NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Temenku di Sekolah

Moiro bangkit, berdiri di depan sofa. Ia meregangkan tubuhnya—tangan, pinggang, bahu, dan sebagainya.

Ia sedikit mengkretekkan leher, lalu menatap lurus sambil bertolak pinggang, "Baiklah, sekarang sudah mendingan. Gak sekaku sebelumnya."

Hidungnya kembali menangkap aroma tak sedap.

Ia mencubit hidungnya, menutup agar tak menghirup bau itu. Tatapannya datar, "Aku harus cepetan mandi."

Moiro masuk ke kamar tidurnya. Mengambil handuk. Pergi ke kamar mandi. Dan...

"WAAAA! DINGIN BET WOEEE! ALAMAAK!"

Suara teriakan meledakkan seisi rumah.

Dengan gerakan secepat kilat—tak ada semenit—Moiro selesai mandi.

Itu kau udah pake sabun kan?

Ia berjalan keluar dengan terburu-buru sambil memeluk badannya yang menggigil.

"Sialan... Aku gak sengaja— berendam... Habis beku nih sebadan-badan..." gerutunya sambil menggigil. Suaranya bergetar karena dingin.

Handuk yang ia pakai tampak longgar, siap melorot kapan-kapan.

Hati-Hati belalainya keliatan woi!

Ia segera memperbaikinya.

Sebenernya, Moiro tak begitu mencemaskannya jika handuknya melorot, sebab ia hanya sendirian di rumah. Tetapi, ia lebih cemas dengan hawa dingin yang akan menusuk selangkangannya jika handuk itu lepas.

Ia terus berjalan, menuju kamarnya, dan sekarang sudah ganti pakaian.

"Brrr... Kok dingin banget ya...? T-tumben... Biasanya k-kagak sedingin ini..." ucapnya sambil memeluk dirinya. Tubuhnya bergetar hebat karena kedinginan.

Merasa perutnya akan segera memanggil, Moiro berjalan menuju dapur.

Sembari berjalan, ia sempatkan menatap kalender yang menggantung di dinding, yang ternyata sekarang adalah awal musim dingin, "Oh, iya. Kan udah masuk musim dingin. Pantes."

Moiro pun sampai di dapur. Ia segera menuju depan kulkas, membukanya, dan melihat apa saja yang ada di dalamnya.

Empat butir telur. Satu kilo daging mentah. Sebakul aneka sayuran. Juga sebotol susu (soalnya Moiro suka susu).

Melihat persediaan makanannya, ia tersenyum tipis, merasa lega, "Sepertinya masih cukup untuk seminggu ke depan."

Benar-benar cukup seminggu. Contohnya, untuk sebutir telur saja cukup untuk dirinya seharian, sebab bisa ia bagi untuk dua kali makan—pagi dan sore dengan masing-masing semangkuk nasi, setidaknya mengganjal rasa lapar.

Moiro kembali menatap semuanya, bingung ingin makan apa untuk sarapannya, "Hmm... Aku sarapan apa ya...?"

Matanya terpejam. Alisnya mengerut, begitu serius memikirkan sarapannya pagi ini.

Matanya terbuka. Tatapannya serius, "Oke! Sudah kuputuskan!"

Tuk.

Moiro meletakkan sesuatu di atas meja dapur dengan pelan.

Sebuah wadah seperti gelas, namun lebih besar. Terbuat dari kertas karton yang memiliki lapisan dalam yang kedap air dan minyak. Sebuah wadah yang banyak ditemukan dalam kategori makanan instan. Yap, itu adalah...

Senyuman miring mulai tersingkap di wajahnya, "Mie instan memang pilihan terbaik!"

MALAH MAKAN MIE INSTAN!

Moiro menatap jam yang sekarang menunjukkan tepat pukul tujuh, "Aku masih sempat."

Ia kembali menatap mie instan cupnya, membuka tutupnya lalu menuangkan air panas ke dalamnya, "Lagipula gerbang sekolah ditutupnya pukul delapan, jadi aku bisa sedikit santai."

Mulut cupnya ia tutup.

Moiro membawanya ke meja makan, dan meninggalkannya.

Menurutnya, ia sempat berganti pakaian sampai mie instannya matang. Itu masih mending daripada duduk nungguin mienya matang sambil bengong, yang malah keliatan kayak lagi boker.

Moiro kembali. Ia sudah siap dengan pakaiannya yang terlihat rapi.

Ia membuka tutup cupnya dan melihat mienya sudah terlalu matang. Ternyata berganti pakaian cukup memakan waktu.

Tatapannya datar, pertanda kecewa. Tapi tidak masalah, ia tetap memakannya.

Mienya kurang kenyal.

Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh lebih. Moiro memutuskan untuk segera berangkat ke sekolah.

Di perjalanan... tak ada hal menarik, jadi skip saja.

Moiro sampai di depan sekolah dan melihat... gerbangnya ditutup. Tapi boong, yahaha.

Sialan kau Author.

Moiro sempat mengira kalau gerbangnya ditutup, tapi ternyata tidak. Itu hanya sudut pandangnya yang melihat setengah gerbang tertutup dari samping, membuat ilusi seolah gerbang sudah ditutup.

Moiro segera masuk dan melangkah menuju kelas. Kelasnya berada di lantai dua. Kelas 1–4 adalah kelasnya.

Di sekolahnya ini tidak menggunakan sistem huruf sebagai tanda kelas, melainkan angka, seperti 1–1 untuk kelas 1A, 1–2 untuk kelas 1B, dan seterusnya, begitu juga untuk kelas 2 dan 3.

Di kelas, ia duduk di kursinya, menunggu jam pelajaran pertama dimulai. Wajahnya tampak datar saat menatap ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan cukup indah di sana.

Moiro melamun, menahan dagunya dengan tangan, memikirkan apa yang harus ia lakukan di tempat kerja nanti. Ia tak sanggup membayangkan akan seberapa absurd dan seberapa anehnya kejadian yang akan dirasakannya nanti.

Ia membayangkan seolah malaikat pencabut jati diri menunggu di depan pintu kafe tempatnya bekerja. Melambai pelan padanya.

Ngeri amat dah!

Moiro bergetar, ketakutan membayangkannya. Meski begitu, wajahnya tetap datar karena di sekolah memang seperti itulah dia.

Memangnya ada malaikat pencabut jati diri?

Terhanyut dalam lamunan membuat Moiro tak sadar akan hal-hal di sekitarnya, hingga seseorang menghampirinya.

Puk.

Pundak Moiro ditepuk dari belakang.

"Yo, Moiro, pagi. Seperti biasa, mukamu datar banget," ucap seorang laki-laki yang tersenyum lebar padanya.

Di sekolah, Moiro memang dikenal sebagai orang yang datar. Berbeda dengan dirinya ketika sendiri yang jadi random, atau ketika di tempat kerja sebelumnya yang keliatan depresi.

Banyak kepribadian juga ni anak.

Dari mendengar suaranya saja, Moiro sudah mengetahuinya. Ia memalingkan wajah, menatap laki-laki itu yang merupakan teman yang duduk tepat di sebelahnya.

Moiro membalas datar. Tangannya masih menahan dagunya, "Yamaguchi, toh? Pagi."

Ryuji Yamaguchi, dia orang yang sangat aktif di kelas. Bukan dalam pelajaran, melainkan mengganggu teman sekelasnya sendiri. Bahkan Moiro tak luput darinya, yang memang kelakuannya kadang membuat Moiro sedikit terganggu.

Oh iya, dia pernah dipanggil guru konseling—atau lebih dikenal sebagai guru BK—sebanyak tiga kali karena caranya menganggu teman hampir mendekati bully. Meski begitu, dia orang yang baik bisa dibilang. Tapi gak tau juga, tergantung cerita.

Ni Author kenapa dah?

Ryuji tersambar petir di pikirannya, mengulang ucapan Moiro tanpa sadar, "Yamaguchi—"

"Eh, Moiro, kenapa kau masih manggil aku pake marga? Kan dah kubilang, panggil aja pake nama depan," balasnya cepat, sedikit nyaring. Tanpa dia sadari, air liurnya beterbangan saat berbicara.

Moiro menatapnya datar, menerima rintik-rintik air liur yang mengenai wajahnya.

Tanpa membalas—tanpa membersihkan cipratan air kehidupan itu—Moiro memalingkan wajahnya, kembali menatap keluar jendela.

"Aku tak dihiraukan?!" seru Ryuji terkaget.

Ryuji kembali ngoceh, tapi Moiro tak menghiraukannya. Ia tak merasakan cipratan air mengenainya—entahlah, mungkin kali ini kena rambutnya.

Moiro merasa dirinya ditatap oleh seseorang di depannya. Ia segera melirik, dan melihat Mika yang tersentak lalu memalingkan wajahnya cepat.

Yap, Mika Sano, gadis yang Moiro temui saat senja hari kemarin adalah teman sekelasnya juga, yang sangat amat kebetulan tempat duduknya di depan Moiro.

Merasa dirinya sudah ketahuan menatap Moiro, Mika memalingkan wajahnya pelan, sedikit terbata dengan senyum canggung.

Dia menggaruk pipinya dengan telunjuk, "Ehehe... Kayaknya aku ketahuan. Selamat pagi, Asahi."

Emang udah ketahuan. Gimana, sih?

"Pagi," balas Moiro, datar seperti biasa.

"Oh, iya," Mika segera merogoh kantongnya.

"Ini," Mika memberikan sapu tangannya pada Moiro, "Mungkin kamu perlu untuk membersihkan sesuatu."

Moiro hanya menatap datar, tahu betul sesuatu yang dimaksud Mika.

Tanpa menunggu, Moiro mengambilnya sambil berterima kasih padanya.

Ia mengusap wajahnya, membersihkan dari bulir-bulir kehidupan lalu berkata, "Kau memang lebih pengertian dari setan di sampingku."

"Teganya kau bilang gitu di depan orangnya langsung!" teriak Ryuji seketika, kesal.

"Bukan di depan," Moiro selesai membersihkan wajahnya. Matanya terpejam ringan, "Tapi di samping."

"Gak ada bedanya!"

Ryuji tampak kesal, sementara Mika hanya tersenyum tipis.

Mika tiba-tiba ikut nyeletuk, "Tapi yang dikatakan Asahi ada benarnya."

Ryuji menoleh cepat, "Haah?!"

Moiro hanya menatap Mika heran.

Mika melanjutkan sambil terus tersenyum, "Yamaguchi yang muncul tiba-tiba emang keliatan kayak setan."

Moiro hampir tertawa, tapi berhasil ia tahan dengan menutup mulut. Sementara Ryuji...

"Mika! Kenapa kau malah nambahin begituan?!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk.

Kepalanya menunduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya, suaranya merendah seketika, "Sial... Jadi serasa beneran mirip setan..."

Dasar setan, haha.

Bukannya tertawa, Mika malah terlihat kesal. Dia membalas, berseru sebal, "Eh! Kapan aku ngebolehin kamu manggil namaku?! Panggil aku pake marga!"

Ryuji langsung bangkit, melotot pada Mika, "Bodo amat! Terserah akulah mau manggilnya apa! Manggil pake marga itu ribet!"

"Kamu tau sopan santun, gak? Pantesan kamu sering dipanggil guru BK!"

"Guru BK gak ada hubungannya sama ini! Lagi pula, aku gak peduli!"

"Aku juga gak peduli. Pokoknya, jangan manggil aku pake nama depan. Kita belum seakrab itu, ya!"

Mika Sano dan Ryuji Yamaguchi yang sedang bertengkar ini adalah temannya Moiro Asahi. Bisa dibilang hanya mereka yang menjadi temannya.

Karena Moiro memasang wajah datar untuk menyembunyikan suatu masalah, ia mendapat sedikit teman. Tapi berkat itu juga, ia mendapatkan teman yang sekiranya benar-benar tulus padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!