kamu sudah berusia dua puluhan. Di lingkaran kita, omongan orang tidak bisa dianggap enteng. Kalau seorang perempuan terus muncul sendiri, tidak jelas dekat dengan siapa, apalagi baru pulang dari Singapore..."
Ia berhenti tepat di sana, cukup lama agar semua orang mengerti.
Keira menoleh pelan. "Lanjutkan, Bu Yuliana."
"Bu Yuliana hanya tidak mau kamu jadi bahan gosip."
"Gosip tentang apa?"
Yuliana menunduk. "Tentang club pribadi, tentang laki-laki yang tidak jelas, tentang uang yang kamu pakai selama di luar."
Hendrawan tidak membantah.
Keira merasakan kuku jarinya menusuk telapak tangan.
"Papa menyuruh orang mengikuti saya?"
Hendrawan menatapnya tanpa rasa bersalah. "Papa harus tahu anak Papa ada di mana."
"Saya bukan anak kecil."
"Tapi kamu bertindak seperti anak kecil. Keira, keluarga Tan bukan tempat main-main. Kalau mereka tahu putri keluarga Lim baru saja muncul di club Singapore dan terlibat dengan laki-laki entah siapa, bukan hanya kamu yang malu. Lim Group ikut jatuh."
Di dalam kepala Keira, wajah Rayhan muncul. Kemeja hitam. Tangan yang menuang air jahe. Suara rendah yang berkata, jangan lari lagi.
Mereka menyebutnya laki-laki entah siapa.
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah itu, Keira benar-benar marah.
"Papa tahu apa yang paling lucu?" tanyanya pelan. "Papa mengirim orang mengikuti saya, tapi tetap tidak tahu apa-apa. Papa hanya tahu potongan yang paling mudah dipakai untuk mengancam."
"Keira, jangan kurang ajar."
"Saya menolak menikah dengan Ong Steven. Saya juga tidak akan menyerahkan undangan keluarga Tan kepada Vanessa."
Vanessa mengangkat wajah. "Tapi Jiejie, kalau kamu datang besok, semua orang akan bertanya kenapa aku tidak ikut. Aku sudah bilang ke beberapa teman kalau keluarga Tan mengundang keluarga Lim."
"Itu urusanmu."
"Kamu tega mempermalukan aku?"
"Kamu tega memakai nama saya?"
Air mata Vanessa berhenti.
Hendrawan berdiri. "Cukup. Undangan itu kamu serahkan sekarang. Untuk urusan Steven, Papa akan atur pertemuan setelah jamuan Tan."
Keira juga berdiri. "Kalau Papa memaksa, saya akan membuat semua orang tahu bahwa putri sah keluarga Lim bahkan tidak boleh membawa undangan atas namanya sendiri."
"Kamu mengancam Papa?"
"Tidak. Saya belajar dari rumah ini."
Ruangan itu membeku.
Yuliana akhirnya tidak bisa menjaga senyumnya. "Keira, kamu pikir tanpa keluarga Lim kamu bisa apa?"
Keira menatapnya. "Setidaknya saya bisa tidur tanpa berpura-pura menjadi ibu yang baik."
Wajah Yuliana berubah pucat.
Sebelum Hendrawan sempat meledak, Keira berbalik. Ia berjalan keluar dengan langkah cepat. Di pintu utama, seseorang baru saja masuk membawa buket bunga mawar putih yang terlalu besar.
Laki-laki itu hampir menabraknya.
"Eh, hati-hati."
Keira mengangkat mata.
Go Brandon berdiri di depannya, kemeja mahalnya terbuka satu kancing, jam tangan mencolok di pergelangan, senyum malas khas anak konglomerat yang terlalu sering dimaafkan. Begitu melihat Keira, senyumnya berubah menjadi penasaran.
"Nona Lim?"
Dari belakang, suara Vanessa langsung naik. "Brandon?"
Keira tidak menjawab. Ia melewati Brandon tanpa menyentuh bunganya.
Di halaman, udara Jakarta terasa panas dan tebal. Keira masuk ke mobil, menutup pintu lebih keras dari biasanya, lalu menyalakan mesin. Saat mobil keluar dari gerbang Menteng, tangannya masih bergetar di setir.
Di kaca spion, sebuah SUV hitam ikut bergerak dari sisi jalan.
Keira memperlambat mobil.
SUV itu ikut melambat.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Nona Keira, Bos meminta saya memastikan Anda sampai rumah dengan aman.
Keira menatap pesan itu lama. Dadanya yang sejak tadi terasa penuh tiba-tiba seperti disentuh sesuatu yang hangat.
Rayhan.
Ia menggigit bibir bawah, lalu mengetik singkat.
Bos kamu siapa?
Balasannya datang cepat.
Orang yang termos pink-nya Anda bawa.