Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 tertuduh
Biel terus melangkah di belakang Ricard yang notabene adalah papanya sendiri.
Meski ia tahu laki laki itu adalah papanya.....
Namun ia tak pernah berani memanggil pria itu dengan sebutan papa selama ini walau hanya sekali meski sebenarnya ia sangat ingin.
Ia selalu memegang pesan sang mama yang melarangnya memanggil laki laki itu dengan panggilan......
Papa.....
Netra Biel mengedar ke penjuru ruangan, ini kali pertama ia masuk dan berada di ruangan itu.
Ruangan utama....
Selama ini ia hanya berada di area belakang saja.
Di dalam hati sungguh ia berdecak penuh kekaguman.
Ruangan itu begitu megah, banyak barang barang yang nampak mewah dan indah di sana.
Pantas ia tak pernah di izinkan masuk ke dalam rumah besar selama ini,
Rupanya isi rumah besar memang sangat mewah.
Sampai di depan kamar tuan Lee....
Ricard membuka pintu kamar itu,
Biel berdiri di ambang pintu, netranya menatap ke arah sosok tua yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur di sana.
Ia ingat...
Walau tidak sering ....tapi sosok itu kerap kali datang padanya dan membawanya berjalan jalan keliling halaman luar rumah besar ini.
" masuklah....." Ricard yang telah lebih dulu masuk ke dalam dan kini telah berada di sisi tempat tidur tuan Lee meminta Biel masuk.
Biel pun menurut, ia melangkah masuk dan kemudian duduk di kursi kosong yang berada di sisi lain ranjang itu.
Biel masih terus menatap wajah renta tuan Lee,
" sapa dia ..." perintah Ricard lagi.
Biel mendongak sebentar menatap laki laki itu dan kemudian kembali menatap ke arah tuan Lee.
" selamat.....siang.....tuan....Lee....." cicit Biel pelan.
Suaranya diam diam membuat Ricard memejamkan mata dan menarik nafas dalam.
Tuan.....Lee.....
Cicit Ricard di dalam hati menirukan panggilan Biel untuk papanya.
" kenapa dengan anda tuan Lee.....?! Lama tidak menemuiku.....
ternyata tuan Lee sakit ?! Apakah anda kelelahan ?!
apa anda mau ku pijit ?! " cicit Biel lagi.
Tak mendapat jawaban, Biel mengulurkan tangannya mulai memijit lengan tuan Lee.
" maaf tuan.....aku memijitmu " ucap Biel lagi. Ucapan pamit Biel membuat Ricard menatapnya dalam.
Hatinya diam diam terasa trenyuh, ia bukan tidak tahu jika selama ini papanya acap kali mendatangi gadis kecil yang sebenarnya adalah darah dagingnya sendiri itu.
Dan sebenarnya ia juga mengerti, interaksi seperti itu seharusnya adalah hal yang biasa untuk mereka berdua karena mereka yang sebenarnya adalah cucu dan kakek.
Ricard menahan nafas sejenak sebelum akhirnya ia menghembuskannya dengan perlahan.
Netranya tetap menatap ke arah Biel di seberang tempat tidur.
Biel dengan telaten memijat lengan pria tua itu,
Di hadapannya Ricard masih menatapnya tak berkedip.
Ada perasaan aneh yang terasa kian tak bisa ia artikan saat ini.
Sementara di belakang sana, tepatnya di belakang dinding,
Tanpa ia tahu, Shahnaz mengintip apa yang tengah terjadi di dalam kamar.
Ia meremas ujung bajunya ketika ia melihat Ricard membiarkan Biel menyentuh bahkan memijat Tuan Lee.
Di dalam kamar,
" tuan Lee....boleh aku sedikit bercerita ?? " cicit Biel lagi,
Matanya berkaca kaca, dadanya terasa sesak dan berdenyut nyeri.
" kau tahu tuan......?! aku sekarang sendirian....
mamaku......
mamaku telah tiada....." sambungnya dengan Isak yang tak lagi bisa ia bendung.
Tanpa sadar, Biel terisak sambil menunduk. Air matanya menetes pada lengan tuan Lee.
Tiba tiba jari tuan Lee bergerak pelan, Ricard terkejut melihat hal itu.
" papa ?! " panggilnya sambil menatap jemari sang papa.
Ini suatu perkembangan.
" tetaplah di sini dan jaga dia, aku akan memanggil dokter " ucap Ricard kepada Biel.
Ricard berniat menelpon dokter keluarga yang menangani sang papa karena saat ini ia yang tak membawa ponsel.
Laki laki itu melangkah cepat keluar kamar menuju ruang kerja tanpa ia sadari ada seseorang di balik pintu kamar sang papa.
Shahnaz menatap tak berkedip ke arah Biel yang masih setia menemani mertuanya itu. Tatapan matanya nampak sinis dan penuh kebencian.
Ia tidak suka melihat interaksi gadis kecil itu dengan ayah mertuanya itu.
tapi saat ini ia tak bisa berbuat apa apa.
Biel masih setia duduk sendirian di sisi ranjang tuan Lee.
Beberapa waktu telah berlalu tapi Ricard belum juga kembali.
Biel merasa ingin buang air kecil, ia bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Cukup lama ia berdiri di depan kamar mandi itu,
Ia ingin masuk tapi ia takut, ia takut di tuduh lancang.
Akhirnya setelah lama berpikir, Biel memutuskan keluar dari kamar dan menuju kamar mandi pelayan di belakang.
Biel berlari keluar menuju toilet pembantu, lagi lagi keberadaan Shahnaz tak di sadari oleh Biel.
Biel masuk ke dalam toilet pelayan dan melakukan hajatnya.
Perutnya tiba tiba mulas, ia memutuskan menyelesaikan hajatnya lagi sebelum kembali ke kamar tuan Lee.
Lima belas menit berlalu, Biel selesai dan berniat kembali ke kamar tuan Lee.
Keningnya berkerut ketika ia melihat semua orang berkumpul di depan pintu kamar tuan Lee.
Biel menyeruak masuk,
" tuan....ada apa ?! " cicitnya dan sukses membuat perhatian semua orang yang ada di di dalam ruangan menoleh kepadanya.
Termasuk Ricard,
Tatapan laki laki itu terasa begitu tajam padanya.
" dari mana saja kamu ?! Bukankah aku memintamu untuk menjaganya ?! " suara barinton Ricard membuat Biel ketakutan.
" lihat....lihat dia.....dia......" ucapan Ricard yang bergetar menguap di udara.
Biel beralih menatap tuan Lee yang masih terbaring di atas ranjang.
Seorang pria berjaz hitam berdiri di sisinya.
" ke...ke...kenapa dengan tuan Lee ?! " cicit Biel tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
Wajah semua orang nampak bersedih.
" kau masih berani bertanya ?! Ini semua karena mu.....
karena kesialanmu......!!! " tiba tiba Shahnaz merangsek maju dan berdiri tepat di hadapan Biel.
Ia berucap dengan ke dua mata melotot dan ujung jari yang menunjuk ke arah gadis kecil itu.
wajah Biel sontak memucat dan tubuhnya gemetar.
Ia menggeleng.....
Sungguh ia tak paham dengan semua yang telah terjadi dan di tuduhkan kepadanya.
Biel menatap ke arah Ricard di sana, berharap laki laki itu mau membelanya.
Tapi apa yang ia terima....laki laki itu justru membuang muka darinya.
Air mata Biel seketika luruh dengan deras membasahi pipinya.
" bawa kembali anak pembawa sial ini ke dalam kamarnya dan jangan biarkan ia keluar lagi dari sana.
Anak ini benar benar membawa sial, lihatlah....
dalam dua hari dia sudah membuat dua orang tiada !!! " teriak Shahnaz dan sukses membuat Biel kaget bukan main.
Apa maksudnya ?! Tuan Lee....
Cicit Biel di dalam hati, ia melongok ke arah ranjang di sana.
Laki laki itu masih diam.
" Tuan Lee.....!!! " pekiknya dan ia reflek melangkah maju hendak mendekat kepada laki laki tua itu.
Ia ingat, laki laki itu masih baik baik saja saat ia tinggalkan tadi.
Tapi kenapa sekarang ia di bilang telah tiada ?!!!
Langkah Biel yang hendak mendekat ke arah ranjang tuan Lee terhenti karena Shahnaz yang tiba tiba mencengkeram lengannya.
" mau kemana kamu ?! jangan berani beraninya kamu mendekatinya ...." sentak wanita itu
" aku hanya ingin melihatnya sekali saja nyonya ....
sekali saja "
" tidak ...
apa kau masih belum puas sudah membuatnya celaka hah ?!! "
" tidak...aku tidak berbuat apa apa, dia masih...."
Ucapan Biel tak berlanjut karena seseorang telah lebih dulu membawanya keluar dari kamar itu.
" seret dan bawa anak pembawa sial ini kembali ke kamarnya " ucap Shahnaz kepada seseorang yang saat ini sedang mencekal Biel.
Biel hanya seorang anak kecil, usianya masih lima tahun...
tentu ia tak mampu melawan orang dewasa yang sedang mencekalnya itu.
Ia hanya bisa menangis tersedu sedu ketika tubuhnya yang ringkih dan kecil di seret menjauh dari kamar tuan Lee.
Di ambang pintu, netra Eric menatapnya tak berkedip.
Hatinya terasa trenyuh melihat hal itu.
Rasanya ia ingin sekali berlari dan membawa Biel pergi dari rumah ini.
usianya sudah mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada gadis kecil itu.
Ia mengerti....
Gadis itu di perlakukan dengan sangat tidak baik di rumah ini.
Erick hendak melangkah menyusul Biel ketika seseorang mencekal lengannya.
Erick mendongak menatap sosok yang mencekal lengannya itu.
" Diam dan tetap di tempatmu, jangan pernah ikut campur urusan di rumah ini .....
karena itu bukan urusanmu " ucap Shahnaz dengan wajah dingin dan suara tajamnya yang penuh peringatan.
Erick terdiam membisu,