NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kabin Besi Kapal Tongkang dan Dinginnya Tatapan Pertama

WHIRRRRRRRR...

Sistem mesin kapal dagang kelas rendah bernama The Iron-Drifter berderit kencang, memuntahkan kepulan asap belerang pekat dari arah buritan belakang. Kapal rongsokan dari besi tua itu perlahan-lahan bergerak naik membelah gumpalan awan beracun Planet Akuma-0, meluncur lambat meninggalkan wilayah Kuadran Utara menuju jalur pelayaran antargalaksi bebas seutuhnya. Di dalam ruang hampa udara luar atmosfer yang dipenuhi serpihan batu asteroid mati, tidak ada lagi siraman badai hujan merkuri. Yang tersisa hanyalah kesunyian abadi luar angkasa yang membeku, mencerminkan hancurnya seluruh masa lalu kemegahan kerajaan klan Shinto yang telah tertinggal jauh di belakang.

Di dalam bilik kabin penumpang kasta terbawah yang berukuran sempit dan pengap, atmosfer keheningan yang sangat pekat melanda batin dua manusia yang baru saja disatukan oleh pernikahan paksa. Lantai kabin besi tersebut terbuat dari pelat baja kasar yang dipenuhi noda karat kotor dan aroma pelumas mesin yang menyengat hidung. Tidak ada kasur sutra bersulam benang perak atau cahaya lampu keemasan yang terang di ruangan ini. Yang ada hanyalah sebuah lampu indikator redup yang bergoyang kaku, mengikuti getaran ketukan mesin kapal yang bising sepanjang waktu.

Sayuri duduk diam membeku di sudut bangku besi yang paling jauh dari pintu masuk. Ia memeluk erat kedua lututnya dengan gerakan tubuh yang sangat kaku, kedinginan, dan dipenuhi oleh keangkuhan kasta bangsawan yang menolak untuk luntur. Gaun sutra putih mewahnya kini tampak sangat kusam, robek di beberapa bagian, dan dipenuhi oleh noda bercak darah Ryuken yang telah mengering menjadi warna kecokelatan sejak pertempuran malam kemarin. Sepasang mata biru jernihnya menatap kosong ke arah dinding baja kabin yang retak, memancarkan kombinasi rasa terkejut, ngeri, dan frustrasi mendalam yang meremukkan seluruh logika berpikirnya.

Seluruh harga diri, gengsi kasta Kuil Tinggi, dan dinding kesombongan sedingin es yang ia rawat sejak kecil kini telah runtuh lebur ditelan kenyataan pahit pengasingan ini. Dirinya telah resmi diikat oleh aturan hukum adat tradisional, menjadikannya istri sah dari seorang buronan politik kasta rendah yang kini terusir dari tanah airnya sendiri. Rasa benci dan rasa jijik yang luar biasa mendalam kembali membakar lubuk hatinya setiap kali ia mendengar suara derit dari kaki Ryuken yang bergerak di dalam bilik kabin penumpang yang kaku tersebut.

Ryuken berada di sudut bangku lainnya, duduk bersila dengan tubuh kurusnya yang tegak membelakangi jalur pandang Sayuri sepenuhnya. Baju hitam miliknya yang compang-camping telah ia bersihkan seadanya menggunakan kain kumal. Namun, belasan luka bakar melepuh akibat hantaman tembakan laser musuh di sepanjang kulit dada dan pundaknya masih tampak menganga merah, memancarkan hawa perih yang luar biasa gila. Tangan kanannya yang kasar penuh kapalan bergerak dengan sangat lambat, halus, dan teratur, mengikatkan kembali sebilah perban sutra putih sisa peninggalan ibunya ke sepanjang lengan tubuhnya yang linu menahan sisa rasa sakit.

Di samping lutut silanya, katana tua berkarat di dalam sarung kayu yang telah lapuk tetap diletakkan kaku tanpa memancarkan energi apa pun. Ryuken tidak menatap Sayuri untuk mengemis belas kasihan atau ucapan terima kasih dari mulut wanita yang sedang menggigil kedinginan tersebut. Sepasang mata hitam legamnya yang setenang kematian hanya menatap datar ke arah jendela kaca kabin yang menampilkan hamparan kegelapan jagat raya yang tak berujung. Ketenangan murni sang pendekar bertindak bagai dinding tanpa suara yang membungkam seutuhnya seluruh keangkuhan kata-kata di dalam ruangan.

Sayuri memalingkan wajah cantiknya secara perlahan, melayangkan tatapan mata yang dipenuhi racun ejekan dan penolakan dingin yang sangat menusuk hati melintasi jarak kabin besi. "Jangan pernah berpikir satu detik pun kau telah berhasil memenangkan hatiku murni karena aksi tameng daging kotarmu malam kemarin, Ryuken!" desis Sayuri. Nada suaranya terdengar sangat tajam bagai sebilah belati es yang memutus keheningan kabin besi seutuhnya. Ia mencengkeram erat kain gaun putih kotornya dengan jemari yang memutih pasi karena menahan rasa kesal. "Pernikahan paksa ini hanyalah alat palsu peninggalan kelicikan ayahku! Di dalam hatiku, kau akan tetap menjadi seonggok makhluk cacat paling menjijikkan yang merusak garis keturunan suci Kuil Tinggi ku!"

Ryuken tidak membalas makian bising dan cemoohan kasar dari wanita yang kini telah resmi menjadi belenggu takdir istrinya tersebut dengan teriakan marah atau kepalan tangan yang penuh amarah murahan. Ia tetap diam membeku dalam posisinya, membiarkan aliran udara pengap kabin membawa sisa aroma darahnya yang mengering, setenang kematian yang menolak tunduk pada kehancuran nasib. Fokus pikirannya perlahan-lahan ditarik masuk ke dalam lubuk batinnya yang sunyi, membiarkan detak jantungnya yang acak bergetar bebas tanpa aturan di sekeliling tubuh kecilnya.

Ia mengambil satu helaan napas panjang, lalu mempererat cengkeraman jarinya pada gagang kayu katana berkaratnya murni mengandalkan keteguhan tubuhnya yang kokoh. "Simpan sisa suaramu murni untuk menjaga kehangatan tubuhmu dari dinginnya badai luar angkasa, Sayuri," bisik Ryuken. Suaranya pelan, datar, namun terdengar berat bergaung dengan gema masa lalu, memotong sepihak seluruh dinding kesombongan Sayuri seutuhnya. "Jalur pengembaraan sunyi kita melintasi batas alam semesta ini baru saja dimulai, dan takdir pertempuran perebutan takhta tidak akan pernah sudi mendengarkan jerit tangis keputusasaan kasta bangsawanmu yang manja."

Mendengar sebaris jawaban tak terduga yang sangat dingin, tegas, dan penuh wibawa sunyi pendekar sejati dari mulut Ryuken, Sayuri mendadak tersentak kaku di posisinya karena menahan rasa terkejut, ngeri, dan takjub mendalam menembus lubuk sanubarinya. Kesombongan sedingin es di hatinya bergejolak aneh menatap keteguhan absolut pria di hadapannya. Hal itu memicu dimulainya takdir baru yang kian mengikat batin mereka berdua ke dalam satu lingkaran perseteruan paling menegangkan di semesta.

Sayuri sama sekali tidak mengetahui bahwa jauh di masa depan yang tak berujung, di saat seluruh kemegahan pelindung hukum semesta telah lenyap, putri emas yang angkuh inilah yang akan berdiri memasang tubuhnya sendiri. Ia akan menangis tersedu-sedu di bawah siksaan cambuk listrik, demi melindungi tubuh suaminya yang rapuh seumur hidupnya seutuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!