Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Ibunya Kayla Sudah Tahu
Suasana hangat menyelimuti sore setelah hujan begitu deras berganti dengan sinar matahari senja mulai merunduk ke ufuk barat. Mobil yang mereka tumpangi meluncur perlahan di jalanan pinggiran ibukota, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil. Terlihat rapi, bersih, desain minimalis sederhana namun elegan.
Azka dan Kayla turun dari mobil. Angin berdesir lembut, membawa bau tanah khas bercampur nuansa sejuk. Sopir pun mengikuti, menurunkan koper Kayla dengan hati-hati, sementara mereka berdua berdiri di depan, menatap rumah sejenak.
Tak berapa lama, wanita paruh baya keluar dari dalam, terlihat cukup bugar. Membuka kunci slot pagar lalu menggesernya.
Ia kemudian memeluk Kayla sambil menangis. Azka memperhatikan momen mengharukan itu, berpikir sejenak apakah wanita ini ibunya Kayla atau bukan karena kondisi tidak seperti orang sakit.
Tapi selanjutnya, menyusul seorang wanita lebih muda menghampiri bersiaga. Usai berpelukan, Kayla memperkenalkan Azka pada ibunya. “Mah, kenalin, temen kantor aku.”
“Oh iya, saya Mamah-nya Kakay. Panggil saja tante Irma,” sapanya menyebut nama panggilan kesayangan Kayla terdengar menggemaskan.
Mereka bersalaman, Azka memperkenalkan diri. Irma kemudian minta Kayla mendekatkan telinganya.
“Ini yang sering kamu ceritakan sama Mamah?”
Namun sayang sekali karena bisikan Irma terlalu keras, sehingga Azka juga ikut mendengar.
Kayla terlihat panik, ia menegur ibunya agar tidak membicarakan hal tersebut. Gelagat mereka membuat Azka menjadi bingung harus merespon apa.
Dalam hatinya, Azka merasa senang karena menduga Kayla telah membicarakan dirinya kepada Irma.
“Maaf tante, ini saya ada bingkisan, ala kadarnya,” sambil menyodorkan tas belanja bertuliskan Dess Cake.
Irma kelihatan sumringah, “Wah, Dess Cake ya. Kesukaan tante ini”.
Kayla kembali menegur dengan mencolek pinggang. Ia minta ibunya agar menjaga sikap. Selanjutnya, Irma mengarahkan sopir masuk ke dalam rumah membawa koper dan barang bawaan.
Di sini Azka masih merasa heran atas sikap enerjik ibunya Kayla yang benar-benar tidak terlihat seperti orang sakit keras. Tapi ia juga teralihkan pada sosok wanita yang sejak tadi siaga di sebelah Irma bermimik wajah sangat khawatir.
Merasa penasaran, ia mempertanyakannya, “Kalau itu siapa?” tanya Azka ke Kayla.
“Itu suster, orang yang merawat Mamah.”
Dari jawaban itu, Azka menyimpulkan kalau Irma memang dalam kondisi tidak sehat. Tapi mungkin demi menyambut anak kesayangan, ia tidak ingin terlihat sakit.
“Ibu yang hebat,” gumam Azka dalam hati.
Kayla kemudian izin sebentar untuk menyusul Irma ke dalam rumah.
Di sini, Azka sendirian, termenung memandang rumah kecil itu. Entah apa yang ada di dalam imajinasinya. Ia tersenyum kecil, seakan membayangkan sesuatu.
Tak berapa lama, mereka semua keluar lagi dari dalam rumah. Kayla minta maaf karena baru sadar telah membiarkan Azka sendirian di luar.
Lantaran merasa cukup, Azka kemudian pamit untuk pergi. Ia ingin memberikan waktu bagi Kayla dan ibunya.
“Kalau begitu, saya izin pamit ya Tante. Saya doakan, Tante sehat selalu,” ucapnya.
Irma sebenarnya menahan Azka agar lebih lama untuk tinggal, tapi Azka menolak. Ia enggan mengganggu waktu kumpul keluarga.
Masih ingin berbicara sesuatu kepada Azka, dengan sopan Kayla minta ibunya masuk ke dalam rumah duluan. Irma bisa memahami maksud anaknya, ia pun menurut.
Setelah ibunya masuk, Kayla mengucapkan rasa terima kasihnya atas semua yang dilakukan oleh Azka.
“Sekali lagi, aku ingin bilang terima kasih ke kamu. Untuk sekarang, aku cuma bisa mendoakan kamu mendapatkan yang terbaik.”
“Kalau misal Pak Azka butuh bantuan aku, mengenai pekerjaan atau apapun itu, kasih tau saja, jika bisa aku pasti akan bantu,” lanjut Kayla.
Memanfaatkan kesempatan ini, Azka kemudian memberitahu Kayla terkait satu permintaan. “Karena kamu yang tawarin, aku mau kamu melakukan sesuatu.”
Kayla merespon cepat, “Apa? Bilang saja Pak, tidak perlu sungkan.”
“Aku minta waktu kamu, besok malam. Bisa?” pinta Azka.
“Waktu? Untuk apa Pak?” Kayla balik bertanya.
Karena pertanyaan itu, Azka menggodanya. “Tadi katanya boleh minta bantuan kamu, apapun. Tapi cuma minta waktu saja, kamu banyak tanya. Kalau tidak boleh, ya sudah tidak apa-apa juga sih,” ujarnya bercanda.
“Hehe, iya Pak, boleh. Jam berapa?” jawab Kayla mengiyakan.
Azka berkata akan memberitahu detailnya di whatsapp. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari rumah Kayla itu.
***
Di dalam mobil, Azka langsung menelepon Visha yang sedari tadi telah menghubunginya, baik lewat pesan maupun panggilan telepon. Ia sengaja mengatur mode silent agar bisa fokus kepada Kayla.
“Kamu kemana saja sih?” tanya Visha spontan marah.
Azka beralasan kalau baru selesai meeting bersama direksi. Handphonenya sengaja disenyapkan karena tidak ingin terganggu saat sedang memberikan pemaparan laporan.
Si sopir mulai melirik karena menyadari sesuatu yang janggal tapi ia juga tidak ingin ikut campur. Untungnya Visha percaya alasan yang diberikan oleh Azka sehingga masalah tidak membesar.
Azka menjelaskan kalau sekarang ia berada dalam perjalanan menuju hotel untuk beristirahat. “Aku lelah sekali hari ini,” suara Azka berpura-pura lemas.
Setelah berbincang mengenai beberapa hal dengan Visha, panggilan diakhiri. Azka kembali memikirkan tentang Kayla.
Ia sebenarnya sangat ingin mengajak Kayla pergi malam ini karena tepat saat pergantian hari ulang tahunnya. Tapi ia juga memahami kalau Kayla pasti akan lebih memilih melewati waktu itu bersama ibunya.
Azka mengalah dengan mengajak Kayla pergi tepat pada malam ulang tahunnya. Meski sedikit terlambat, tapi masih belum lewat hari.
Ia berencana memberikan hadiah kalung yang telah dipersiapkan pada momen itu.
Ketika sedang melamun, tiba-tiba saja muncul sebuah pesan dari Kayla. Ia mempertanyakan tentang detail waktu pergi besok malam.
“Besok akan aku kabari ya,” jawab Azka singkat.
“Tidak bisa sekarang Pak? Supaya aku bisa siap-siap dari sekarang,” balas Kayla lagi.
Azka tersenyum tipis saat membaca pesan dari Kayla yang menurutnya cukup menggemaskan.
Ia sengaja hanya membaca pesan itu, tidak membalas. Ia ingin memancing emosi wanita yang telah membuat hatinya gila. Benar saja, hanya beberapa menit setelahnya, Kayla kembali menulis pesan. Kali ini berna nada kesal.
“Jadi gini ya Pak? Chat dari aku cuma dibaca saja,” tulisnya.
Azka malah tertawa. Ia merasa Kayla sangat lucu jika sedang seperti ini. Ia pun akhirnya membalas pesan tersebut.
“Menurut kamu, lebih bagus mana, Golden Bar & Resto atau The Spoon?” tulis Azka.
Kayla telah membaca pesan, tapi tidak langsung membalas. Awalnya Azka menduga kalau Kayla sedang berpikir atau mencari informasi terkait kedua restoran mewah itu.
Tapi setelah beberapa menit berlalu, Azka pun menyadari kalau Kayla sepertinya sedang balas dendam. Pada waktu Azka mengetik untuk bertanya, Kayla tiba-tiba saja meneleponnya.
“Pak Azka, kita ngapain ke restoran semewah itu?” ucap Kayla protes.
“Kenapa memangnya?”
Kayla memberikan penjelasan kepada Azka agar tidak mengajak pergi ke restoran mewah karena menurutnya berlebihan.
“Kalau Pak Azka ingin merayakan ulang tahun untuk aku, kita bisa makan di tempat lain. Nanti aku yang pilih deh, tapi yang pasti bukan di restoran mewah begitu. Sebentar aku cari dulu ya, aku whatsapp kalau sudah ketemu,” jelasnya tanpa menunggu jawaban, langsung menutup teleponnya.
Merespon tingkah Kayla, Azka hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Ia tidak memaksakan keinginan karena mengetahui betapa kerasnya watak Kayla. Apalagi ini merupakan hari ulang tahunnya. Azka menilai kalau hadiah berupa kalung yang dipersiapkan sudah lebih dari cukup untuk membuat Kayla bahagia.