NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOYALTY HOTEL

Pukul sepuluh malam tepat. Di pusat kota yang berkilauan cahaya lampu jalan dan jendela gedung tinggi, berdiri sebuah bangunan megah bernama Loyalty Hotel. Di lantai paling atasnya, tersembunyi dari pandangan orang biasa yang hanya melihat dari bawah, terdapat sebuah diskotik eksklusif — tempat yang pintunya hanya terbuka bagi orang-orang terpilih, kaya, dan berpengaruh.

Rey baru saja tiba di depan pintu masuk utama, dan berpapasan tepat saat Alex turun dari mobil mewahnya yang baru berhenti di halaman depan. Udara malam yang sejuk sama sekali nggak mampu mendinginkan semangat mereka berdua yang sudah lama nggak sabar menikmati malam di tempat yang biasa mereka kunjungi bersama sahabat-sahabatnya.

"Billy udah masuk di dalam?" tanya Alex sambil melangkah cepat mendekati Rey, matanya berbinar penuh harap.

"Gue nggak tahu pasti. Langsung aja masuk, jangan bersikap seolah-olah loe baru pertama kali datang ke sini," jawab Rey sambil tersenyum tipis, lalu berjalan lebih dulu menuju lobi hotel yang luas dan berkilauan lampu gantung.

Mereka berdua segera melangkah masuk ke dalam gedung yang mewah itu, lalu menekan tombol lift untuk naik ke lantai tertinggi — tempat diskotik itu berada. Pintu lift terbuka perlahan, dan suara musik yang mendentum keras langsung terdengar hingga ke lorong masuk, seakan getarannya menyambut kedatangan mereka.

Di depan pintu utama diskotik, berdiri dua orang penjaga bertubuh besar tegap dan berwajah sangar, menatap lurus ke depan tanpa mengedip. Alex tanpa ragu mendekat dan bertanya dengan tenang, "Ruangan mana yang sudah disiapkan buat kami?"

Salah satu penjaga itu segera menunduk memberi hormat dengan sopan. "Izinkan saya mengantar Tuan ke ruangan Tuan Muda," jawabnya dengan suara rendah namun jelas dan tegas.

Mereka pun melangkah masuk melewati pintu besar itu. Di dalamnya, udara terasa pekat dan hangat — asap mengepul di mana-mana, bau alkohol bercampur wangi parfum mahal memenuhi setiap sudut ruangan, dan musik berdentum begitu kuat hingga getarannya terasa sampai ke lantai yang dipijak. Setelah melewati deretan meja yang penuh dengan orang-orang berpakaian rapi dan berkilauan perhiasan, mereka tiba di lorong yang lebih sepi dan remang — tempat ruangan-ruangan khusus bagi orang-orang yang bahkan lebih berkuasa daripada pengunjung biasa.

Penjaga itu mengetuk pintu besar pelan tiga kali, membukanya lebar-lebar, lalu memberi isyarat tangan agar Alex dan Rey masuk. Setelah mereka melangkah masuk, penjaga itu berdiri tegap tepat di depan pintu, menjaga agar nggak ada siapa pun yang berani mengganggu dari luar.

Di dalam ruangan yang luas dan remang-remang itu, Billy sudah duduk santai di sofa besar sambil merangkul salah satu dari tiga wanita cantik yang menemaninya. Ia tertawa lebar saat melihat kedua sahabatnya datang, lalu berteriak setengah beradu suara dengan musik yang masih terdengar keras dari luar.

"Kalian berdua lama sekali! Gue udah siapkan teman buat loe berdua! Bebas aja loe mau apa dengan mereka malam ini, nggak ada yang akan melarang!" seru Billy sambil bergoyang mengikuti irama musik yang memekakkan telinga.

Alex tersenyum lebar lalu mendekat dan duduk di sampingnya. "Loe udah siapkan stoknya dengan cukup? Gue nggak mau cuma sekadar minum biasa di sini," tanyanya dengan penuh harap.

"Itu lagi dibawa pelayan sekarang. Tunggu sebentar lagi pasti datang. Loe boleh mabuk sampai jam berapa pun malam ini — asal semuanya habis, ya! Jangan sisakan sedikit pun!" jawab Billy dengan wajah yang sudah tampak agak merah, jelas dia sudah mulai minum lebih dulu sebelum mereka datang.

Rey tertawa lebar sambil mengambil botol berisi minuman berwarna emas yang harganya lebih mahal dari gaji orang biasa sebulan, lalu menuangkannya ke dalam gelas kecil. "Seolah-olah loe nggak tahu kebiasaan kami, bukan begitu, Lex?" ucapnya sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi seakan memberi hormat pada malam itu.

Sementara itu, di sudut lain lantai yang sama — jauh dari keramaian, jauh dari suara musik, jauh dari tawa dan cahaya — terdapat ruangan yang tertutup rapat dan dijaga ketat oleh tiga orang penjaga bertubuh besar dan berwajah dingin tanpa ekspresi. Di dalam ruangan itu, suasana hening, suram, dan hampir gelap.

Seorang lelaki berlutut di tengah ruangan yang dingin itu. Tangan dan kakinya terikat kuat pada kursi kayu yang berat dan kokoh. Wajahnya pucat dan penuh ketakutan yang nyata di matanya. Dia nggak terlalu tua, namun matanya tampak sangat lelah dan putus asa — seakan sudah tahu betul bahwa hal buruk sedang menantinya dan nggak ada yang bisa dia lakukan untuk menghindar. Dia nggak bisa lari, nggak bisa bergerak sedikit pun — hanya bisa diam dan menunggu apa yang akan terjadi padanya.

Nggak lama kemudian, pintu berat itu terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan anggun namun ngeri untuk dilihat. Pakaiannya sangat mewah, bertabur perhiasan berkilauan di leher, tangan, dan telinga, mengenakan gaun pendek yang menampakkan kekayaan dan kekuasaannya tanpa perlu berkata-kata. Di belakangnya, enam orang penjaga berjalan mengikuti dengan langkah tegap dan serempak.

Pintu tertutup rapat kembali seketika. Salah satu penjaga segera mengangkat kursi empuk dan meletakkannya tepat di hadapan lelaki yang terikat itu. Lelaki itu menelan ludah dengan susah payah — dia tahu betul bahwa bahaya besar sedang berdiri tepat di depannya dan dia sendirian tanpa siapa pun yang bisa menolong.

"Ampuni saya, Nyonya. Beri saya waktu lagi saja! Saya berjanji akan mengembalikan uang itu secepat mungkin, saya mohon!" mohon lelaki itu dengan suara gemetar penuh belas kasihan yang tulus.

Wanita itu perlahan menyalakan rokok di tangannya, lalu duduk santai di kursi yang disiapkan seolah-olah dia sedang duduk di ruang tamunya sendiri. Kini wajah mereka berhadapan sangat dekat — tatapan wanita itu tajam dan dingin, seakan melihat bukan manusia melainkan benda yang bisa dibuang begitu saja saat sudah nggak berguna.

"Gue sudah memberi loe waktu cukup lama," ucapnya pelan namun mengancam, sambil tersenyum licik yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi loe sepertinya nggak serius sama sekali. Loe menganggap perkataan gue sekadar candaan yang bisa loe abaikan begitu saja, bukan?"

"Mohon ampuni saya untuk terakhir kalinya, Nyonya! Dalam dua minggu — pasti akan saya kembalikan semuanya sampai tak kurang satu sen pun! Saya siap menanggung segala risiko kalau saya gagal kali ini, saya janji!" lelaki itu semakin merendah hingga kepalanya hampir menyentuh lantai, matanya berkaca-kaca karena takut luar biasa.

"Gue sangat suka memberi pelajaran dan konsekuensi kepada setiap orang yang berani melanggar janji dengan gue. Kali ini pun begitu," ucap wanita itu tenang namun penuh kejam di setiap kata. Lalu dia menoleh ke arah penjaga dengan wajah datar. "Hajar dia sampai babak belur. Tapi jangan sampai dia mati — gue masih ingin bermain dengannya lebih lama lagi."

"Baik, Nyonya!" jawab para penjaga serentak dengan suara berat.

Mereka pun mulai memukuli lelaki itu dengan tangan kosong — pukulan yang keras, kuat, dan tanpa belas kasih sedikit pun. Lelaki itu hanya bisa mengerang kesakitan sambil terus memohon ampun di antara setiap hantaman, namun nggak ada yang berhenti. Nggak lama kemudian, dia tergeletak lemas di kursi — wajahnya babak belur, darah segar mengalir dari pelipis, hidung, dan sudut bibirnya yang pecah.

"Angkat dia berdiri!" perintah wanita itu lagi dengan nada biasa seakan nggak melihat apa yang baru saja terjadi.

Dua orang penjaga memaksanya berdiri meski kakinya gemetar dan hampir nggak mampu menopang berat badannya sendiri. Wanita itu bangkit perlahan, melangkah mendekat, lalu mencium pipi lelaki itu perlahan — hingga bibirnya menyentuh rasa darah yang mengalir di wajah lelaki itu. "Kalau loe bisa memuaskan gue malam ini, gue akan melepaskan loe dan melupakan semua utang loe. Kalau nggak bisa... loe nggak akan pernah bisa bertemu keluarga loe lagi seumur hidup. Bagaimana?"

"Saya nggak berani, Nyonya. Maafkan saya, Nyonya, saya mohon," jawab lelaki itu dengan suara yang hampir tak terdengar karena gemetar ketakutan.

Wanita itu langsung mundur dan wajahnya berubah menjadi marah luar biasa seketika. "Baiklah! Bawa dia ke ruang bawah tanah!" bentaknya dengan suara tajam yang menggema di seluruh ruangan.

Mendengar kata itu, lelaki itu berteriak sekuat tenaga dengan wajah penuh keputusasaan. "Jangan, Nyonya! Tolong jangan bawa saya ke sana! Nyonyaaaaa!"

Namun teriakannya terputus cepat. Penjaga itu memukulnya lagi hingga dia nggak mampu berbicara, lalu menyeretnya secara paksa keluar ruangan. Pintu tertutup kembali, dan keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu sekali lagi.

Wanita itu tersenyum sendiri sambil memandangi asap rokoknya yang naik perlahan ke atas. "Inilah akibatnya kalau berani bermain denganku. Rasakanlah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!