NovelToon NovelToon
Mechabest

Mechabest

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Penyelamat / Action
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

​Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.

​Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Copy Paste Mechabest

Matahari pagi terbit dengan anggun di atas langit Kota Mecha. Cahaya keemasan menembus kubah energi transparan, memantul di dinding-dinding pencakar langit berlapis kaca dan baja canggih. Seperti hari-hari biasanya, kota megah itu berdenyut dalam ritme kehidupan yang damai, modern, dan penuh kesibukan.

Di SMA Garuda Mecha, bel masuk sekolah baru saja berbunyi nyaring.

Di kelas XI-B, Yasing sedang menguap lebar-lebar sambil menyandarkan dagunya di atas meja. Seragam sekolahnya tampak agak kusut di bagian lengan—sisa-sisa rasa pegal akibat aksi penerobosan di Kota Dark Mecha semalam masih belum hilang sepenuhnya.

"Aduh... gua masih ngantuk banget, Ul," bisik Yasing pada Maul yang duduk di sebelahnya. "Gua berasa baru memejamkan mata lima menit, eh jam weker udah jerit-jerit."

Maul membetulkan posisi duduknya. Seragam sekolahnya terpasang sangat rapi, dan rambutnya tertata klimis. Dengan pandangan mata plenger khasnya yang menatap lurus ke papan tulis, Maul menjawab dengan nada datar yang teratur. "Itu karena lu tidur sambil ngigau mau mencuri bakso lima porsi di kantin markas, Sing. Energi otak lu habis buat mimpi."

"Dih, sok tahu lu! Gua mimpi lagi jadi pahlawan legendaris tau!" semprot Yasing tak terima.

Sementara itu di barisan depan, Sahla sedang sibuk merapikan jilbab sekolahnya menggunakan cermin kecil. Dia menoleh ke belakang, melirik Yasing dan Maul dengan tatapan sinis. "Kalian berdua bisa diam gak sih? Pelajaran Pak Bambang mau mulai nih. Nanti kalau kita dihukum lari di lapangan gara-gara kalian heboh, gua suruh kalian gantiin piket gua sebulan!"

"Teori kedisiplinan menyatakan bahwa fokus belajar di pagi hari menentukan tingkat penyerapan materi sebesar delapan puluh lima persen," sela Alifian yang duduk di samping Sahla sambil membetulkan letak kacamatanya dengan gaya sangat terpelajar. "Jadi, Yasing dan Maul, tolong kondisikan frekuensi suara kalian."

"Duo pinter mulai deh sok ngaturnya," gerutu Yasing pelan sambil memutar bolpoin di jarinya.

Tidak jauh dari gedung SMA Garuda Mecha, di kompleks SMA Negeri 1 Mecha yang berjarak beberapa blok, Pasya dan Clairine (Kelay) juga sedang menjalani rutinitas sekolah mereka sebagai murid kelas XII. Pasya yang biasanya sok keren di markas, kini tampak sibuk menahan kantuk di barisan belakang kelas IPA saat guru Fisika menjelaskan teori gelombang. Sementara Kelay, dengan kerudung seragamnya yang selalu rapi dan anggun, tetap fokus mencatat setiap penjelasan guru dengan tekun.

Di sudut lain kota, atmosfer yang jauh berbeda berlangsung di Markas Pusat Mechabest.

Di Ruang Komando Utama yang sepi, Teh Caca dan Opik duduk berhadapan di depan konsol komputer induk. Cangkir-cangkir kopi hitam yang sudah dingin menumpuk di samping keyboard. Sejak subuh tadi, setelah Prof. Einstein mengonfirmasi adanya kebocoran data biometrik, Teh Caca dan Opik tidak tidur sama sekali. Mereka terus mengutak-atik jaringan data yang sempat diretas untuk mencari celah keamanan baru.

"Gimana, Pik? Udah ketemu jalur peretasannya?" tanya Teh Caca sambil memijat pelipisnya yang berdenyut pelan. Kerudung taktisnya digantikan dengan jilbab santai harian, namun raut wajahnya terpancar kecemasan yang mendalam.

Opik menekan serangkaian perintah tombol keyboard holografik dengan kecepatan tinggi. "Gua udah memasang tiga lapis benteng firewall baru, Caca. Tapi data yang bocor semalam itu... data vital banget. Struktur energi Mecha Watch, algoritma transformasi hewan, sampai ambang batas stamina anak-anak udah ada di tangan pihak 'Omega' itu."

"Gue punya firasat buruk," gumam Teh Caca pelan, menatap peta digital Kota Mecha yang berkedip tenang. "Seseorang yang mencuri data sekomplit itu gak bakal diam aja. Mereka pasti lagi menyiapkan sesuatu."

Waktu terus bergulir hingga menunjuk tepat ke tengah hari.

Jam istirahat sekolah baru saja berbunyi. Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla baru saja melangkah keluar menuju area kantin SMA Garuda Mecha. Yasing sudah memegang mangkok bakso favoritnya, Sahla sibuk mengobrol dengan teman-teman sekelasnya, sementara Alifian sedang menjelaskan teori nutrisi siomay kepada Maul yang mendengarkan dengan muka datar tanpa dosa.

Tiba-tiba...

NGUUNGGG! NGUUNGGG! NGUUNGGG!

Sirene darurat tingkat Alpha—sirene bahaya tertinggi yang hanya berbunyi jika Kota Mecha berada dalam ancaman kehancuran total—bergema menggelegar dari atas kubah kota!

Suara sirine yang begitu keras membuat seluruh murid di kantin menjerit panik. Mangkok bakso di tangan Yasing hampir saja jatuh ke lantai.

"Ada apa nih?!" jerit Sahla sambil memegangi jilbabnya yang tertiup angin kencang akibat perubahan tekanan udara kota.

"Sirene Alpha?!" Alifian membelalak kaget, melihat jam tangannya yang mendadak memancarkan pendar merah darurat. "Berdasarkan protokol keamanan, ini sinyal invasi berskala masif!"

Seketika, langit di atas Kota Mecha yang tadinya cerah mendadak menjadi gelap. Bukan karena awan mendung, melainkan karena ratusan bayangan mekanis berukuran manusia meluncur turun dari celah kubah udara atas, menghantam jalanan, atap gedung, dan area terbuka di seluruh penjuru kota!

DUMMM! DUMMM! DUMMM!

Guncangan hebat melanda tanah Kota Mecha. Di jalan protokol depan SMA Garuda Mecha, puluhan sosok mekanis berdiri tegak dari balik gumpalan asap hitam pendaratannya.

Mata Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla membelalak lebar saat mereka melihat bentuk dari ratusan robot invasi tersebut melalui pagar sekolah.

Robot-robot itu bukan robot biasa bertangan meriam seperti milik Dark Mecha. Robot-robot itu memiliki desain zirah, proporsi tubuh, dan pancaran pendar warna yang SANGAT IDENTIK dengan bentuk Mecha Watch milik mereka dan para senior!

Ada robot bernuansa merah-hitam-ungu yang menyerupai gabungan mode Yasing, robot bernuansa hijau-biru-cokelat yang persis seperti mode Maul, robot kuning-pink bernuansa kelinci-cheetah mirip Sahla, robot hijau-abu-abu bernuansa sayap elang mirip Alifian, serta robot-robot bertema kalajengking-cobra (Pasya) dan hiu-ubur-ubur (Kelay)!

Mereka adalah Copy Paste Mechabest!

"A-apa-apaan itu?!" jerit Sahla histeris dari balik pagar. "Kok... kok robot-robot itu bentuknya mirip sama zirah kita?!"

"Bukan cuma mirip..." panggil suara Teh Caca secara mendadak lewat sambungan intercom Mecha Watch mereka. Suara Teh Caca terdengar sangat panik dan terengah-engah dari markas. "Anak-anak! Dengarkan gue! Robot-robot itu adalah tiruan dari data biometrik kalian yang bocor semalam! Mereka diciptakan dari algoritma tempur kalian!"

Di lokasi lain, di depan gerbang SMA Negeri 1 Mecha, Pasya dan Kelay yang masih mengenakan seragam sekolah sudah berdiri siaga. Di depan mereka, delapan robot Copy Paste bertema kalajengking dan hiu sudah mengepung dengan mata merah menyala.

"Cih! Tiruan murahan!" dengus Pasya. Dia melompat mundur, mengepalkan tangan kirinya ke udara. "Kelay, ubah sekarang!"

"Siap, Bang Pasya!" sahut Kelay mantap.

"MECHABEST ACTIVATE!"

BZZZZZT!

Pasya langsung meluncur dalam Mode Cobra (Hijau Tua), sementara Kelay bertransformasi ke Mode Hiu (Biru-Putih). Pasya menembakkan gelombang racun berkecepatan tinggi ke arah robot tiruan kalajengking di depannya.

Namun, kejadian mengerikan terjadi!

SWOOSH!

Robot tiruan Pasya itu melompat dengan kecepatan dua kali lebih tinggi dari Pasya asli! Robot itu tidak hanya menghindari semprotan racun, tapi juga membalas dengan menembakkan gelombang racun yang JAUH LEBIH PEKAT dan bertekanan ganda!

BRANNGGG!

"AGHHH!" Pasya terpental jatuh ke tanah, zirahnya memercikkan arus pendek. "G-gila... Serangan tiruan ini daya rusaknya lebih tinggi dari punya gua?!"

"Bang Pasya!" keluh Kelay panik. Kelay mencoba menyerang robot tiruan hiu dengan pedang airnya, namun robot tiruan itu dengan mudah membaca arah tebasan Kelay dan membalasnya dengan tebasan dua kali lebih presisi yang melempar Kelay hingga menabrak dinding gerbang sekolah!

Sementara itu di depan SMA Garuda Mecha, situasi berjalan sama mengerikannya.

Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla sudah mengaktifkan Mecha Watch masing-masing di tengah jalan raya yang sudah kosong dari warga.

"Gua gak peduli mereka tiruan atau bukan, gua bakal hancurkan!" teriak Yasing murka.

Yasing menekan jamnya, bertransformasi ke Mode Singa (Merah). Dengan surai merah membara dan cakar apinya, Yasing menerjang robot tiruan berzirah merah di depannya. "Cakar Singa Membara!"

BRANGGG!

Robot tiruan Yasing menahan cakar api Yasing hanya dengan satu tangan! Tidak hanya menahan, robot tiruan itu menyerap energi api Yasing, lalu memancarkan gelombang api yang dua kali lebih panas langsung ke dada Yasing!

DUMMM!

"AGHHHH!" Yasing terlempar tragis, guling-gulingan di atas aspal jalan raya dengan zirah merahnya yang berasap tebal. "K-kok... kok dia bisa tahu arah tebasan gua?!"

"Yasing!" jerit Sahla.

Sahla menekan jamnya, berganti ke Mode Cheetah (Kuning). Dia meluncur dengan kecepatan kilat untuk menyerang balik robot tiruan merah itu dari belakang. Namun, dua robot tiruan bernuansa kuning-pink (tiruan Sahla) mendadak muncul di sampingnya dengan kecepatan yang MELAMPAUI kecepatan puncak Sahla!

TAK-TAK-TAK!

Serangkaian pukulan beruntun berkecepatan tinggi menghantam zirah Sahla, membuatnya terpental ke udara sebelum akhirnya ditangkap oleh Alifian yang terbang dalam Mode Elang (Kuning).

"Sahla! Lu gak apa-apa?!" Alifian panik setengah mati. Dia mencoba membumbung tinggi ke udara untuk menyusun strategi, namun tiga robot tiruan berzirah sayap (tiruan Alifian) meluncur menukik dari atas kubah gedung dengan kecepatan supersonik!

BZZZZT!

Gelombang sonar dan tebasan sayap mekanis dari robot tiruan itu merobek sayap zirah Alifian, membuat Alifian dan Sahla jatuh bebas dari ketinggian sepuluh meter dan menghantam atap mobil yang terparkir!

"ALIFIAN! SAHLA!" teriak Maul dari bawah.

Maul yang melihat tiga sahabatnya tumbang dalam hitungan detik langsung mengepalkan kedua tinjunya. Dia memutar Mecha Watch-nya ke Mode Badak (Hijau). Perisai cula hijau di dadanya membesar maksimal, dan Maul berdiri di paling depan untuk melindungi Yasing, Sahla, dan Alifian yang terluka di belakangnya.

"Sini lu semua!" teriak Maul dengan suara yang jarang sekali terdengar sekeras ini. Wajah datar sok cool-nya berganti dengan ekspresi ketegangan puncak.

Lima robot tiruan berzirah berat (tiruan Maul) melangkah maju secara serempak. Kelima robot itu mengubah lengan mekanis mereka menjadi meriam penembak gelombang gempa—kemampuan yang identik dengan Mode Gorila Maul, namun dengan kapasitas energi lima kali lipat lebih besar!

BAM! BAM! BAM! BAM! BAM!

Kelima robot tiruan itu menghantamkan tinju mereka ke tanah secara bersamaan. Gelombang kejutan gempa dahsyat menjalar melintasi aspal jalan raya, menghancurkan fondasi jalan dan menghantam perisai cula milik Maul!

BRANNGGGGGGG!

"ARRRRGHHHHHH!" Maul menjerit menahan tekanan luar biasa tersebut. Lututnya tertekuk ke tanah, tanah di bawah kakinya amblas sejauh satu meter. Perisai cula hijau kebanggaannya retak hebat, memercikkan aliran arus pendek berisiko tinggi.

"Maul! Tahan!" Yasing mencoba bangkit berdiri dengan tubuh gemetaran, namun kekuatannya sudah terkuras habis akibat serangan balasan robot tiruan tadi.

Dari Ruang Komando Pusat, Teh Caca, Opik, dan Prof. Einstein menatap layar monitor utama dengan napas tertahan. Di seluruh sudut Kota Mecha—dari distrik sekolah, area belanja, hingga kawasan industri—ratusan robot Copy Paste Mechabest berdiri jumawa di atas kerusakan yang mereka ciptakan.

Enam pahlawan Mechabest—Yasing, Maul, Alifian, Sahla, Pasya, dan Kelay—semuanya terdesak hebat, terluka, dan tak berdaya menghadapi tiruan mereka sendiri yang jauh lebih kuat, lebih presisi, dan tidak memiliki rasa lelah!

"Bagaimana bisa..." suara Opik gemetaran, jemarinya bergetar di atas meja kontrol. "Kekuatan mereka... bukannya cuma menirukan data kita, tapi data kita dipakai buat menyempurnakan dan menggandakan kapasitas energi mereka lima kali lipat!"

"Ini bukan sekadar invasi..." ucap Prof. Einstein dengan raut wajah yang tampak sangat tua dan prihatin. "Ini adalah eksekusi yang dirancang secara matematis untuk memusnahkan Mechabest dari Kota Mecha."

Di tengah jalan raya yang hancur berantakan, di bawah naungan asap hitam dan sirene bahaya yang terus meraung kencang, robot tiruan merah yang menyerupai Yasing melangkah maju pelan. Tangannya terangkat ke udara, membentuk cakar api berenergi tinggi yang diarahkan tepat ke kepala Yasing yang terkapar lemas di tanah.

Yasing menatap cakar api merah milik tiruannya itu dengan napas terengah-engah. Di sekelilingnya, Maul, Sahla, dan Alifian terkulai tak berdaya dengan zirah yang perlahan-lahan meredup dan lepas secara otomatis.

1
Ayyasying
GG BANGET BANG! GACORRR!!N/Drool//Drool//Smile/
Dwi Agustina
keren banget ceritanya 👍👍
Dwi Agustina
keren Abang, lnajutkan berkarya 💪💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!