Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
“Ini pertama kalinya tubuhnya bereaksi hanya karena berada di dekatmu. Padahal kalian bahkan masih sama-sama berpakaian lengkap. Tirta... kamu benar-benar sebuah keberuntungan untuk kami." Ucapan Arga menutup penjelasannya.
Tirta hanya mengernyit pelan.
Tunggu... Ada sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
“Kak...” Arga menoleh.
“Kenapa Kakak bisa datang secepat itu? Bukannya tadi Kakak masih di luar negeri? Tapi hanya dalam hitungan menit Kakak sudah ada di kamar Marchel bersama Dokter El.”
Deg!
Pertanyaan itu membuat senyum Arga perlahan menghilang. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Belum sempat ia menyusun jawaban—
“Oh iya...” Tirta kembali mengingat sesuatu.
“Tadi Kakak juga bilang sudah menyelidiki semuanya.” Tatapannya semakin tajam.
“Apa selama ini Kakak menyelidiki latar belakangku?”
“Semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini... apa ada hubungannya dengan Kakak?” Rentetan pertanyaan itu membuat Arga refleks berdiri.
“Hm... sepertinya Marchel memanggilku.” Ia tersenyum canggung.
“Aku kesana dulu, ya.” Baru beberapa langkah berjalan...
“Tunggu!” Tirta ikut berdiri.
“Kak! Kamu belum menjawab pertanyaanku!” Arga mempercepat langkahnya. Sedangkan Tirta berlari kecil mengejarnya.
Brak!
Pintu kamar terbuka. Arga masuk lebih dulu dengan napas sedikit terengah. Di belakangnya, Tirta masih terus mengejar sambil memanggil namanya. Dokter El yang melihat mereka masuk buru-buru mengambil selimut dan menutupi bagian bawah tubuh Marchel.
Bagaimanapun juga, pria itu masih berbaring tanpa mengenakan apa pun pada bagian bawah tubuhnya. Kalau sampai Tirta melihatnya lagi dan pingsan karena kaget... Yang lebih dulu mati ketakutan justru dirinya.
“Kak! Jelaskan dulu!” Tirta berhasil menarik lengan Arga.
“Ayo keluar! Kamu belum menjawab pertanyaanku!”
“Aku... aku harus mengecek kondisi Marchel dulu.”
“Alasan!” Tirta semakin kesal.
“Katakan yang sebenarnya!”
“Ada apa ini?” Suara bariton Marchel langsung menghentikan perdebatan mereka. Dokter El membantu pria itu duduk bersandar di kepala ranjang. Tatapan Tirta langsung beralih kepadanya.
“Semua yang terjadi akhir-akhir ini... apa ada hubungannya dengan kalian?” Wajah gadis itu memerah menahan marah. Arga langsung melirik Marchel. Hanya dengan satu tatapan, Marchel sudah mengerti apa yang sedang terjadi.
“Dok...” Marchel berdeham pelan.
“Sepertinya aku masih demam. Kalau ada pertanyaan, biar Arga saja yang menjawab.” Dokter El hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Arga dalam hati sudah merutuki sepupunya sendiri.
Hebat.
Lempar masalah ke orang lain lagi.
“Duduk yang benar, Tuan Muda Marchel.” Suara Tirta terdengar tegas.
“Aku sedang bertanya kepada kalian berdua. Bukan hanya Kak Arga.” Marchel yang sempat menyandarkan tubuhnya kembali akhirnya menurut. Ia kembali duduk tegak. Melihat itu, Arga dan Dokter El saling berpandangan.
Luar biasa...
Baru kali ini ada orang yang berani mengatur Marchel dengan nada seperti itu.
“Sekarang jelaskan semuanya.” Tatapan Tirta bergantian kepada keduanya.
“Jujur.”
“Kalau tidak... aku tidak akan pernah mau menemui kalian lagi.” Ancaman itu justru membuat sudut bibir Marchel sedikit terangkat. Ternyata gadis ini mulai pintar menggunakan ancaman. Tirta kemudian berjalan menuju sofa yang ada di depan ranjang. Ia duduk dengan kedua tangan bersedekap dan alis bertaut tajam, seolah sedang menginterogasi dua orang tersangka.
“Semua ini ulah Arga.” Marchel menjawab tanpa ragu.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Hah?” Arga langsung menoleh tidak percaya.
Tuan muda... tega sekali.
“Maaf, Tirta.” Arga akhirnya menghela napas panjang.
“Memang... aku ikut campur sedikit dalam hidupmu.”
Sedikit demi sedikit ia mulai mengaku. Mulai dari membujuk pemilik kontrakan agar membatalkan sewanya. Memperlambat proses pembangunan rumah. Sampai bekerja sama dengan Dokter El agar Marchel tetap berada dalam kondisi yang membuat Tirta terus menemaninya. Semua ia ceritakan tanpa menutupi apa pun. Marchel yang duduk di atas ranjang hanya mengangguk-angguk santai, seolah semua pengakuan itu memang sepenuhnya ulah Arga.
Sedangkan Tirta kini memicingkan mata kepadanya.
“Ini pasti idemu juga, kan, Tuan Tua?”
“Tentu tidak.” Marchel menjawab datar.
“Bukankah kamu sudah mendengar sendiri pengakuan Arga? Kenapa masih menuduhku?”
“Kak Arga melakukan semua itu karena ingin melihatmu sembuh.” Suara Tirta mulai bergetar.
“Tapi kamu tahu semuanya dan memilih diam.”
“Kenapa?”
“Apa memang menyenangkan mempermainkan hidup orang lain?" Untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah ini, Tirta benar-benar merasa kecewa.
Padahal...
Selama beberapa hari terakhir ia menikmati semua kebersamaan itu. Ternyata sebagian besar terjadi karena sebuah rencana. Marchel terdiam beberapa saat. Lalu menatap lurus ke arah gadis itu.
“Aku hanya ingin kamu tetap ada di dekatku.” Jawaban itu membuat dada Tirta berdebar. Ada rasa hangat yang muncul tanpa izin. Namun rasa kecewa masih jauh lebih besar.
“Kenapa?”
“Kenapa harus aku?”
Tanya Tirta lirih.
“Karena...”
Marchel berhenti sesaat.
“Kamu menyenangkan.”
Bruk.
Arga spontan menepuk dahinya. Dokter El ikut mengembuskan napas pasrah.
Ya Tuhan...
Pemilihan katanya benar-benar buruk.
Benar saja.
Wajah Tirta langsung berubah.
“Oh... jadi menyenangkan karena aku gampang dibohongi?”
“Karena aku mudah dijadikan bahan permainan?”
“Egois sekali.” Setelah mengatakan itu, Tirta langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
Klik.
Tidak terbuka. Ia memasukkan sandi seperti biasa tetap tidak bisa.
“Sial...” Tirta langsung tahu siapa pelakunya.
“Kita selesaikan pembicaraan ini dulu.” Suara Marchel terdengar lebih dingin.
“Kalau kamu keluar dari kamar ini dalam keadaan marah, jangan harap aku akan bersikap baik lagi.”
“Aku tidak pernah meminta kamu bersikap baik padaku!” Suara Tirta mulai bergetar.
“Sekarang buka pintunya!” Ia tetap membelakangi mereka.
Karena ia tahu... Kalau berbalik sekarang, air matanya pasti akan jatuh. Yang membuatnya paling sakit bukanlah semua rencana itu. Melainkan jawaban Marchel. Ia berharap mendengar alasan lain. Alasan yang lebih berarti. Namun yang keluar justru...
"Kamu menyenangkan."
Seolah semua yang terjadi hanyalah permainan baginya.
“Tirta.” Suara Marchel terdengar lebih berat.
“Duduk.”
“Aku bukan hewan peliharaanmu!” Bentaknya.
“Jangan menyuruhku seolah aku harus selalu menurut padamu!” Tangannya mulai mengepal. Air mata yang sejak tadi ditahan perlahan menggenang. Melihat suasana semakin memanas, Arga segera menghampiri Tirta.
“Tirta... dengarkan dulu.” Suaranya jauh lebih lembut.
“Marchel memang buruk dalam memilih kata.”
“Tapi bukan itu maksud yang ingin dia sampaikan.”
“Bisakah kita duduk dulu?” Awalnya Tirta tetap diam. Namun setelah beberapa kali dibujuk Arga, akhirnya ia mengangguk pelan.
Arga menuntunnya kembali mendekati ranjang. Bukannya duduk di samping Marchel, Tirta justru memilih duduk di kursi yang berada tepat di hadapan pria itu. Jarak itu seolah menunjukkan kalau ia masih belum mau dekat dengannya. Melihat pemandangan tersebut, rahang Marchel langsung mengeras.
Arga...
Berani sekali bersikap selembut itu pada gadisku.
Potong saja lima puluh persen gajinya bulan depan.
Sementara Dokter El yang menangkap perubahan ekspresi Marchel hanya menggeleng pelan sambil menahan tawa.
“Aku keluar dulu.” Ia menepuk bahu Arga.
“Mereka butuh bicara berdua.” Arga mengangguk.
Tak lama kemudian keduanya meninggalkan kamar dan menutup pintu perlahan. Keheningan langsung memenuhi ruangan. Marchel menatap Tirta tanpa berkedip. Sedangkan Tirta justru memalingkan wajah ke arah jendela, seolah tidak sudi melihat pria itu. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hingga akhirnya Marchel membuka percakapan.
“Kamu... marah?”