NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana laboratorium berubah drastis. Tak ada lagi tawa ringan atau obrolan santai saat menikmati kopi pagi. Pikiran semua orang tertuju pada satu kemungkinan yang membentang di depan mata.

​Bagaimana jika... Profesor Surya tua memang benar-benar pernah melintasi waktu dan kembali ke tahun 1998?

​Ardi menutup pintu ruang rapat rapat-rapat. "Prof," panggilnya serak. "Saya mau tanya sesuatu."

​"Tanya saja," sahut Profesor Surya lambat-lambat.

​"Kalau nanti terbukti Bapak memang pernah melakukan perjalanan waktu... apa yang akan kita lakukan?"

​Profesor tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada papan tulis besar yang masih dipenuhi deretan rumus serta catatan tentang Proyek Kronos.

​"Aku akan menghentikan semuanya," jawabnya tegas.

​"Hah?" Zain terkejut. "Kenapa, Prof?"

​Profesor menarik napas panjang, menahan pergolakan batinnya. "Karena kalau aku di masa depan sampai rela kembali ke masa lalu... berarti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang sangat buruk, hingga aku mempertaruhkan seluruh hidupku hanya untuk mengubahnya."

​Ruangan kembali hening mencekam.

​"Tapi..." Zain memberanikan diri bersuara. "Kalau dihentikan sekarang, bukannya kita justru tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

​Profesor mengangguk pelan. "Itulah dilemanya. Kalau diteruskan, mungkin kita sedang berjalan menuju bencana. Namun jika dihentikan sekarang, bisa jadi kita justru yang menciptakan bencana itu sendiri."

​Ardi menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan lemas. "Paradoks..."

​"Ya," jawab Profesor. "Semakin banyak yang kita ketahui, semakin sulit bagi kita untuk menentukan pilihan."

​Beberapa saat kemudian, seorang teknisi mendobrak keheningan dengan masuk tergesa-gesa. "Prof!"

​"Ada apa?"

​"Komputer arsip berhasil memulihkan sebagian data dari hard disk lama!"

​Profesor seketika berdiri dari duduknya. "Apa isinya?"

​"Video, Prof."

​"Rekaman kamera lagi?"

​"Bukan, ini rekaman layar komputer."

​Mereka bertiga segera bergegas menuju ruang komputer utama. Hard disk tua itu berhasil dibaca sebagian. Meski banyak dokumen yang rusak parah, ada satu folder yang masih utuh dengan nama yang sangat sederhana:

​KRONOS_LOG

​Di dalamnya hanya tersimpan tiga buah berkas:

​LOG_01

​LOG_02

​JANGAN_DIBUKA

​Zain mengernyitkan alisnya. "Kalau diberi nama begitu, justru bikin makin penasaran untuk membukanya."

​Ardi terkekeh kecil secara refleks. "Itu memang sudah jadi sifat alami manusia."

​Profesor berpikir cukup lama sebelum akhirnya menunjuk berkas pertama. "Kita mulai dari LOG_01."

​Video diputar. Layar menampilkan rekaman desktop dari sistem operasi komputer tua. Di tengah layar, muncul jendela catatan teks bertanggal 16 Agustus 1998—sehari sebelum insiden besar itu terjadi.

​Profesor muda tampak mengetik baris demi baris kalimat:

​Uji coba besok akan menjadi percobaan terakhir. Jika berhasil, kami akan membuktikan bahwa resonansi temporal memang ada.

​Kursor berhenti berkedip selama beberapa detik, lalu Profesor muda kembali mengetik:

​Jika gagal... proyek ini akan ditutup untuk selamanya.

​Video pun berakhir.

​"Masuk akal," gumam Ardi. "Itu catatan tepat sebelum kejadian."

​Profesor mengangguk. "Lanjutkan ke berkas berikutnya."

​Kini mereka membuka LOG_02. Tanggal di layar telah berubah menjadi 18 Agustus 1998—sehari setelah insiden.

​Profesor muda di dalam rekaman itu tampak mengetik jauh lebih lambat. Jarinya beberapa kali berhenti di atas papan tik, seolah tangannya gemetar hebat.

​Kalimat pertama yang muncul membuat seluruh ruangan menahan napas:

​Eksperimen berhasil.

​Namun tak lama kemudian, kalimat itu dihapus kembali. Digantikan dengan tulisan lain:

​Eksperimen gagal.

​Tulisan itu lagi-lagi dihapus. Hingga akhirnya, Profesor muda mengetik satu kalimat terakhir yang menetap di layar:

​Aku tidak tahu mana yang benar.

​Video selesai. Tak ada satu pun dari mereka yang bersuara.

​Zain memandang layar komputer yang kini kembali gelap gulita. "Berhasil... atau gagal?"

​Profesor menggeleng lemah. "Mungkin... dua-duanya terjadi."

​Tatapannya kemudian beralih tertuju pada berkas terakhir di folder tersebut: JANGAN_DIBUKA.

​Tak seorang pun berani menyentuh tetikus. Sebab untuk pertama kalinya, mereka menyadari ada alasan yang sangat kuat mengapa seseorang di masa lalu menyegel berkas itu dengan nama demikian.

Ruangan komputer kembali tenggelam dalam keheningan. Kursor berkedip-kedip tepat di atas berkas terakhir:

​JANGAN_DIBUKA

​Tak ada ikon khusus. Tak ada proteksi kata sandi. Hanya sebuah nama sederhana, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat mereka semua diselimuti keraguan.

​Ardi bersedekap dada. "Kalau saya yang memberi nama berkas ini... artinya memang ada alasan kuat supaya orang lain tidak membukanya."

​Zain mengangguk setuju. "Tapi kalau tidak dibuka... kita juga tidak akan pernah tahu apa isinya."

​Profesor Surya memejamkan mata sejenak, mengumpulkan ketenangan. "Kalau seseorang di masa lalu sengaja meninggalkan peringatan... kita harus menghormatinya."

​Zain menghela napas panjang. "Berarti tidak jadi dibuka?"

​Profesor tidak langsung menjawab. Ia justru memeriksa folder-folder lain di dalam hard disk. Kosong. Tidak ada berkas lain kecuali tiga dokumen itu: LOG_01, LOG_02, dan JANGAN_DIBUKA.

​"Kalau ini memang hal yang penting..." gumam Profesor pelan, "...mungkin ada petunjuk lain."

​Ardi yang berdiri di dekat monitor tiba-tiba mengamati detail informasi berkas tersebut. "Prof, coba lihat ini."

​Profesor mendekat. Ukuran LOG_01 sekitar 18 MB, sedangkan LOG_02 sekitar 21 MB. Namun berkas JANGAN_DIBUKA... ukurannya hanya 3 KB.

​"Ini bukan video," kata Ardi yakin.

​"Bukan?"

​"Tidak mungkin. Kalau ukurannya cuma tiga kilobyte... paling banyak isinya hanya teks."

​Profesor mengangguk pelan. "Itu berarti... isinya mungkin sekadar sebuah pesan."

​Zain tersenyum tipis. "Kalau cuma pesan singkat, harusnya tidak masalah, kan?"

​Profesor masih bergeming. Tatapannya mendadak terkunci pada kolom tanggal modifikasi berkas tersebut: 27 Juli 2026.

​Ardi seketika membeku. "Itu..." bisiknya bergetar, "...hari ini."

​Suasana ruangan mendadak terasa begitu dingin.

​"Tidak mungkin..." gumam Ardi tak percaya.

​Hard disk tua ini telah tersimpan dan terkunci hampir tiga puluh tahun. Tak ada satu pun orang yang menyentuhnya. Mustahil tanggal modifikasinya bisa berubah menjadi hari ini.

​Ardi dengan jemari gemetar segera memeriksa metadata sistem. Tidak ada jejak berkas itu pernah disalin maupun disunting. Namun sistem tetap menampilkan tanggal yang sama: hari ini.

​Profesor menarik kursi perlahan lalu duduk. Wajahnya pucat pasi. "Aku mulai mengerti..."

​"Pengertian tentang apa, Prof?" tanya Zain cemas.

​Profesor menatap berkas itu tanpa berkedip sedikit pun. "Berkas ini... belum tentu dibuat pada tahun 1998."

​Kalimat itu seketika membuat bulu kuduk mereka bertiga berdiri tegak.

​"Maksud Profesor?"

​Profesor menunjuk ke layar monitor. "Kalau ini benar-benar berkaitan dengan paradoks waktu... bisa saja berkas ini baru diciptakan."

​"Mustahil," bisik Ardi menggeleng keras. "Diciptakan di masa kita?"

​"Atau dari masa yang belum terjadi," sahut Profesor dingin. "Siapa yang tahu?"

​Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Akhirnya, Profesor menghela napas panjang, mengambil alih tetikus. "Kita buka."

​Ardi menatapnya cemas. "Bapak yakin?"

​"Tidak. Tapi rasa ingin tahu juga merupakan bagian dari sebuah penelitian."

​Kursor bergerak perlahan ke tengah layar.

​Klik.

​Berkas itu terbuka. Tidak ada video yang berputar, tidak ada rekaman suara yang menggema. Hanya sebuah dokumen teks sederhana dengan latar putih, berisi satu kalimat singkat:

​Kalau kamu sedang membaca pesan ini, berarti aku sudah terlambat.

​Dan tepat di bawah kalimat tersebut... tertera sebuah nama beserta tahun penulisan:

​— Surya Pratama, 2048

​Ruangan seketika membeku total. Tak seorang pun sanggup mengutarakan sepatah kata. Mereka baru saja menerima sebuah pesan yang ditulis langsung oleh seseorang dari masa depan.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!