Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.
Setelah memastikan semua urusan di kantor cabang selesai dan berjalan sesuai rencana, Ardan segera kembali ke kantor pusat. Ia tiba di sana menjelang siang, lalu tanpa membuang waktu, pemuda itu langsung menuju ruangan kerja Sultan untuk menyampaikan laporan lengkap. Sesampainya di depan pintu besar berkilap itu, Ardan lalu mengetuk pintu.
Di dalam ruangan, Sultan tampak duduk di balik meja kerjanya yang luas, sibuk memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen penting. Mendengar suara ketukan itu, dia segera mengangkat wajah, menoleh ke arah pintu.
"Masuk, Dan," ucapnya tenang seraya meletakkan bolpen emas di atas meja.
Ardan melangkah masuk dengan langkah tegap, lalu berhenti tepat di hadapan meja kerja atasannya.
"Semua sudah selesai, Tuan. Kepala divisi audit keuangan yang baru sudah resmi menerima jabatan, dan seluruh proses serah terima wewenang serta tanggung jawab berjalan lancar tanpa kendala," lapornya dengan jelas dan meyakinkan.
Sultan mengangguk pelan, napasnya terasa lebih lega mendengar konfirmasi tersebut. "Bagaimana suasana di sana tadi?"
"Jauh lebih kondusif dibandingkan sebelumnya, Tuan. Dan sepertinya para staf di divisi itu menyambut baik perubahan tersebut," jawab Ardan sambil membuka tablet di tangannya. "Saya juga sudah memastikan sistem pengamanan internal sesuai instruksi Tuan, supaya kejadian itu tidak terulang lagi."
Sultan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa dia benar-benar memperhatikan setiap laporan yang asistennya sampaikan.
"Bagus... pastikan pemimpin baru itu benar-benar memahami tugasnya. Ingatkan dia, bahwa jabatan tersebut diemban bukan untuk mencari kekuasaan, gengsi, atau keuntungan pribadi, melainkan semata-mata untuk menjalankan tanggung jawab dan melayani perusahaan dengan benar," ujarnya tegas, nada bicaranya berat dan berwibawa.
"Sudah saya sampaikan semuanya, Tuan. Beliau juga sudah menerima arahan dan pelatihan singkat dari tim khusus kita sebelum bertugas," jawab Ardan lagi sambil mengangguk mantap.
"Kalau begitu, kamu bisa kembali ke ruanganmu. Terima kasih, Dan," kata Sultan kemudian.
Ardan baru saja hendak berbalik badan dan melangkah pergi, ketika pintu ruangan terbuka perlahan dari luar.
Tuan Bahtiar muncul di ambang pintu dengan wajah tenang dan berwibawa khas seorang pemimpin senior. Pria itu baru selesai rapat besar bersama jajaran dewan direksi, dan kebetulan sekali, pembicaraan terakhir itu sempat terdengar olehnya.
"Ada pengangkatan kepala divisi baru di kantor cabang?" tanyanya pelan sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, matanya menatap penasaran ke arah putra dan asistennya tersebut.
Melihat ayahnya datang, Sultan langsung berdiri tegak dari kursinya sebagai tanda hormat.
"Iya, Pa," jawab Sultan sopan.
"Kenapa tiba-tiba ada pergantian mendadak seperti ini dan kamu tidak bilang sama papa? Biasanya kamu tidak pernah terburu-buru mengubah struktur di cabang," tanyanya menelisik.
Ardan yang mengerti situasi itu pun memilih diam dan menundukkan kepala. Lebih baik penjelasan mengenai persoalan yang cukup pelik dan sensitif tersebut disampaikan langsung oleh Sultan sendiri kepada ayahnya.
Sultan pun memberi isyarat kecil dengan tangannya kepada Ardan untuk keluar terlebih dahulu. Setelah pintu tertutup rapat dan hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu, Sultan kembali duduk, lalu mempersilakan ayahnya mengambil tempat duduk di area sofa tamu yang lebih santai.
"Ada masalah besar dengan kepala divisi sebelumnya, Pa" jelas Sultan serius.
Tuan Bahtiar mengernyitkan kening, rasa penasaran dan kekhawatiran mulai muncul di wajahnya. "Masalah seperti apa? Sampai harus dicopot secepat itu?"
Sultan menarik napas panjang dan dalam, mengatur kata-katanya sebaik mungkin. Sebenarnya dia tidak ingin membawa persoalan pribadi istrinya ke dalam urusan manajemen keluarga, tetapi dirinya sadar, ayahnya berhak mengetahui alasan mendasar mengapa keputusan tegas tersebut harus diambil.
"Dia melakukan penyalahgunaan wewenang, korupsi, dan yang paling membuatku murka... dia melakukan tindakan pelecehan verbal serta tekanan psikologis terhadap Kahiyang," jawab Sultan akhirnya, suaranya terdengar sangat dingin.
Raut wajah Tuan Bahtiar seketika berubah sangat serius saat mendengar nama menantunya disebut dalam masalah itu. "Keterlaluan! Berani sekali dia melakukan hal itu terhadap menantu papa!"
Tuan Bahtiar terdiam beberapa saat, matanya menatap tajam seolah sedang menilai karakter orang yang dimaksud. "Lalu apa yang kamu lakukan?"
"Aku tidak langsung menjatuhkannya dengan sembarangan hanya karena dia mengganggu istriku. Itu bukan caraku," jawab Sultan tegas dan berprinsip. "Aku minta Ardan serta tim audit melakukan pemeriksaan sesuai prosedur."
Sultan mengambil sebuah map dokumen tebal dari laci meja, lalu meletakkannya perlahan di hadapan ayahnya.
"Setelah semuanya terbukti, perusahaan mengambil tindakan sesuai aturan. Jabatannya dicopot dan diberhentikan dari pekerjaannya secara tidak hormat. Karena pelanggarannya juga berkaitan dengan tindak pidana, proses hukum selanjutnya diserahkan kepada pihak berwenang."
Tuan Bahtiar mengangguk perlahan. Tatapannya masih serius, tetapi terlihat puas mendengar cara Sultan menyelesaikan persoalan tersebut.
"Jadi kamu sama sekali tidak menggunakan nama keluarga atau kekuasaanmu untuk menjatuhkannya karena dendam pribadi?" tanyanya memastikan sekali lagi, ingin tahu apakah putranya tetap memegang prinsip.
Sultan menggeleng mantap. "Tidak, Pa. Aku memang ingin Kahiyang merasa aman, tapi aku juga tidak mau menggunakan kekuasaan secara sembarangan. Kalau dia memang bersalah, biarkan bukti dan aturan yang menghukumnya."
Tuan Bahtiar bersandar santai di sofa. Untuk sesaat ia hanya memandangi Sultan dengan rasa bangga. Betapa dewasa dan bijaksana cara anaknya memimpin.
"Keputusanmu sudah sangat tepat," katanya akhirnya. "Kekuasaan memang harus digunakan untuk menegakkan kebenaran dan aturan, bukan untuk melampiaskan kemarahan."
Sultan tersenyum tipis, lega mendengar persetujuan itu. "Itu juga yang aku pikirkan dan selalu aku pegang, Pa."
"Bagaimana keadaan menantu papa sekarang? Apa dia baik-baik saja setelah kejadian, itu?" tanya Tuan Bahtiar, nada suaranya berubah lebih lembut dan penuh perhatian.
"Sudah jauh lebih baik, Pa. Dia wanita yang kuat. Dia bahkan sudah tetap bekerja seperti biasa," jawab Sultan, wajahnya sedikit melembut membayangkan wajah istrinya.
"Aku hanya ingin memastikan setelah kejadian itu, dia merasa nyaman, dan aman, tanpa perasaan takut atau terancam oleh siapa pun lagi."
Tuan Bahtiar mengangguk puas, hatinya tenang mengetahui menantunya baik-baik saja.Tuan Bahtiar mengangguk puas.
"Kalau begitu, pastikan kamu tetap mengawasinya. Bukan dengan membuatnya merasa terkekang, tapi dengan memastikan lingkungan di sekitarnya aman."
Sultan tersenyum kecil mendengar nasihat ayahnya. "Papa, tenang saja,. Aku tahu betul cara menjaga istriku sekaligus menjaga harga dirinya Aku pastikan semuanya berjalan seimbang."
Tuan Bahtiar berdiri dari sofa, lalu melangkah mendekat untuk menepuk bahu putranya dengan rasa bangga dan dukungan.
"Bagus. Itu baru Sultan Rafsanjani yang papa kenal. Sekarang selesaikan sisa pekerjaanmu dengan baik. Dan ingat, jangan sampai urusan rumah tangga membuat seorang CEO lupa pada tanggungjawabnya," katanya sambil tersenyum tipis mengingatkan.
Sultan terkekeh pelan mendengar pesan ringan itu. "Papa jangan khawatir, aku selalu ingat betul tugasku dengan benar."
Tuan Bahtiar mengangguk puas, lalu meninggalkan ruangan kerja putranya dengan langkah tenang. Sementara Sultan kembali duduk di kursi kebesarannya dengan hati yang jauh lebih damai dan mantap.
lanjuut thor
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan